Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 123. Tidur ----- Berantakan : 88


__ADS_3

Alfian menuju kamar untuk mandi. Ia sengaja berendam dibacktub dengan aroma terapi untuk mengurangi rasa lelahnya seharian.


*** *** *** Di Sebuah Ruang Hotel ***


Mentari kini ikut menonton televisi bersama ke tiga adiknya di ruang santai. Ia tidak memperdulikan rasa penat yang akan menguasainya nanti.


Papa dan Mama sudah tertidur di kamar mereka. Mereka sangat kelelahan karena pekerjaan yang selalu dan terus menunggu mereka.


Waktu sudah menunjukkan waktu sholat Dhuhur. Papa dan Mama pun mulai membuka matanya. Mereka bersama-sama pergi ke ruang makan untuk mengambil air minum dingin setelah mencuci muka.


Ceklek


Suara pintu kamar terbuka. Papa mengedarkan pandangan ke sebuah tempat.


"Oh my Good." Pekik Papa.


"Ada apa sih Pa?" Tanya Mama.


"Lihat itu kelakuan mereka?" Kata Papa.


Mama menghampiri ke empat anaknya yang menurut mereka baru kali ini sungguh di luar dugaan. Televisi dibiarkan menyala dengan berbagai bekas makanan dan minuman yang berserakan.


Plaaak


Anggap lah suara Mama menepuk dahinya sendiri.


"Kalian ini kenapa jadi seperti ini sih." Kata Mama dengan sedikit emosi.


"Bukannya kalian yang menonton TV tapi TV lah yang menonton kalian." Lanjutnya.


"Sabar Mah. Namanya juga anak banyak." Bela Sang Papa.


"Nih minum biar dingin itu pikiran Mama." Perintah Papa dengan menyodorkan sebotol air mineral.


Papa memang sengaja mengalihkan rasa jengkel sang istri. Ia memang tahu bagaimana istrinya itu. Disiplin super ketat dan tidak lupa super hemat kebersihan menjadi prioritas utamanya.


"Mau dingin Pah?" Tanya Mama.


"Iya buat dinginin itu hati mama melihat anak-anak yang super imut." Kata Papa.


Kondisi seperti ini tanpa ada batasan. Di dalam ruangan bebas mereka tidur tanpa aturan.


Berbeda jika mereka tidur di kamar pasti mereka mengikuti posisi tempat tidurnya. Entah setan apa hingga mereka bisa tidur seperti itu. Pisisi yang tidak karuan antara ketiga saudara laki-lakinya.


Untung saja mereka laki-laki kalau ketiganya perempuan akan jadi apa ya? Kakak tertidur di atas sofa, sedangkan ketiga adiknya tidur tak beraturan. Ada kaki yang bahkan naik setengah di atas sofa. Bahkan ada kaki saudaranya yang berada di atas dada saudara laki-lakinya.


Buhg

__ADS_1


Suara sebuah tubuh anak paling besar jatuh dari atas sofa.


"Auh. Sakit." Pekik Axel.


"Apa-apa an sih kamu? Cari untung ya?" Kata Daffa marah yang tidur di bawah Axel.


"Elunya sih tidur gak tahu aturan!" Kata Axel ketus.


"Aturan?" Kata Daffa.


"Pasal berapa ayat berapa?" Tanya Garda tersenyum renyah melihat kedua saudaranya yang sedang beradu mulut.


Beradu mulut jangan pikirin macam-macam ya gaes. Ini karena perkelahian.


"Kalian beradu mulut sampai keluar tu darah putih jernihnya dari mulut kalian. Gak sadarlah kalian? Tanya Garda dengan mengedipkan mata kanannya.


Kakak hanya diam mendengar percekcokan ketiga saudara laki-lakinya. Kakak sebenarnya udah bangun dari tadi. Cuma ia tidak mau terlibat dalam kecerobohannya.


"Iiiiiih. Bener ada air comberan bening. Jijik akuhnya." Kata Axel merutuki dirinya sendiri dengan mengusap mulutnya menggunakan tangan kanannya.


"Aaaaakh." Suara kakak sambil menguap.


"Ada apa sih ribut-ribut amat?" Tanya kakak pura-pura tidak tahu menahu.


Papa yang sudah sangat hafal dengan kelakuan ketiga anaknya hanya tersenyum simpul dibelakang istrinya. Apalagi anak gadisnya itu sekarang mulai bertambah konyol dengan tingkahnya.


"Biar adem." Sambung sang kakak.


"Boleh nambah?" Tanya Axel tiba-tiba.


Semua yang ada dalam ruangan itu pun menoleh ke Axel dengan penuh tanya. Tapi tak ada jawaban dari mereka.


Selesai shalat berjamaah mereka membersihkan semua sisa makanan. Mama sudah mulai menggerutu di depan televisi.


"Tahu kesalahan kalian?" Tanya Mama menghakimi setelah mendaratkan pantatnya di sofa.


"Iya Mah, kami minta maaf." Kata Axel mewakili kedua saudaranya.


"Mama maafin kalian, tapi sebagai peringatan selama sebulan potong gaji." Ancam Sang Mama.


"Aku gak ikut-ikutan deh ya?" Elak Kakak yang seakan tahu akan kena imbasnya.


"Ini kan hari bahagia, sudah lah Ma bebasin aja mereka dari hukuman. Kasian kan?" Bela Papa.


"Tapi ngomong-ngomong...... " Ucapan Kakak terpotong.


"Kak, kalau Mama baru ngomong bisa gak diam dulu." Ucap Mama memotong perkataan Kakak tegas.

__ADS_1


"Singa betinanya udah mulai meraung-raung." Batin Papa.


Mama ingin semua anaknya menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. Untuk itulah Mama selalu mendisiplinkan mereka dengan berbagai macam kata-kata.


"Baiklah kalau harus potong gaji." Kata Kakak.


Ketiga adiknya hanya bisa membulatkan mata sempurna mendengar perkataan sang kakak.


"Entah setan apa yang merasuki kakak perempuanku hingga setuju adanya pemotongan uang kita." Batin ketiga adiknya.


Mama beranjak menuju kamar hendak mandi. Sang suami sudah menunggu di depan pintu kamar mandi dengan menyandarkan punggungnya di depan pintu kamar mandi.


"Mama sekarang kok galak amat, suka main potong." Ujar Papa.


"Emang kenapa Pa? Tanya Mama berjalan melewati suaminya masuk ke dalam kamar mandi.


"Anggribet Papa juga mau dipotong juga?" Tanya Mama.


Mendengar perkataan sang istri baru saja, papa membulatkan matanya sempurna.


"Kalau potong uang kan gak ada pengaruhnya kan buat Papa tapi kalau potong yang satu itu......" Ucap Mama sambil melirik kebangga'an suaminya dengan lirikan yang tak bisa diartikan.


"Akhhhhh." Ucap Papa melihat pelihara'annya yang ada disangkar.


"Jangan dong Ma, nanti nanti maju mundurnya gak cantik lagi." Keluh Papa.


Klek


Pintu kamar mandi di tutup Mama untuk mengakhiri perdebatannya dengan sang suami. Terdengar suara gemericik air dari dalam hingga akhirnya Papa pergi dari depan kamar mandi tersebut.


Papa menunggu giliran untuk mandi dengan mengerjakan semua pekerjaan kantornya. Sebuah proyek baru yang akan dikerjakan di sebuah tempat baru.


Mama sudah selesai dengan ritual mandinya yang sangat-sangat lama. Biasa lah wanita banyak lika liku di badannya yang harus dibersihkan.


"Mandi sana Pah?" Perintah Mama.


Papa melihat istrinya yang baru selesai mandi dengan rambut yang masih basah dengan jubah mandinya terlihat sangat mempesona. Aroma badan yang sangat khas itu mampu menghipnotis seluruh kesadaran suaminya.


*** *** *** *** *** *** ***


Maaf beribu maaf dari Author belum bisa Up date setiap hari.


InsyaAllah tetap diusahakan.


Sejujurnya kalau tidak bisa Up Date tiap hari ada sesuatu yang kurang di agendanya Author.


Doakan Authornya saja biar bisa Up Date dengan diberi kesehatan dan waktu yang banyak buat nulis. 🙏

__ADS_1


__ADS_2