Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 148. Istimewanya Wanita Hamil


__ADS_3

Bunda terkejut mendengar berita yang baru saja disampaikan oleh Sang Suami. Ia ingin ikut tapi alergi rumah sakit.


Bunda bangun dari tempat tidurnya itu berjalan menuju kamarnya. Ia mulai membuka lemari pakaian mencari pakaian yang pantas.


Sang Suami sudah tahu kalau istrinya memutuskan untuk ikut menjenguk anak laki-lakinya yang baru saja mengalami kecelakaan walaupun tanpa ada jawaban darinya. Bunda pergi ke dalam ruang ganti baju.


Waktu memang sudah sangat larut malam tapi sepasang suami istri ini memutuskan untuk menjenguk anaknya. Anaknya memang dirawat di rumah sakit miliknya.


Ayah selalu siaga berjalan di belakang sang istri takut terjadi sesuatu. Kehamilan kali ini memang membutuhkan perawatan ekstra.


Begitu sampai di bagasi mobil Ayah memilih mobil warna putih, tetapi Bunda berjalan menuju mobil hitam pekat. Biasanya juga Bunda sebelum hamil lebih sering memakai mobil putih hingga terjadi sedikit perselisihan antara keduanya.


"Bun, gak pakai yang ini aja?" Tanya Ayah mendekati Sang Istri.


"Gak itu terlalu silau." Jawabnya.


"Silau dari mananya, biasanya juga kamu selalu pakai yang putih." Keluhnya sambil berjalan mendekati Sang Istri.


"Ntar kalau aku naik di mobil itu bisa-bisa muntah-muntah lagi." Kata Bunda yang matanya sudah memerah hampir mengeluarkan air mata.


"Ya sudah, kita pakai yang ini aja." Kata Ayah mengalah karena tak tahan kalau melihat Sang Istri menangis.


"Bilang aja takut mobil putih itu kotor kalau kamu mabuk di sana." Batin Ayah.


"Biarlah untuk sementara kaum Adam yang mengalah saat istrinya baru bunting." Tambahnya.


Ayah membukakan pintu mobil perlahan dan membantu sang istri mengenakan sabuk pengamannya. Ayah duduk di kursi kemudi ia selalu mengawasi Sang Istri berjaga-jaga kalau ia mau muntah.


Mobil yang dikendarai orang tua Alfian pun melaju dalam keramaian ibu kota. Beruntungnya jalanan tidak ramai, tidak seramai pada siang hari.


Mereka sampai di rumah sakit tidak membutuhkan waktu lama. Kurang dari 30 menit mereka sudah sampai di rumah sakit yang dimaksut Alfian.


Pada pintu masuk mereka berdua sudah dihalangi oleh petugas keamanan yang berjaga waktu itu. Apalah daya tidak semua orang tahu pemilik dari rumah sakit itu.


"Assalamualaikum." Sapa Ayah


"Wa'alaikumsalam." Jawab orang yang ada disebrang yaitu dikenal dengan Direktur Rumah Sakit.

__ADS_1


"Saya sekarang ada di bawah tidak diperkenankan masuk." Kata Ayah Alfian sopan.


"Maaf Pak, sebentar, saya akan memberitahukan kepada petugas rumah sakit yang berjaga malam ini." Balas orang yang ada di sebrang telepon.


"Baiklah akan saya tunggu." Balas Ayah Alfian.


"Assalamualaikum." Lanjutnya.


"Wa'alaikumsalam." Balas orang yang di sebrang telepon.


"Maaf Pak. Silahkan masuk." Kata petugas setelah menerima telepon dari direktur Rumah Sakit itu.


"Terimakasih." Kata Ayah Alfian masih sopan.


Kedua orang tua Alfian langsung menuju ruang rawat VIP khusus keluarga. Mereka berjalan perlahan melewati koridor rumah sakit.


Biasanya Kedua orang ini berjalan cepat secepat kilat ketika mendapati berita yang tidak baik tentang anaknya. Kali ini bedalah mereka berdua berjalan perlahan seperti seorang pengantin yang menuju tempat pelaminan.


Ibu hamil memang sangat istimewa selalu diperhatikan oleh suaminya. Mendapat perhatian yang lebih pastinya. Begitu juga sang bunda saat ini.


Berjalan perlahan takut terjadi sesuatu dengan kandungan istrinya itu jika ia berjalan cepat. Tidak sabar sang Ayah sebenarnya.


Thing


Thing


Pintu lift pun terbuka dengan sendirinya. Sepasang suami istri ini keluar dari dalam sarana itu sebentar lagi mereka akan dalam memasuki kamar yang sangat ramai.


Jadi katakanlah "Bay-bay dunia milik berdua." Sebentar lagi "Selamat datang dunia milik bersama."


"Parah ya?" Tanya seseorang yang baru saja masuk kamar rawat seorang Pemuda tanpa membunyikan Bel, mengetuk pintu ataupun salam karena sudah merasa sangat khawatir pada anak laki-lakinya itu.


Tanpa ada yang menjawab seisi penghuni ruangan itu padahal ada lebih dari satu penghuni disana. Mereka langsung menoleh pada asal suara yang datang.


Menunggu lama baru ada suara setelah kedua orang tua Alfian berada dekat pada tempat tidur Sang Anak. Mereka menanyakan berbagai macam hal.


"Kenapa bisa sampai terjadi seperti ini sih sayang?" Tanya Bunda sesaat setelah duduk di sisi tempat tidur Sang Anak.

__ADS_1


"Aku kurang hati-hati tadi saat menyebrang Bun." Jawab Alfian.


"Mau dirawat berapa lama?" Tanya Sang Ayah yang sebenarnya tahu muslihat Sang Anak.


"Seumur hidup pun mau." Jawab Pemuda yang baru memperbaiki posisi duduknya bersandar di kepala tempat tidur itu. Sedangkan yang mendengar jawaban Alfian baru saja sampai membulatkan mata sempurna.


"Ok-ok, kalau begitu menikah juga di sini saja biar sangat mengesankan." Kata Ayah Alfian ingin memojokkan atas jawaban Pemuda itu.


"Hah." Keluh Pemuda itu menatap Sang Ayah tak percaya dengan ucapannya baru saja.


"Iya-iya. Pasti aku akan berusaha cepat pulih." Kata Alfian mengaku kalah.


"Aku kan anak Ayah dan Bunda yang paling hebat dan kuat." Lanjutnya memuji diri sendiri.


"Nah begitu dong." Kata Bunda baru membuka suara.


Pemuda ini memang akan menikah dalam beberapa hari ini. Kejadian hari ini memang menjadi salah satu kendalanya.


Saat berkunjung ke makam ia memang sudah diingatkan oleh penjaga makam itu. Banyak hal yang tak kasat mata bisa terjadi.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Ayo-ayo bulan ini ada bulan Februari kan.


Hari apa ya? Semua sudah tahu tanggal berapa dan hari apa itu.


Nah pastinya hari itu identik dengan sebuah makanan yaitu COKLAT.


Author baru gak mau di kasih coklat untuk ungkapannya.


Kalau Coklat pasti nanti pada keluar uangkan buat belinya.


Authornya gak mau coklat diganti aja bisa kan?


Diganti dengan Vote, & likenya ya?


Bisa kan. Kan lebih irit.

__ADS_1


Salam Sayang dari Author untuk readernya. 🙏


__ADS_2