JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 25


__ADS_3

...🔥 PERUBAHAN 🔥...


Siang itu, Reno menelepon Gio untuk mengajak makan siang bersama. Untungnya, telepon itu langsung diangkat.


Reno: "Selamat siang, Gio. Ini saya Reno, Papanya Lisa."


Gio: "Siang, Mas. Wah, tumben ini telepon. Lisa apa kabar?"


Reno: "Iya, ini tadi Lisa bilang kangen sama Kak Gio dan Kak Gilang. Kalau misal nanti siang ketemu makan siang bersama apa bisa? Hitung-hitung untuk permintaan maaf kami waktu makan malam itu. Kalian ada jam istirahat kantor siang, tidak?"


Gio: "Wah, salam untuk Lisa, Mas. Kami juga kangen sama Lisa. Kami istrirahat jam satu siang sampai jam dua siang. Soalnya nanti ada lembur. Bisa banget. Tapi yang dekat kantor kami, gimana?"


Reno: "Ok. Nanti send location, ya. Tempat makannya di mana biar aku jemput Lisa untuk segera ke sana."


Gio: "Siap, Mas. Gilang juga kuajak, nih."


Reno: "Ok. See you."


Reno pun langsung bergegas ke sekolah Lisa. Dia sangat semangat karena anaknya pasti senang bisa bertemu dengan Gio dan Gilang. Reno sudah biasa ke mana-mana sendiri. Menyetir mobil sendiri. Karena dia memikirkan Nindy yang tak bisa menyetir, sehingga perlu sopir pribadi yang standby untuk menemaninya pergi beraktifitas dengan Lisa dan Abah serta Ibu. Meski pada kenyataannya, Abah dan Ibu jarang pergi keluar rumah.


Sesampainya di depan sekolah Lisa, Reno langsung memarkirkan mobil dan mencari anaknya. Ternyata, Lisa sudah pulang pukul 10.00. Reno pun segera pergi. Melaju dengan kecepatan sedang ke rumahnya. Dia masih punya waktu satu setengah jam untuk bersiap-siap.


Rumah Reno yang mewah selalu terlihat ceria denhan hadirnya Lisa. Tawa dan candanya membuat Reno semakin semangat menjalani hari-hari. Nindy pun menjadi bagian terpenting di hidupnya, meski beberapa hari ini Nindy aneh, Reno tak pernah membencinya.


Reno sudah sampai di gerbang rumahnya. Dia segera memarkirkan mobil dan masuk ke rumah untuk mencari Lisa.


"Lisa, Lisa sayang ... Papa pulang! Lisa ...." seru Reno yang senang ketika anaknya menjawab.


"Papa! Wah, Papa pulang awal. Horee!" Lisa segera berlari memeluk Papanya.


"Sayang, ayo ganti pakaian. Papa sudah telepon Kak Gio dan Kak Gilang. Mereka mau makan siang bareng kita. Papa ganti baju dulu, ya. Lisa ganti baju sama Bibi," ucap Reno setelah memeluk dan mengecup kepala anaknya.


"Yeay! Siap Papa. Lisa bilang Bibi mau ganti baju," seru Lisa yang senang dan berlari ke bibi di dapur.


Reno langsung ke kamar dan berganti pakaian. Dia bingung karena Nindy tak ada di rumah.


"Tumben, Nindy pergi jam segini? Apa dia masih marah sama aku, ya?" gumam Reno sambil membuka kancing kemeja satu per satu dan melepas dari tubuh six pacnya.

__ADS_1


Reno segera mengambil kaos berwarna biru muda dan jaket hitam untuk dikenakan agar lebih santai. Setelah itu, dia bergegas keluar kamar dan menghampiri Lisa yang sudah siap menunggu papanya. Mereka pun segera pergi dengan mobil ke tempat Gio dan Gilang yang sudah mengirim lokasi rumah makan dekat kantornya. Meski jam belum menunjukkan pukul satu siang, Reno lebih suka sampai lebih awal.


Sepanjang perjalanan, Reno dan Lisa bercerita tentang banyak hal. Namun, rasanya semua kurang karena Nindy entah pergi ke mana. Reno tak curiga karena dia berpikir istrinya sedang memanjakan diri di SPA atau ke salon. Reno selalu percaya terhadap Nindy. Wanita yang lugu dan ceria, seperti saat dia nikahi beberapa tahun yang lalu.


Sesampainya di lokasi rumah makan yang Gio dan Gilang maksud, Reno mengajak Lisa masuk terlebih dahulu. Memesan tempat duduk dan minuman untuk berdua terlebih dahulu karena menunggu kedua pemuda itu datang.


Reno: [ Aku dan Lisa sudah di sini. Meja nomor 23, ya. ]


Gio: [ Siap. On the way, Mas. ]


Reno dan Lisa sedang menikmati pesanan minunan yang sudah datang ketika Gio dan Gilang menghampiri mereka. Mereka pun segera memesan makanan dan minuman. Lalu, membicarakan banyak hal.


Hingga masuk ke pembicaraan yang serius. Reno pun tak menutup mata dan telinga terhadap penjelasan Gio dan Gilang terhadap keistimewaan Lisa.


"Mas, Lisa ini anak yang istimewa. Mengapa kita bisa langsung cocok, karena kita sama-sama istimewa. Maka dari itu, kadang apa yang Mas dan isteri tak rasakan atau tak lihat, Lisa lebih tahu dan lebih paham," jelas Gilang pada Reno dan mudah dimengerti. Penjelasan yang mendasar agar Reno tak bingung.


"Terus, bagaimana untuk ke depannya? Apakah dihilangkan atau gimana untuk kebaikan Lisa?" tanya Reno pada Gio dan Gilang.


"Lebih baik diberi bimbingan yang sesuai. Lisa sudah bercerita tentang beberapa makhluk yang ternyata bagian dari keluarga Mas Reno." kata Gio membuat Reno terkejut.


"Lisa cerita apa saja? Kenapa tidak cerita Papa?" tanya Reno pada anaknya.


"Maafkan Papa, ya. Papa kira Lisa cuma bercanda. Papa akan lebih dengar-dengaran perkataan Lisa. Maafin Papa." Reno tak ingin membuang waktu lama. Dia langsung memeluk tubuh puterinya.


Gio dan Gilang paham, hal ini harus segera diceritakan secara detail. Setelah makan pun, Gio mengajak Lisa bermain ke taman belakang rumah makan yang ada ayunan dan kolam ikan. Sedangkan Gilang akan membicarakan hal serius dengan Reno.


"Mas, maaf, bukannya aku lancang. Tapi keluarga Mas Reno ada yang bukan manusia, ya? Lisa sudsh cerita, terlebih soal Tantenya yang tempo lalu makan malam bersama. Dia bukan makhluk sembarangan. Dan dia bahaya untuk Lisa. Jika salah satu dari makhluk itu menguasai tubuh Lisa, bisa bahaya," kata Gilang secara singkat menjelaskan.


"Tantenya? Dinda maksud kalian? Terus, bagaimana yang terbaik untuk Lisa?" tanya Reno yang mulai khawatir.


"Iya, wanita itu adalah iblis. Kami sudah memeriksa berulang kali, sungguh wanita itu berbahaya. Namun, tak menutup kemungkinan makhluk lain pun hendak mengambil tubuh Lisa. Jadi, nanti kami akan membuat pagar gaib untuk tubuh Lisa jika Mas Reno berkenan." Gilang sudah mempersiapkan semuanya. Dia khawatir dengan keselamatan nyawa Lisa. Meski baru bertemu sekali, Gilang tak ingin nasib Lisa seperti yang dialami adiknya dahulu. Tak dapat tertolong.


"Ya. Aku setuju. Aku mau. Tolong bantu agar Lisa tetap baik-baik saja, kumohon." pinta Reno yang sungguh khawatir pada puterinya.


Gio dan Gilang pun mengajak Lisa dan Reno melakukan pemagaran tubuh secara gaib di dalam mobil saja. Mereka tak ingin mendadak menjadi tontonan orang. Sesungguhnya, seorang indigo tidak boleh menceritakan ke khalayak ramai jika dirinya indigo.


Gio dan Gilang berusaha sebaik mungkin dan mengerahkan kekuatannya untuk menagari tubuh Lisa. Mereka pun selesai dan terlihat lemas dan capek.

__ADS_1


"Mas, kami balik ke kantor dulu, ya." kata Gilang berpamitan.


"Ok. Terima kasih. Ini Lisa tidur, tak apa, ya?" tanya Reno memastikan.


"Tak apa, Mas. Kalau ada apa-apa kabari kami, ya," sahut Gio yang kemudian berjalan pergi meninggalkan Reno dan Lisa yang masih berada di dalam mobil.


Hari itu, Lisa memiliki perlindungan. Lumayan untuk persiapan apa yang akan terjadi dikemudian hari. Reno pun segera pulang astelah Gio dan Gilang pergi. Lisa yang tertidur terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Meski Reno tak tahu jika reaski tidur itu adalah penyesuaian pelindung atau pagar gaib di diri Lisa yang sudah dibuat Gio dan Gilang dengan kekuatannya.


...****************...


Nindy menyerahkan tubuh dan jiwanya pada Zatan. Bersekutu dengan iblis ternyata bukan hal seburuk yang dibayangkan Nindy. Dia justru bangga dengan hak terkutuk itu. Tentu saja, hal itu karena Nindy sudah terpengaruh dalam perangkap iblis.


Zatan tertawa karena mangsanya mudah diperdaya. Dia tahu bahwa tawarannya sangat menggoyahkan iman manusia yang lemah. Hawa nafsu dan kekayaan menjadi hal yang tak mudah ditolak oleh manusia.


Hari itu, Nindy memberikan darahnya ke Zatan di kamar hotel yang sudah dia pesan. Dia pun tak sadar jika tubuhnya akan dipakai untuk mencari tumbal nanti malam. Nindy terlalu bodoh dalam mengambil keputusan. Sedangkan nyawanya menjadi taruhan.


"Wanita bodoh! Aku akan segera menyiapkan banyak jiwa berdosa jika seperti ini caranya. Ha ha ha ha ...." kata Zatan saat Nindy tak sadarkan diri setelah ia menghisap sedikit darah Nindy untuk perjanjian.


Mata Nindy terpejam. Dia masuk ke dunia roh karena tubuhnya kosong dan hendak dipakai Zatan. Saat di dunia roh, Nindy sangat ketakutan dan merasa kesedihan yang luar biasa.


"Di mana aku? Bagaimana aku bisa di sini? Bagaimana cara aku kembali?" lirih Nindy yang mulai bingung dan ketakutan.


Nindy berlari ke sana dan ke sini, mencari celah untuk keluar dari tempat mengerikan dan menyedihkan itu. Namun, rasanya sulit. Semakin dia berlari, semakin banyak ketakutan dan kesedihan yang dia rasa. Bahkan, dia pun melihat bayangan Bang Joko di sana.


"Bang? Bang Joko! Apakah itu Bang? Ini Nindy," seru Nindy sambil menghampiri roh yang hampir sama dengan alm. Joko.


Saat dekat, ternyata berbeda. Bahkan makhluk itu pun tak bisa mengatakan sesuatu. Nindy pun mundur dan berlari kembali karena ketakutan.


"Aaaa!" teriak Nindy yang merasa terjebak di sana. Dunia roh yang hampa dan mengerikan bagi jiwa manusia yang tersesat. Namun, begitu tenang bagi makhluk yang sudah tiada. Meski segala kesedihan dan luapan emosi manusia terekam jelas di dunia roh.


Nindy pun meringkuk dalam diam. Dia sungguh merasa takut. Dia memilih menutup telinga dan meringkuk serta memejamkan mata berharap bisa lepas dari tempat itu.


...****************...


...Author mengucapkan terima kasih untuk para pembaca setia yang selalu komentar positif dan mendoakan kesehatan Author....


...Jangan lupa untuk VOTE ya jika kalian ingin cerita ini berlanjut....

__ADS_1


...Jangan lupa untuk bagi Tip Koin di episode ini^^...


...Dengan VOTE dan memberi Tip berarti kalian membantu Author tetap berkarya di sini. Terima kasih💙...


__ADS_2