Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 127. Luluran


__ADS_3

"Maksut mu?" Tanya Monic balik dengan wajah yang merah merona yang mana sebenarnya tahu akan maksut dari laki-laki yang ada di hadapannya.


"Itu wajah kenapa jadi merah?" Tanya Ziko.


"Gak mau jawab ya udah, aku mandi dulu. Nanti kena omel lagi karena terlambat." Kata Monic mengalihkan topik pembahasan ini.


Monik berlalu menuju lantai atas. Ia segera berjalan menuju kamarnya.


Pakaian sederhana yang sudah ia siapkan sejak pagi dikeluarkan dari dalam lemari. Pakaian yang sangat pas ditubuhnya lebih ia pilih sejak dulu karena merasa nyaman dikenakan.


Air sudah disiapkan sendiri di dalam backtub dengan aroma flower menyeruak di dalam kamar mandi. Monic segera berendam di dalam backtub tersebut.


Mengingat ia sedang di tunggu oleh seseorang, ia pun segera mengguyur badannya di bawah air sower untuk menghilangkan busa yang melekat di badannya. Segera ia mengambil handuk yang tergantung di dalam kamar mandi itu untuk mengeringkan badannya.


"Pakaian ini pantes gak ya?" Gumamnya lirih.


Monik memang orang yang tidak suka mengikuti tren model pakaian. Ia selalu tampil apa adanya dengan apa yang dimilikinya sekarang.


Selesai memakai pakaian dan berias di depan cermin, ia pun berjalan melenggang bak model. Mencoba meyakinkan dirinya kalau ia pantas pergi bersama laki-laki yang sedang menunggunya sekarang ini.


"Sudah lah mau kayak apa pun aku bukan Cinderella yang bisa merubah penampilan dengan bantuan peri." katanya lirih.


Ceklek


Suara pintu kamar Monik pun terdengar terbuka. Siapa lagi yang membukanya kalau bukan sang pemilik kamar.


"Genderuo." Teriaknya saat pintu kamarnya terbuka hingga terlonjak kaget.


Laki-laki yang berdiri di depan kamarnya memakai topeng mainan yang ia dapatkan entah dari mana asalnya. Topeng yang terlihat menyeramkan.


"Hai, ini gue." Kata Ziko melihat gadisnya ketakutan sambil menangis.


"Jahat sekali! Hiks.... Hiks... Hiks." Kata Monic yang tengah ketakutan sambil menangis.


Ziko pun mendekatinya mendekap gadis itu dalam pelukannya. Hangat yang mereka berdua rasakan. Jantung yang semakin berdegup dengan kencangnya hingga kedua jantung itu seakan saling berlomba.


Brug


Tubuh Ziko terjatuh akibat di dorong oleh sang gadis.


"Au sakit." Keluhnya.

__ADS_1


"Bantuin berdiri dong." Lanjutnya.


Brug


Disusul oleh suara tubuh mungil yang jatuh menimpa badan kekar yang sedang ditolongnya. Posisi Monic menimpa tepat di atas tubuh laki-laki tampan hingga kedua pandangan mata mereka bertemu.


"Sakit tahu." Kata Monic yang sedang berusaha berdiri tapi tubuhnya ditahan oleh laki-laki tampan yang bersamanya.


"Cantik." Kata Ziko penuh kekaguman dengan memeluk badan gadis itu hingga kesulitan berdiri.


Gadis ini berusaha berdiri akan tetapi ia merasa kesulitan. Susah untuk bangkit karena badannya yang di tahan serta pakaian yang ia kenakan membuatnya kesulitan, ditambah lagi dengan high hills yang ia kenakan.


"Nyaman kah hingga kamu tidak mau bangun dari tubuh ku?" Ledek Ziko.


"Ya memang benar, sangat nyaman hingga kamu menahan tubuh ku dengan tangan mu itu hingga aku tidak bisa berdiri." Jelas Monik.


"Atau kamu mau seperti ini terus, hingga kamu terlambat menjemput bos mu dan tahu sendiri lah." Ledek nya kemudian.


Tersadar dengan ucapan Monic yang mana mengingatkan akan ancaman Bosnya itu. Ia pun segera membalikkan badannya hingga membalikkan posisi tubuhnya yang menjangkung di atas tubuh gadis cantik itu.


"Awas lain kali ya!" Ancam Ziko dengan mengedipkan mata kanannya kemudian berdiri dan membantu gadis cantiknya berdiri.


"Uh ...... Jadi berantakan kan." Keluh Monic.


"Tunggu sebentar aku akan merapikan penampilan ku." Pinta Monic.


"Jangan lama-lama, aku tunggu kamu." Pinta Ziko.


Monic kembali masuk ke dalam kamarnya. Setelah pintu kamar tertutup laki-laki tampan itu berbalik dan melangkahkan kakinya menuju ruang tamu menunggu sang gadis pujaan.


Monic pun segera turun menghampiri laki-laki yang menunggunya. Mereka segera menuju mobil dan segera berangkat menuju kediaman Alfian.


Perjalanan menuju kediaman Bosnya itu sesekali keduanya hanya mencuri pandang. Tak ada sekalipun pembicaraan yang terjadi. Rasa canggung merasuki pikiran keduanya.


*** *** *** Kediaman Alfian *** *** ***


Gelisah karena menunggu sang asisten dan sekretarisnya itu merasuki pikirannya. Benda pipih yang ada di saku jas yang ia kenakan mulai diambilnya setelah berkali-kali melihat jam yang melekat di tangannya.


Alfian mulai mencari nomor Asisten pribadinya dan mendeal nomor tersebut. Panggilan ponsel masuk tapi tidak diangkat.


Chit

__ADS_1


Suara ban bergesekan dengan lantai depan rumahnya.


Alfian keluar dari dalam rumahnya melihat orang yang datang. Ia pun mulai menghampiri orang yang ditunggunya sejak tadi.


"Lama amat?" Tanya Alfian


"Maaf Bos ku macet." Bohong Ziko.


"Macet karena luluran dulu apa?" Ledek Alfian.


"Masak sih Bos, aku luluran. Gak usah luluran juga udah terlihat keren." Kata Ziko membanggakan dirinya sendiri.


"Udah jangan banyak bersilat lidah. Kassanova kaya kamu itu memang pinter kalau masalah bersilat lidah." Kata Alfian saat berjalan menuju mobil Ziko yang sudah terparkir di depan rumah.


Ziko pun membukakan pintu mobil penumpang. Alfian mulai naik dan melihat ada seorang gadis yang telah duduk di samping kursi kemudi.


"Oh jadi tadi macet beberapa kali hingga telat menjemput ku." Kata Alfian dengan wajah yang tidak bisa ditebak.


Ziko yang melihat ekspresi Sang Bos hanya tersenyum lembut sambil memandang wajah cantik yang duduk di samping kemudi mobil miliknya. Mobil kini sudah melaju meninggalkan kediaman Alfian.


Alfian memang selalu memasang wajah datar pada setiap orang tidak laki-laki maupun perempuan yang dijumpainya. Hal itulah yang menambah karisma.


Lain lagi ceritanya jika ia bersama dengan anggota keluarganya. Alfian bisa merubah dirinya dengan banyak senyuman bahkan candaan selalu tercipta hingga mewarnai dunianya.


"Sama aja ternyata, berangkat bareng sama Deddy dan Mommy cuma dijadikan sopir dan menjadi obat nyamuk buat mereka." Keluh Alfian.


"Berangkat sama kamu juga cuma jadi obat nyamuk." Lanjutnya.


"Lha kan kemarin sudah saya bilang kan Bos, kalau saya mengajak seseorang." Kata Ziko mengingatkan atasannya itu.


Hening


Hening


Hening


Itu lah suasana yang tercipta dalam mobil yang sedang melaju menuju acara resepsi. Rasa canggung semakin terasa karena ada satu gadis di dalamnya. Lain ceritanya jika hanya ada dua laki-laki itu. Mereka masih bisa bercanda tawa dengan bebasnya.


Alfian hanya memainkan benda pipih di kursi penumpang. Tanpa terasa mereka pun sudah sampai di hotel tempat resepsi itu diadakan.


*** *** *** *** *** *** ***

__ADS_1


Author:


Selamat membaca ya. Jangan lupa like & votenya. Itu akan menambah author semakin berusaha rajin up datenya. 🙏


__ADS_2