JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 135


__ADS_3

πŸ€ GANGGUAN πŸ€


Nindy melangkah keluar dari kamar Tante Ningsih setelah selesai berbincang. Dia pun memakai kembali cincin pemberian Reno. Dalam hatinya masih tetap sama, mengharapkan Reno menepati janji.


Nindy pun masuk ke kamar setelah mencuci alat makan Tante Ningsih. Dia memilih istirahat lebih awal karena besok hendak membantu Bang Joko membersihkan garasi mobil. Dalam waktu sekejab, Nindy sudah berada di alam mimpi.


Ningsih mencoba tidur meski sangat susah. Dia beberapa kali teringat makhluk mengerikan tadi sehingga tak bisa tidur.


"Bima ... kamu di mana? Aku takut ...." Ningsih mencoba memanggil Bima dalam hati. Namun, hanya hening yang menyambutnya.


Ningsih pun mengambil gawai, lalu mengirim pesan ke beberapa orang. Mencari teman berbalas pesan untuk menghalau rasa takut.


[Malam, Santi. Sudah tidur, 'kah?]


[Malam, Reno. Sudah tidur, 'kah?]


[Malam, Joko. Sudah tidur, 'kah?]


Beberapa saat kemudian, justru pesan dari orang lain yang masuk. Ningsih segera membuka pesan itu dan membalasnya.


Aldo: [Malam, bos cantik. Bagaimana keadaanmu saat ini?]


Ningsih: [Panggil nama aja, Aldo. Thanks, ya, tadi.]


Aldo: [Maaf, Ningsih. Kebiasaan manggil bos. He he he he ... belum tidur?]


Ningsih: [Belum bisa, nih. Jujur aja, aku takut.]


Aldo: [Takut kenapa? Sudah, jangan dipikirkan lagi. Soalnya kalau makhluk gaib yang tak sengaja kamu lihat, malah dipikirin terus, ntar tiba-tiba dateng.]


Ningsih pun sebal dengan hal itu. Dia melempar handphone ke bantal dan menggerutu, "Dah bilang takut, eh, malah ditakut-takutin. Dasar!"


Ningsih pun hendak menutup jendela kamarnya. Lantai dua, tetapi angin cukup besar dimalam itu. Saat tangan Ningsih jendela, tiba-tiba ada sesosok makhluk yang dia takuti terlihat tepat di hadapannya. Betapa ketakutan dan terkejutnya Ningsih sampai berteriak, "Aaaaaaaa!" Lalu dia pingsan.


Pak Umar yang mendengar teriakan itu bergegas masuk ke rumah. Beliau mengetuk kamar Nindy terlebih dahulu untuk sama-sama ke kamar Nyonya Ningsih.


"Nindy ... Nindy ... bangun! Nyonya teriak itu." ucap Pak Umar yang panik sambil mengetuk pintu kamar dengan kencang.


Jelas saja hal itu membuat Nindy terbangun dari tidurnya. Dia bergegas membuka pintu. "Ada apa, Pak Umar?"


"Itu Nyonya baru saja teriak. Ayo kita ke sana!"


"Ya, Pak."


Nindy pun langsung mengikuti langkah kaki Pak Umar meski dia sebenarnya sangat ngantuk. Sesampainya di kamar Ningsih, mereka langsung membuka pintu karena panggilan tak dijawab oleh si pemilik kamar. Benar dugaan Pak Umar! Nyonya Ningsih pingsan di dekat jendela.


"Ayo bantu gotong ke ranjang," perintah Pak Umar pada Nindy yang juga ikut panik melihat Tante Ningsih.


Setelah meletakkan di ranjang, Nindy pun mengambil minyak kayu putih untuk menggosokkan di hidung dan telinga Tante Ningsih. "Duh, gimana ini, Pak?" tanya Nindy yang takut ada apa-apa.

__ADS_1


"Telepon Joko saja biar diantar ke rumah sakit," ide Pak Umar langsung dilaksanakan oleh Nindy.


Nindy pun menelepon Joko lewat telepon rumah yang ada di kamar Ningsih.


Joko: "Hallo ...."


Nindy: "Asalamualaikum, Bang. Bang bisa ke sini sekarang? Tante Ningsih pingsan ini. Nindy sama Pak Umar bingung."


Joko: "Wa'alaikumsalam, Dek. Astaga ... kenapa bisa pingsan? Iya, Bang langsung ke sana. Tunggu, ya."


Telepon itu langsung diakhiri oleh Joko yang panik. Nindy pun merasa agak lega karena kakaknya akan datang membantu.


Joko bergegas mengambil jaket dan kunci motor. Dia pun pamit kepada Abah dan Ibu sebelum akhirnya mengendarai motor menuju rumah Ningsih. Cemas dan khawatir membuatnya berusaha secepat mungkin sampai di sana. Perjalanan yang harusnya tiga pulu menit, hanya ditempuh sepuluh menit saja. Joko sudah seperti pembalap profesional.


Sesampainya di rumah Ningsih, Joko langsung memarkirkan motor dan berlari ke lantai dua. Ningsih masih pingsan, belum sadarkan diri. "Dek, kenapa Ningsih?" tanya Joko pada adiknya.


"Nggak tahu, Bang. Tadi Pak Umar dengar Tante Ningsih teriak. Tahu-tahu begini ...." jawab Nindy yang cemas.


Joko mencoba membangunkan Ningsih, tetapi belum membuahkan hasil. Dia langsung mengajak Pak Umar untuk mengangkat tubuh Ningsih. "Pak Umar, ayo gotongan Nyonya Ningsih dibawa ke klinik terdekat. Nindy sana ambil kunci mobil dan bukakan pintunya." perintah Joko dengan cepat.


Malam itu, mereka membawa Ningsih ke klinik. Makhluk gaib yang berada di penglaris restauran steak ternyata mengikuti Ningsih karena tahu wanita itu melihatnya. Sedangkan si pemilik resto steak itu makin membenci Ningsih yang sepertinya mengetahui magic di usahanya.


***


Subuh, dini hari di Yogyakarta ....


Santi bangun dan sudah bersiap untuk pergi menjemput PakLek Darjo di Salatiga. Dia segera menuju kamar adiknya. Memastikan apakah adiknya sudah bersiap. "Reno! Kamu udah siap, 'kan?" teriak Santi.


"Wah, kirain belum bangun. Tumben banget udah ngopi." ucap Santi seraya mendekati Reno.


"Iya, Kak. Tadi nggak bisa tidur karena semalam Nindy bilang kalau Tante Ningsih pingsan. Jadi nggak tidur sekalian, deh. Kakak belum lihat handphone?" tanya Reno pada kakaknya yang terkejut mendengar kabar itu.


"Tante kenapa pingsan? Sorry, kakak belum sempat buka handphone. Terus gimana keadaannya sekarang?" tanya Santi yang cemas.


"Sekarang udah sadar. Baru aja diajak pulang ke rumah. Kata Nindy, tadi pas sadar Tante Ningsih teriak-teriak ketakutan. Lihat hantu, sepertinya!" ujar Reno sambil menengok kanan dan kiri.


"Hust! Hantu mulu. Nggak mungkin lah. Lagi pula Tante Ningsih, 'kan, punya suami iblis. Nggak mungkin takut hantu!" kata Santi tak percaya pada ucapan Reno.


Jika dipikir, memang betul perkataan Santi. Namun, wujud asli Bima pun tak seseram wujud penglaris di resto steak itu. Apalagi penglaris itu suka menyantap daging manusia. Mengerikan!


"Iya, juga, sih, Kak! Yaudah, ayo berangkat ke Salatiga. Nanti kita sarapan di jalan aja, ya," sahut Reno seraya berdiri dari tempat duduknya.


Mereka pun pamit kepada pembantu di rumah agar tidak dicari. Lalu mereka segera melaju dengan mobil yang di kemudikan Reno. Perlahan tapi pasti jalanan Yogyakarta sudah mereka lalui. Mereka sengaja lewat Klaten untuk ke Salatiga, agak memutar tetapi jalannya lebih sepi.


Waktu berlalu dengan cepat. Sesampainya di kawasan Klaten, matahari sudah meninggi. Sekitar jam setengah tujuh pagi karena sempat macet. Santi pun mengajak Reno sarapan sebelum melanjutkan perjalanan.


"Sarapan dulu, yuk, Reno. Sekalian mau nelepon Tante Ningsih. Khawatir jadinya ...." ucap Santi pada adiknya yang tampan dan sok cuek. (Foto Reno cakep loh! Ada di Wallpaper GrupChat)


"Iya, Kak. Siap. Mau sarapan apa? Itu ada Sop Ayam Pak M*n. Mau nggak, Kak?" tanya Reno sambil memberi sent mobil ke kiri.

__ADS_1


"Iya, nggak apa. Enak itu."


Mereka pun berhenti di tempat makan, memesan makanan, lalu menunggu pesanan datang. Santi langsung menelepon Tante Ningsih.


Santi: "Assalamualaiku, Tante Ningsih."


Ningsih: "Wa'alaikumsalam, Santi ... tumben telepon pagi. Ada apa dengan Wahyu?"


Santi: "Nggak ada apa-apa, Tante. Wahyu baik-baik aja di pesantren. Santi cuma mau nanyain keadaan Tante. Katanya, tadi malam Tante pingsan? Apa Tante kecapekan?"


Ningsih terdiam sesaat. Lalu terdengar dia menghela napas sebelum akhirnya menjawab.


Ningsih: "Iya, Santi. Tante diganggu sama makhluk gaib. Ada orang yang pakai penglaris di deket resto barunya tante. Pas tante ke sana buat survei makanan, tante lihat makhluk itu. Nggak tahu kenapa, makhluk itu tiba-tiba muncul di jendela kamar tante."


Santi: "Astagfirullah ... sabar, ya, Tante. Istigfar dan banyak berdoa. Tante Ningsih mungkin kecapekan. Buat istirahat juga. Selamat, ya, Tante untuk restaurannya. Maaf, saat ini Reno dan Santi belum bisa ke sana."


Ningsih: "Iya, nggak apa, Santi."


Setelah bercakap cukup lama, hingga sop pesanan datang dan mulai dingin. Santi pun mengakhiri pembicaraan dari handphonenya dengan berpamit. Ningsih pun senang, keponakannya ternyata masih peduli.


Reno yang diam saja ternyata sudah menyantap habis pesanannya. Satu sop ayam paha, satu nasi, satu sop ayam dada, dan segelas teh hangat. Reno terlihat kenyang dan puas menyantap makanan itu.


"Curang, ya. Ternyata dah makan duluan!" dengus Santi kesal dengan adiknya.


"Lah, lama yang teleponan, sih, Kak. Reno keburu lapar. Maaf, ya." lirih Reno sambil mengelus perutnya yang sixpack menjadi sedikit bergelombang.


"Iya ... yaudah, kakak makan dulu."


Santi menghabiskan sarapannya dan minum teh hangat. Setelah itu mereka membayar ke kasir dan melanjutkan perjalanan ke Salatiga. Lega rasa hati Santi karena Tante Ningsih baik-baik saja.


"Kak, kok aneh, ya?" tanya Reno di jalan hampir sampai tujuan.


"Aneh kenapa?" Santi memperhatikan adiknya.


"Tante Ningsih aneh. Katanya suaminya Iblis. Bukannya Iblis itu sama setan pangkatnya bagus Iblis, ya? Ngapain takut coba? Terus sumainya itu nggak ngelindungi, kah?" Reno dengan lugu melontarkan pertanyaan itu.


"Ha ha ha ha ... mana ada pangkat-pangkatan! Ada-ada aja kamu, Reno! Kalau soal melindungi, Iblis itu bukannya tugasnya menyesatkan manusia, ya?" jelas Santi membuat Reno tercengang.


Pernyataan Santi membuat Reno paham. Mengapa sering kali Tante Ningsih atau keluarganya berada dalam bahaya tanpa visa dicegah. Memang benar adanya, Iblis itu menyesatkan manusia. Dali menyelamatkan atau membantu, ujung-ujungnya akan semakin menjerat dan membawa manusia ke dalam dasar kegelapan yang tak berujung. Reno pun merinding mengingat pernah menyukai Tante Ningsih. Bahkan melepaskan keperjakaan untuk napsu saja. Reno pun dalam hati tak henti-hentinya bersyukur karena berkat bantuan PakLek Darjo, dia bisa bebas dari cengraman maut. Dia bisa lepas dari jerat Iblis dan segala kuasa kutuk perjanjian Ratih maupun Ningsih.


Reno menjadi merasa beruntuk. Seperti halnya menyelamatkan kehidupan Wahyu, Reno pun berharap bisa menyelamatkan Tante Ningsih. Dia hanya ingin nasib Tante Ningsih tak seburuk mamanya (Ratih).


"Kak, sudah sampai rumahnya PakLek. Itu ada BuLek di depan," kata Reno sambil menekan klakson mobil dan tersenyum melihat BuLek ada di depan sedang menyapu halaman.


Mereka pun bergegas keluar dari mobil, menghampiri BuLek dan PakLek. Mengucapkan salam sambil mencium tangan mereka bergantian.


"Nduk, apa yang kamu lakukan sudah benar. Namun, mengapa ada aura hitam di atasmu?" ucap PakLek membuat Santi bertanya-tanya.


Sebenarnya, aura hitam apakah itu? Kenapa Santi mengeluarkan aura hitam di atas tubuhnya?

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2