
Pasangan muda mudi yang kini diharapkan kehadirannya segera sampai di rumah sakit kini sedang memarkirkan mobilnya. Mereka adalah pasangan yang sangat serasi.
Pasangan serasi karena mereka bekerja di suatu perusahaan yang sama yaitu Asisten dan sekretaris satu orang. Setiap kali membutuhkan sebuah kerja sama tidaklah sulit bagi mereka untuk kompak dalam segala hal.
Mereka berdua berjalan menuju kamar pasien tempat dimana atasan mereka dirawat setelah memarkirkan mobil yang mereka tumpangi. Berjalan melewati koridor rumah sakit dengan langkah panjang agar cepat sampai takut kena poin.
Gadis yang berjalan melewati koridor rumah sakit itu semakin lama semakin lambat jalannya. Ziko yang saat ini bersamanya hal itu tidak lepas dari pengamatannya itu.
"Aku harus sabar dengan kondisiku saat ini." Batin Monik menahan rasa sakitnya saat ini.
"Ini juga kesalahan ku pakai high hills yang agak tinggi dari biasanya." Lanjutnya.
Pemuda yang berjalan dengan cepat itu kini berhenti mendadak sedangkan Monik yang terus melangkah itu pun terhenti dan berbalik. Menatap pemuda itu dengan intens
"Kenapa berhenti?" Tanya gadis itu dengan mengerutkan keningnya.
"Ada yang aneh dengan mu." Jawab Pemuda itu.
"Apa?" Tanya Monik sambil mencari tempat duduk yang terdekat hingga ia mendaratkan pantatnya pada kursi itu untuk sedikit mengurangi rasa sakit.
"Lalu kenapa sekarang kamu malah duduk?" Tanya Ziko menyusul gadis itu berdiri di depannya.
Pemuda itu pun akhirnya membungkuk dan membuka high hils yang dikenakan Monik saat ini. Ia menggelengkan gelengkan kepalanya.
Sakit dipergelangan kakinya itu berawal saat tadi di kantor hendak menaiki lift. Terjadi kecelakaan karena kehilangan keseimbangan itu tadi awal dari pergelamgannya yang terasa nyeri.
"Sakit kan?" Tanya pemuda itu membelai perlahan pergelangan kaki yang terlihat kemerahan.
"Jangan bilang tidak." Lanjutnya saat gadis yang ada dihadapannya menggelengkan kepala.
Sadar atau tidak sejak tadi banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Dokter, perawat dan semua pasien melihat mereka pasangan yang serasi.
"So sweet banget." Kata salah seorang Dokter wanita yang mengenal Ziko berhenti untuk mengucapkan itu.
"Pengantin baru atau baru pacaran?" Lanjutnya Dokter itu.
"Eh Dokter, kami akan segera menikah." Jawab Ziko setelah berdiri tegak dihadapan dokter itu.
__ADS_1
Gadis yang sedang duduk itu membulatkan mata sempurna melihat wajah seorang pemuda yang memegang pundaknya sekarang. Ia tak percaya kalau akan membongkar hubungan mereka berdua secepat itu.
Deg
Sebuah hati kini dihancurkan dengan sebuah pernyataan langsung dari orang yang dicintainya sudah sangat lama. Setiap kali Pemuda itu datang mengurus suatu berkas ke rumah sakit ini dokter wanita muda ini selalu mencari sebuah kesempatan agar bisa dekat dengannya.
Semua yang dilakukan dokter wanita ini bertujuan untuk membantu Ziko akan tetapi yang dibantu malah merasa risi. Cinta bertepuk sebelah tangan memang tidak enak dirasa.
"Aku tunggu undangan mu saja Tuan Ziko." Kata dokter wanita muda itu menatap gadis yang baru saja diakui oleh Ziko sebagai calon istrinya dengan tatapan menghina.
"Sabar saja undangan pasti akan aku kirim karena selama ini dokter selalu membantu ku di rumah sakit ini." Kata Ziko dengan tersenyum smirk.
"Kalau begitu saya permisi dulu, karena sebentar lagi ada jadwal operasi." Pamit Sang Dokter.
Dokter itu pun pergi menuju ruang kerjanya. Hatinya sungguh teriris mendengar pernyataan yang baru saja didengar.
Selepas kepergian dokter muda itu Monik meluapkan emosinya pada seorang pemuda. Walaupun ia berharap lebih pada hubungan dengannya tetapi ia tidak mau diberi harapan palsu.
"Lepas." Perintah Monik ketika pemuda itu mengambil posisi duduk disampingnya pada kursi yang cukup panjang itu kemudian menaikkan kedua kaki yang masih sedikit memerah.
Pemuda itu sungguh sabar dan tlaten menghadapi Monik yang sedang marah-marah yang menurutnya tidak jelas. Untuk mengakhiri semua ocehannya Ia pun langsung membopongnya menuju kamar rawat Alfian.
Banyak mata melihat kearahnya saat itu karena Monic terus saja berteriak. Hingga ia merasa sangat malu dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Ziko.
Di Ruang Rawat VIP
Seorang pemuda yang sekarang berbaring di brankar rumah sakit itu sudah tidak tahan menunggu kedatangan Asistennya. Lama sekali Alfian menunggu pesanannya mungkin lamanya berabat-abat.
Tok tok tok
Suara pintu kamar pasien pun diketuk perlahan. Semua mata yang ada di dalam ruangan seketika beralih menatap daun pintu yang tertutup rapat itu.
"Masuk." Titah salah seorang yang ada di dalam ruangan itu.
Seorang pemuda kini masuk ke dalam ruang rawat seorang atasan yang suka mengancamnya. Ia terlihat seperti seorang pemeran dalam sebuah drama hingga semua yang ada di dalam ruangan itu memandangnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan satu persatu.
Gadis yang ada di gendongannya kini menyembunyikan wajah di dada Ziko yang datar. Oh tidak kini ia merasa sangat malu diperlakukan seperti itu.
__ADS_1
Tanpa menunggu perintah Ziko mendudukkan gadis itu di sofa secara perlahan tanpa memperdulikan orang lain. Wih kalau sudah seperti itu dunia serasa milik berdua.
"Kecelakaan perusahaan." Penjelasan Asisten itu pada Alfian ketika mendapati tatapan tajam dari atasannya itu.
"Mana yang terluka?" Sela Seorang gadis setelah memberikan segelas air mineral pada Artis dari kantor Alfian sebelum pemuda itu menerkam dengan berbagai pertanyaan.
Mentari tidak membutuhkan jawaban dari artis itu. Ia sudah melihat artis papan atas itu tidak mengenakan alas kaki lagi.
Seakan mendapat perlindungan dari seorang gadis, Ziko tersenyum melihat keduanya. Sejenak saja ia merasa aman, tentram dan damai.
Tatapan mata Alfian seakan ingin membunuhnya sekarang juga. Untuk menghindari kontak mata itu dengan tergesa-gesa Asistennya itu langsung ingin rasanya melarikan diri.
"Mana pesanan yang aku minta bawakan?" Tanya Alfian yang duduk bersandar di kepala ranjang itu.
"Mampus gue masih di mobil." Kata Asistennya lirih.
"Kabur." Lanjutnya lagi.
"Tak bertanggung jawab." Kata Mama Sinta setelah Ziko dengan tergesa-gesa meninggalkan ruangan itu.
"Kenapa harus tanggung jawab?" Tanya Papa Adrean.
Memang kamu hamil?" Tanya Papa Adrean lagi berjalan mendekat pada Monik meminta kepastian sekretaris Alfian.
"Kalau memang iya segerakan saja mereka menikah." Lanjut Papa.
"Memangnya menikah harus hamil dulu?" Tanya Mama Sinta.
"Iya..... Enggak lah." Jawab Papa Adrean tersenyum smirk.
Hamil terlebih dahulu bukankan hal itu terkesan menikah terpaksa karena ada anak. Cinta memang membuat seseorang bodoh ataupun gila bisa berbuat apapun untuk mendapatkannya.
Hukum seperti itu sangatlah berlaku untuk siapa saja. Apa saja bisa dilakukan tanpa pandang bulu.
Kali ini Asisten yang biasanya pintar kini menjadi bodoh. Ziko yang harusnya membawakan sebuah koper entah apa itu isi yang ada di dalamnya itu kini malah hanya membawa seorang gadis dalam gendongannya.
Sabar sudah yang harus ada dalam diri mereka semua menghadapi orang yang lagi jatuh cinta. Bisa-bisa dibikin gila oleh orang yang sedang mengalaminya.
__ADS_1