
Gadis itu berusaha melepaskan genggaman tangan Alfian dengan menahan malu. Sedangkan Alfian malah semakin mendekatkan badannya dan memeluk pinggul ramping milik Sang Gadis.
"Makan yuk?" Ajak Alfian yang semakin mempererat pelukannya.
"Lepas, malu tahu." Kata Gadis itu.
"Yang penting gak malu-maluin." Jawab Alfian.
"Anggap saja rumah sendiri, yang lain biar ngontrak." Kata Deddy lirih duduk di tepi tempat tidur.
"Namanya juga lagi kasmaran." Sambung Mamny yang masih lemas.
"Udah ayo kita makan dulu." Ajak Mammy tahu kalau gadis yang ada di rumahnya saat ini masih canggung.
Mereka semua akhirnya menuju ruang makan dan menikmati makanan yang tersedia di atas meja makan. Saat ini hanya satu orang yang tidak bisa menikmati karena rasa mual yang masih menyerang.
Mammy tiba-tiba berdiri tanpa pamit menuju kamar mandi yang dekat. Deddy menyusulnya merasa kasihan dengan kondisi Sang Istri, tapi apalah daya memang itulah proses yang harus dilalui seorang ibu hamil muda.
Deddy mengantar Mammy kembali ke kamar mereka. Mammy pun menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidurnya.
"Maaf begitulah kalau baru hamil muda morning sicknes banyak dari semua wanita mengalaminya." Jelas Deddy saat turun dari tangga.
"Wah, jadi Mammy hamil lagi." Kata Mentari sangat senang.
"Selamat ya Om, selamat ya Al." Sambungnya lagi.
"Terimakasih ya sayang." Jawab Alfian.
"Trus kapan juga kita punya baby." Lanjut Alfian.
"Uhuk Uhuk Uhuk."
Suara Deddy tersedak karena ucapan sang anak. Sedangkan Gadis yang diajak bicara Alfian sudah menundukkan kepalanya karena malu.
"Apa'an sih Ded, kalau makan itu pelan-pelan. Jangan tergesa-gesa." Ledek Alfian.
"Haduh anak yang satu ini, ingat jaga itu status." Kata Deddy.
Mereka pun menyelesaikan sarapannya dengan cepat karena waktu memang sudah beranjak siang. Banyak Aktivitas yang harus mereka selesaikan hari ini.
"Al segera lah menikah." Titah Deddy tegas karena tidak ingin melihat anaknya anaknya yang memang sudah usianya.
"Santai aja kenapa Ded." Jawab Alfian.
"Nggak pingin nyoba resep mujarab Deddy hingga jadi kecebong?" Kata Deddy pelan setelah berjalan mendekat ke arah Sang anak dengan menepuk bahu anaknya pelan yang sedang duduk sedang menyesap kopinya perlahan.
__ADS_1
"Gak perlu kali Ded, udah pinter." Balas Alfian.
"Udah gak usah di dengerin kata Deddy." Kata Alfian pada gadis yang sekarang bersamanya menikmati sarapan.
Gadis ini dari tadi hanya menjadi pendengar setia percakapan antara Orang tua dan anak. Ia ingin minta diantar pulang tapi melihat situasi yang kurang semuanya diurungkan saja. Disisi lain Alfian memang sengaja mengulur waktu agar gadis ini selalu ada bersamanya.
"Ada mata kuliah hari ini?" Tanya Alfian membuyarkan pikiran Tari.
"Ada." Jawabnya singkat.
"Jam berapa?" Tanya Alfian.
"10.00." Jawab gadis itu.
"Oh." Jawabnya Alfian.
Alfian beranjak dari kursi segera mengambil kunci yang ada nakas kamarnya. Ia tak memperhatikan penampilannya saat ini setelah dilihatnya jam yang menggantung di dinding sudah sangat mepet.
Kepergian laki-laki itu tanpa pamit membuat Mentari hanya diam memandang punggungnya. Tidak ada kesempatan pula bertanya karena dengan cepat Alfian langsung pergi dari tempat itu.
"Ayo." Ajak Alfian dengan berlari kecil menuju pintu keluar rumah.
"Kemana?" Tanya Mentari.
"Gimana? hem hem hem?" Tanyanya lanjut sambil menaik turunkan alisnya.
Melihat penampilan laki-laki yang saat ini bersamanya sekarang, Mentari hanya diam pematung. Pakaian rumahan yang ia kenakan sekarang tidak meyakinkan untuk bepergian. Sebab tidak biasanya ia mengenakan pakaian seperti itu saat diluar.
Sebuah tangan besar pun mulai menarik tangan gadis itu karena Sang Gadis tidak segera beranjak dari tempatnya berdiri. Terkejut dengan perlakuan itu Mentari menatapnya tajam hingga beberapa menit.
Mobil yang sudah terparkir berada di depan pintu utama itu memang sudah di siapkan sejak tadi pagi. Dibukakan pintu bagian samping kemudi hingga gadis itu duduk kemudian ditutupnya kembali.
Alfian mengitari mobil itu lewat depan. Setelah masuk dan duduk dengan memasangkan sabuk pengamannya ia mulai menjalankan mobil itu.
Mobil melaju memecah keramaian jalan di setiap sudut kota. Termasuk gang semut pun tidak pernah sepi dengan kendaraan atau orang yang lalu lalu lalang untuk memulai aktivitas mereka.
Mobil itu kini menempuh perjalanan yang lumayan dekat akan tetapi terasa jauh. Berbagai macam kendaraan saling kebut kebutan membuat Alfian lebih sering menginjakkan remnya.
Chiiiiiit.
Suara Ban mobil bergesekan dengan jalan depan rumah mewah yang sangat besar. Suara itu terdengar sangat melengking di telinga hingga memancing perhatian banyak orang sekitar.
Penjaga pintu gerbang rumah itu pun penasaran. Dilihatnya sebuah mobil sport keluaran terbaru dan barangnya pun Limitit edision.
Mobil ini hanya dimiliki oleh beberapa orang saja. Orang-orang tersebut pun hanya memiliki koneksi pada pencipta mobil tersebut.
__ADS_1
"Maaf Pak bisa buka gerbang sekarang?" Tanya Seorang Pemuda yang bergaya Cool menyesuaikan bawa'annya itu dengan sopan.
"Oh ternyata aden. Baik Den." Balas seorang penjaga.
"Silahkan Den." Lanjutnya Lagi.
Pemuda itu mulai menancapkan pedal gasnya perlahan menuju tempat yang seharusnya. Penghuni rumah yang tinggi dua insan hendak berangkat ke kantor pun tidak mendengar ada deru mobil sudah terparkir di depan rumahnya.
Ya... Karena memang suaranya yang sangat halus. Bahkan untuk perawatan mobil itu pun tidak membutuhkan biaya yang cukup sedikit.
"Yah, sudah sampai." Keluh seorang pemuda mulai melepas sabuk pengamannya.
"Mau lu?" Tanya Gadis itu.
"Masih ingin bersama mu." Lanjut Sang Pemuda sangat lirih tapi masih bisa didengar oleh gadis yang ada di sampingnya.
Gadis itu hanya menatap lurus ke depan berpura-pura tidak mendengar apapun. Pemuda yang ada di sampingnya turun pun Tari tidak mendengar pintu mobil dibuka.
Masih sangat halus memang suaranya karena perawatan yang cukup mahal. Pintu dari samping mobil kemudi pun tiba-tiba terbuka.
"Cepat turun." Titah Putra Mahkota pada calon istri dengan memegang erat jari jemari lentik itu dengan jari-jarinya yang besar karena selalu latihan otot.
"Pengen terlambat ke kampus?" Tanyanya lanjut.
Bergegas Tari pun turun dengan jari jemari yang masih bertautan dengan Sang Pemuda. Hal itu tanpa di sadari karena ia memang terburu-buru ada jadwal kuliah.
Mereka di sambut oleh Papa dan Mama yang hendak berangkat ke kantor. Merekapun sebenarnya juga kesiangan karena menunggu anak gadisnya itu.
"Memang kalau sudah jatuh cinta itu dunia serasa milik berdua." Kata Mama melirik tautan tangan keduanya.
"Pagi Om, Tante." Sapa Alfian sopan.
"Pagi juga Al." Jawab Papa.
"Kamu kapan dateng? Tante kok tidak dengar suara mobil masuk?" Tanya Mama menyelidik.
"Kamu beneran itu Al pakai pakaian kayak gitu?" Tanya Papa ikut menyelidik.
"Jangan-jangan kamu sudah ajak anak Om olahraga." Lanjutnya.
"Belum Om. Nanti paling cepet sekitar satu minggu-an." Jawab Alfian tegas.
"Baguslah kalau masih tersegel." Kata Papa.
Alfian memang tidak ingin bermain-main dengan hal itu. Hal yang mempermainkan kehidupan orang lain.
__ADS_1