
Bunda menoleh ke segala arah mencari keberadaan semua orang, terutama Sang Putri yang masih dibawah umur. Dia takut ada yang mendengar kalimat yang baru saja diucapkan sang suami.
Tempat itu ada beberapa orang jika di dengar orang lain tidak akan begitu baik apalagi oleh Sang Putri. Mentari pastinya akan mengajukan berbagai macam pertanyaan secara beruntun hingga mereka berdua kehabisan kata-kata untuk menjawab.
Umur Sang Putri memang pada usia yang penuh dengan rasa keingintahuan hingga segala sesuatu pasti ditanyakan. Untung saja kedua Pasutri ini tidak pernah kehabisan akal untuk menjawab pertanyaan dari Sang Putri.
Gadis kecil itu sekarang berada di kamarnya untuk membersihkan diri. Betapa bahagianya dia hari ini bisa bermain di luar kediaman utama.
Badan kecil itu kini sudah bersih dan wangi setelah setengah hari bermain. Mentari pun berlenggang di depan cermin besar yang ada di dalam kamarnya untuk memastikan kalau dia sudah rapi.
"Semoga saja tidak ada yang mengacak-acak rambut ku seperti tadi pagi." Kata gadis itu lirih dengan berlenggang di depan cermin.
Hatinya kesal sebab bukan hanya satu orang yang mengacak-acak rambutnya tetapi lebih dari satu orang. Satu orang bukan hanya sekali tetapi berkali-kali.
Mereka berbuat seperti itu pada gadis kecil itu karena merasa gemes padanya. Wajahnya terlihat sangat menggemaskan jika dilihat dari segi manapun.
Gadis yang sangat polos ini setiap hari selalu ceria, dia merasa sedih jika tidak diperbolehkan untuk keluar dari kediaman utama. Kejamnya kehidupan dunia luar belum pernah dirasakan tapi siapa sangka di usianya yang masih kecil harus kehilangan kedua orang tuanya.
Mentari merasa sudah cukup rapi, dia segera melangkahkan kaki sedikit cepat menuju ruang makan. Gadis kecil ini ingin segera bertemu dengan teman barunya.
Di lantai bawah gadis kecil ini bertemu dengan kedua orang tuanya yang sedang sedikit berbincang. Sebuah senyum terukir diwajahnya yang imut.
"Stop." Kata seorang gadis kecil takut rambutnya dibuat berantakan lagi oleh Sang Ayah.
"Baik lah, baik lah, ayo kita makan." Kata Ayah meraih tangan mungil Sang Putri.
"Bagaimana tadi, senang tidak?" Tanya Sang Ayah.
"Ya begitulah, Ayah bisa lihat sendiri." Kata Mentari.
Mereka bertiga berjalan bergandengan tangan menuju ruang makan. Mentari mengedarkan pandangan bukan pada menu yang tersedia di meja makan melainkan di setiap sudut ruangan seakan mencari seseorang.
Kedua orang tuanya melihat ekspresi sang putri hingga membuat mereka tersenyum. Mereka tahu putrinya sedang mencari sosok seorang pemuda tampan yang menemaninya bermain.
"Mau mengajaknya makan?" Tanya Ayah pada Sang Putri yang terputus.
"Boleh." Lanjutnya.
"Beneran?" Tanya Mentari antusias dengan melihat wajah Sang Ayah.
__ADS_1
"Tapi......" Kata Ayah terputus ingin mengajukan syarat.
"Ayah sukanya menggoda!" Keluh Tari dengan mengerucutkan bibir.
"Alah.... alah.... Kalau marah gitu ya mukanya." Goda Sang Bunda.
"Jangan suka marah atu Neng, nanti bisa lekas tua, banyak kriputnya." Kata Ayah menasehati Sang Putri.
"Kaya Bunda kamu itu gak pernah marah, jadi.... awat muda. Cantiknya gak ketulungan." Puji Ayah untuk istri tercintanya.
"Ayah apa'an sih?" Elak Sang Bunda hingga memerah pipinya karena malu.
"Itu kan merah pipi Bunda." Ledek Ayah.
"Kalau kalian cuma mau ngobrol terus makanan keburu dingin jadinya gak enak." Kata Bunda.
Persyaratan Ayah tidak jadi dikatakan, tanpa lupa mereka berdoa sebelum makan. Ayah tahu kalau Adrean pasti canggung jika makan bersama dengan keluarga itu terus hingga dia tadi sengaja mengulur waktu agar Mentari putrinya lupa dengan apa yang diinginkannya baru saja.
Gadis kecil itu sedikit kecewa karena tidak bisa makan bersama Adrean seperti tadi pagi. Perut mereka sudah kenyang setelah makan siang tetapi kali ini Mentari tidak terlihat lahap dalam menyantap makanannya.
Bunda membersihkan meja makan dan mencuci semua peralatan yang digunakan untuk mereka makan. Ayah dan Mentari menunggu Bunda untuk melaksanakan shalat dhuhur berjamaah.
"Ayo, keburu habis nanti waktu shalatnya." Ajak Sang Bunda.
"Iya ma'af." Kata Bunda.
Mereka berjalan menuju mushola yang ada di kediaman utama. Setiap ada kesempatan mereka memang selalu menyempatkan diri untuk shalat berjamaah.
Gadis kecil itu berjalan gontai di depan kedua orang tuanya menuju kamar setelah sholat dhuhur selesai. Gadis ini sedikit kecewa karena setelah makan siang dia tidak menemukan sosok Abang yang dicarinya.
Mentari menuju kamarnya hendak tidur seperti biasanya yang dia lakukan. Ayah dan Bunda pergi ke ruang kerja untuk membicarakan sesuatu.
"Sayang, aku maunya sekarang." Kata Ayah manja setelah gadis kecilnya sudah sampai di lantai 2 dan masuk kamarnya.
"Ayah, ini siang hari." Jelas Sang Istri.
"Memangnya kenapa?" Tanya Ayah.
"Siang hari justru nanti gak usah susah nyarinya karena sudah ada penyinaran alami." Rajuknya manja pada Sang Istri.
__ADS_1
"Silau sayang, malam hari aja pakai lampu tidur." Jelas Sang Bunda.
"Ayolah sayang, begadang dua kali ya?" Pinta Sang Suami.
"Siang dan malam." Lanjutnya.
Bunda membulatkan mata sempurna tidak percaya dengan apa yang didengar dari mulut suaminya. Dia melihat wajah suaminya yang tampan itu.
Ceklek
Pintu ruang kerja dibuka oleh Sang Suami dan mempersilahkan Bunda masuk. Ayah berjalan menuju kursi kebesarannya setelah menutup pintu itu kembali.
Bunda berdiri dekat pintu tidak bergerak dari sana setelah Sang Suami duduk di kursinya. Jantungnya berdetak begitu kencang setelah mereka berdua dalam sebuah ruangan yang tertutup.
"Kenapa masih berdiri di sana?" Tanya Suami.
"Haduh kenapa ini jantung, lagian kenapa harus siang hari sih? Aku belum siap apapun itu." Batin Bunda.
"Kita sudah tidak muda lagi, jadi....." Kata Sang Suami terputus dengan senyum yang begitu menawan.
"Apa masih perlu aku ajari?" Lanjutnya.
"Memangnya harus sekarang?" Tanya Bunda menundukkan kepala merasa canggung.
"Iya Bunda, disini jarang kan kita melakukannya hem?" Tanya Ayah.
"Iya, kalau tidak kapan lagi?" Tanya Ayah yang tidak membutuhkan jawaban.
Sang Istri berjalan mendekati suaminya yang sedang duduk di kursi kebesarannya dengan menundukkan kepala karena mukanya merah karena malu. Sang Suami tidak biasanya meminta hal itu jika bukan di waktu dan tempat yang tepat.
"Duduklah." Pinta Ayah saat Sang Istri sudah berada di samping kursi yang ada di depannya.
"Apa yang kamu pikir sayang?" Tanya Sang Suami menghampiri istri tercintanya.
"Lihatlah muka mu sampai merah seperti itu?" Goda Sang Suami setelah memegang dagu dan mengangkatnya hingga wajah istrinya yang sedang tertunduk.
"Mau jadi ABG lagi?" Tanya Ayah lirih dengan merangkul leher sang istri dengan kedua tangannya dari belakang hingga membuat bulu kuduknya berdiri.
"ABG itu saja gak perlu diajarin sudah pinter semua." Jelas Sang Suami.
__ADS_1
Tuan Richat cerita banyak tentang anak muda yang memang mulai dari yang harusnya belum mengenal itu berpacaran hingga para remaja berperilaku. Dia hanya bisa berdoa agar Sang Putri bisa menjaga dirinya sendiri.
Bunda hanya diam saat suaminya mengeluarkan kata-kata yang sangat banyak. Kata-kata sebanyak ibu-ibu di pasar yang baru menawarkan jualannya.