Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 33. Mencari Informasi


__ADS_3

Seorang pemuda keluar dari kantor dengan tergesa-gesa. Entah nasibnya yang beruntung atau tidak dia menabrak seorang gadis saat di lobi perusahaan.


Pemuda itu langsung pergi begitu saja tanpa ada permintaan maaf darinya. Gadis itupun hanya menundukkan kepala tidak ingin siapa pun mengetahuinya.


Adrean langsung melangkahkan kaki dengan cepat menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya. Dia memang selalu berjalan dengan kecepatan tinggi alias terburu-buru agar tidak banyak orang yang mengenalinya.


"Siapa gadis itu?" Tanya seorang pemuda dalam hati.


"Rasanya aku baru melihatnya pagi ini selama aku ke kantor." Lanjutnya.


Pemuda itu selalu memiliki kebiasaan memulangkan mobilnya terlebih dahulu sebelum bepergian kemana saja. Pikirannya kacau saat ini saat sampai di apartemennya.


Pemuda itu merasa bahwa orang yang ditabraknya tadi bukan orang sembarangan. Kulitnya yang sempat bersentuhan membuatnya berpikir sesuatu yang luar biasa.


Pikirannya yang kacau membuatnya merendam badan dan mengguyur tubuhnya di bawah guyuran air shower. Air yang cukup dingin bukan membuat pikirannya semakin baik tetapi malah semakin terpikirkan seseorang.


Handuk kimono dipakainya saat keluar dari kamar mandi. Adrean berjalan menuju nakas di samping tempat tidurnya mengambil benda pipih yang tergeletak di sana.


Pemuda itu menghubungi seseorang yang sangat dipercayainya menjadi asisten pribadi yang menghendl perusahaan miliknya. Adrean memintanya mengirimkan beberapa file mengenai pekerja yang baru saja bekerja di sana.


"Ini dia." Katanya setelah melihat foto yang terpampang jelas di laptopnya.


"Cari tahu tentang gadis ini." Perintah Pemuda itu tegas melalui sambungan telp. setelah mengirim kembali file yang dimaksut.


"Ada masalah dengan dia?" Tanya Brian penasaran.


"Tidak." Jawab Adrean singkat.


Brian segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh atasannya itu. Dia tidak mau menunda-nunda semua pekerjaannya.


Brian adalah asistennya yang paling cekatan dibanding Aldo. Brian orang yang tertutup dan kaku.

__ADS_1


Adrian meminta tolong pada Brian untuk mencari tahu siapa Sinta sebenarnya. Dia ingin informasi yang lebih akurat sekembalinya dari tanah kelahirannya.


Ting tong Ting tong Ting tong


Suara bel terdengar dari ruangan Adrean saat ini dia berada. Dia membukakan pintu itu hanya dengan kostum yang dikenakan tadi.


Ceklek


Suara hendl pintu diputar oleh seorang pemuda tampan, dan tidak lama pintu itu terbuka lebar. Erika yang datang secara mendadak itu tidak percaya untuk kedua kalinya atas apa yang dilihatnya sekarang.


Bugh


Gadis itu sengaja menjatuhkan diri di depan Adrean hingga pemuda itu menangkap tepat di dada bidangnya. Hal itu memang sengaja dilakukan untuk memancing perasaan pemuda itu.


(Seperti ikan saja perlu dipancing 🤭🤭🤭).


"Pakaiannya tidak kampungan kali ini." Batin gadis itu saat berada di pelukan Adrean.


"Biasanya juga pakaian yang dipakainya sangat kuno." Lanjutnya.


Pemuda itu baru sadar jika memakai pakaian yang tidak pantas untuk menerima tamu. Adrean segera membantu gadis itu untuk berdiri dengan benar.


"Badan mu cukup bagus juga." Puji Erika dengan menunjuk dada bidang pemuda yang bersamanya itu dengan jari telunjuknya.


"Benarkah?" Tanya Adrean berbalik berjalan menuju kamar.


"Tutup pintunya." Lanjutnya.


"Baiklah." Kata gadis itu.


Gadis itu berjalan mengikuti Adrean menuju kamar setelah menutup pintu ruang tamu. Pemuda itu tiba-tiba menghentikan langkah gadis yang mengikutinya.

__ADS_1


Adrean memintanya duduk di sofa ruang tamu sebelum ikut masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu ke kecewa tidak bisa masuk dan merayu Adrean setelah sedikit tahu tentang identitas pemuda itu melalui beberapa orang suruhannya.


Adrean sebenarnya memang sudah mengetahui kalau teman gadisnya itu sudah mengetahui beberapa hal tentang dirinya dari orang suruhannya. Pemuda itu bersikap biasa saja untuk menutupi bahwa dia sudah mengetahuinya.


Pintu kamar Adrean diketuk oleh seorang gadis karena lama menunggunya di ruang tamu. Pemuda itu sebenarnya juga sudah lama selesai berganti baju rumahan seperti yang biasa dia pakai.


"Apa seorang laki-laki itu juga lama kalau berganti baju?" Tanya gadis itu setelah pintu kamar itu terbuka.


"Maaf membuat mu lama menunggu." Pinta Pemuda itu saat berjalan menuju ruang tamu.


Mereka berdua berbincang-bincang di ruang tamu sangat lama. Saat berbincang-bincang Pemuda itu sambil membaca e-mail yang diberikan oleh Asistennya Briyan.


Pemuda itu membaca tentang identitas gadis yang ditabraknya tadi pagi secara seksama. Gadis itu bernama Sinta, ia memang baru bekerja seminggu di hotel ini dengan alasan membantu ekonomi keluarga.


Adrean yang waktu itu bertemu langsung dengan gadis itu merasa ada sebuah informasi yang sengaja disembunyikan. Sinta memiliki aura yang berbeda seperti gadis yang biasa bekerja pada umumnya.


Pemuda itu sedikit merasa ada yang lain saat kulitnya bersentuhan dengan Sinta. Kulitnya itu terasa tidak begitu kasar serta wajahnya yang terlihat halus membuatnya semakin penasaran.


Pemuda itu berencana akan kembali untuk mengajak Sang Ibu dan kedua orang tua angkatnya hadir dalam wisudanya itu. Adrean tidak ingin memberitahukan keberangkatannya itu pada mereka sebagai kejutan.


"Bagaimana mengusir wanita ini lagi?" Batin Adrean.


"Jika seperti ini terus pekerjaan ku akan terbengkalai." Lanjutnya.


Dreeeeet


Dreeeeet


Dreeeeet


Ponsel Adrean yang diletakkan di atas meja dekat akuarium itu bergetar hebat. Kedua orang yang sedang berbincang itu mengalihkan pandangannya melihat pada benda pipih yang sedang bergerak.

__ADS_1


Pemilik benda pipih itu segera beranjak dan mengangkat telepon tersebut. Adrean pun tidak lupa membuat kondisi ponselnya lowspiker agar gadis yang bersamanya saat ini juga mendengar.


Adrean sengaja melakukan itu agar sahabat yang baru saja menelponnya itu segera datang. Kedatangan Aldo ke apartemennya itu berharap bisa mengusir gadis yang ada bersamanya saat ini.


__ADS_2