JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 44


__ADS_3

...🔥PERPISAHAN YANG TERMANIS 🔥...


Nindy menjadi trauma karena perbuatan Tuan Black saat menyekapnya. Reno sampai bingung bagaimana menenangkan Nindy. Dia pun berinisiatif membawa istrinya ke dokter spesialis kejiwaan. Lisa sementara ditemani Gio dan Gilang terlebih dahulu di rumah Reno


"Sayang, tenang dulu, ya. Aku akan segera periksakan kamu. Jangan ketakutan lagi," ucap Reno yang khawatir dengan kondisi istrinya. Dia mengendarai mobil sendiri, sedangkan Nindy duduk di sampingnya dengan kondisi yang kurang sehat secara psikologis.


Nindy terlihat gelisah dan bingung. Beberapa hari ini setelah kembali ke rumah, sikap Nindy jadi berubah. Pendiam dan terlihat ketakutan setiap saat. Reno takut jika istrinya terguncang. Oleh karena itu, dia segera mencari pertolongan medis.


Sesampainya di klinik, Reno langsung istrinya masuk ke dalam. Dia mendaftar dan bertemu dengan ahlinya untuk menangani kondisi Nindy.


"Sudah berapa lama kondisi istri Anda seperti ini, Tuan?" kata dokter kepada Reno.


"Sekitar lima hari ini, Dokter."


"Baik, saya periksa dahulu. Nyonya, saya periksa dulu tensinya ya," kata dokter yang langsung membuat Nindy ketakutan.


"Jangan ... jangan sentuh aku ... jangan ...." kata Nindy yang kemudia menutup wajahnya seperti orang ketakutan.


"Apa yang terjadi sebelumnya, Tuan?" tanya dokter yang butuh penjelasan terlebih dahulu.


"Istri saya diculik. Sejak kembali, dia jadi ketakutan seperti itu. Kadang juga berteriak histeris. Kalau ditanya ada apa atau apa saja yang dia alami, justru mengamuk. Saya pikir ini hanya syok dan bisa pulih lagi setelah tenang, ternyata malah makin parah," jelas Reno pada dokter di hadapannya.


Dokter itu pun menyarankan pengobatan dengan metode hipnotis agar Nindy rileks dan bisa mengucapkan apa yang dia takutkan. Setelah itu, baru bisa mengobati traumanya.


Reno pun setuju dengan hal itu. Bagaimanapun, Nindy tetap yang Reno cintai seumur hidup. Proses pun dilakukan. Nindy terhipnotis dan hanyut dalam setiap pertanyaan dan perintah dokter. Dia pun mulai bercerita soal penyekapan itu. Cerita tentang perlakuan penjahat itu hingga hal memilukan yang dia hadapi saat disekap. Dalam ikatan dan tali yang kejam, dia diperkosa. Secara paksa harus melayani penjahat itu. Mengerikan. Nindy takut karena hal itu.


Dokter pun memberi solusi serta obat untuk Nindy agar lebih banyak istirahat. Setelah berbincang dengan Reno sejenak, akhirnya dokter mengakhiri sesi pengobatan hypnoteraphy-nya. Reno pun mengajak Nindy pulang. Wanita itu sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya.


Reno pun membawa Nindy pulang kerumah. Dua hari lagi, perpisahan dengan Bima dan Alex akan diadakan di rumah Ningsih. Reno pun memikirkan Tante Ningsih yang pasti sangat sedih berpisah dengan anak dan suaminya. Dinda pun sudah berpamit karena tak mungkin bertemu lagi sesuai perintah Bima.


...****************...

__ADS_1


...(Lirik lagu Perpisahan Termanis di skip)...


...****************...


Ningsih duduk di hamparan rumput hijau yang penuh dengan bunga-bunga warna-warni. Dia mengamati keindahan alam di sekitarnya. Terlihat langit biru yang sangat luas dengan awan putih yang menghiasi angkasa. Matahari bersinar terang, tetapi suasana terasa sejuk karena awan-awan menutupi Ningsih dari sengatan sinar matahari.


Ningsih melihat beberapa kupu-kupu yang berwarna-warni melintas. Terbang dari satu bunga ke bunga yang lainnya. Dia sangat menikmati sinar matahari di pagi itu dan udara yang sangat sejuk.


Bima berjalan mendekati Ningsih. Dia pun duduk di rerumputan yang berwarna hijau, tepat di samping istrinya. Bima menatap wanita yang dia cintai dengan lengkat, tanpa berkedip sedikit pun. Lelaki itu sungguh mencintai istrinya.


"Kamu suka tempat ini, bukan? Tempat yang menyejukkan hati. Tempat yang pernah kutunjukkan sebelum semuanya berjalan seperti ini," lirih Bima yang masih menatap istrinya.


"Iya, sayang. Aku suka sekali. Tempat di mana Ibumu sering kunjungi meski dalam dimensi yang berbeda. Sangat sejuk dan menenangkan hati," jawab Ningsih yang kemudian menatap balik wajah suaminya yang tampan.


"Ningsih, aku ingin jadikan ini perpisahan yang termanis sebelum aku benar-benar pergi. Aku tak ingin kamu menangisiku. Kisah kita yang penuh perbedaan, biarlah abadi dalam kenangan. Aku akan selalu mencintaimu," kata Bima sambil memberikan sekuntum bunga mawar putih kepada istrinya.


"Bima Sayang, aku menyayangimu. Aku mencintaimu. Aku akan berusaha untuk tidak menangis saat kau pergi. Semoga kita bisa bertemu lagi, Bima," jawab Ningsih yang sudah menata hati untuk kenyataan terburuk yaitu perpisahan.


Bima pun mendekatkan wajahnya ke istrinya. Dia pun mengecup bibir Ningsih dengan perlahan. Desir angin berembus menerpa tubuh mereka. Dalam dimensi yang berbeda dari dunia manusia, mereka saling berpelukan dan memadu kasih. Rerumputan hijau dan bunga-bunga menjadi saksi bisu sepasang kekasih beda dunia yang mencinta.


Bima dan Ningsih segera kembali ke dunia manusia setelah bersiap hati untuk berpisah. Bima menggenggam erat tangan istrinya dan berharap semua akan baik-baik saja. Sesampainya di dunia manusia, waktu sudah malam. Semua keluarga Ningsih dan Bima berkumpul, kecuali Santi dan Budi karena mereka tak tahu masalah ini. Ningsih sengaja tidak mengizinkan keluarga Santi dan Budi tahu akan hal itu.


Melihat Bima dan Ningsih datang, Alex dan Wahyu langsung senang.


"Mama ... Papa ...." lirih Alex dan Wahyu bersamaan saat kedua orang tuanya datang. Mereka memang sudah bukan anak kecil lagi. Mereka memikirkan orang tuanya butuh waktu bersama lebih lama sebelum berpisah. Orang tuanya butuh waktu berdua.


"Wahyu ... Alex ...." seru Ningsih dan Bima yang langsung memeluk kedua anaknya. Mereka berempat berpelukan dan merasakan haru dan sedih begitu dalam.


Dinda dan Boy hanya terdiam menatap mereka, berpikir apakah mungkin masa depan mereka akan seperti itu juga? Lauren dan Daniel pun sedih mengetahui hari ini terakhir bagi Ningsih dan Bima. Reno dan Nindy juga bersedih melihat perpisahan itu, mereka pun berpikir apakah Ningsih bisa hidup tanpa Bima?


"Sudah waktunya Papa pergi. Papa akan bawa Alex. Wahyu, jaga Mama sebaik mungkin, ya," ucap Bima sambil melepas pelukkan itu. Waktu berjalan dengan cepat.

__ADS_1


Meski Alex tidak terikat apa pun dan masih bisa ke dunia manusia, tetapi sama saja perpisahan itu menyisakan luka. Bima sudah meyakinkan semuanya sesuai harapan Bima sejak awal. Dia ingin Ningsih dan putranya melanjutkan hidup normal sebagai manusia seperti pada umumnya. Bertaubat adalah jalan yang penting agar terhindar dari segala siksaan neraka. Bima tak ingin istrinya ikut ke dalam neraka dan tersiksa.


"Dinda, Boy, Daniel, dan Lauren, aku berpamit. Jaga diri kalian baik-baik. Reno dan Nindy, jadilah keluarga yang utuh dan juga menjadi saudara yang baik untuk Wahyu dan Mamanya. Kami akan pergi sebentar lagi. Semoga kehidupan kalian akan lebih baik," kata Bima membuat mereka berlinang air mata.


"Kak, aku akan sering ke sana untuk berkunjung," ucap Dinda yang masih menjadi pengikut penguasa neraka ketujuh.


"Jangan. Meski sesama penghuni neraka, tempat kita berbeda. Itu juga akan berbahaya untukmu. Lagi pula Tuan Chernobog belum tahu soal aku dan Alex. Biarkan saja. Jangan mencariku." Bima melarang Dinda mencarinya di neraka.


"I-iya, Kak. Kakak ... Dinda sayang Kak Bima." Dinda langsung memeluk kakaknya. Meski mereka kembar, Dinda lahir setelah Bima.


"Iya, Dinda. Kuatkan hatimu. Jangan bersedih. Ini jalan terbaik untuk semuanya." Bima melepaskan pelukan adiknya. Dia pun menatap Wahyu dan wanita yang ia cintai.


"Portal ke neraka sebentar lagi terbuka, jaga diri baik-baik ya, Sayang. Wahyu, jaga Mamamu, ya. Kami meyayangi kalian," kata Bima sambil mengusap kepala Wahyu.


"Kami menyayangi kalian," ucap Ningsih yang kemudian mengajak dua putra dan suaminya berpelukkan. Beberapa saat mereka hanya terdiam dalam pelukkan itu.


"Mama ... sampai jumpa. Kakak Wahyu, jaga Mama, ya. Alex sayang kalian. Alex akan berusaha yang terbaik. Semoga kelak kita bisa bersatu lagi," lirih Alex yang menahan kesedihan dan air mata.


Benar saja kata Bima. Beberapa saat kemudian, portal ke neraka terbuka. Sesuai perjanjian, Tuan Lucifer hanya memberi waktu satu bulan. Bima harus mengikuti perintah Tuan Lucifer. Saat cahaya merah itu berubah menjadi seperti api membara, Bima dan Alex pun bergandengan tangan. Mereka segera masuk ke dalam portal. Seketika, cahaya itu hilang bagai ditelan bumi.


Air mata tak bisa terbendung dari sudut mata mereka. Ningsih bahkan pingsan karena tak kuasa menahan kesedihan. Hal itu membuat panik lainnya.


"Mama ... Mama ...." seru Wahyu yang langsung menangkap tubuh mamanya yang hampir terjatuh karena pingsan.


Reno, Boy, dan Daniel pun langsung membantu mengangkat tubuh Ningsih ke sofa. Nindy ke dapur untuk membuat teh hangat. Sedangkan Lauren dan Dinda menemani Ningsih di sana.


"Bagaimana ini? Tante Ningsih malah pingsan." Reno pun panik. Dia segera mengambil minyak angin untuk Tantenya.


"Ningsih terlalu sedih. Biarkan saja dahulu agar istirahat. Kita tak bisa membayangkan betapa sedihnya jika menjadi Ningsih, bukan?" sahut Lauren yang memang benar adanya.


Malam itu, perpisahan yang termanis tetaplah menyisakan luka terperih dalam hati. Bima dan Alex pun sampai di neraka. Mereka disambut oleh Tuan Lucifer yang memang sudah sedari bulan lalu menunggu kesempatan ini.

__ADS_1


"Selamat datang, Bima dan anakmu yang hebat. Sepertinya setelah pertempuran waktu itu, kekuatan kalian berkurang, ya? Aku akan memberikan kekuatan tambahan untuk kalian. Bagaimana jika Neraka ini, tidak ada pembagian lapis dosa lagi? Kalian ingin menjadi salah satu penggempur?" kata Tuan Lucifer yang ternyata sudah menyiapkan siasat untuk melebarkan Neraka.


Selama ini, Neraka terbagi menjadi tujuh lapisan dosa. Ketujuh panglima perang neraka itu sering berebut kekuasaan dan pamer kekuatan. Namun, diam-diam Tuan Lucifer sudah memiliki rencana yang akan menggemparkan Neraka.


__ADS_2