
π MIMPI π
Pernahkah kalian bermimpi aneh? Lalu mimpi itu terasa lekat di pikiran. Berhari-hari pun tak mau hilang. Bahkan wajah-wajah asing di dalam mimpi pun masih terngiang di pelupuk mata. Begitulah mimpi mempengaruhi dunia nyata.
Seorang wanita membuka mata dan di hadapannya ada sebuah rumah besar bak istana megah yang dikelilingi pagar putih nan tinggi. Rumah itu memiliki banyak jendela seperti kastil bentuknya. Wanita itu bingung, tak tahu tempat apa yang menjadi pijakan kakinya. Lalu dia melihat keramaian di dekat sana ada sebuah aula besar dekat kolam renang.
Wanita itu melangkah menuju ke aula dan melihat banyak sekali tamu undangan di sana. Berpakaian rapi layaknya pejabat. Jas komplit serta para wanita mengenakan dress menawan. Saat itu, tetiba sepasang orang yang mempunyai hajat memanggil si wanita.
"Ningsih, kemari. Sudah waktunya kukenalkan dengan para tamu," ucap wanita bergaun merah press body sambil melambaikan tangannya ke wanita yang bingung itu.
Ningsih pun jalan, menghampiri orang itu. Masih dalam diam dan kebingungan.
"Ini calon istri anak saya. Silahkan berkenalan dengan para tamu. Nah, itu dia anak saya," wanita bergaun merah itu menunjuk seorang pria yang berekspresi sedih, berjalan ke arah Ningsih.
"Kalian bincang-bincang dulu biar akrab sana," perintah wanita yang sedari tadi menjadi pusat perhatian.
Ningsih dan lelaki misterius itu berjalan ke taman. Melewati samping kolam renang yang terlihat segar dengan air yang bening. Sesampainya di taman, lelaki itu berucap pada Ningsih. "Kamu pulang saja. Jangan mau dinikahkan sekarang. Aku bantu kamu pergi. Kalau tidak kamu tidak bisa pergi lagi," lirih lelaki itu sambil memastikan kondisi sepi tidak terlihat penjaga.
Ningsih hanya menurut saja. Masih bingung dengan apa yang terjadi. Lelaki itu menyuruh Ningsih memanjat pagar berwarna putih itu. Saat sudah memanjat dan lompat.
Ningsih terbangun dari mimpinya! Napas Ningsih memburu dan tersengal-sengal. Mimpi yang seakan nyata. Membuatnya bingung dan takut. Dia menengok ke arah jam dinding di kamarnya. Masih pukul 02.30 dan rasa merinding membuatnya kembali dalam selimut tebal. Berharap tidak mimpi aneh lagi. Itulah mimpi aneh yang beberapa kali dimimpikan Ningsih saat SMA. Hal itu terjawab saat bersama Bima sekarang.
***
Keluarga Ningsih senang saat Bima dan Dinda hendak menginap. Mereka mengadakan makan malam bersama di restorant ternama di Yogyakarta. Bersantap malam dan berbincang bersama. Tentunya Bima dan Dinda mengarang soal asal usul mereka agar keluarga Ningsih tidak curiga.
"Jadi ... Nak Bima kapan mau menikah resmi dengan Ningsih?" pertanyaan pamungkas dari Bapak.
Bima tersenyum dan menjawab dengan tenang, "Secepatnya Om, bahkan besok pun saya bersedia jika Ningsih mau. Soal mas kawin dan lain-lain saya ikut Om dan Tante saja. Berapa pun saya siap."
"Bim ... sebaiknya kita berbicara secara pribadi dulum Jangan mendadak ya. Nanti kalau kita sudah deal, baru ke Bapak Ibu. Okey." Ningsih terbelalak mendengar jawaban Bima.
Tak disangka di ruangan itu ada yang terluka. Secuil rasa sakit menyeruak di hati Reno. Entah mengapa masih ada kecemburuan melihat Tante Ningsih bersama lelaki lain. Dinda yang menyadari hal itu langsung menatap Reno, mencoba merayu Reno dari tatapan Nyai Pelet-nya.
Nindy sudah tahu ada hal yang tak beres. Dia membaca doa-doa dalam hati dan menyelibkan tasbih di kantong jaket yang dikenakan Reno. Jelas saja usaha Dinda tak berhasil. Dinda pun menatap tajam ke arah Nindy yang duduk di antara Santi dan Reno.
Santi memegang tangan Nindy dengan erat. "Kencangkan doa dalam hati. Pasti menang," bisik Santi yang tak suka dengan Dinda.
__ADS_1
Sedari pagi Santi dan Nindy membahas soal gerak gerik Dinda yang mencurigakan. Bahkan mereka mulai curiga dengan Reno yang terkadang jadi plin plan. Reno seperti orang bingung jika melihat Dinda dan Nindy. Hal itu yang membuat Santi makin curiga.
"Kak, mata Dinda menakutkan ya," lirih Nindy.
"Jangan dilihat. Fokus berdoa saja."
Setelah selesai berbincang, mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Saat itu Dinda pun berjalan menabrak tubuh Nindy hingga adik Joko itu hampir terjatuh, untung saja Joko menangkap tubuh adiknya. Hal itu menyulut amarah Santi.
"Heh, sengaja ya!" bentak Santi kepada Dinda.
"Ih, apaan sih Kak? Aku nggak sengaja. Kakiku agak kram soalnya," elak Dinda.
"Uh dasar!" Santi hampir saja menjambak rambut Dinda. Joko bergegas menarik tangan Santi, "Sabar Non. Sabar."
"Dinda, apa-apaan kamu? Cepat minta maaf," tegas Bima tak ingin memperkeruh keadaan.
"Kak, jangan seperti itu sama Dinda. Om Bim, sudah jangan ikut marah, kan Dinda bilang nggak sengaja. Udah aku nggak apa-apa kok," ucap Nindy mengakhiri debat.
Dinda makin sebal dengan Nindy. Dia tahu kalau wanita berhijab itu menyukai Reno. Bima tak tinggal diam, dia berkata dalam hati, "JANGAN MACAM-MACAM DI SINI. INGAT ADA ORANG TUA NINGSIH JUGA. JIKA MASIH BERULAH, PULANG SAJA SANA!"
Ningsih menatap Bima lalu melihat Dinda yang tersinggung oleh kakaknya sendiri. "Saya pamit saja. Selamat malam!" Dinda langsung pergi, berlari meninggalkan parkiran restauran.
"Bukan begitu, Uti. Maafkan Nindy ya," ucao Nindy takut menjadi masalah.
"Nggak salah kok, ini cucu Uti memang ganteng-ganteng. Reno udah jadi rebutan. Besok Wahyu juga nih. Kecil aja sudah ganteng," celetuk Bu Udin.
Mereka semua pun tertawa. Dinda merasa makin marah melihat dari kejauhan. Bahkan sekarang, kakak kandungnya pun membela manusia. Hal itu membuatnya merasa terhina.
Tanpa disadari, Lee dan Lily melihat Bima dan Ningsih di parkiran. "Wah, tepat sekali. Habis makan malam malah bertemu lawan. Kita ikuti mereka dulu agar tahu ke mana mereka pergi," bisik Lee pada Lily.
"Iya, sayang. Tapi siapa lelaki berbadan kekar di samping Ningsih?" tanya Lily penasaran.
"Kamu pernah melihat film HellBoy? Nah, wujud aslinya hampir mirip seperti itu. Dia Iblis yang menjaga Ningsih. Musuhku dari Neraka," jelas Lee sambil tersenyum kecut menakutkan.
Bima sengaja masi bersama Ningsih sekeluarga karena tahu ancaman Lee dan Lily. Mereka pasti akan mencari cara untuk mendapatkan jiwa Ningsih untuk Tuan Asmodeus. Sedangkan Tuan Chernobog sudah memperintahkan Bima segera mengambil nyawa Ningsih, tetapi Bima belum mau dan justru bersedia melindungi Ningsih dari incaran anak buah Asmodeus.
Sepertinya kali ini pertengkaran di Neraka yang dahulu belum usai akan kembali terulang di bumi. Evan memang menaruh dendam kesumat pada Bima yang pernah mengalahkannya puluhan tahun yang lalu dalam perang antar lapisan neraka. Bima menjadi juara dan dielu-elukan oleh seluruh penghuni Neraka. Bahkan Yang Mulia Lucifer pun memberi Bima hadiah kekuatan tambahan untuk masuk ruang waktu masa lalu dan masa depan serta menghentikan waktu dalam lima menit.
__ADS_1
Kemampuan yang didapat Bima membuat Evan semakin dendam dan berjanji akan berlatih giat untuk membalas Bima. Sejak itu, Tuan Asmodeus melatih Evan untuk menjadi kaki tangannya. Dendam adalah awal yang baik untuk balas dendam. Api melawan api maka akan hangus dan menjadi abu, permainan menarik bukan?
Sesampainya di rumah, keluarga Ningsih pun masuk ke rumah. Lee dan Lily menghentikan mobilnya agak jauh dan mengamati rumah besar yang sampingnya banyak kamar seperti kost-kostan. "Oh, jadi di sini Ningsih sembunyi. Apa rencana selanjutnya Lee sayang?" tanya Lily yang semangat sudah menemukan incarannya.
"Kita amat dahulu. Setidaknya sudah tahu persembunyiannya. Kalau begitu, ayo kita melepas penat dan mencari korban lagi sayang," kata Lee menggoda Lily.
"Liquid atau Boshe?"
"Liquid saja. Aku punya sasaran beberapa hidung belang untuk menjadi korbanmu, Lily sayang," ucap Lee sambil mengelus pipi Lily yang lembut.
Mereka pun pergi dari sana. Melaju ke arah Liquid tempat dunia gemerlap di Yogyakarta. Siapa yang tak tahu tempat itu? Banyak jiwa-jiwa tersesat dan berdosa di sana. Lee dan Lily bersemangat untuk semakin merajarela mencari jiwa untuk dipersembahkan pada Tuan Asmodeus.
***
[ Sekilas info terkini ....
Terjadi kebakaran besar di Motel Melati, diperkirakan kejadian sekitar pukul 02.30 dan pemadam kebakaran mengerahkan tiga mobil untuk memadamkan api. Nahas, api melahap seluruh banguan motel. Diperkirakan oleh tim evakuasi, korban meninggal lima puluh orang dan masih dalam evakuasi lanjut.
"Kemungkinan korban bisa bertambah karena belum selesai penyisiran puing-puing bangunan."
Sekian info dari kami. ]
"Ha ha ha ... pesta semalam mengasyikan ya sayang," lirih Lee pada Lily yang masih berbaring di ranjang.
"Iya ... apalagi melihat mayat-mayat itu. Jadi semakin bersamangat. Untung saja Lee pintar membakar mereka semua. Memang pantas sih, lagi pula di neraka juga panas, kan?" Lily mendengarkan berita di televisi tadi dan merasa hal itu pantas diterima orang-orang yang semalam bersamanya.
Sehabis di club malam, Lily dan Lee sudah janjian pada beberapa orang di Motel Melati. Tentunya satu orang dengan yang lain tak tahu. Jadi mereka berada di kamar yang berbeda. Dua sejoli ini memang licik menjebak manusia dalam nafsu duniawi. Namun, bukankah memang manusia yang mati di tangan kedua pengabdi Asmodeus ini memang sudah lebih dahulu terjerat dalam gelora nafsu?
Lily dan Lee hanya bertugas memanen jiwa mereka yang mengatas namakan cinta demi kepuasan, mementingkan syahwat dari pada hati, mengorbankan kebahagiaan sejati demi kenikmatan sesaat. Semua kesesatan nan nikmat itu sudah menjadi pilihan para manusia yang diambil jiwanya oleh Lee dan Lily.
"Ternyata, banyak sekali manusia yang menggadaikan kehidupan abadi di Surga demi nafsu duniawi. Pantas saja Tuan Asmodeus optimis akan mendapatkan kuota jiwa berdosa terbanyak," kata Lee pada kekasihnya.
Lily tersenyum menatap wajah tampan Lee. Tak bisa dibayangkan kecantikan dan ketampanan mereka begitu mematikan.
"Aku bahagia bersamamu, Lee ...." ucap Lily sambil menci*m kening Lee.
Bersambung ....
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ningsih dan Bima, Lily dan Evan (Lee), lalu siapa yang layak bersama Reno? Penasaran nggak guys? Ikuti kisah selanjutnya ya^^