JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 115


__ADS_3

πŸ€ KATA HATI BIMA PRAWISNU πŸ€


Semua orang menganggap Iblis adalah makhluk buruk, malaikat yang dikutuk Sang Pencipta hingga masuk ke api neraka, bahkan manusia berdalih dengan "disesatkan Iblis" atas apa yang menjadi kejahatannya.


Apakah hal itu benar adanya?


Apakah Iblis memang bersalah atas kesalahan yang diambil manusia secara sadar?


Manusia, oh manusia ... berdalih dengan tameng godaan Iblis atau setan atas kejahatan yang direncanaan sendiri.


Dendam yang menumpuk, hingga tega membunuh. Cinta bertepuk sebelah tangan lalu datang ke paranormal untuk membuat guna-guna. Kekurangan materi menjadi dalih mengambil jalan pintas kekayaan duniawi dengan menjual jiwa ke dalam kegelapan. Harta, tahta, napsu, dan cinta sering kali menjadi pendorong terkuat manusia jatuh dalam dosa.


Lantas saat manusia satu per satu jatuh dalam gelapnya dosa kesalahannya sendiri, mereka mencari dalih untuk pembenaran. Mencari hal yang bisa disalahkan.


"Gara-gara dia, aku jadi begini."


"Godaan Iblis/Setan memang dahsyat sampai aku salah jalan."


"Kalau dia tidak seperti itu, tak mungkin aku tega."


Menyalahkan. Mencari pembenaran. Mengorbankan orang lain demi kelegaan pribadi.


Sejak awal, bukankah egois menjadi dasar watak manusia? Egois, angkuh, sombong, dan pendendam. Aura itu sangat manis. Aura kegelapan yang kapan saja bisa menyebar. Menjadikan orang lain juga terjerat dalam dosa.


Sejak zaman Kerajaan Mataram dahulu kala hingga era globalisasi yang serba kekinian, dosa manusia bukannya berkurang malah justru terus bertambah. Mutilasi, predator se*, korupsi, pembunuhan, perampokan, pemerkosa*n, saingan tak sehat, fitnah, serta banyak dosa lain yang semakin bervariatif.


Semakin ke sini, tugas Iblis semakin mudah. Tak perlu menyesatkan manusia. Tinggal memanen saja jiwa-jiwa berdosa yang terjatuh dalam kesalahan yang berbeda. Oleh karena itu tujuh lapisan Neraka dengan Tuan yang berbeda mengadakan lomba untuk memenuhi kuota jiwa berdosa. Menjejalkan sebanyak mungkin jiwa manusia ke dalam api Neraka.


***


Bima tak pernah menganggap enteng tugasnya. Selama ini dia selalu memuaskan apa saja yang menjadi perintah Tuan Chernobog Sang Penguasa Neraka Lapis ketujuh. Namun, kali ini sungguh hal di luar pemikirannya. Berkali-kali Tuan Chernobog mengingatkan, bahkan sampai hukuman 1.000 cambuk dan seminggu membeku pun tak bisa melunturkan rasa Bima kepada manusia lemah bernama Ningsih.


"Andai aku bisa memilih, aku tak akan membuatmu masuk ke dalam lingkaran ini. Namun apa dayaku, jika kamu tak kurengkuh tentu saja tak bisa diri ini melindungi. Sesungguhnya aku menyesal, sudah membuatmu berada dalam jalanku. Jalan gelap yang tak pantas ditempuh wanita sepertimu. Aku tahu semua tentangmu sejak dahulu. Bukan seorang wanita yang mudah goyah iman, apalagi yang mudah berhasrat. Kamu wanita setia yang terlalu percaya dengan lelaki bang*at yang menjadi suami sekaligus tumbal pertama. Ningsih, andai kamu tahu sesaknya deritaku memilih memelukmu dalam kegelapan duniaku. Andai aku ada pilihan lain untuk melindungi ... kutempuh semua luka dan derita demi kau bahagia. Meski semua akan sirna." lirih Bima dari kejauhan.


Ningsih di dalam rumah, tak bisa mendengar apa yang Bima katakan. Pagi itu, kondisi Reno sudah membaik dan hal yang tak dikira justru muncul di hadapan Bima.


"Iblis kok galau? Hiii hii hii hiii ...." suara tawa khas melengking makhluk cantik (kebalikannya) itu membuat Bima menutup telinga.


"ADA APA KAU KEMARI!" tanya Bima dengan emosi.

__ADS_1


"Kok ada apa? Ya, menagih janji. Kau bilang akan bantu menemukan lelaki pembunuhku? Ayo tepati ... kalau tidak kuganggu keluarga aneh itu," ucap si wanita yang kemarin merasuki Reno.


"BUKAN HARI INI. AKU SEDANG SIBUK. TENANG SAJA PASTI KUTEMUKAN ORANG ITU! SANA PERGI JAUH JANGAN KE SINI." bentak Bima agar makhluk itu menjauh.


"Aku tak akan pergi kalau belum ada bukti. Hii hiii hiii hiii ...."


Bima kesal dengan suara lengkingan makhluk berdaster putih itu. Tangan Bima mengayunkan api yang membuat makhluk itu takut dan menjauh. Namun, dia kembali lagi.


"Cepat carikan lelaki itu atau aku kembali ke tubuh pria kemarin. Hmm ... atau ke wanita yang menjadi pujaanmu saja? Hiii hiii hiii hiii ...." ancaman dari makhluk itu membuat Bima makin sebal.


"OK. KUCARIKAN LELAKI ITU! TAPI BUNUH SAJA SENDIRI. TAK ADA KAITANNYA DENGANKU." Bima menyerah dan memejamkan matanya sambil menyentuk kening makhluk itu.


Menyelami ingatannya semasa hidup dan mencari penyebab kematiannya. Melihat sempalan memori indah hingga kesakitan dikhianati lalu terbunuh tragis. Setelah itu melihat semua kejadian sesudahnya. Bima melakukan hal itu dengan mudah karena dia bisa menjelajahi waktu dan tempat serta dimensi yang berbeda.


"KALISTYA ... DWI ... SULIS ... KEJADIAN SEPULUH TAHUN LALU ... SAAT INI DWI BERADA DI ... YOGYAKARTA." Bima melepaskan tangannya dari kening makhluk gaib yang bernama Kalistya itu.


"Hii hiii hiii hiii ... memang Iblis itu hebat. Makhluk di Puncak tak ada yang bisa menemukan ke mana Dwi dan si lacurr Sulis. Kamu hebat! Ayo antar aku ke sana." ucap mahkluk itu sambil menyibakan rambutnya yang panjang.


Bima yang sesama makhluk gaib pun tak ingin melihat wajah sejenis itu. Terlalu menyeramkan. Bahkan manusia konon yang bisa melihat wajah sejenis itu akan langsung gila atau bisu.


"KUANTAR KAU KE YOGYAKARTA. TAPI JANGAN MENYUSAHKANKU LAGI. SERTA JANGAN GANGGU MEREKA." kata Bima sambil menunjuk ke arah Ningsih dan keluarganya.


"Hii hiii hiii hiii ... baik Tuan Iblis yang baik hati."


"Sudah dulu, Bang. Aku ini sibuk! Sejak kamu kecelakaan enam bulan yang lalu aku jadi susah harus kerja ekstra!" bentak wanita dengan rok span di atas lutut dan blouse putih ketat yang menunjukkan bentuk tubuhnya.


"Su-Sulis ... Bang lapar. Ambilkan makan dulu." kata lelaki yang ternyata si Dwi, orang yang membunuh Kalistya.


"Makan ambil sendiri lah! Kalau perlu minta-minta sana! Gara-gara Bang ya Nina meninggal karena tak ada biaya berobat demam berdarah dan sekarang malah menyusahkanku dengan kakimu yang keduanya diamputasi. Hih dasar lelaki pembawa sial!" kata Sulis penuh dengan emosi.


Bukannya diam, Dwi memegang tangan Sulis. Sontak Sulis menepis hingga Dwi terjatuh dari kursi rodanya.


"Sulis, kenapa kamu tega begini?" lirih Dwi yang tak bisa bergerak setelah jatuh dari kursi roda.


"Tega? Siapa yang tega? Bang bunuh calon istri Bang lalu nikah denganku dan buat anakku meninggal. Sekarang hidup menyusahkanku. Siapa yang tega? Siapa?!" teriak Sulis makin kesetanan. Dia menendang Dwi yang berada di lantai berkali-kali dengan sepatu hak tingginya.


"Ampun ... ampun ... ampun, sayang." Dwi mencoba bertahan karena hanya Sulis satu-satunya yang dia punya.


Sejak kejadian sepuluh tahun yang lalu, Dwi kabur dari Jakarta dan menjual mobil serta perhiasan yang dia ambil dari Kalistya. Setelah itu menikahi Sulis dan hidup bersams hingga memiliki seorang anak yang bernama Nina. Namun, sifat buruk Dwi belum berubah. Dia masih senang bermain wanita hingga saat Nina sakit, Dwi tidak ada waktu mengantar ke rumah sakit. Nina terlambat mendapat pertolongan medis dan meninggal karena demam berdarah. Hal ini membuat Sulis dendam pada Dwi.

__ADS_1


Kejadian naas dialami Dwi saat habis berkencan dengan selingkuhannya di Kaliurang. Kecelakaan hebat membuat kakinya patah dan komplikasi dengan diabetes sehingga harus diamputasi. Sedangkan selingkuhannya meninggal di tempat dan keluarga wanita itu menuntut sejumlah uang yang dengan berat hati Sulis bayarkan.


Sejak itu kehidupan Dwi bagaikan di Neraka bersama Sulis. Perlakuan kasar, caci maki, bahkan kekerasan pun dilakukan Sulis yang sudah muak dengan Dwi.


"Ingat ya awas kalau sampai mengadu pada tetangga! Kubunuh kau!" Ancaman Sulis tak main-main. Dwi sangat ketakutan. Sulis pun pergi berangkat kerja sebagai pegawai di sebuah hotel bintang tiga Yogyakarta.


"LIHAT? DIA JAUH LEBIH MENDERITA DARI SEKEDAR MATI. MASIH MAU MENGAMBIL NYAWA TAK BERGUNA?" kata Bima kepada si Kunti yang menunduk.


Tak disangka justru Kunti menangis. "Huuu huuu huuu huuu ... kasihan sekali. Aku tak sanggup melihat dan mendengarnya."


"KATANYA MAU BALAS DENDAM? YA ITU SUDAH KAMU SAKSIKAN HIDUPNYA SEPERTI ITU." sindir Bima pada si Kunti yang masih menangis.


Dwi mencoba merambat dan meraih kursi rodanya. Namun, susah dan tak bisa. Dia pun menarik tubuhnya (ngesot) ke dalam rumah agar hangat.


"Ya, Tuhan ... dosaku sebanyak itukah sampai Kau buatku seperti ini? Sudah ambil saja nyawaku dari pada menyedihkan begini." kata Dwi yang putus asa.


"TUH KAN DIA MINTA MATI. SANA BUNUH AJA. KATANYA MAU BALAS DENDAM!" Bima kembali menyindir si Kunti.


"Aku mau bicara dengannya." Kalistya pun terbang dan masuk ke rumah. Mendekati Dwi. "Mas Dwi ... huu huu huu huu ... Mas Dwi."


"Siapa itu? Suara si-siapa?" Dwi mulai ketakutan mendengar suara Kalistya.


"Aku Kalistya, Mas. Kamu lupa suaraku? Huu huu huu huuu ... mengapa kamu membunuhku, Mas?" lirih Kunti mendekati Dwi.


"Se ... se ... SETAN!!!!" belum sempat diajak berdialog, Dwi sudah pingsan di lantai yang dingin.


"Malah pingsan, Mas? Huu huuu huuu ... aku sedih lihat hidupmu begitu. Kukira setelah membunuhku, kamu hidup bahagia bersama wanita itu. Ternyata sifatmu tak berubah dan masih seenaknya sendiri. Kalau begitu dari pada kuambil nyawamu, lebih baik kamu jalani karmamu saat ini Mas. Sampai jumpa di Neraka, secepatnya. Hiii hiii hiii hiiii." ucap Kunti berlalu pergi meninggalkan Dwi yang tak sadarkan diri.


"SUDAH GITU AJA? NGGAK JADI BALAS DENDAM ATAU BUNUH MEMBUNUH?" tanya Bima pada Kunti.


"Hidupnya dah susah kok. Ngapain kubunuh, paling ntar dia bunuh diri atau malah dibunuh istrinya. Dah biarin saja. Aku mau pulang." jawab Kunti dengan santai.


Bima pun membawa pulang si Kunti ke puncak tempatnya kecelakaan. Lalu Bina berpamit pergi karena urusannya sudah usai.


"JANGAN GANGGU ORANG LAGI!" tegas Bima.


"Iya Tuan Iblis baik hati." jawab Kunti lalu menghilang.


Bima pun kembali ke dekat rumah Ningsih. Menatap istrinya yang cantik dan penuh keceriaan. Mengamati setiap aktifitaa Ningsih pagi hingga siang hari. Dia tak bisa masuk ke rumahnya dan tak ingin memaksa masuk lagi karena membuang banyak energi.

__ADS_1


Bima pun termenung. Dia berpikir apa iya jika dirinya terlalu baik sebagai seorang Iblis?


Bersambung ....


__ADS_2