JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 138


__ADS_3

πŸ€ DILEMA DALAM KEHANCURAN πŸ€


"Andai aku bisa memilih, antara hidup tanpamu atau mati bersamamu ... tentu aku memilih musnah sekalipun asal terus bisa memelukmu dalam keabadian ...." ~Bima Prawisnu.


Pagi datang membawa kehangatan yang mengganti gelapnya malam nan dingin. Ningsih sudah bersiap pergi ke restauran karena dia akan kesusahan tanpa ada Aldo. Kepala Ningsih masih pening. Sempalan kejadian semalam yang samar-samar membuatnya makin sakit kepala.


"Bima ... bagaimana restauran kita bisa berjalan, jika chef andalan sudah hilang." batin Ningsih berkomunikasi dengan suami gaibnya.


"TENANG. AKU AKAN IKUT KE RESTAURAN. PERCAYALAH PADAKU." jawab Bima menenangkan hati Ningsih.


Ningsih pun mantab untuk pergi ke N&B Resto dengan mobil sendiri. "Pag, Pak Umar! Saya berangkat dulu, ya. Pak Umar sementara jajan di warung dulu, ya. Nindy sama Joko masih di rumah sakit menunggu Abahnya," jelas Ningsih sambil memanasi mobilnya.


"Iya, Nyonya. Saya sudah biasa, kok. Mandiri. Hati-hati di jalan, Nyonya." jawab Pak Umar dengan sopan.


Ningsih pun pergi dengan mobilnya, melaju pelan. Bima berada di sampingnya. Belum mengubah wujud menjadi manusia, karena menghemat energi yang dia punya.


Bima juga menutupi hal itu dari Ningsih. Tak ingin membuat istrinya bersedih. Lebih baik, Bima tetap seperti itu serta menutupi kelemahan dirinya dari pada membuat Ningsih cemas.


"Bima ... apa rencanamu untuk restauran kita?" tanya Ningsih sambil menyetir.


"Aku akan menjadi diriku seperti biasa dan menggantikan Aldo memasak. Tenang saja, semua akan baik-baik saja." ucap Bima dengan senyumnya yang manis.


Ningsih pun mengangguk dan percaya semua akan baik-baik saja. Bima selalu mempunyai cara tersendiri untuk menenangkan istrinya. Sesampainya di N&B Resto, waktu menunjukkan pukul 08.00 dan masih sepi. Belum ada pegawai yang datang. Ningsih pun masuk, mengajak Bima untuk melihat restonya.


"Bima ... menurutmu bagaimana restauran kita?" selidik Ningsih yang melihat ekspresi Bima kurang meyakinkan.


"Ningsih, kamu di sini saja. Aku akan menendang makhluk jelek yang mengganggu!" tegas Bima yang langsung menghilang.


Sedangkan Ningsih membuka tirai resto dan menunggu pegawai datang. Dia cemas dengan apa yang terjadi belakangan ini. Dia pun mengecek laporan kemarin sift satu dan dua. Lalu mengecek uang di kasir, serta menyimpan penghasilan di brankas ruangnya. Tak lupa menyediakan kembalian untuk diletakkan di mesin kasir. Semua Ningsih lakukan dengan belajar otodidak. Bukan dari pembelajaran karena dia tidak melanjutkan perguruan tinggi.


Setengah jam kemudian, pegawai sift pagi mulai berdatangan. Ningsih pun senang. Dia yakin, hari ini semua akan berjalan lancar.


"Selamat pagi, Bu."


"Selamat pagi, Bos!"


"Bos, tumben datang awal banget. Biasanya Pak Aldo yang datang awal."


"Yes, ditemani Bos biar makin semangat!"


Kalimat-kalimat yang dilontarkan pegawai Ningsih, membuatnya semakin berarti. "Semangat bekerja, semuanya!" seru Ningsih saat semua sudah berkumpul.

__ADS_1


Breafing pagi ini di pimpin oleh Ningsih dengan melihat laporan sift dua kemarin. " ... jadi, nanti ada bahan makanan datang sekitar pukul 10.00 dan semua tolong bantuannya, ya. Agar chef kita tak kualahan. Selamat pagi, dan semangat!" seru Ningsih mengakhiri breafing pagi sift satu.


Pegawai Ningsih mulai mengerjakan tugasnya. Ada yang menyapu, mengelap meja dan menata kursi, menata perlengkapan dapur yang akan dipakai, serta mengelap kaca jendela. Mereka melakukan dengan cepat dan baik sehingga pukul 09.00 resto sudah siap dibuka menerima pengunjung.


***


Di sisi lain ... Bima bertempur dengan sosok yang Ningsih takuti ....


Bima mendatangi makhluk jelek yang mengganggu restauran Ningsih. Jelas saja, makhluk penglaris itu tahu kedatangan Bima. Salah satu pengikut Iblis tertinggi di Neraka, nama Bima sudah menjadi buah bibir di kalangan makhluk gaib.


"HEI, MAKHLUK JELEK! MENGAPANKAU BERANI MENGUSIK ISTRIKU, HAH!" bentak Bima saat sampai di resto steak yang dinaungi makhluk pengasihan berwujud seperti genderuwo.


"Grrr ... aku cuma ikuti kata Nyonya! Dia memberiku makanan lezat. Mana bisa aku menolak? Grrr ...." jawab makhluk yang berbulu lebat hitam dan lidah panjang menjulur, matanya yang besar membuat Ningsih takut. Apa lagi taringnya.


"BUKANNYA KAU TAHU KALAU ORANG YANG KAMU GANGGU ADALAH ISTRIKU? MAU MUSNAH, YA!" gertak Bima yang makin emosi melihat wujud itu menakuti istrinya.


"Grrr ... mengapa Tuan membela manusia itu? Bukankah umurnya tinggal sebentar lagi?" kelit makhluk itu yang bisa melihat umur Ningsih.


Bukan rahasia lagi dalam pesugihan maupun penglaris. Para pelaku hanya memiliki waktu terbatas untuk menikmati kekayaan. Setiap pelaku sudah mengikuti perjanjian gaib dan mempunyai batas waktu tersendiri.


"BANYAK BICARA!" geram Bima sambil menyerang makhluk itu.


Pertempuran tak dapat dielakkan. Makhluk itu membela diri semampunya meski kemampuan jauh di bawah Bima. Hanya karena kondisi Bima yang tidak prima, makhluk itu berhasil melukai Bima. Sebelum akhirnya, makhluk itu dimusnahkan dengan tangan Bima.


Bima segera kembali ke tempat Ningsih. Tentunya mengubah wujud ke manusia. Dia membutuhkan bantuan Ningsih.


***


Beberapa saat kemudian, Bima datang dengan wujud manusia ke N&B Resto. Ningsih langsung menyuruhnya masuk ke ruangan pribadi Ningsih. "Bima, ada apa?" tanya Ningsih khawatir.


"Ningsih, aku baru saja memusnahkan makhluk penglaris di resto steak yang mengganggu usahamu. Nyonya-nya tak suka kamu membuka usaha di sini. Dia rela mengorbankan keponakannya untuk santapan makhluk itu agar mau mengganggu usahamu. Terpaksa, kumusnahkan dia. Saat ini, energiku tersedot banyak atas pertempuran tadi. Aku harus beristirahat sebentar ...." lirih Bima sambil memegang dadanya dan duduk di sofa dalam ruangan Ningsih.


"Bima ... kamu terluka parah? Aku harus berbuat apa untuk membantumu?" ucap Ningsih makin khawatir, lalu mengusap bahu suaminya.


"Ningsih, sepertinya ... kamu harus mencari suami ketujuh untuk mengembalikan energiku." pinta Bima yang tak mungkin Ningsih bisa mengelak.


Bima mengeluarkan energi banyak untuk mengubah diri menjadi manusia. Terlebih, saat ini setelah banyak menghadapi pertempuran berkali-kali, dia semakin lemah. Ningsih pun terdiam sesaat. Memikirkan siapa yang akan diajaknya menikah, padahal tidak ada lelaki hidung belang yang mendekatinya. Bukankah Aldo sudah dibunuh Bima?


"Baik, Bima. Aku akan berusaha mencari suami secepatnya. Kamu beristirahat saja, di sini. Sepertinya kamu tak bisa membantu restauran kali ini." kata Ningsih sangat khawatir dengan kondisi Bima yang melemah. Dia takut kehilangan suami tercinta.


"Tidak. Aku akan membantumu. Kemampuan Aldo memasak, akan kuberikan padamu. Kamu bisa mengelola dengan baik." ucap Bima yang kemudian menempelkan tangan ke dahi Ningsih.

__ADS_1


Tak disangka, semua hal tentang masak memasak dan indera perasanya langsung meningkat. Ningsih merasa percaya diri untuk melangkah ke dapur. Sedangkan Bima tidur di sofa karena lelah.


"Bos, hari ini Pak Aldo kok nggak kelihatan, ya?" tanya chef lain di dapur.


"Entah, dia belum memberi kabar. Jadi sementara, saya yang membantu," ucap Ningsih sambil membuat orderan dengan cekatan.


Chef pun mengamati Ningsih. Dahulu dia pernah dengar, Bos Ningsih tak bisa memasak handal. Maka dari itu merekrut Aldo yang gajinya juga di atas rata-rata. Namun, kali ini chef melihat Bos Ningsih bekerja seperti kebiasan Aldo yang bekerja dengan cepat dan tepat. Bahkan masakannya pun rasanya mirip buatan Aldo.


Chef mengira, Aldo sudah mengajari Bos Ningsih. Dia tidak mengerti jika kemampuan Aldo masuk ke tubuh Ningsih dan Aldo sudah binasa.


"Bos, ternayata Bos sangat handal memasak. Keren sekali. Kalau seperti ini, tak perlu chef mahal dan sombong. Ha ha ha ...." ucap chef yang menyindir soal Aldo.


Aldo memang pintar dan berkemampuan sangat baik di bidangnya. Namun, sikapnya sombong dan pelit berbagi ilmu. Dia hanya mendekati Ningsih karena tertarik kecantikan dan kemandiriannya. Pantas saja, Aldo belum mempunyai istri karena dia terlalu pemilih.


Ningsih hanya tersenyum menanggapi perkataan chef. Mengingat hal semalam, membuat Ningsih merinding takut.


Tak terasa, pekerjaan sift satu hampir selesai. Pelanggan yang datang bergantian tanpa henti membuat Ningsih pun lelah. Istirahat siang, Ningsih habiskan di ruangan menjaga Bima. Dia juga mengirim pesan ke Nindy menanyakan kondisi Abah.


Ninsgih: [Nindy, bagaimana kondisi Abah? Maaf, ya. Tante belum bisa ke sana.]


Nindy: [Abah masih di ICU karena tak sadarkan diri setelah jatuh tempo lalu, Tante. Kemungkinan Bang Joko akan mulai bekerja besok karena Tante juga kualahan kalau sendiri. Nindy izin menemani Abah sampai pulih, ya, Tante.]


Ningsih: [Iya, Nindy. Salam untuk ibu. Sabar, ya. Abah pasti lekas sembuh.]


Nindy: [Iya, Tante. Terima kasih banyak.]


Ningsih: [Gaji Nindy dan Bang Joko bulan ini, Tante transfer sekarang saja, ya. Siapa tahu bisa digunakan untuk keperluan mendadak. Tante juga titip sedikit untuk Ibu. Semoga Abah lekas sembuh.]


Nindy: [Terima kasih banyak, Tante. Salam Tante sudah Nindy sampaikan ke Ibu. Ibu bilang terima kasih juga. Bang Joko juga.]


Ningsih: [Sama-sama Nindy.]


Kemudian, Ningsih mengirim sejumlah uang di rekening Nindy. Tiga juta rupiah gaji untuk Nindy, sangat besar gaji sebagai asisten rumah tangga di Jakarta. Sedangkan lima juta rupiah untuk Joko. Gaji yang fantastis untuk seorang sopir pribadi, belum termasuk lembur dan bonus yang sering Ningsih beri cash. Ningsih pun menambahkan lima juta untuk memberi Ibunya Joko. Total tiga belas juta dia kirimkan ke rekening Nindy.


Ningaih pun senang bisa membantu. Mereka sudah layaknya keluarga bagi Ningsih. Setelah mengirim uang via transfer mobile, Ningsih kembali merawat Bima.


"Bagimana kondisimu, Bima sayang?" tanya Ningsih lirih.


"Lemas ... maaf, sayang. Aku merepotkanmu." gumam Bima sambil mengelus wajah cantik istrinya.


"Apa pun akan kulakukan demimu, Bima. Aku akan segera mencari lelaki untuk menikah dan menjadi tumbal ketujuh. Bahkan, aku bersedia diambil asalkan kamu kembali sehat. Jangan bersedih, Bima." kata Ningsih sambil memeluk suaminya.

__ADS_1


"Kamu harus hidup dan bahagia. Itu yang aku inginkan, melebihi apa pun. Aku menyayangimu, Ningsih. Lebih dari nyawaku sendiri. Kamu ... masih memiliki kesempatan." lirih Bima membalas pelukkan Ningsih.


Bersambung ....


__ADS_2