
Keluarga Tuan Richat selalu hidup seadanya walaupun mereka sangat kaya. Rasa rendah hati selalu ditanamkan pada Sang Putri.
Makan malam yang baru saja mereka nikmati terasa sangat enak walaupun itu makanan sisa tadi siang yang hanya dihangatkan saja. Buat mereka yang terpenting adalah kebersamaan.
Di Negeri Seberang
Adrean berusaha meyakinkan seorang gadis agar tetap tinggal di hotel miliknya itu selama dia kembali ke negara asalnya. Dia tahu apa apa yang dipikirkan gadis itu saat ini.
"Aku akan berangkat malam ini." Kata Adrean saat melihat Sinta yang sedang duduk di ruang makan kembali.
"Aku harap kamu bisa tinggal di sini sendiri dengan baik." Lanjutnya.
"Aku tidak bisa tinggal di sini, apa kata orang?" Kata Sinta berusaha menolak permintaan Pemuda yang duduk di hadapannya saat ini.
"Percaya saja dengan ku, aku tidak akan membuat mu menderita." Kata Seorang Pemuda.
"Mulai besuk kamu sudah bisa bekerja dan pekerjaan mu aku rasa sudah sesuai dengan ijasah mu." Lanjutnya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan bekerja sebaik mungkin." Kata Seorang gadis dengan masih dengan penuh keraguan.
Jawaban gadis itu yang menyetujui akan permintaan Adrean membuatnya tahu dia masih ragu dengan keputusannya. Adrean tahu dari suaranya yang sangat kecil itu.
Pemuda itu malam ini berusaha meyakinkan Sinta. Dia akhirnya meyakinkan dengan kata-kata yang tidak ingin diucapkan yaitu bahwa dia sekarang berada di luar negeri dengan kehidupan dinegeri itu yang begitu bebasnya.
"Briyan akan selalu mendampingi setiap pekerjaan mu, jadi kamu bisa bekerja dengan tenang." Kata Adrean pada gadis itu saat bersiap akan berdiri.
"Ruang kerja mu akan ditunjukkan asisten mu besuk pagi." Lanjutnya sebelum melangkahkan kaki menuju kamar untuk beristirahat.
__ADS_1
Pemuda itu menuju kamar untuk mengistirahat badannya setelah beberapa hari ini bekerja keras. Malam ini dia akan berangkat menggunakan pesawat.
Kedua orang yang yang tinggal di hotel itu sama-sama terjaga. Mereka termenung dalam ruangannya masing-masing.
Tak
Tak
Tak
Suara jam dinding terdengar begitu nyata. Waktunya kini mereka untuk berpisah untuk sementara waktu.
Pemuda itu mulai bersiap untuk berangkat menuju Bandara. Dia keluar dari kamarnya dengan raut wajah yang dingin seperti biasa untuk menutupi rasa sedih yang mengganjal dihatinya.
"Jangan pedulikan kata orang, jika kau pedulikan kata mereka kau tak akan pernah bisa maju dan bahagia selama hidup mu." Kata Adrean saat berpapasan dengan gadis yang tinggal bersamanya saat ini.
"Jika kamu membutuhkan sesuatu gunakan ponsel ini untuk bisa menghubungiku." Kata Adrean memberikan sebuah ponsel di tangan kanan Sinta.
Pemuda itu segera melangkahkan kaki keluar dari hotel setelah menyampaikan semua yang ingin dikatakannya. Dia langsung menyeret koper yang berisi semua keperluan yang sekiranya dibutuhkan di negeri kelahirannya tanpa menolehkan kebelakang lagi.
Sinta hanya bisa mengantar sampai pintu keluar ruang privasi hotel milik pemuda itu. Dia berharap liontin itu diberikan padanya saat itu juga.
Sebelum pintu ditutup oleh gadis itu, Adrean sempat mengecup kening Sinta. Sinta pun memejamkan matanya.
Sinta mulai terbawa oleh arus hingga tanpa sadar dia memejamkan kedua matanya perlahan. Dia mulai bingung dengan perasaannya saat ini, rasa kehilangan mulai masuk di dalam hatinya.
Adrean langsung menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya. Ia langsung menuju bandara dengan kecepatan penuh.
__ADS_1
Pemuda itu kali ini pulang ke tanah kelahirannya tanpa memberitahukan sanak saudara yang tinggal di negara itu. Dia memang sebelumnya berencana ingin memberikan kejutan pada semua anggota keluarga yang disayanginya.
Pesawat akan segera lepas landas hingga Adrean segera duduk di tempat duduknya itu. Pemuda itu segera menghempaskan pantatnya mencari posisi duduk ternyaman.
Adrean baru saja memejamkan matanya hingga bayangan seorang gadis yang baru saja ditinggalkan muncul dalam pikirannya. Secara tiba-tiba matanya pun terbuka lebar dan tangannya merogoh sebuah liontin yang ada di saku celana jins yang dikenakannya.
Khawatir meninggalkan Sinta sendirian di hotel tentunya walaupun semuanya sudah diserahkan pada asistennya. Perasaan yang sama tidak berubah dari dirinya pada gadis kecil yang dikenalnya dulu.
"Belum juga sampai tujuan rasanya ingin segera kembali menemuinya." Kata Adrean dalam hati.
"Apa cinta ku memang harus sebuta ini." Lanjutnya. (Pembaca karya ini yang profesinya seorang dokter tolongin dong Adrean untuk melakukan operasi mata biar gak buta).
Pemuda itu mengenakan seat belt setelah seorang pramugari memperingatkan penumpang yang ada dalam pesawat itu. Pesawat segera lepas landas setelah semua penumpang melaksanakan apa yang diperintahkan oleh pramugari tersebut.
Adrean memejamkan matanya kembali hingga tanpa sadar pesawat telah mendarat. Dia segera memanggil sebuah taksi dengan menggunakan ponselnya.
Pemuda itu menyeret kopernya dengan langkah cepat menuju taksi yang dipesannya. Adrean segera masuk ke dalam taksi itu.
"Jalan Pak!" Pinta Adrean setelah masuk dalam taksi.
"Kemana Tuan?" Tanya Pak sopir dengan mata yang melihat pada penumpangnya melalui kaca spion yang terletak di atas kemudi sopir.
"Hotel X." Jawab Adrean sopan.
Taksi yang ditumpangi pemuda itu segera menuju hotel yang dimaksudnya dalam waktu yang relatif lebih lama. Waktu itu memang bersamaan dengan para pekerja atau karyawan pulang hingga pemuda itu terjebak dalam kemacetan lalu lintas.
Pemuda itu menikmati kemacetan yang terjadi. Berbeda dengan pengguna jalan lain dengan emosional.
__ADS_1