JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 120


__ADS_3

πŸ€ PERTEMPURAN GAIB - PART 2 πŸ€


Bima ikut masuk ke dalam rumah yang pagar gaibnya sudah mulai pudar karena kondisi Budi yang terluka parah. Ningsih pun menjawab perkataan Bima dalam hati.


"Jika kamu bisa, sembuhkan saja Budi. Kumohon jangan sakiti dia. Mak Sri sedih melihatnya." batin Ningsih sambil menatap Bima yang mendekat ke Budi.


Sebenarnya, bukan hal yang sulit untuk mengambil nyawa Budi waktu itu. Namun Bima memikirkan kembali tentang permohonan Ningsih. Dia pun memegang pundak Budi dan menyembuhkan luka dalam tubuhnya.


"Astafirullah ...." kata yang pertama terucap dari bibir Budi saat membuka mata dan melihat Bima di sampingnya.


"Budi, kamu tak apa Le? Budhe khawatir tenan. Sini senderan kursi dulu biar agak enakan." kata Mak Sri yang khawatir setelah menelepon bapaknya Budi.


"Tak apa, Budhe. Maaf membuat khawatir."


Suara sirine ambulance pun terdengar mendekat. Petugas medis masuk ke rumah. Mereka langsung mengobati Budi karena petugas bersama dokter dan perawat homecare. Melihat situasi itu, Bima segera menarik tangan Ningsih ke arah taman samping rumah untuk mengajak bicara.


"Ningsih, kumohon dengarkan dahulu penjelasanku. Pertama, aku dengan Wati tidak ada hubungan apa-apa. Aku hanya mengambil tumbal dari kelakuan suaminya yang hidung belang. Lalu yang kedua, Budi membuatmu ruqiyah perlahan untum lepas dariku. Jika kubiarkan hal ini secara menerus akan membuatmu makin jauh dariku. Makanya kamu bermimpi yang bukan-bukan. Ketiga, aku tak pernah merasakan cinta pada siapapun selama aku hidup jadi manusia hingga saat ini ratusan tahun menjadi Iblis. Aku memang tidak pantas berkata jujur, tapi inilah kenyataannya. Kamu itu spesial. Kamu itu satu-satunya wanita yang ingin kumiliki. Please, percayalah." Penjelasan Bima yang panjang didengar Ningsih yang kemudian tertegun.


Ningsih pada ambang antara percaya atau tidak kepada suami gaibnya. Ningsih pun menangis tak kuasa merasakan bimbang.


"Bima ... aku hanya takut jika hal itu benar. Aku takut kalau perasaanmu sama pada semua wanita pengikutmu. Aku takut kalau ...."


Belum selesai Ningsih berbicara, telunjuk Bima menutup bibir Ningsih untuk berhenti berkata. "Sst ... jangan berpikir seperti itu sayang. Bukankah kita sudah lewati semua bersama? Jika bukan karenamu, mungkin aku tak akan segila ini menentang keinginan Tuanku Chernobog. Maaf, sayang. Aku minta maaf membuatku resah dan salah paham. Maaf," kata Bima lalu memeluk tubuh Ningsih.


Bima dan Ningsih terlalu hanyut dalam perasaan mereka yang tak seharusnya hingga lupa dengan segala yang ada di sekelilingnya. Saat Mak Sri menelepon Pak Anwar, beliau lekas melakukan penerawangan apa yang terjadi dengan anaknya. Pak Anwar melihat semua kejadian itu dan tak bisa tinggal diam.


"Astafirullah ... malam ini, mau tak mau aku harus ke sana meski dengan rogoh sukma. Jika dibiarkan, Budi dan Mbak Sri akan dalam bahaya. Insyaallah semua akan segera berakhir," lirih Pak Anwar dari dalam pesantrennya.


***


Hari yang panjang, malam harinya Mak Sri dan Santi masih di rumah sakit menunggu Budi yang terbaring lemas di sana. Kejadian siang hari itu membuat tim medis menyarankan Budi opname untuk pengobatan lebih lanjut dan Ningsih mengiyakan agar suasana tenang terlebih dahulu.


Di sisi lain, Bima sedang menghadapi Pak Anwar yang datang menemuinya. Kali ini pertempuran Gaib tak terelakan.


"MENGAPA KAU KEMARI HAI MANUSIA!" gertak Bima pada bapaknya Budi.


"Sudah lama sekali kubiarkan kamu menjerat kehidupan manusia. Kali ini aku tak akan tinggal diam!" Pak Anwar pun berdoa dan mulai menyerang Bima secara bertubi-tubi.


Bima bisa menghindar, tetapi beberapa kali serangan itu melukainya. "TASBIH DARI LELUHUR RUPANYA! AKU TIDAK AKAN BERMAIN-MAIN KALI INI UNTUK MENGHADAPIMU." Bima pun menyerang Pak Anwar. Serangan demi serangan menjadi lebih intens. Namun keunggulan ada di tangan Pak Anwar.

__ADS_1


Energi Bima sudah berkurang karena pertempuran tadi siang dengan Budi. Terlebih Bima juga menyembuhkan luka dalam tubuh Budi demi Ningsih. Hal ini menjadi celah bagi Pak Anwar mengalahkan Bima.


Bima terpukul hantaman tasbih Pak Anwar. Lalu terpental beberapa meter. Tubuh besar Bima dalam wujud iblis pun mampu terhuyung karena terluka di pertempuran gaib ini. Pak Anwar hendak memusnahkan Bima saat tiba-tiba cahaya merah muncul dan membuat silau.


"Populus domine ad quantum!" ucap Tuan Chernobog yang seketika muncul menangkis serangan Pak Anwar dan membuatnya terpental kembali ke dunia nyata, masuk ke tubuhnya.


"TU ... TUAN CHERNOBOG?" Bima terkejut melihat penguasa Neraka lapis ketujuh datang membelanya.


"Sudah kubilang selesaikan tugasmu seperti biasa agar tak menimbulkan masalah! Kuberi satu kesempatan jika kau tak bisa maka kuambil wanita itu dengan tanganku sendiri!" Bagai disambar petir mendengar ucapan Tuan Chernobog. Bima hanya bisa tertunduk hormat.


"MAAF TUAN CHERNOBOG." Bima tak bisa berkata lagi dan menahan luka di dadanya.


Tuan Chernobog pun menghilang bersama perginya cahaya merah yang menyilaukan. Bima tak bisa berpikir saat ini. Dia hanya takut jika Ningsih justru diambil oleh Tuan Chernobog.


***


Di sisi lain ... dalam pesantren ....


"Uhuk ... uhuk ...." Pak Anwar kembali ke raganya dan batuk-batuk mengeluarkan darah.


"Astafirullah ... Pak Kyai ... Pak Kyai ...." ucap seorang santri yang dipercayai untuk menjaga tubuh Pak Anwar selama rogoh sukma.


"Baik Pak Kyai. Ini minumlah. Saya akan memanggil empat santrinlainnya untuk membantu Pak Kyai menyembuhkan luka."


Pak Anwar hanya mengangguk. Santri kepercayaannya bernama Ridho itu sudah sejak usia lima tahun mengikut Pak Anwar di pesantrennya. Ridho menjadi santri yang mewarisi ilmu Pak Anwar meski belum seluruhnya. Setelah kelima santri pilihan berkumpul duduk bersila mengeliling Pak Anwar yang bersila menahan sakit.


"Kita gabungkan energi dan salurkan ke Pak Kyai." kata Ridho memberi petunjuk.


"Baik." jawab keempat santri lainnya bersamaan.


"Bismillah ...." mereka pun mengucapkan beberapa doa tertentu dan menyalurkan energi dengan menempelkan telapak tangan ke arah Pak Anwar.


Cukup lama mereka melakukan hal itu hingga hampir sejam dan luka Pak Anwar sudah terobati. Kelima santri itu berhenti dan terlihat kelelahan.


"Terima kasih anak-anakku. Kalian berusaha dengan sangat baik. Sekarang beristirahatlah untuk memulihkan tenaga." kata Pak Anwar yang sudah pulih dari luka dalam.


"Baik Pak Kyai." jawab para santri dan berlalu pergi sesuai perintah Pak Anwar kecuali Ridho.


"Bapak, jikalau hal ini berat biarlah Ridho menyusul Mas Budi ke Jakarta untuk membantunya," ucap Ridho dengan hati-hati.

__ADS_1


"Tidak, Nak. Belum saatnya. Besok kita kirim tenaga untuk Budi dan dzikir bersama agar Allah tunjukkan jalan. Saat ini tidurlah. Pulihkan energimu. Bapak berterima kasih karena kamu sangat bisa diandalkan," puji Pak Anwar sambil menepuk-nepuk bahu Ridho.


Ridho pun pergi dan kembali ke kamarnya. Sedangkan Pak Anwar berdzikir dan memulihkan energinya. Rasa khawatir pada Budi membuat Pak Anwar harus bertindak cepat. Semoga Allah menberi petunjuk.


***


Malam harinya di rumah sakit ....


Budi tersadar dari istirahatnya. Beberapa obat dan infus membuatnya tertidur beberapa jam dan energi tubuhnya mulai membaik. Mak Sri dan Santi diantar Joko menunggu Budi di rumah sakit. Sedangkan Ningsih, Wahyu, dan Reno berada di rumah untuk bergantian menjaga Budi atau Wahyu.


"Budhe ...." guman Budi dengan suara pelan.


"Le, sudah bangun? Budhe khawatir sama kamu. Apa yanh dirasakan ada yang sakit?" jawba Mak Sri yang berada tepat di samping Budi sedangkan Santi tertidur di kursi panjang untuk menunggu pasien di samping ranjang.


"Sudah enakan kok, Budhe. Ini Budi di mana?" Budi pun mencoba duduk dan menatap seisi ruangan yang asing. Lalu menatap Santi yang tertidur terlihat kelelahan.


"Ini di rumah sakit, Le. Tadi Bu Ningsih memanggil ambulance dan tim medis saat kamu pingsan. Lalu kata dokter lebih baik kamu dirawat intensif agar lekas pulih. Jadi jangan banyak bergerak dulu," jelas Mak Sri sambil mengusap kening keponakannya.


Mak Sri merasa bersalah telah mengajak Budi bekerja di rumah Ningsih. Meski sudah sekian lama Mak Sri merasakan hal aneh dengan kehidupan Bosnya, beliau hanya diam dan banyak berdoa agar Allah melindunginya. Namun kali ini ancaman gaib sungguh nyata hingga melukai orang lain di sekeliling Bu Ningsih. Mak Sri pun berencana untuk berpamit dan berhenti bekerja tetapi beliau tak tega meninggalkan Wahyu sendirian dalam dosa yang dibuat Ibunya.


"Terima kasih Budhe sudah perhatian dengan Budi. Setelah ini lebih baik Budhe berhenti bekerja dan kembali ke kampung. Budi khawatir jika Budhe juga dalam masalah," lirih Budi tak ingin orang lain mendengar percakapan mereka.


"Le, Budhe ini sudah bilang kan? Budhe tak akan pergi jika tak membawa Wahyu. Mana bisa Budhe selamat dan melihat anak yang sejak usia setahun dirawat dengan tangan sendiri berada dalam bahaya bersama ibunya. Budhe mohon, jika tak bisa selamatkan Bu Ningsih, setidaknya selamatkan puteranya." kata Mak Sri meminta pada Budi.


Percakapan itu pun didengar Santi dan membuatnya terjaga. "Mak ... Budi sudah bangun?" kata Santi yang terduduk di kursi tempatnya tidur tadi. Dia sengaja memesan kelas VIP untuk Budi agar bisa menemani bersama Mak Sri.


"Iya, Non Santi. Budi sudah bangun. Non Santi pasti kelelahan. Istirahatlah dahulu."


"Tidak, Mak. Maaf sudah ketiduran. Barusan Santi dengar soal Wahyu ya? Santi akan bawa Wahyu ke Yogyakarta saja. Bagaimana pun caranya, Santi akan ajak Wahyu. Soal Tante Ningsih ... Santi makin ragu apakah bisa menyelamatkannya." kata Santi kemudian tertunduk.


"Non Santi, insyaallah semua akan terselamatkan dengan bantuan Allah. Jangan putus berharap. Terima kasih Non Santi sudah membantuku dan menemaniu di rumah sakit. Aku akan berusaha yang terbaik untuk kalian," ucap Budi membuat Santi merasa tenang untuk sesaat.


Budi harus mengatur rencana berikutnya karena makhluk gaib yang dia hadapi ternyata lebih tinggi kekuatannya dibanding Jin. Iblis adalah makhluk penghuni neraka yang menjadi salah satu pemilik kekuatan gelap yang hebat.


Malam itu, Bima pun susah payah untuk berjalan. Serangan dari Anwar membuatnya terluka parah dan untung saja Tuan Chernobog menyelamatkannya. Bima harus berhati-hati karena hal ini bisa membahayakannya dan Ningsih.


Bersambung ....


*)Le \= Tole \= sebutan untuk anak laki-laki dalam Jawa

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, SHARE, DAN VOTE YAA GUYS^^


__ADS_2