
Pertengkaran pun telah selesai. Mereka akan melaksanakan kegiatannya masing-masing.
Mama menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga sesudah memberikan peringatan untuk anak-anaknya. Papa mengekor di belakang sang istri.
"Dasar bucin." Kata Daffa yang di dengar oleh ke dua kakaknya.
"Begitu-begitu juga bokap lu kan?" Tanya Axel.
Garda langsung nyelonong dengan menuju kamar hingga menyenggol badan kedua saudaranya yang saat itu sedang berdiri bersebelahan. Mereka berdua hampir terjatuh karenanya.
"Inget sudah siang, mau kalian pada telat ke sekolah?" Tanya Garda setelah masuk kamar berbalik hanya menampakkan kepala saja.
"Oh my Good." Kata Axel dan Daffa bersamaan setelah melihat jam yang tergantung di dinding.
Axel dan Daffa akhirnya terburu-buru menuju kamar masing-masing. Mereka segera bergegas mandi bersiap untuk sekolah.
Mereka segera berlari berebutan menuju ruang makan. Di atas meja sudah tersedia roti dengan berbagai macam selai dan susu tidak lupa.
Ketiga anak laki-laki itu melihat kedua orang tuanya secara bergantian. Pasalnya hari ini tidak ada rencana mereka untuk libur dari pekerjaan.
"Papa dan Mama gak ngantor?" Tanya Garda.
"Berangkatlah." Jawab Mama.
"Kayaknya ada yang kurang ya?" Lanjut Mama tampak berpikir melihat jumlah piring masih sisa.
"Papa naik dulu mau mandi udah gerah." Kata Papa santui.
"Papa." Teriak Mama
"Anak gadis kita Pa?" Lanjut Mama.
"Santui aja lah Ma. Gak akan terjadi sesuatu." Jawab Papa santai sambil menaiki tangga tanpa menghadap orang yang diajak bicara.
Tujuan Papa segera pergi adalah ingin menghindari introgasi Sang Istri. Mama berlari mengejar Sang Suami menuju kamar.
"Mama nyusul Papa mau ikut mandi bareng hem... hem." Tanya Papa dengan menaik turunkan kedua alis matanya hingga terlihat genit.
"Huih ogah." Jawab Mama sinis dan mengunci pintu kamarnya.
Mama sudah menatap tajam Sang Suami. Papa bergidik ngeri melihat tatapan Sang Istri sudah bagaikan harimau kelaparan.
"Kenapa anak kita gak pulang?" Tanya Mama.
__ADS_1
"Santui Mah? Kata Papa.
"Bentar lagi kan jadi milik orang." Lanjutnya lagi.
"Dia itu perempuan jadi harus bisa jaga diri. Kenapa juga gak ngasih kabar ke kita?" Cerocos Mama.
Papa berjalan mendekati nakas. Ia mengambil benda pipih yang ada di nakas.
Berbagai pesan terlihat di benda tersebut. Sebuah senyuman terbit di bibirnya.
"Lihat anak kita ditangan yang tepat." Jelas Papa sambil membaca pesan yang dikirim oleh seorang pemuda tampan.
"Semalam mereka tidak bisa mengantar anak kita karena waktu sudah tengah malam takut mengganggu istirahat kita. Mereka juga dalam kondisi yang tidak bagus. Mammynya Alfian sedang dalam kondisi tidak enak badan jadi mereka pergi ke rumah sakit." Jelas Papa panjang kali lebar.
"Pa selamat berjuang!" Teriak Garda saat akan berangkat ke sekolah.
"Kami berangkat dulu." Kata ketiga anak laki-laki itu.
"Iya diademin Ibu Negaranya biar perabotan gak dipakai untuk berperang." Celetuk Daffa.
"Kalian ini bukannya membantu Papa dari kemarahan Ibu Negara kita malah mengobarkan api kenikmatan." Balas Papa.
"Dasar kalian ini anak bisa diuntung." Doa Papa.
Papa menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Mama menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh Sang Suami Tercinta.
"Apa udah sana mandi. Nanti kesiangan ke kantornya." Perintah Nyonya Besar.
"Kan memang udah kesiangan." Balas Papa.
Mama menatap tajam sang suami hingga ia harus bergegas mandi. Mama tidak ingin suaminya memberikan contoh yang buruk pada anak buahnya ataupun anaknya.
Anak gadisnya tak terlihat hingga ia akan berangkat ke kantor dan ketiga anaknya juga sudah berangkat sekolah. Mereka berdua sudah siap berangkat ke kantor.
### ### ### ###
Di kediaman Alfian
Seorang gadis mengerjapkan matanya. Dilihat setiap sudut ruangan tanpa terlewat.
"Ini bukan kamarku." Batin Sang Gadis.
Diingatnya kejadian tadi malam. Rasa bersalah pada kedua orang tuanya muncul dalam hati. Ia tidak pulang bahkan tidak memberi kabar. Pastinya mereka sangat khawatir.
__ADS_1
Gadis itu pun langsung turun dari tempat tidur yang sangat besar. Ia menuju kamar mandi hendak membersihkan diri kemudian melaksanakan Sholat.
Dibukanya jendela gorden kamar itu. Matahari pun sudah merasuk ke dalam kamar tersebut.
Tok tok tok tok
Pintu kamar Alfian diketuk oleh penghuninya. Tak butuh waktu lama seseorang membuka pintu tersebut.
Ceklek
"Sudah bangun?" Tanya Seorang Pemuda.
"Belum, masih molor." Jawab Gadis itu.
"Kenapa gak langsung antar aku pulang?" Tanya Sang Gadis.
"Aku masih kangen sama anak singa yang galak ini." Goda Sang Pemuda.
Huek huek huek huek
Terdengar Mammy memuntahkan semua isi perutnya. Padahal pagi ini masih belum sarapan.
Lupa minta penjelasan Pemuda itu menatap mata gadis yang sekarang ada bersamanya. Gadis itu pun meminta penjelasan dengan tatapan tajamnya.
"Ayo." Ajak Alfian menggenggam erat jari jemari gadis itu.
Gadis itu hanya mengikuti langkah kaki pemuda yang menarik dengan genggamannya itu. Merasa sungguh tak nyaman biar pun memang itu yang diharapkan jangan sampai terlepas dari genggaman.
"Mammy sebenarnya kenapa?" Tanya Alfian karena semalam belum mendapat penjelasan dari Sang Deddy dengan jelas.
"Kamu akan jadi Kakak Al." Jawab Deddy saat memijat tengkuk mammy yang sedang muntah-muntah.
"Benarkah?" Tanya Alfian tak percaya.
"Selamat Tante." Kata Mentari ikut senang.
"Terimakasih sayang." Balas Mammy.
Hati Alfian sebenarnya sangat senang. Akan tetapi ada rasa takut akan kejadian masa lalu yang dapat terulang lagi.
"Kalian sudah sarapan?" Tanya Deddy sambil memapah Sang Istri menuju tempat tidur.
"Sudah siang kalian sarapan dulu gih! Titah Deddy melihat kecanggungan mereka berdua.
__ADS_1
"Laper kalian sudah hilang dengan menggenggam tangan pasangan kalian?" Tanya Deddy dengan tertawa renyah.
Gadis itu berusaha melepaskan genggaman tangan Alfian dengan menahan malu. Sedangkan Alfian malah semakin mendekatkan badannya dan memeluk pinggul ramping milik Sang Gadis.