
...🔥 Bersama Selamanya (?)🔥...
Dinda, wanita iblis yang terkenal kejam dan sadis akhirnya mengikuti apa yang Boy katakan. Dia akan ikut pergi ke mana Boy mengajaknya, yaitu berangkat ke Korea Selatan. Wanita iblis itu tidak bisa berdusta, jika ternyata dia pun merasakan hal yang sama dengan apa yang Boy rasakan. Rasa cinta dua alam yang sulit bersatu.
"Dinda, jangan khawatir. Kujanjikan aku ada untukmu," gumam Boy sambil merangkul erat bahu kekasihnya sepanjang perjalanan terbang.
Kali ini, Boy kembali ke Korea Selatan dengan cara terbang. Dia memeluk tubuh Dinda dan mengajaknya terbang melintasi semua pulau dan laut yang ada. Sangat romantis. Boy merasa tak ingin melepaskan kekasihnya itu.
"Terima kasih, Boy. Semoga kita bisa bersama selamanya." Dinda menatap lekat wajah tampan dengan lesung pipi itu. Dia sungguh mencintai lelaki di hadapannya. Berharap bisa bersama selamanya, apakah mungkin?
Sesampainya di Korea Selatan, Boy sengaja membawa Dinda pulang untuk berkenalan dengan Park Kim dan Joon. Boy yang membuat mereka berdua lupa ingatan, jelas membuat keadaan juga jauh lebih baik dari sebelumnya. Kedua orang itu kembali menjadi orang yang perhatian dan hangat saat berucap. Mereka menyambut Boy yang izin perjalanan menjemput kekasihnya.
"Hai, Boy! Wah, kau membawa kekasihmu? Cantik sekali," kata Park Kim yang menyambut kedatangan Boy dan Dinda.
"Hei, Kim! Iya, ini kekasihku. Ayo berkenalan dahulu. Dinda, ini Park Kim dan Joon. Dan Park Kim serta Joon, ini adalah Dinda, calon istriku," jelas Boy sambil tersenyun penuh arti.
"Ha? Calon istri?" Serentak Park Kim dan Joon terbelalak dan mengucapkan kalimat yang sama tanpa aba-aba. Boy memiliki kekasih saja sudah membuat mereka syok apalagi hendak menikah. Sungguh mereka makin penasaran sosok yang menakhlukan hati Boy.
"Salam kenal, Park Kim dan Joon. Aku Dinda. Senang berkenalan dengan kalian," ucap Dinda yang sangat menawan. Sebagai Nyi Pelet, Dinda memiliki pesona yang lebih dibanding iblis lain. Terlebih jika di hadapan manusia. Dia terlihat sangat mempesona dan menarik hati semua mata yang melihatnya.
"Sa-salam kenal, Dinda," lirih Park Kim sambil mengulurkan tangan. Dia terpukau dengan kecantikan Dinda. Pantas saja Boy menyukainya.
Kemudian disusul Joon yang juga mengulurkan tangannya. "Salam kenal juga, Dinda." Joon dengan mantab menyodorkan tangan. Dinda memberi salam dan jabat tangan kepada mereka satu per satu.
Pesona Dinda membuat Joon terbuai. Dalam hatinya, dia menginginkan kenal dan dekat dengan Dinda. Berbeda dengan wanita-wanita lain, Dinda sungguh seperti bersinar. Boy tidak tahu jika Joon menyukai Dinda saat pandang pertama.
Setelah berbincang banyak hal, Boy pun meminta izin pada dua kawannya itu. "Jadi begini, selama kami akan mengurus pernikahan, Dinda akan tinggal di sini. Kalian tidak keberatan, kan?" tanya Boy pada Park Kim dan Joon. Boy takut jika kedua kawannya itu keberatan dengan hadirnya Dinda di sana.
"Tidak apa. Tinggal di sini saja," sahut Park Kim dan Joon secara bersamaan.
__ADS_1
Boy dan Dinda pun tertawa melihat mereka yang berkata hal sama dalam satu waktu seperti orang kembar. Park Kim dan Joon pun saling menatap dengan tawa menghiasi bibir mereka.
Hari itu, Dinda resmi tinggal di rumah Boy dan berada di Korea Selatan. Boy tidak bohong, dia sungguh-sungguh ingin menikahi Dinda. Meski sebenarnya manysia separuh malaikat itu tidak boleh menikah dengan manusia, apalagi dengan iblis? Entahlah.
Malam harinya ....
Dinda dan Boy berjalan-jalan di taman rumahnya. Taman yang bagus dan indah terlebih saat malam hari. Gemerlip lampu taman yang tertata rapi membuat keadaan semakin romantis.
"Dinda, kamu senang di sini?" tanya Boy sambil menatap kekasih hatinya.
"Iya, Boy. Aku senang di sini. Aku senang jika bersamamu." Jawaban dari Dinda membuat hati Boy makin meleleh. Dia merasa sangat bahagia melihat wanita yang selama ini dia cintai akhirnya membalas cintanya. Meski ada rasa takut di dada jika berpisah, mereka tetap bahagia bersama.
"Dinda ... apakah kau tahu suatu hal? Sesuatu yang selalu membuatku jatuh cinta kepadamu?" Boy menatap lekat wajah kekasihnya.
"Apa, Boy? Apakah aku seperti itu di matamu? Aku ini wanita yang buruk." Dinda menundukkan wajahnya yang cantik. Merasa malu karena manusia setengah malaikat yang baik hati menyukai wanita iblis sepertinya.
Dinda dan Boy menghabiskan waktu bersama menikmati indahnya malam. Mereka terhanyut dalam perasaan yang kuat satu dengan yang lainnya. Tanpa disadari, malam semakin larut, ada sepasang mata yang menatap keromantisan Dinda dan Boy dari kejauhan. Mata itu menyimpan rasa cemburu karena tak senang melihat keharmonisan mereka.
"Aku harus bisa memiliki wanita itu. Boy tidak pantas untuknya," geram lelaki yang menatap keromantisan mereka.
...****************...
Di tempat lain ....
Budi berada di dalam ruang kerjanya. Dia sengaja tidak tidur awal karena resah. Hari ini pun Santi sudah mulai mengajarkan anaknya tidur terpisah. Budi masih di ruang kerja dan merasa sedih karena kejadian tadi sore. Dia beristigfar dan memohon ampun pada Sang Pencipta. Dia khilaf dan menyesal telah membuat Ningsih takut. Setelah pulang dari Yogyakarta pun Budi hanya diam. Santi bertanya, dia hanya jawab seperlunya. Dia masih merasa bersalah.
Malam tiba dengan cepat. Budi yang menyesal dan tak tenang pun meraih ponselnya untuk menghubungi Ningsih dan meminta maaf kembali. Dia berharap Ningsih mau membalas pesannya.
Budi: [Assalamualaikum. Selamat malam, Ningsih. Apakah kamu sudah tidur? Jika belum, tolong balas, ya.]
__ADS_1
Ningsih yang masih terjaga mendengar suara notifikasi handphonenya. Dia segera meraih ponselnya. Membuka pesan yang ternyata berasal dari Budi.
Ningsih: [Wa'alaikumsalam. Malam juga. Belum ini, ada apa, Budi?]
Mendapat balasan dari Ningsih membuat hati Budi sedikit tenang. Setidaknya wanita itu masih mau membalasnya, yang berarti Ningsih tidak marah padanya.
Budi: [Ningsih, aku meminta maaf dengan sangat atas khilafku tadi sore. Sesungguhnya Ustad bahkan Kyai pun bisa jatuh dalam dosa. Maafkan aku. Aku sangat menyesali hal itu. Apa yang harus aku perbuat untuk menghilangkan rasa bersalah ini?]
Pesan dari Budi terkirim. Ningsih menerima dan membacanya. Memang di dunia ini tidak ada yang sempurna. Setiap manusia pasti pernah jatuh ke dalam dosa. Hanya saja yang menjadi pembeda adalah ada yang tahu berdosa tetapi senang berkubang dalam dosa, dan ada yang sadar, bertaubat, serta tidak mengulanginya lagi. Untung saja Budi segera sadar dari hasutan Iblis yang hendak mengajaknya berbuat zina dengan memaksa Ningsih. Jika tidak, mungkin akan berbeda. Ningsih bisa saja marah padanya dan tidak ingin bertemu lagi. Allah masih baik dan melindungi Budi dari segala khilaf.
Ningsih: [Tidak apa, Budi. Lupakan saja hal tadi. Lebih baik kamu salat dan berdoa agar hatimu tenang. Jika ingin berbuat sesuatu untuk menebus rasa bersalah, lebih baik berdoa untukku dan keluargaku. Setelah ini, jangan bahas hal itu lagi, ya. Kekhilafan manusia memang ada. Aku sudah memaafkan, jadi lupakan saja.]
Menerima balasan pesan dari Ningsih membuat Budi merasa lega. "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Jika hampa saja mengalami khilaf dan Engkau menerima kembali dengan ampunan, begitu juga Ningsih dan keluarganya. Engkau pasti lebih menyayangi mereka sedemikan rupa untuk kembali ke jalanMu." Budi menangis terharu dengan jawaban Ningsih. Tak disangka, sesungguhnya kebaikan Allah sudah merangkul hati Ningsih untuk kembali ke jalan-Nya.
Ningsih terdiam setelah meletakkan ponselnya di meja. Ningsih kembali berbaring di ranjang dan menatap langit-langit kamarnya. Dia masih bingung kenapa bisa mengatakan hal itu kepada penerus Kyai Anwar? Bukankah Ningsih adalah wanita berdosa. Sesungguhnya, Ningsih pun tak mengerti apa yang dia rasakan. Bingung dan tak menentu rasanya. Apakah benar ini ketukan dari Allah untuk bertaubat? Meski rasa sedih dan keinginan untuk bersama Bima masih ada di benak. Namun, tak bisa dipungkiri untuk kembali sujud dan berdoa menjadi hal yang Ningsih inginkan. Ningsih menjadi bingung.
"Mengapa perasaanku seperti ini? Apakah yang Bima katakan itu ada benarnya? Untuk kembali ke jalan yang Allah tetapkan. Wahyu juga berkata seperti itu. Namun, jika aku bertaubat, apakah ada kesempatan untuk aku dan keluargaku bersama lagi?" batin Ningsih yang galau sambil menatap langit-langit kamar. Dia masih memikirkan hal itu hingga akhirnya dia mengantuk.
Ningsih pun tertidur nyenyak dengan pemikiran yang berkecamuk di dada. Saat dia terlelap, terlihat Alex memandang ibunya dengan wajah sendu. Alex hampir menangis merasakan Ningsih yang kesepian dan menderita dalam dada. Memang seharusnya Alex tidak berada di sana. Namun, karena kerinduan anak kepada sosok ibu, Alex diperbolehkan mengunjungi sendirian asal tidak menampakkan wujud atau berkomunikasi dengan Ningsih. Dia pun berjanji hanya akan mengamati ibunya tanpa menampakkan diri atau berkomunikasi sesuai apa yang menjadi larangan.
Alex meneteskan air mata. Dia ingin sekali memeluk ibunya, tetapi sayangnya tak bisa. Apakah sejauh itu perbedaan manusia dengan Iblis? Tak bisa bersatu? Ataukah terlalu hina sesosok iblis yang lahir dari rahim manusia untuk bisa bersama dengan ibunya? Alex bersedih.
"Apakah lebih baik aku membawa Mama saja? Tapi, pasti Kak Wahyu akan marah. Aku sedih melihat Mama sendirian dan sedih seperti ini. Kak Wahyu juga mementingkan belajar daripada Mama." Alex hanya bisa berbicara dalam hati melihat ibunya tertidur. Setelah itu, dia menghilang. Alex kembali ke neraka sesuai perjanjian. Hanya dua jam di dunia manusia untum melihat ibunya hingga terlelap saja.
...****************...
...PENGUMUMAN...
Bagi para pembaca JERAT IBLIS yang ingin masuk ke GRUP CHAT, baiknya memberi password saat masuk. Sebutkan 3 pemain di Novel JERAT IBLIS. Mengikuti usul para admin demi kenyamanan sesama penghuni Grup Chat, mohon diperhatikan ya guys. Thanks^^
__ADS_1