Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 162. Kuliah Pagi


__ADS_3

Mentari pagi sudah muncul dari timur hingga membuat semua orang di ibu kota bersiap bahkan mereka sudah mulai melakukan aktivitas seperti biasanya. Sebuah kamar sinar matahari itu masuk menembus gorden melalui jendela.


Seorang gadis yang sudah bangun sejak subuh menyiapkan segala perlengkapan untuk kuliah. Dia memang sangat pintar dan cerdas tetapi dengan itu tidak membuatnya malas untuk menimba ilmu.


Ini baru semster awal buat Mentari berada di kampus itu bersama seorang pemuda. Pemuda yang cukup tampan dan rupawan.


Gadis itu selalu terlihat ceria walau seringkali ada beban pikiran dihadapi. Buat dia semua bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan juga membutuhkan kesabaran yang tinggi.


Semua anggota keluarga sudah menunggu di meja makan untuk melakukan rutinitas mereka. Mengisi perut sebelum aktivitas kecuali bulan ramadhan ya. (Bulan Ramadhan mengisi perutnya hanya pada waktu sahur dan berbuka puasa).


"Mau kemana Kak?" Tanya Papa saat melihat anak gadisnya turun dari lantai dua dengan menentheng tas di punggungnya.


"Berangkat kuliah dong Pa." Jawab Tari setelah cipika-cipiki dengan Sang Papa.


"Aku kan gak seperti mereka itu tu. Anak laki-laki yang tampan sedunia." Lanjutnya.


"Emang kami tampan, emang kita dari bibit unggulan." Kata Axel secara tidak langsung memuji kedua orang tuanya.


"Tampang boleh keren, tapi kelakuan juga jangan kalah keren." Nasehat Mama.


"Mulai hari ini kamu lebih baik cuti aja biar semua lancar." Titah Papa.


"Iya betul kata Papa." Kata penguatan sang Mama untuk menghindari segala hal yang tidak diinginkan.


"Tidak bisa gitu Papa sayang, sebentar lagi aku kan mau ujian semester." Jelas Tari.


"Kamu kan pinter dan cerdas untuk itu pastinya Papa yakin kamu bisa ngikuti." Puji Papa.


"Mendingan apa tidak kita bertiga aja nih yang liburan." Kata Daffa setelah semua diam.


"Nah itu tu Pah yang minta liburan, daripada mereka bolos sekolah.


"Kalau mereka bertiga memang harus ke sekilah. Mereka kan laki-laki harus punya tanggung jawab terhadap keluarga gak boleh dong seenak udel mereka sendiri." Nasehat Papa.


"Pah, emang udel Papa enak?" Canda Daffa.


"Ini anak dibilangan sejak dari jaman kerajaan sampai perusahaan masih ada pengennya mulut itu di banyak bahannya." Kata Papa dengan sedikit jengkel karena anak laki-laki yang satu itu selalu punya bahan untuk adu mulut.


"Udah itu dihabisin kita berangkat." Kata Papa sambil berdiri.

__ADS_1


"Kamu sayang calon pengantin baru, untuk hari ini kamu boleh pergi ke kampus dan hati-hati. Ok." Lanjutnya.


"Ok. Pah. Beres." Jawab Mentari.


"Semoga saja kita selalu diberi kesehatan dan keselamatan." Doa Mama.


"Amin." Sahut seluruh orang yang ada di meja makan.


Mereka berangkat bersama dengan orang tuanya, kecuali Axel berangkat bersama dengan sang Kakak. Entah apa yang ada dipikirannya kali ini hingga ingin berangkat bersama Kakak perempuannya itu.


Axel dan kakaknya sampai di sekolah terlebih dahulu dibandingkan dengan Papa yang naik mobil. Memang terasa lebih cepat naik motor bisa lewat gang tikus sekalipun.


Kepadatan kota memang setiap hari menimbulkan kemacetan lalu lintas. Jika bangun terlambat sedikit saja akibatnya bisa terjebak dalam kemacetan tersebut.


Axel tidak menunggu terlalu lama kedua saudara laki-lakinya itu. Setelah mereka tiba gadis itu mulai menaiki motor miliknya lagi menuju kampus.


Gadis itu langsung menempatkan motornya di tempat parkir. Dia pun menuju taman yang tidak begitu jauh dari tempat itu.


"Bosen kalau harus di rumah terus." Gerutunya setelah duduk di kursi itu.


Gadis itu mulai membuka buku yang berisi catatan kuliahnya. Lembar demi lembar dibaca tanpa ada yang terlewat.


Matahari semakin naik lingkungan semakin panas. Mentari melihat jam yang melingkar di tangannya ternyata sudah waktunya kuliah dimulai.


Cantik natural tanpa polesan sudah merupakan ciri khas yang ada padanya. Penampilan yang sangat sederhana tapi terlihat anggun.


Banyak Mahasiswa yang terpana dengan penampilan seperti itu hingga banyak mahasiswi yang merasa iri dengan gadis itu. Untuk saat ini memang dia belum memiliki seorang sahabat yang benar-benar tulus di kampus ini mulai dari awal hingga menjelang ujian semester pertama.


Gadis ini tidak memiliki waktu untuk nongkrong seperti teman-teman lainnya, mungkin itulah sebabnya sampai sekarang dia belum memiliki seorang sahabat. Dia di kampus ini cuma mengenal Alfian dan teman seorang teman laki-lakinya.


Kuliah pagi ini dia duduk di bagian paling depan yang bangkunya masih kosong semua. Pada hari yang sama meja depan selalu kosong seperti saat ini.


Dosen yang mengajar pagi ini memiliki usia yang sudah lanjut dan selalu memberikan materi yang cukup membosankan buat semua mahasiswa. Alasan itulah kemungkinan pada hari ini banyak mahasiswa yang tidak hadir jika hadir pun mereka pasti memilih kursi yang paling belakang sebagai alternatif.


Tak Tak Tak


Langkah kaki terdengar dengan nyaring. Suara sepatu kulit dengan hentakkan kaki membuat seluruh mahasiswa di kelas itu langsung duduk pada tempatnya.


Seorang dosen muda yang cukup tampan memasuki ruang kuliah itu dengan senyum yang mengembang. Senyuman yang cukup membuat semua mahasiswa luluh lantah.

__ADS_1


"Bapak dosen baru ya?" Celetuk seorang mahasiswi yang sejak tadi terpesona dengan dosen itu. Ya sejak dosen itu berada di ambang pintu.


"Benar." Jawab Sang Dosen itu singkat.


Mendapat jawaban dari dosen itu semua mahasiswi berebut untuk menduduki meja paling depan. Mentari yang melihat kelakuan teman-teman mahasiswi itu hanya menggelengkan kepala.


Gadis itu tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Mereka terlihat sangat kekanak-kanakan seperti seseorang yang memperebutkan sebuah permen.


Saat kuliah berlangsung banyak dari mahasiswi yang mencoba menggoda dosennya itu dengan berbagai macam pertanyaan. Perkenalan yang dilakukan dosen dimanfaatkan oleh mereka yang memang wajib karena dia memang seorang dosen baru di kampus itu hingga waktu pembelajaran hanya habis untuk sebuah perkenalan.


Mentari seorang yang tidak terlihat antusias pada dosen itu hanya diam beribu bahasa. Diamnya gadis itu justru malah menarik perhatian sang dosen tampan.


"Kalau tahu cuma seperti itu tadi kuliahnya ngapain juga tadi aku masuk." Batin gadis itu setelah kuliah dosen tadi selesai.


Dosen itu keluar dari kelas dengan melirik gadis yang sejak tadi cuek dengan kedatangannya. Banyak pujian yang keluar dari mulut mahasiswi yang keluar dari mulut mereka.


Gadis itu segera melangkah keluar dari kelas setelah dosen itu pergi meninggalkan ruang itu. Ada seorang mahasiswa yang penasaran dengan gadis ini karena sejak tadi tidak memiliki antusiasme pada dosen baru yang masih muda itu.


Merasa penasaran seorang mahasiswa itu keluar mengikuti gadis itu. Mentari langsung menuju perpustakaan mencari sumber untuk tugas-tugas yang belum selesai.


Buku yang dicari sudah dia temukan kemudian gadis itu meminjamnya pada petugas perpustakaan. Buku pinjaman itu dibawanya menuju taman yang tidak jauh dari sana.


Mentari merasa ada yang mengikuti sejak keluar dari ruang kuliah. Ia berusaha tetap tenang.


"Apa ini mungkin salah satu maksut Papa tadi melarang berangkat ke kampus?" Tanyanya dalam hati.


"Tapi sejak dari pemakaman itu juga bapak tua itu memberikan sebuah peringatan." Lanjutnya*.


Plak


Sebuah tepukan telapak tangan mengenai bahu Mentari. Ia pun tersentak walaupun sudah merasa ada yang mengintai.


Seorang laki-laki mencoba duduk disebelah Mentari. Walaupun kursi di tanam itu lumayan cukup panjang hingga beberapa orang masih muat untuk duduk di sana.


"Sendirian." Tanya seorang pemuda.


"Hem." Jawab Mentari singkat.


"Mahasiswa angkatan tahun ini kah? Sepertinya." Kata Pemuda itu melihat secara intens gadis yang duduk di sampingnya karena dia merasa gadis ini dia baru melihatnya.

__ADS_1


"Maaf aku masih ada urusan." Kata Tari hendak pergi dari sana karena merasa tidak nyaman.


Dosen muda yang sekarang berada di ruang kantor dosen sejak tadi melihat pada Mentari karena penasaran. Rasa penasarannya itu terjadi karena hanya gadis itu tadi yang tidak memiliki antusias padanya.


__ADS_2