Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 72. Hai


__ADS_3

"Hai Bro, udah lama elu sampai." Tanya Ziko.


"Baru saja." Jawab Alfian.


"Ada apa elu ngajak aku ke kafe?" tanyanya Alfian.


"Santai dulu aja sih kenapa? Baru juga sampai cerocos Zoko.


Alfian memesan minuman kepada para pelayan, begitu juga dengan Ziko dan Monic. Setelah beberapa saat Ziko menanyakan beberapa hal pada Alfian.


"Elu ngerasa aneh gak sih tadi pagi?" Tanya Ziko.


"Aneh apaan? Emang ada penampakan gitu?" Cerocos Alfian.


"Iya, emang ada penampakan." Balas Ziko.


"Penampakan gadis cantik dan seksi di kantor tadi pagi." Cerocos Ziko.


Alfian sebenarnya juga sudah curiga dengan semua itu. Akan tetapi hanya dipendamnya sendiri.


Monic terlihat cemburu saat kekasih pujaannya memuji orang lain. Ia jadi cuek tatkala Ziko mencoba mengajaknya berbicara.


"Sorry aku ke toilet dulu ya?" Kata Monik yang merasa jengkel terhadap Ziko.


"Ok. Kita tunggu ko." Kata Ziko.


Sesudah kembali dari toilet Monic masih saja ketus hal itu membuat Ziko ingin mengerjainya.


"Elu kenapa sayang?" Tanya Ziko pada Monik.


"Gak apa-apa. Aku hanya capek aja." Jawab Monic dengan rasa kesalnya.


"Kalian ini malah ribut sejak tadi. Capek dengernya." Kata Alfian ketus.


"Itulah bumbunya." Balas Ziko.


"Emang mau masak?" Tanya Monic.


"Iya biar kamu mateng." Balas Ziko


"Udah deh langsung aja kalian ngajak ke kafe emang ada apa?" Tanya Alfian.


"Gini Al sepertinya dalam kerjasama dengan Nona Ratna ada sesuatu tujuan tertentu deh." Jelas Ziko


"Iya, setahu aku sih itu bokapnya gak pernah mewakilkan pekerjaannya pada anaknya." Sambung Monik.


"Pinter ni kalian sekarang." Puji Alfian.


"Ya dah coba kita lihat dulu aja perkembangannya. Udah larut ni aku pulang duluan." Lanjut Alfian


Alfian berpamitan pulang pada sahabatnya. Ia langsung menuju tempat parkir langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menembus keramaian jalan.


Ziko dan Monic masih berada di cafe itu. Mereka masih saja bertengkar. Biasa lah pertengkaran kecil diantara mereka yang tergolong masih muda.


Ziko mengantar Monic sampai di rumah. Dalam perjalanan pulang Monic hanya mendiamkan Ziko. Keduanya masih memiliki hubungan dalam tanda tanya.


Monic selalu saja cemburu jika Ziko membicarakan wanita lain. Di lain pihak Ziko tidak berdaya untuk mengungkapkan perasaannya. Ia takut dituduh mempermainkan perasaannya suatu saat.


*** *** ***


Kediaman Adrean


Mentari yang seharian ini tak memiliki kesibukan merasa jenuh. Seharian ia hanya bermain dengan ketiga adiknya.


dreeeet dreeeet dreeeet dreeeet


Ponsel Mentari bergetar di atas nakas. Pesan dari Alfian dibaca yang menanyakan kabarnya hari ini. Sebenarnya Alfian menunggu pesan atau pun telepon dari Anak singanya itu. Hal itu tak kunjung datang.


Rasa rindu yang sangat teramat membuatnya tak bisa memejamkan mata sampai tengah malam. Walaupun dulu masih satu sekolah tiap kali bertemu selalu ada saja yang didebatkan.


Besuk makan siang bersamaku ya? Aku jemput ~ Pesan Alfian


Mentari yang belum bisa memejamkan matanya tidak membalas pesan itu. Ia tahu itu sudah terlalu malam untuk membalasnya.


Waktu Azan subuh menggema. Mentari sesudah shalat langsung berkutat di dapur membantu mamanya sedang memasak.


Pagi ini mereka sarapan bersama seperti biasa. Mentari meminta ijin makan siang nanti bersama dengan Alfian.


"Pa, Ma nanti siang aku mau pergi makan siang dengan Alfian di luar boleh kah?" Ujin Mentari dengan rasa kikuknya.


"Aduh anak gadis ku, udah berani kencan ya sekarang?" Ledek Papa


"Lha gimana Pa boleh gak?" Tanyanya lagi.


"Iya boleh sayang, Papa dan Mama percaya kok sama kamu." Jelas Papa


Pasalnya selama ini Tari anak yang suka memanfaatkan waktunya dengan baik. Ia tidak pernah keluar rumah sama sekali jika tidak ada kepentingan mendesak.


Waktu semakin siang Alfian yang berada di kantor segera bersiap meninggalkan ruangannya. Ramainya jalan kota disiang hari membuat kemacetan yang sangat panjang.


Sepanjang jalan Alfian tersenyum-senyum sendiri. Entah apa yang ia rasakan dalam hatinya mendapatkan gadis yang cantik luar dalam.


Sebelum keluar dari mobil ia sempat merapikan rambutnya dan merapikan pakaiannya. Hal ini tak luput dari pengawasan Mama Sinta.


Mama Sinta yang tiba-tiba keluar menyambutnya membuat Alfian kaget.


"Udah-udah, udah cakep kok." Puji Mama Sinta.


"Mama panggilin dulu Tari, kamu tunggu aja di ruang tengah." Lanjutnya.


Alfian yang mendengar sang mama yang kepergok merapikan rambut dan kemejanya merasa malu sendiri. Tidak menunggu lama Mentari pun muncul dan duduk di depan sampingnya.


Deg deg deg deg deg


Jantung mereka berdua seakan berdisko ingin melompat dari tempatnya. Keduanya sangat canggung untuk memulai pembicaraan. Akhirnya Papa yang baru datang dari kantor memulai pembicaraannya.


"Assalamualaikum." Salam sang Papa


"Wa'alaikumsalam." Jawab Alfian dan Mentari bersamaan.


"E... Papa sudah pulang?" Tanya Mama yang berpura-pura tidak tahu. Padahal sebelumnya Papa sudah mengirim pesan ke Mama.


Papa tahu kalau Alfian dan Mentari akan canggung karena ini kencan pertama mereka.


Mama menghampiri suaminya itu kemudian mengambil tas dan jas yang dibawanya. Tak lupa Mama mencium punggung tangan suaminya itu. Papa membalas dengan sebuah kecupan di kening Mama.


Wajah Mama memerah karena malu.


"Wajah mama kok berubah merah sih?" Ledek Papa.


"Malu ah Pa ada nak Alfian." Balas Mama.


"Kayak kepiting rebus." Ucap Alfian spontan.


Akhirnya semua mata tertuju pada Alfian. Alfian merasa malu karena keceplosan.


"Biarin Alfian segera pengen menikah." Bujuk Papa.


Mendengar perkataan Sang Papa Alfian dan Mentari jadi sama-sama merah mukanya karena malu.


"Nih critanya kalian gak jadi keluar makan siang?" Tanya Papa.


"Ngusir nih critanya Papa?" Canda Mentari.


"Ya udah Om kita jalan duluan." Alfian minta ijin pada Papa.


"Ingat ya Al bawa pulang anak gadis Om dalam keadaan utuh." Ancam Papa dengan gaya bercandanya.


"Kalau tidak ntar aku minta kamu langsung nikahin anak om sekarang juga." Lanjut Papa.


Keduanya jadi membelalakkan matanya mendengar kata-kata Papa.


Seperti biasanya jalanan sangat macet di siang hari karena aktivitas perkotaan yang sangat beragam. Kedua pasangan ini menikmati perjalanannya dengan sangat senang, karena ditemani oleh orang yang dicintai.


"Mau makan di mana?" Tanya Alfian dengan rasa canggung.


"Di pinggir taman aja?" Jawab Mentari.


"Yakin?" Tanya Alfian.


Hening


Hening


Hening


"Gak di restoran gitu." Tanya Alfian lagi.


"Gak ah, itung-itung ngasih rejeki ke pedagang kaki lima." Kata Mentari.


Begitulah sisi Mentari yang sangat sederhana, walaupun ia sangat kaya. Itulah yang disukai Alfian gadis yang sederhana tidak menyombongkan akan hartanya.


*** **** ***

__ADS_1


Minta maaf kakak kalau upnya lama


Di dekat taman mereka berhenti. Alfian berpikir akan mengajar sang tunangan makan apa, ia masih bingung. Akhirnya Alfian pun bertanya pada gadisnya.


"Kakak mau makan apa?" Tanya Mentari.


"Makan kamu aja Dek." Canda Alfian.


"Ya udah ni kalau mau jadi Bang Sumanto." Balas Mentari.


"Siomay aja deh ya?" Lanjut Mentari.


Alfian dan Mentari keluar dari mobil itu. Mereka merasa nyaman makan ditempat umum seperti itu.


Mentari berjalan agak cepat alias setengah berlari. Rasa senang yang ada dihatinya sangat terlihat sekali. Jarang sekali ia makan makanan seperti itu.


Alfian senang melihat anak singanya yang sangat ceria. Sampai-sampai ia tidak melihat Alfian yang berjalan jauh dibelakang.


Dasar anak kecil .


Batin Alfian


Penjual bakso siomay itu terlihat sangat ramah. Ia menawarkan makan yang ingin mereka pesan.


"Neng lama gak kesini, gak kangen apa sama abang? Canda penjual siomay.


"Ah, abang bisa aja." Balas Tari.


Alfian melihat Mentari yang sedang berbincang dengan si penjual siomay. Mereka terlihat akrab sekali. Alfian berjalan mendekatinya sambil cengar cengir membuat tanda tanya di atas kepala abang penjual siomay.


Abang siomay dan Mentari memang sudah sangat lama saling kenal. Bahkan mereka sudah seperti saudara.


"Kakak cepetan, aku udah laper ini." Pinta Mentari.


"Neng, itu siapa? Cakep amat. Celetuk Abang siomay.


"Perasaan Neng gak punya kakak deh." Cerocosnya lagi.


Abang siomay yang melihat penampilan Alfian pun menjadi ragu. Ia kemudian duduk di depan Mentari bertanya segalanya.


"Beneran itu cowok mau makan ditempat kayak gini? Bisik penjual siomay.


"Udah deh Bang buatin aku seperti biasa ya?" Pinta Mentari.


Abang siomay membuatkan makanan untuk Mentari. Alfian duduk di sebelah Tari.


"Dek kalau dilihat-lihat kamu kenal sama abang ini sudah lama ya?" Tanya Alfian.


"Iya Kak emang kenapa?" Tanya Mentari.


"Gak apa-apa." Jawabnya singkat.


Pesanan siomaypun akhirnya datang. Tapi hanya satu porsi.


"Lho Bang kok cuma satu?" Tanya Tari.


"Ntar akunya gak kenyang lho." Kata Mentari.


"Udah Bang satu aja. Ntar buatin lagi aja tapi dibungkus ya." Pinta Alfian.


Alfian melihat Mentari sangat menikmati makanan itu. Tari yang merasa di pandang merasa malu hingga tanpa sadar ia menyodorkan siomay dengan sendok bekasnya. Alfian sangat menikmati hal itu.


"Enak banget ya Dek ternyata." Puji Alfian.


"Mau lagi?" Tanyanya Mentari.


"Boleh." Jawab Alfian singkat.


Alfian dan Mentari menghabiskan makanan itu sepiring untuk dua orang. Semua orang yang melihat sangat terpana dengan pasangan ini yang mana mereka adalah pasangan yang sangat serasi.


Alfian dan Mentari bersikap cuek terhadap mereka yang lalu lalang dengan komentarnya. Anggaplah mereka iri.


"Abang udah lama kenal sama cewek bandel ini?" Tanya Alfian pada Abang siomay


"Lumayan kok Tuan." Jawab Abang Siomay.


"Apa'an sih." Kata Mentari dengan geram pada Alfian.


"Tuh kan Bang tambah jadi galaknya kayak singa." Jelas Alfian.


"Terpenting Nona sebenarnya baik kok Tuan." Kata Abang.


"Dari mana Abang tahu anak singa ini baik?" Tanya Alfian.


" Jelek-jelekin terus adik mu ini kak." Ketus Tari.


Abang penjual siomay itu akhirnya bercerita bahwa sejak Mentari sekolah di SD waktu itu pulangnya ia sering mampir ke taman. Ia melihatnya sedang memungut sampah-sampah. Mentari yang akhirnya memberikan uang untuk buka usaha itu. dulunya memang sangat kecil sekarang lumayan sudah banyak pengunjung.


Alfian mendengarkan cerita dari abang siomay dengan seksama. Dalam hatinya ia bangga punya calon istri yang baik hati seperti itu.


"Anak singa ini adik ku Bang." Jawab Alfian.


"Adik ketemu gede." Lanjutnya. (gede maksudnya besar ya).


Hening


hening


hening


"Aku panggil dia adik biar bisa aku lebih deket sama itu cewek galak." Kata Alfian


"Kalau orang lain banyak yang panggil sayang dan sejenisnya." Jelasnya.


Selesai berbincang Alfian dan Mentari membayar semua makanan yang dimakan. Mereka tidak segera pergi dari sana. Mereka berjalan menuju tanam duduk disana.


Banyak pasangan muda-mudi yang sedang pacaran di area taman. Tanpa sengaja Ratna melihat Alfian di taman itu.


Gadis itu biasa aja. Dilihat dari penampilannya juga dari keluarga biasa saja.


Kata hati gue Ratna.


"Hai jam kerja kok di sini?" Tanya Ratna.


Alfian tak menjawab pertanyaan Ratna. Ia tidak mempedulikan wanita lain.


"Makan siang sama sekali tidak aku." Jawab Tari karena Alfian tak segera menjawabnya.


"Emangnya kamu siapanya?" Tanya Ratna dengan ketus.


"Aku temennya." Jawab Tari.


Setelah mendengar jawaban itu Ratna minta nomor ponsel Tari. Kemudian ia pamit pergi dengan alasan masih ada urusan yang mau diselesaikan.


Alfian yang sudah tidak memiliki selera untuk menikmati nyamannya taman bersama anak singanya itu mengajak pulang. Wajahnya terlihat sangat kecewa.


Bukannya tanpa alasan. Mentari sudah mulai terlihat marah padanya setelah kedatangan Ratna.


"Siapa itu cew?" Tanya Mentari.


"Emang tadi kenapa gak tanya langsung sama orangnya." Jawab Alfian dengan nada datar.


"Pulang yuk." Ajak Alfian sambil mengacak rambut Mentari.


Mentari langsung berdiri sambil berkacak pinggang di depan Alfian "Ok, tapi jangan mengacak -ngacak rambut ku, jadi berantakan dan jelek, tahu!" katanya sambil marah.


"Maaf Nona muda." Kata Alfian sambil mencubit hidung Tari.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju mobil. Alfian membukakan pintu mobil itu.


"Silahkan masuk Tuan Putri." Perintah Alfian.


Alfian masih berada di luar sedang menghubungi seseorang. Ia bilang tidak kembali ke kantor lagi.


Alfian akhirnya masuk dalam mobil. Ia mengantar Mentari pulang ke rumah.


Setelah mengantar Tari, Alfian langsung pulang ke rumahnya. Waktu sudah sore Alfian yang biasanya masih berada di kantor hari ini sudah berada di rumah. Mommy melihat kedatangan putranya itu penuh tanda tanya.


"Tumben jam segini udah pulang? Tanya Mommy


"Habis makan siang sama Tari kok Mom, mau balik kantor juga udah kesorean nanti." Jawab Alfian.


"Anak Mommy udah berani kencan sekarang?" Ledeknya.


"Apa'an sih Mom?" Sanggahnya.


"Udah deh Mom aku mau ke kamar dulu. Mau mandi badan lengket semua." Kata Alfian.


"Emang badan kamu tadi jamu kasih lem atau gimana? Tanya Daddy yang baru saja tiba.


"Iya emang dikasih lem biar cewek-cewek nempel semua." Kata Alfian.


Alfian pun berlari menuju lantai atas. Ia pun langsung mandi. Ia tersenyum-senyum membayangkan wajah calon istrinya yang cantik.

__ADS_1


Alfian memang baru pertama kali kencan dengan seorang wanita. Walaupun banyak wanita yang sering mengejarnya.


♥️♥️♥️


Di dekat taman mereka berhenti. Alfian berpikir akan mengajar sang tunangan makan apa, ia masih bingung. Akhirnya Alfian pun bertanya pada gadisnya.


"Kakak mau makan apa?" Tanya Mentari.


"Makan kamu aja Dek." Canda Alfian.


"Ya udah ni kalau mau jadi Bang Sumanto." Balas Mentari.


"Siomay aja deh ya?" Lanjut Mentari.


Alfian dan Mentari keluar dari mobil itu. Mereka merasa nyaman makan ditempat umum seperti itu.


Mentari berjalan agak cepat alias setengah berlari. Rasa senang yang ada dihatinya sangat terlihat sekali. Jarang sekali ia makan makanan seperti itu.


Alfian senang melihat anak singanya yang sangat ceria. Sampai-sampai ia tidak melihat Alfian yang berjalan jauh dibelakang.


Dasar anak kecil .


Batin Alfian


Penjual bakso siomay itu terlihat sangat ramah. Ia menawarkan makan yang ingin mereka pesan.


"Neng lama gak kesini, gak kangen apa sama abang? Canda penjual siomay.


"Ah, abang bisa aja." Balas Tari.


Alfian melihat Mentari yang sedang berbincang dengan si penjual siomay. Mereka terlihat akrab sekali. Alfian berjalan mendekatinya sambil cengar cengir membuat tanda tanya di atas kepala abang penjual siomay.


Abang siomay dan Mentari memang sudah sangat lama saling kenal. Bahkan mereka sudah seperti saudara.


"Kakak cepetan, aku udah laper ini." Pinta Mentari.


"Neng, itu siapa? Cakep amat. Celetuk Abang siomay.


"Perasaan Neng gak punya kakak deh." Cerocosnya lagi.


Abang siomay yang melihat penampilan Alfian pun menjadi ragu. Ia kemudian duduk di depan Mentari bertanya segalanya.


"Beneran itu cowok mau makan ditempat kayak gini? Bisik penjual siomay.


"Udah deh Bang buatin aku seperti biasa ya?" Pinta Mentari.


Abang siomay membuatkan makanan untuk Mentari. Alfian duduk di sebelah Tari.


"Dek kalau dilihat-lihat kamu kenal sama abang ini sudah lama ya?" Tanya Alfian.


"Iya Kak emang kenapa?" Tanya Mentari.


"Gak apa-apa." Jawabnya singkat.


Pesanan siomaypun akhirnya datang. Tapi hanya satu porsi.


"Lho Bang kok cuma satu?" Tanya Tari.


"Ntar akunya gak kenyang lho." Kata Mentari.


"Udah Bang satu aja. Ntar buatin lagi aja tapi dibungkus ya." Pinta Alfian.


Alfian melihat Mentari sangat menikmati makanan itu. Tari yang merasa di pandang merasa malu hingga tanpa sadar ia menyodorkan siomay dengan sendok bekasnya. Alfian sangat menikmati hal itu.


"Enak banget ya Dek ternyata." Puji Alfian.


"Mau lagi?" Tanyanya Mentari.


"Boleh." Jawab Alfian singkat.


Alfian dan Mentari menghabiskan makanan itu sepiring untuk dua orang. Semua orang yang melihat sangat terpana dengan pasangan ini yang mana mereka adalah pasangan yang sangat serasi.


Alfian dan Mentari bersikap cuek terhadap mereka yang lalu lalang dengan komentarnya. Anggaplah mereka iri.


"Abang udah lama kenal sama cewek bandel ini?" Tanya Alfian pada Abang siomay


"Lumayan kok Tuan." Jawab Abang Siomay.


"Apa'an sih." Kata Mentari dengan geram pada Alfian.


"Tuh kan Bang tambah jadi galaknya kayak singa." Jelas Alfian.


"Terpenting Nona sebenarnya baik kok Tuan." Kata Abang.


"Dari mana Abang tahu anak singa ini baik?" Tanya Alfian.


" Jelek-jelekin terus adik mu ini kak." Ketus Tari.


Abang penjual siomay itu akhirnya bercerita bahwa sejak Mentari sekolah di SD waktu itu pulangnya ia sering mampir ke taman. Ia melihatnya sedang memungut sampah-sampah. Mentari yang akhirnya memberikan uang untuk buka usaha itu. dulunya memang sangat kecil sekarang lumayan sudah banyak pengunjung.


Alfian mendengarkan cerita dari abang siomay dengan seksama. Dalam hatinya ia bangga punya calon istri yang baik hati seperti itu.


"Anak singa ini adik ku Bang." Jawab Alfian.


"Adik ketemu gede." Lanjutnya. (gede maksudnya besar ya).


Hening


hening


hening


"Aku panggil dia adik biar bisa aku lebih deket sama itu cewek galak." Kata Alfian


"Kalau orang lain banyak yang panggil sayang dan sejenisnya." Jelasnya.


Selesai berbincang Alfian dan Mentari membayar semua makanan yang dimakan. Mereka tidak segera pergi dari sana. Mereka berjalan menuju tanam duduk disana.


Banyak pasangan muda-mudi yang sedang pacaran di area taman. Tanpa sengaja Ratna melihat Alfian di taman itu.


Gadis itu biasa aja. Dilihat dari penampilannya juga dari keluarga biasa saja.


Kata hati gue Ratna.


"Hai jam kerja kok di sini?" Tanya Ratna.


Alfian tak menjawab pertanyaan Ratna. Ia tidak mempedulikan wanita lain.


"Makan siang sama sekali tidak aku." Jawab Tari karena Alfian tak segera menjawabnya.


"Emangnya kamu siapanya?" Tanya Ratna dengan ketus.


"Aku temennya." Jawab Tari.


Setelah mendengar jawaban itu Ratna minta nomor ponsel Tari. Kemudian ia pamit pergi dengan alasan masih ada urusan yang mau diselesaikan.


Alfian yang sudah tidak memiliki selera untuk menikmati nyamannya taman bersama anak singanya itu mengajak pulang. Wajahnya terlihat sangat kecewa.


Bukannya tanpa alasan. Mentari sudah mulai terlihat marah padanya setelah kedatangan Ratna.


"Siapa itu cew?" Tanya Mentari.


"Emang tadi kenapa gak tanya langsung sama orangnya." Jawab Alfian dengan nada datar.


"Pulang yuk." Ajak Alfian sambil mengacak rambut Mentari.


Mentari langsung berdiri sambil berkacak pinggang di depan Alfian "Ok, tapi jangan mengacak -ngacak rambut ku, jadi berantakan dan jelek, tahu!" katanya sambil marah.


"Maaf Nona muda." Kata Alfian sambil mencubit hidung Tari.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju mobil. Alfian membukakan pintu mobil itu.


"Silahkan masuk Tuan Putri." Perintah Alfian.


Alfian masih berada di luar sedang menghubungi seseorang. Ia bilang tidak kembali ke kantor lagi.


Alfian akhirnya masuk dalam mobil. Ia mengantar Mentari pulang ke rumah.


Setelah mengantar Tari, Alfian langsung pulang ke rumahnya. Waktu sudah sore Alfian yang biasanya masih berada di kantor hari ini sudah berada di rumah. Mommy melihat kedatangan putranya itu penuh tanda tanya.


"Tumben jam segini udah pulang? Tanya Mommy


"Habis makan siang sama Tari kok Mom, mau balik kantor juga udah kesorean nanti." Jawab Alfian.


"Anak Mommy udah berani kencan sekarang?" Ledeknya.


"Apa'an sih Mom?" Sanggahnya.


"Udah deh Mom aku mau ke kamar dulu. Mau mandi badan lengket semua." Kata Alfian.


"Emang badan kamu tadi jamu kasih lem atau gimana? Tanya Daddy yang baru saja tiba.


"Iya emang dikasih lem biar cewek-cewek nempel semua." Kata Alfian.

__ADS_1


Alfian pun berlari menuju lantai atas. Ia pun langsung mandi. Ia tersenyum-senyum membayangkan wajah calon istrinya yang cantik.


Alfian memang baru pertama kali kencan dengan seorang wanita. Walaupun banyak wanita yang sering mengejarnya.


__ADS_2