
...🔥 DINDA COME BACK 🔥...
Predikat Nyi Pelet pada Dinda memang tak salah. Dinda berbeda jauh dengan Bima. Tiap ada permasalahan atau merasa sakit hati, dia akan langsung mencari pelampiasan dengan mengambil jiwa-jiwa orang berdosa yang rela melakukan apa pun demi Dinda. Seperti halnya saat ini, Dinda bingung dan marah dengan kondisinya. Dia langsung mencari mangsa.
Seorang gadis yang sering mengalami pembullyan berjalan dengan gontai ke rumahnya. Terlihat gadis itu masih SMA dengan pakaian seragamnya. Gadis itu bernama Via. Gadis dari seorang sopir angkutan kota dan seorang buruh cuci pakaian. Via menyukai seorsng lelaki di sekolahannyam Jelas saja dia ditolak karena lelaki itu termasuk kalangan anak orang kaya yang mudah mencari pacar.
"Mangsa baru," lirih Dinda melihat Via berjalan melewatinya. Terlihat aura gelap dan penuh kesedihan serta dendam dari tubuh Via.
Dinda lebih suka melampiaskan rasa sedih atau marahnya dengan menuai jiwa berdosa. Berbeda jauh dengan Bima yang mulai berubah sejak adanya Ningsih.
Dinda diam-diam mengikuti Via pulang ke rumah. Melihat apa yang akan dilakukan gadis itu saat sampai di rumah. Terlihat rumah yang berada di ujung desa. Masuk ke gang yang cukup jauh dari jalan raya. Rumah yang belum dicat dan terlihat usang itu digunakan untuk tinggal orang tua dan tiga anaknya. Via anak pertama, sedangkan dua adiknya kelas dua SMP, dan kelas lima SD. Kemiskinan membuat mereka semakin sulit untuk menjalani hidup sehari-hari.
Via masuk ke rumah, lalu melemparkan tasnya yang sudah lusuh ke kursi yang sudah lapuk. Hal itu membuat ibu terkejut.
"Astagfirullah, Kakak. Ada apa, kok, banting tas?" tanya ibu yang buru-buru keluar dari kamar mandi karena masih mencuci pakaian orang.
"Huh, Ibu menyebalkan! Mana janjinya beliin tas baru? Aku sudah bosan nunggu tak pasti. Sampai aku dikucilin gara-gara miskin! Uang bantuan dari pemerintah juga bukan buat tas ama sepatuku, malah dipakai buat makan sehari-hari. Ibu sama Bapak mikir perasaanku nggak, sih?!" gertak Via pada ibunya. Membuat wanita tua yang sudsh berjuang itu menjadi sedih.
"Kak, nyebut, Kak. Jangan seperti itu. Ibu sama Bapak juga berjuang, tapi gimana lagi keadaannya begini," kata ibu membuat Via makin marah.
"Kalau gitu, mending aku minggat aja dari sini!" seru Via yang langsung berlari pergi meninggalkan rumah.
"Kak, mau ke mana? Kak, maafkan Ibu!" seru ibu yang tak bersambut jawaban dari Via.
Via berlari sekencang mungkin. Bukan ke arah jalan raya, justru berlari ke arah kebun tebu yang menuju ke sawah dan ladang. Rasa sedih dan kecewa menguasai hati gadis yang beranjak dewasa itu. Dinda langsung menghampiri Via yang berlari tak tentu arah.
"Hei, gadis kecil. Mau berlari ke mana kamu?" kata Dinda menghentikan langkah gadis itu seketika. Dinda menampakkan wujudnya yang tidak seram. Namun, rasa horor itu terasa nyata.
"Si-siapa kamu?" tanya Via yang bingung.
"Aku? Aku adalah makhluk yang akan membantumu keluar dari kemiskinan dan mengubah hidupmu. Ha ha ha ha ...." Dinda pun membuat Via terkejut dan menatapnya tanpa berkedip.
"Ma-maksudmu? A-apa maksudmu?" Via terdiam menatap Dinda.
__ADS_1
"Aku akan membantumu jika kamu bersedia. Hidup mudah, banyak harta, dan disukai banyak orang tanpa kecuali. Kamu mau hidup seperti itu? Jadi gadis terkenal sangat mudah," jelas Dinda penuh. bujuk rayu pada gadis SMA itu.
Jelas saja Via langsung mau dengan tawaran itu. "Aku mau! Kamu siapa dan bagaimana kamu bisa membantuku?" selidik Via pada Dinda yang mengenakan pakaian seperti gaun hitam.
"Mudah caranya. Jadi pengikutku. Aku akan menbantumu. Dalam tiga hari, akan kuubah hidupmu menjadi jauh lebih baik. Kau mau?" Dinda memberi penawaran bagi gadis yang gegabah itu. Jelas saja Via menyetujui tanpa berpikir panjang.
"Mau! Aku mau! Akan aku lakukan apa pun jika kamu bersedia mengubah hidupku!" seru Via antusias.
"DEAL!" Dinda mengulurkan tangannya ke Via.
Via menjabat tangan Dinda, lalu cahaya merah menyeruak menyilaukan mata Via. Dia pun kaget dan pingsan. Via tak sadarkan diri selama tiga hari. Selama tiga hari itu juga, Dinda menggunakan tubuh Via untuk mencari jiwa lelaki berdosa yang terbelenggu dalam pesona wanita dan mau melakukan apa pun demi harta. Mangsa yang tepat untuk menjadi penghuni neraka lapis ketujuh.
Tiga hari waktu yang cukup untuk meraja rela. Setiap lelaki yang terpikat dengan Via, akan menjadi tumbal. Dinda sangat bahagia. Tubuh gadis muda belia, menjadi sasaran buaya darat dan om-om pecinta ABG. Mudah sekali mendapatkan mangsa. Dalam tiga hari, sudah sepuluh tumbal Dinda dapatkan dengan tubuh Via. Sedangkan selama tiga hari juga orang tua Via bingung mencari di mana anak gadisnya berada.
Pesona Dinda membuat wajah Via jauh berbeda. Dahulu ada bintik-bintik jerawat di wajahnya dan rambutnya kusut serta tidak modis, sekarang dia menjadi cantik, wajahnya mulus dan glowing, serta rambut lurus tertata rapi dengan pakaian yang modis. Tentu saja semua harta kekayaan Via dapat dari sepuluh tumbal itu.
JERAT IBLIS sangat nyata terasa karena setiap tumbal yang diambil untuk sesaji mendatangkan uang karena harta yang seharusnya untuk mereka, diambil paksa oleh iblis dan diberikan kepada pengikutnya. Jadi, para pengikut iblis, entah pesugihan, penglaris, pelet, dan sebagainya, itu hanya pengalihan saja dari harta atau pesona korban yang ditumbalkan ke orang yang bersekutu dengan iblis.
...****************...
Tiga hari kemudian ....
Dinda sudah menyelesaikan tugasnya, kini kecantikan dan pesona Via maksimal. Gadis itu terbangun di sebuah apartemen mewah dengan keadaan bingung.
"Ha? Di mana aku? Tempat apa ini? Wah, bagus dan mewah," lirih Via yang kagum dengan tempat itu.
Tiba-tiba Dinda muncul di hadapannya. "Hei, bagaimana mimpimu? Tidur nyenyak selama tiga hari begitu menyenangkan, bukan?" tanya Dinda pada Via.
"Apa? Ha? Tiga hari? Gawat! Ibu dan Bapak pasti mencariku dan khawatir!" seru Via yang terperanjat dari ranjang empuk itu dan segera mencari jalan keluar dari apartemen. Namun, dia terhenti saat melihat cermin.
"A-apa ini? A-apa itu aku?" tanya Via terbata-bata menatap cermin.
"Ya, itu kamu. Hasil semedi tiga hari. Ha ha ha ... dan ini, apartemenmu. Ada juga mobilmu di garasi apartemen. Uangmu juga cukup banyak di brankas," jelas Dinda tanpa mengatakan sepuluh tumbal itu.
__ADS_1
"A-apa? A-apakah ini mimpi? Terima kasih banyak ...." Via langsung berlari memeluk Dinda. "Siapa namamu? Kamu baik sekali membantuku. Aku akan ajak keluargaku pindah ke sini!" imbuh Via dengan senang.
"Jangan senang dulu. Apartemen ini tak boleh untuk keluargamu. Tempat ini khusus untuk kita dan ritual kita," bisik Dinda dengan aura mengerikan.
Via melepaskan pelukkannya. Dia menatap Dinda dengan pandangan tak mengerti. "Ritual apa? Aku belum paham."
"Ha ha ha ha ha ... tiada yang gratis di dunia ini, Via. Kamu sudah membuat kesepakatan denganku. Katamu apa pun syaratnya kamu mau. Ritual kita akan diadakan setiap sebulan sekali atau lebih jika kamu butuh bantuanku. Seperti kemarin, kamu akan tidur nyenyak beberapa hari dalam menjalankan ritual ini. Kamu paham? Tak perlu takut. Keluargamu aman asal kau jalankan semua sesuai yang kukatakan." Dinda menyeringai menakutkan membuat Via merinding.
"Ba-baik. Asal jangan sakiti orang tua dan adik-adikku. Aku akan menurut."
"Keputusan yang tepat. Kalau begitu, agar orang tuamu tak curiga, aku akan menyamar sebagai orang yang akan menjadi orang tua angkatmu. Katakan saja kau kabur dari rumah dan bertemu denganku. Semua kekayaan yang kau dapat kemarin bisa kau gunakan untuk membeli rumah dan apa pun yang kau inginkan untuk keluargamu. Bilang saja aku yang memberi karena kamu membantuku saat aku hampir kecelakaan. Cukup masuk akal, bukan?" Dinda memberi alasan yang bisa diterima logika.
"Baik. Terima kasih."
Via dengan mudah masuk dalam perangkap Dinda. Manusia gegabah yang haus akan harta kekayaan tanpa mau berusaha terlebih dahulu, mudah sekali masuk dalam pelukan tipu muslihat iblis. Bahkan, mengorbankan hidup orang lain pun terlihat sangat mudah dan biasa.
Seperti dalam kehidupan nyata, tak hanya tumbal membunuh orang, tetapi fitnah kejam pun bisa menjadi hal yang mengorbankan hidup orang lain. Membuat orang lain hancur agar diri sendiri terlihat lebih baik, tanpa campur tangan iblis pun manusia sudah memiliki hasrat seperti itu.
Via dan Dinda ke rumah saat sore hari. Tepat sekali orang tua Via di depan rumah bersama beberapa orang. Ibu Via tak henti-hentinya menangis dan terkejut saat melihat Via pulang dengan wanita asing.
"Via! Via anak Ibu. Maafin Ibu, ya, Kak. Jangan pergi dari rumah lagi," seru ibu Via yang langsung berlari memeluk anak gadisnya.
"Berhubung anaknya sudah pulang, kami pamit saja, ya," kata Pak RT dan Pak RW yang kurang tanggap pada keluarga miskin itu.
"Maaf merepotkan, Pak," ucap bapak Via menunduk sopan.
Dinda pun menghampiri orang tua Via dan menjelaskan. "Maaf membuat khawatir. Anak Bapak dan Ibu sudah menyelamatkan nyawaku saat hendak terjadi kecelakaan. Oleh karena itu, saya berniat mengangkatnya sebagai anak jika diperbolehkan. Aku tahu jika Via sedang ada masalah juga dengan keluarganya."
Meski susah, bapak Via termasuk lelaki yang bertanggung jawab. "Maaf, Nyonya. Bukannya kami tidak tahu berterima kasih, jangan bawa anak kami. Walau kami hidup susah, tetapi keluarga adalah nomor satu. Maafkan jika Via menyusahkan tiga hari ini," ucap bapak dengan sopan.
"Tidak menyusahkan, Pak. Justru saya ingin menbantu keluarga Anda. Bagiamana jika seluruh biaya sekolah dan perlengkapan sekolah ketiga anak Bapak, aku cukupi? Rumah kalian juga tak layak huni, aku akan membelilan sebuah rumah baru sebagai tanda terima kasihku Via sudah menyelamatkanku tiga hari yang lalu. Aku ini belum memiliki keluarga. Jadi, tolong terima niat baikku," jelas Dinda dengan penuh mengada-ada.
Tanpa mengetahui nasib keluarga mereka akan dalam bahaya, bapak Via pun menyetujui hal itu karena alasan balas budi cukup rasional terlebih Dinda menceritakan bahwa dirinya pengusaha kaya raya. Wanita yang hidup seorang diri. Bapak dan Ibu Via pun dibujuk Dinda dengan mudah, mau menerima rumah baru yang sudah disiapkan. Malam itu juga, mereka bersama dua adik Via pindah ke perumahan baru. Hidup baru dimulai. Welcome back, Dinda!
__ADS_1