
Berbagai kebijakan yang Alfian inginkan adalah memulainya dari dalam perusahaan. Jika kenyamanan di dalam perusahaan tercipta maka semua kariyawan pastinya akan bekerja dengan sungguh-sungguh.
Berbagai macam kata terucap dari mulut Alfian untuk memperbaiki kinerja di perusahaan. Hari ini asistennya mulai memperbaiki kinerja di kantin perusahaan.
"Bos ku-bos bos ku sampai hal sepele ini harus diperbaiki, bagaimana tidak semua kariyawan jatuh cinta padanya. Maaf ralat bekerja dengannya." Kata Ziko sang asisten.
"Dalam waktu dekat ini aku akan harus bisa menyelesaikan pekerjaan di kantor. Sebulan lagi aku akan melepas masa lajang ku. Untuk itu aku meminta segala sesuatu berkas rencana sebulan ke depan." Jelas Alfian yang sangat panjang.
"Apa bos?" Kata Ziko sambil menatap atasannya dengan mata membulat sempurna tak percaya.
"Iya, aku akan bekerja dari rumah (gegara COVID -19 ni harus bekerja dari rumah.😁😁😁 ) selama aku di rumah tolong beri tahu aku perkembangan perusahaan ini." Jawab Alfian.
"Secepat itu kah Bos harus melepas masa lajang mu? Kalian gak kecelakaan kan?" Selidik Ziko.
"Kecelakaan Apa'an? Emang naik kendaraan atau mobil? Enak aja." Jelas Alfian.
"Ntar gaji aku tambahan di bulan ini kalau kerja'an kamu bener." Tambah Alfian.
"Gak jadi dipotong ini Bos gaji aku?" Tanya Ziko.
"Mau aku sunat gaji kamu?" Tanya Alfian dengan senyum smirknya.
"Lha kayak burung tak bertulang aja disunat?" Protes Ziko.
"Aku kan udah pernah disunat Bos. Kalau disunat lagi ntar jadinya pendek kayak ulet daun yang pendek. Kalau wanita ku tahu dia nanti gak mau nikah lagi sama Aku." Protes Ziko lagi.
Setelah perbincangan yang menjelaskan alasan Alfian harus bekerja di rumah Ziko pun kembali keruang kerjanya. Senang ia mendengar berita bahagia kalau atasannya akan segera menikah dan gaji bulan ini akan ditambah. Tapi sayangnya ia juga harus bekerja ekstra.
Di dalam ruangan Ziko segera semua pekerjaan dilakukan dengan cekatan. Ia tidak mau menunda-nunda pekerjaan.
Alfian menyukai asistennya itu karena rajin, cekatan, pintar dan memiliki tanggung jawab yang besar terhadapnya. Ia pun sudah lama mengenal karakter dan kepribadiannya sebagai sahabatnya hingga semua ia percayakan pada sahabatnya itu.
*** Kantor Adrean ***
Beberapa hari lagi adalah acara pernikahan Briyan dan Dita. Briyan sangat lebih bersemangat lagi dalam menyelesaikan tugasnya.
Tok tok tok
Pintu ruang kerja Adrean di ketuk oleh asistennya. Tak berapa lama pemilik ruangan mendengar ketukan pintu tersebut.
"Masuk lah." Perintah pemilik ruangan.
Briyan membuka pintu ruangan itu dengan sebuah senyuman kebahagiaan. Adrean sebagai pemilik perusahaan menanyakan kepentingannya, karena ia tidak merasa memanggil asistennya itu.
"Ada apa Bry?" Tanya Adrean.
"Saya mau minta cuti Tuan." Kata Briyan.
__ADS_1
"Baiklah, selama ini pekerjaan mu sangat lah bagus. Kamu mau berapa lama cuti aku persilahkan." Kata Adrean.
"Terimakasih Tuan, ini laporan yang anda minta beberapa hari lalu." Kata Briyan.
"Ok. Terimakasih." Kata Adrean.
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan." Pamit Briyan.
Briyan meninggalkan ruang kerja atasannya itu. Ia segera menyelesaaikan pekerjaannya di ruangannya itu.
Untung saja hari ini Briyan bisa menyelesaikan semua tugas dari Adrean. Besuk ia bisa mulai cuti.
Hari sudah semakin sore. Waktunya semua pekerja pulang ke rumah mereka. Kemacetan biasa terjadi.
Bapak Briyan sudah menunggunya di apartemen anaknya Briyan sejak seminggu yang lalu. Ia juga menantikan hari bahagia anaknya pertamanya itu. Karena usianya ia ingin segera mendapatkan cucu.
Ceklek
Suara pintu apartemen dibuka oleh pemiliknya. Orang yang ada di dalam ruangan itu sudah tahu siapa yang datang.
"Assalamualaikum." Sapa Briyan.
"Wa'alaikumsalam." Jawab orang tua Briyan.
"Baru pulang?" Tanya Bapak Briyan.
Beberapa saat Briyan bangun dari tempat duduknya menuju kamar untuk mandi. Karena waktu sudah hampir magrib.
Setelah sholat magrib Briyan menggunakan pakaian kaos dengan celana jens. Ia terlihat sangat tampan dan dewasa.
"Mau kemana?" Tanya Bapak.
"Mau ke rumah Dita." Jawab Briyan.
"Jangan pergi kemana-mana tinggal menghitung hari pernikahan mu." Peringatan Bapak.
"Lagian ibunya Dita pasti tidak mengijinkan mu bertemu pastinya." Lanjut Bapak.
"Gak mungkin lah Pak. Sebentar lagi kan acaranya masak dilarang." Kata Briyan gak percaya.
Briyan tanpa memperdulikan kata-kata Bapaknya langsung meninggalkan apartemennya itu. Ia sangat antusias sekali bertemu dengan calon istrinya.
"Aku berangkat dulu Pak." Pamit Briyan.
"Baiklah. Hati-hati." Peringat Bapak.
"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan mereka setelah menikah." Batin Bapak saat anaknya pergi.
__ADS_1
Perjalanan ke rumah calon istri membuatnya hatinya sangat senang. Dalam perjalanan itu ia terus bersenandung ria.
Di halaman rumah Dita segera Briyan memarkirkan mobilnya. Ia di sambut oleh calon ibu mertuanya.
Dita yang melihat kedatangan Briyan ingin segera menemuinya. Tapi dicegah oleh ibunya itu.
"Mau kemana Nak?" Tanya Ibu.
"Itu Mas Briyan datang aku akan menemuinya." Jawab Dita.
"Calon pengantin tidak boleh bertemu sayang." Peringat ibu.
"Kenapa Bu beberapa hari lagi kan udah jadi pasangan hidup ku." Protes Dita.
"Ingat adat sayang. Kalian itu masih dalam pingitan. Katanya kalau bertemu bisa ada aja yang terjadi." Jelas Ibu.
"Lha itu Mas Briyan masak gak ditemui." Kata Dita.
"Biar ibu yang menemuinya." Kata Ibu.
"Ibu itu apa-apa'an sih. Ini itu jaman apa masih percaya hal yang seperti itu." Gerutu Dita dalam hati.
(Orang yang sedang dimabuk cinta itu apa saja bisa merubah sifat seseorang. Orang yang memiliki sifat dewasa pun bisa menjadi kekanak-kanakan betul kan? Contohnya aku sendiri).
Ibu keluar dari dalam rumah yang cukup sederhana itu, tetapi cukup nyaman untuk tempat tinggal. Ia tersenyum ramah pada Briyan dan menyapanya.
"Assalamualaikum." Sapa Briyan.
"Wa'alaikumsalam." Balas Ibu.
"Ada apa Nak Briyan?" Tanya Ibu lagi.
"Saya ingin bertemu Dita Bu." Pinta Briyan.
"Maaf Nak Briyan kalian belum boleh bertemu sampai saatnya tiba. Ini kalian masih dalam pingitan." Jelas Ibu.
"Begitu ya Bu." Balas Briyan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Baiklah Bu, saya pamit dulu kalau begitu." Pamit Briyan.
Saat itu Dita pun mengintip dari jendela kaca dengan membuka sedikit gorden itu. Ia pun tersenyum dan menjulurkan lidahnya. Mengejek karena diusir secara halus.
"Assalamualaikum." Pamit Briyan.
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya Nak." Balas Ibu.
Briyan berjalan meninggalkan rumah itu menuju mobilnya. Di dalam mobil yang terlihat samar-samar ia mengambil benda pipih di dalam saku celananya.
__ADS_1
Briyan masih duduk dalam kursi kemudi sambil bersandar. Ia mengirimkan pesan pada seorang wanita yang sangat ia cintai.