
...🔥Selingkuh itu Indah (?)🔥...
Seminggu kemudian ....
Bima masih belajar untuk menggerakkan kakinya pasca operasi. Saat ini, lelaki itu sudah menggunakan tongkat atau krek untuk alat bantu berjalan. Namun, masih saja perasaannya berkecamuk. Ningsih masih mencoba sabar menghadapi Bima.
Wahyu sudah pulih total dari sakit karena kecelakaan. Namun, dia harus ke Wonogiri karena Budi sakit. Otomatis ada beberapa hal yang Budi pasrahkan pada Wahyu di pesantrennya. Alex menemani Wahyu kala itu tanpa memikirkan dampak yang mungkin terjadi.
Ningsih merawat Bima di rumah bersama para asisten rumah tangga dan sopirnya. Pagi itu, mereka berencana akan pergi ke rumah Stefy. Namun, justru Stefy dan Richard yang terlebih dahulu sampai ke rumah Ningsih untuk melihat keadaan Bima. Mereka datang di saat tak tepat karena Bima sedang marah. Terdengar dengan jelas saat gelas yang jatuh di lantai membuat pagi itu terasa kacau.
Pyarr!
Bunyi benda pecah itu membuat Ningsih terkejut dan segera keluar dari kamar. Saat itu dia habis mandi karena hendak bersiap ke tempat Stefy dan Richard. Namun, semua berantakan. "Ada apa, Papa?" tanya Ningsih menghampiri Bima.
"Tak apa, aku hanya tak sengaja memecahkan gelas," jawab Bima pada istrinya.
"Ya udah, aku panggil Bibi saja untuk membersihkan. Jangan sentuh pecahan kacanya," ujar Ningsih hendak pergi.
"Tak usah! Biar aku bersihkan saja sendiri!" seru Bika yang bersrikeras hendak membersihkan.
Bukannya bersih, justru tangan Bima terkena pecahan dan berdarah. "Aww!"
Ningsih langsung mendekati dan hendak menolong, tetapi Bima menampik tangan istrinya. Membuat Ningsih semakin sakit hati. "Bi-Bima ... kenapa kamu tega seperti ini? Kenapa semenjak kecelakaan, kamu selalu kasar padaku? Apa saja yang aku perbuat tak pernah benar di matamu," lirih Ningsih yang matanya mulai berembun menatap kelakuan suaminya.
Tepat saat itu, Bibi masuk dan menyampaikan ada tamu. Ternyata di belakang Bibi sudah ada Richard dan Stefy yang mendengar apa yang Bima dan Ningsih alami. "Maaf, Nyonya dan Tuan ... ada tamu ini. Permisi." Asisten rumah tangga itu langsung pergi meninggalkan mereka untuk mengambil sapu dan engkrak untuk membersihkan pecahan gelas.
"Oh, kalian. Silakan duduk di ruang tengah saja," kata Bima sambil berjalan dengan kedua tongkat bantuannya.
Ningsih mau tak mau mengikuti Bima dari belakang dengan senyum terpaksa. Dia sebenarnya masih bersedih, tetapi karena ada tamu, mau bagaimana lagi. Mereka berempat pun duduk di ruang tengah. Saat berbincang singkat, bibi pelayan pun mengantarkan minuman dan berpamit akan pergi belanja dengan sopir di pasar besar. Ningsih pun mengiyakan dan memberi uang serta daftar belanja. Biasanya wnaita itu belanja dengan sopir, tetapi kondisi kali ini tidak memungkinkan.
"Bagaimana kondisi Bima?" tanya Stefy dengan lembut.
"Begini ini keadaannya. Masih sulit berjalan," jawab Bima seadanya.
__ADS_1
"Sudah diperiksakan kembali, Mas dan Mbak?" Richard gantian bertanya.
"Sudah. Memang perlu waktu ekstra untuk sembuh. Terima kasih sudah ke sini dan perhatian pada kami," sahut Ningsih.
Mereka pun minum dan berbincang banyak hal. Lalu, Richard hendak berbicars empat mata dengan Ningsih. Mengenai kecelakaan tersebut. Ningsih pun mengajak ke taman belakang saja. Sedangkan Bima dan Stefy berads di ruang tengah.
"Ada apa, Mas Richard?" tanya Ningsih sesampainya di taman belakang.
"Hmm ... maaf sebelumnya, Mbak. Apakah setelah kecelakaan ini Mas Bima berubah? Maksudku sifat dan sikapnya jadi agak lain?" Richard seolah juga merasakan hal yang sama.
"Emm ... i-iya. Kenapa Mas Richard tanya seperti itu?" Ningsih pun duduk di bangku taman, bersebelahan dengan Richard.
"Sebenarnya ... Stefy juta berubh drastis. Sifatnya sangat beda. Kadang., aku malah takut sendiri menatapnya dan menghadapinya. Dia menjadi liar dan emm ... menakutkan Meski dia sangat sayang dengan Lucy, tetapi tetap saja ada banyak hal yang berubah," jelas Richard sambil tertunduk lesu.
"Sama. Mas Bima juga berubah. Tapi perubahannya cenderung ke sifat mudah marah dan kasar. Entah kenapa bisa seperti itu. Aku sering sedih melihatnya." Ningsih juga merasakan hal yang sama. Karena perubahan setelah kecelakaan itu justru ke hal yang negatif.
Ningsih dan Richard berbincang, sedangkan di ruang tengah Stefy dan Bima pun membahas banyak hal. Mereka merasa akrab. Bima sama sekali tak mengetahui siapa yang merasuki tubuh Stefy.
"Bagaimana, Mas? Mau aku pijat agar kakinya sembuh?" Penawaran dari Stefy ada baiknya juga untuk dicoba.
"Baik, Mas. Aku mulai, ya?" Stefy pun perlahan memijat kaki Bima. Tentu saja Stefy bisa menyembuhkan dengan kekuatan Snowice. Namun, bukwn hanya soal menyembuhkan, saat itu dia berusaha menggoda Bima. Membuat sisi manusiawi Bima terusik saat pijatan itu naik hingga pangkal paha dan menyentuh area sensitif milik lelaki.
Bima terkejut dan hanya menahan diri. Namun, ternyata menjadi manusia bukanlah hal yang mudah. Bima langsung terusik. Dia pun menegang. Sentuhan jari jemari Stefy sungguh mengusik batinnya. Tanpa disadari, Stefy membuka kancing dan resleting celana Bima. Dia menurunkan perlahan dan membuka milik Bima lalu **********. Antara sadar atau tidak, Bima hanya terdiam menikmati keadaan itu. Selingkuh? Apakah ini yang sering dikatakan manusia sebagai perselingkuhan? Apakah selingkuh itu indah?
Saat sadar suatu hal, Bima langsung menari miliknya dari ******* Stefy. Meski belum pelepasan, Bima langsung merasa bingung dan tak enak. "Jangan! Ma-maaf Stefy ... jangan seperti ini," kata Bima yang langsung memrapikan celananya dan berdiri. Tanpa disadari, Bima sudah bisa berdiri tegak tanpa tongkatnya. Dia benar-benar sudah sembuh.
"Begini kenapa, Mas Bima? Bukankah kamu juga menikmati? Enak, kan? Sensasi yang luar biasa, bukan? Selingkuh itu indah. Hal yang lumrah agar tidak jenuh," bisik Stefy tepat mendekat di telinga Bima.
Bima merasa gugup dan bingung. Seakan perkataan dan daya tarik stefy membuatnya tak berdaya untuk menolak. Seperti itulah jiwa manusia. Godaan yang datang belum tentu bisa dilewati. Meski tahu salah, terkadang beberapa manusia justru menikmati hal tersebut.
"Jangan. Kasihan Ningsih. Sudah, aku permisi dulu," ujar Bima.
Stefy langsung memegang tangan Bima dan menahan lelaki itu pergi. Dia pun menatap Bima. "Kamu suka, kan? Jujur saja. Aku juga menyukai ini. Bahkan aku menginginkan lebih, jika kamu mau. Suatu saat nanti kita bisa menghabiskan malam hangat nan panas berdua," lirih Stefy sambil mengerlingkan matanya.
__ADS_1
Setelah Stefy melepaskan tangan Bima, Richard dan Ningsih pun masuk kembali ke rumah. Mereka pun kembali duduk di ruang tengah.
Saat Richard dan Ningsih duduk, rasanya mereka berempat seakan menyembunyikan sesuatu. "Ada apa?" tanya mereka berempat secara serenta sambil saling pandang.
Bukannya jawaban, mereka pun tertawa. "Oh, iya. Stefy bisa menyembuhkan kakiku. Tadi dia memijatnya dan lihat. Aku sudah bisa berdiri tegak dan berjalan. Terima kasih, Stefy," kata Bima sambil menunjukkan dia bisa jalan normal kembali.
"Alhamdulilah, Sayang. Kamu sudah kembai normal. Terima kasih banyak, Stefy," sahut Ningsih dengan sangat kagum.
"Sama-sama, Mbak Ningsih dan Mas Bima. Senang bisa membantu," jawab Stefy sambil menatap penuh harap pada Bima.
Beberapa saat kemudian, Richard dan Stefy pun berpamit pulang dan berharap bisa berjumpa lagi. Bima dan Ningsih pun menghantarkan mereka dan mempunyai ide dadakan.
"Bagaimana kalau kalian makan malam di sini nanti? Kami akan menjamu karena selesai permasalahan kecelakaan ini serta kesembuhan kaki suamiku. Bagaimana?" Ningsih mengusulkan sesuatu yang tak biss ditolak oleh Richard dan Stefy.
"Baik. Rasanya itu ide bagus dan cemerlang. Kami pasti akan datang. Iya, kan, Papi?" Stefy menatap suaminya sambil menggandeng tangan kirinya dengan manja.
"Eh, iya. Aku setuju saja. Kami pamit pulang dulu." Richard pun menyetujui dan berpamit pulang.
Richard ternyata merasa tertarik dengan Ningsih. Saat dia berada di taman belakang dan saling menghibur dengan Ningsih, tanpa sengaja mereka berciuman dan saling memeluk satu dengan yang lain. Hal itu membuat Ningsih dan Richard merasa tennag sesaat. Namun saat sadar hal itu salah, mereka langsung bingung dan menjauh.
Apakah semua itu bisa terjadi karena niat? Padahal Ningsih dan Richard tidak menghendaki itu. Tidak ada niatan untuk berselingkuh. Apakah semua itu terjadi karena kebutuhan atau keinginan? Entahlah. Mereka langsung memilih masuk ke rumah sebelum terjadi hal yang tak diharapkan. Tanpa terasa, hal tersebut adalah bibit-bibit perselingkuhan. Rasa kecewa dan kesal karena pasangan berubah drastis, mereka saling bertukar cerita dan mengalami nasib yang sama. Adanya kesamaan hal, membuat mereka menjadi dekat.
Iblis tahu celah tersebut. Manusia yang sedang digoda dan diuji memang terkadang tak sadar. Ceritakanlah segala keluh kesah kesusahan pada Sang Pencipta, karena hanya Dia yang tak akan ingkar janji dan tak akan menjerumuskan. Manusia yang sudah menikah, jika sering menceritakan kesusahaannya pada orang lain (lawan jenis) maka lama kelamaan cobaan dan godaan pasti menghampir. Lantas, seberapa kuat iman manusia? Godaan itu nyata di depan mata.
...****************...
Kerajaan dalam Samudra Pasifik ....
"HA HA HA HA ... BAGUS SNOWICE! BAGUS! PANCING MEREKA MASUK DALAM DOSA NAUNGAN ASMODEUS. MANUSIA SESUNGGUHNYA MUDAH GOYAH DALAM HASRAT DAN KEPUASAN DUNIAWI. AKU MENIKMATI PERTUNJUKAN INI! BERAWAL DARI SELINGKUH, SEMUA AKAN HANCUR BERANTAKKAN! HA HA HA HA ...." Tuan Abaddon sangat puas dengan apa yang anak buahnya lakukan.
...****************...
Iblis yang pintar mencari celah hati manusia akan mudah melahap jiwa manusia yang tak kuat iman. Saat ini, Bima baru merasakan apa yang disebut godaan. Rasanya sulit sekali menolak dan menghindar. Jiwa manusia itu yang rentan masuk dalam godaan. Ternyata menjadi manusia kembali bukanlah hal yang mudah. Bima pun merasa bersalah pada Ningsih. Takut jika istrinya tahu, akan marah dan kecewa. Bima hanya banyak terdiam hingga sore hari. Karena terpaksa Ningsih mengundang makan malam pada Richard dan Stefy, Bima hanya bisa mengikuti hal tersebut. Tanpa tahu apa yang akan terjadi nanti malam.
__ADS_1
Apakah Bima dan Ningsih mampu menghadapi cobaan? Atau justru mereka akan terhanyut dalam cobaan yang nikmat itu?