Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 29. Waktu Semalam Di Hotel


__ADS_3

Gadis itu merasa tidak suka dengan kehadiran Adrean. Erika hanya tahu kalau pemuda itu tidak sebanding dengannya.


Kedua pemuda itu selalu saja dibanding-bandingkan oleh gadis itu. Saat ini Dia hanya tahu kalau Adrean selalu numpang apa saja pada sahabatnya itu.


"Beberapa hari tidak kelihatan pergi kemana?" Tanya seorang gadis yang datang dari belakang Aldo.


"Mau tahu aja kemana dia pergi." Kata Aldo berusaha menutupi kegiatan sahabatnya itu.


"Ya tentunya sedikit perhatian aku buat sahabat mu yang selalu saja bagai parasitkan." Jelas Erika.


"Mana tahu dia butuh bantuan ku atau bantuan mu." Lanjutnya merendahkan Adrean.


Pemuda yang disinggungpun hanya menggelengkan kepala perlahan. Dia tidak menyangka akan mendapat sindiran seperti itu walaupun tahu kalau gadis itu tidak menyukainya.


Pemuda itu berjalan dengan langkah cepat menuju sebuah ruangan setelah melihat layar ponselnya. Dia menuju sebuah ruangan untuk menyelesaikan administrasinya.


"Sudah selesai?" Tanya sahabat sekaligus asistennya itu.


"He hem." Jawabnya singkat.


"Selamat ya." Ucap Aldo.


"Terimakasih." Balas Adrean.


"Makan besar nih." Pinta Aldo.


"Mana bisa dia bayarin." Sahut Erika yang saat itu berada di samping Aldo.


"Kita makan berdua aja yuk." Ajak gadis itu.


"Maaf aku gak bisa makan dengan mu kali ini." Tolak Aldo dengan halus sambil berlari mengejar sahabatnya yang sudah berjalan jauh menuju apartemennya.


Aldo baru pertama kali menolak kencan dengan seorang gadis. Biasanya dia sangat bersemangat jika diajak mereka.

__ADS_1


Pemuda itu tidak menyesal dengan apa yang dilakukannya baru saja. Hal itu tidak sebanding dengan apa yang dilakukan Adrean terhadapnya.


Kedua pemuda itu berjalan menuju apartemen milik Adrean. Apartemen itu pada mulanya memang sangat sempit hanya untuk satu orang saja. Berjalannya waktu semua apartemen itu dibeli oleh pemuda itu.


Satu ruang apartemen itu untuk kamar sedangkan setelah direnovasi dahulu sebuah kamar sekarang dirubah untuk ruangan lainnya. Dari beberapa kepemilikan sekarang menjadi satu pemilik.


Ceklek


Sebuah pintu ruang tamu utama dari apartemen milik Adrean kini dibuka oleh pemiliknya secara perlahan. Pemuda itu langsung menuju kamarnya yang cukup sempit.


"Masuklah dan segera tutup pintunya." Titah Adrean takut ada yang mengikuti.


"Baiklah." Jawab Aldo.


"Apa kamu akan ke kantor hari ini?" Tanya Aldo.


"Tidak urusan kantor aku sudah cukup mempercayakannya pada mu." Jawab seorang pemuda dari dalam kamarnya sambil mengganti pakaian.


"Tidak salah?" Tanya Aldo.


"Ini sudah sore Bos." Lanjutnya mengingatkan sahabatnya itu.


"Tidak, aku memang ingin tidur di hotel malam ini." Jawab Adrean.


"Mau aku carikan seorang wanita?" Canda Aldo.


"Tidak usah cari, tadi gadis yang mengajak mu makan boleh juga." Jawab Adrean yang tahu kalau sahabatnya itu ada sedikit rasa pada gadis itu.


"Ambil saja." Kata Aldo sedikit memendam emosi walaupun sahabatnya itu bercanda.


Mereka berjalan keluar dari apartemen sambil bercakap-cakap. Aldo mengambil mobilnya yang masih berada di area parkir dalam kampus.


Pemuda itu sempat berpapasan dengan Erika saat akan menuju tempat parkir mobilnya itu. Wajah yang tidak sedap dipandang mata dilihat dari wajah Aldo yang membuat gadis itu kecewa.

__ADS_1


"Mau saja dijadikan sopirnya." Kata seorang gadis yang sempat memancing emosi Aldo.


"Tidak ada urusannya dengan mu." Kata Aldo dengan ketus.


Pemuda itu langsung menginjak pedal gas setelah masuk ke dalam mobil miliknya. Dia langsung meluncur menuju tempat Adrean menunggunya.


Pemuda yang menunggu tumpangan itu langsung masuk ke dalam mobil dengan santainya. Adrean duduk di samping kursi kemudi karena memang ada beberapa hal yang harus dibicarakan dengan seorang pemuda yang menjadi sopirnya itu.


Waktu memang begitu cepat berlalu atau menang jarak apartemen dengan hotel dekat kini mereka sudah sampai di depan hotel. Mereka berdua menuju lobi dan langsung menuju ruang kantor Adrean.


Pembicaraan mereka di dalam mobil belum tuntas hingga harus berlanjut di ruang kantornya. Mulai dari rencana akan pulang menjemput keluarga sampai bisnis yang harus ditangani sahabatnya itu.


Adrean datang sebagai pemilik hotel pun semua karyawan yang masih bekerja saat itu pun tidak mengetahuinya. Seorang gadis pemegang kunci ruang kantor dan kamar milik pemuda itulah yang hanya mengetahuinya.


Adrean langsung duduk di sofa dengan menyandarkan punggungnya agar lebih rileks saat berbicara dengan pemuda yang ada bersamanya itu. Dia memutuskan untuk tidur di hotel malam ini tujuan utamanya ingin melihat seberapa berkembangnya hotel miliknya itu.


Sahabatnya itu hanya mendengarkan semua ocehan dari Adrean. Waktu yang sudah cukup larut dan tidak begitu banyak pengunjung dan karyawan Aldo pun segera undur diri setelah semua yang dibicarakan sahabatnya itu berakhir agar tidak menarik banyak perhatian mereka.


Semalam Seorang Pemuda menghabiskan waktunya di hotel dengan setumpuk pekerjaan. Dia ingin segera menyelesaikan semuanya sebelum kembali.


Melewati tengah malam badannya sudah sangat merasa lelah hingga tertidur di meja kerjanya. Betapa disiplinnya pemuda itu hingga terbangun saat memasuki waktu sepertiga malam akhir.


Diambilnya air untuk berwudhu kemudian Pemuda itu melaksanakan shalat tahajud. Adrean melanjutkan pekerjaan setelah selesai shalat walaupun hanya tidur tidak lebih dari dua jam.


Pagi hari Adrean segera membersihkan diri dan kembali ke apartemen dengan berjalan kaki. Sepasang mata tanpa sengaja melihat Pemuda itu keluar dari hotel.


Mata itu adalah mata seorang gadis yang selalu saja merendahkannya. Penasaran gadis itu selalu mengamati Pemuda itu yang sekarang berjalan dari hotel sampai apartemen.


"Benar dugaan ku dia bukan laki-laki yang baik." Kata Seorang gadis dalam hati.


"Semalam di hotel pasti tidur dengan wanita." Lanjutnya.


Gadis itu berencana akan memberitahukan pada sahabatnya Aldo. Erika ingin agar persahabatan mereka segera berakhir.

__ADS_1


__ADS_2