
Pemuda itu langsung menuju lantai atas tepatnya sebuah kamar miliknya. Dia ingin segera membersihkan diri agar badannya terasa lebih segar.
Adrean tidak butuh waktu lama untuk membersihkan diri. Dia segera mengenakan pakaian dan segera turun ke bawah menuju ruang makan.
Di ruang makan kali ini tidak terdapat banyak makanan. Beberapa makanan ringan dan teh hangat tersaji di atas meja itu.
"Ini milik mu?" Tanya Adrean setelah memperlihatkan liontin itu.
"Benar itu milik ku." Jawab Sinta dengan hati yang sangat senang.
"Berikan pada ku." Pinta gadis itu penuh harap.
"Aku akan memberikannya pada mu setelah aku kembali ke sini." Kata Adrean terdengar sedikit sedih.
"Anda mau pergi?" Tanya Sinta menatap intens pemuda yang ada dihadapannya.
"Ya, aku akan pulang menemui ibu ku." Jawab Adrean membalas tatapan gadis itu hingga dia menundukkan kepala.
"Kapan anda akan berangkat?" Tanya Sinta sedikit khawatir kalau liontin miliknya tidak diberikan.
"Besuk sore." Jawab Adrean singkat.
"Kapan anda akan kembali?" Tanya Sinta.
"Suka-suka aku." Jawab Adrean tidak suka mendengar kata panggilan yang baru saja di dengarnya baru saja.
Mendengar jawaban yang baru saja dikatakan oleh Adrean yang ketus baru saja Dia merasa bersalah. Sinta belum lama mendapat peringatan karena hal itu.
Adrean beranjak dari tempat duduknya menuju ke kamar dengan langkah cepat. Gadis itu segera berlari mengejarnya ingin minta maaf.
Greeep
Sebuah tangan kecil berhasil memegang lengan Adrean yang cukup kekar. Dia berhasil menghentikan langkah pemuda itu dengan susah payah.
Sinta berusaha meminta maaf pada pemuda itu tetapi lidahnya terasa kaku. Adrean tahu apa yang akan diucapkannya tetapi karena dia tidak segera mengatakannya maka dia segera melanjutkan langkahnya.
"Apa yang terjadi dengan ku?" Tanya Sinta dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa aku susah sekali mengatakannya?" Lanjutnya.
"Apa aku harus ditampar agar ingat dengan kata-katanya." Lanjutnya lagi.
Sinta merasa dirinya sangat bodoh saat ini. Dia kembali duduk di ruang makan sedangkan Adrean langsung menuju kamarnya untuk mempersiapkan keberangkatannya besuk.
Di Negara Seberang
Seorang gadis yang sedang menanti kedatangan seseorang sejak beberapa hari yang lalu entah kenapa perasaannya kini berbeda dari biasanya. Hari ini terasa lebih cerah dari sebelumnya.
Kedua orang tuanya juga merasa heran dengan tingkah laku anaknya hari ini. Pasutri itu ikut merasa senang dengan perubahan tingkah anaknya itu.
Dreeeeet Dreeeeet Dreeeeet
Sebuah ponsel kini sedang bergetar di atas meja sebuah kamar. Pemiliknya selalu meninggalkan benda pipih tersebut.
"Abang." Pekik Mentari setelah melihat ada sebuah panggilan tak terjawab dengan sangat bahagia.
Mentari memutuskan untuk memanggil balik panggilan tersebut. Sayangnya panggilan tersebut tidak ada yang menjawabnya.
"Kenapa tidak dijawab sih?" Kata Mentari menggerutu merasa jengkel.
Mentari menghempaskan badannya di sofa dengan memegang ponselnya itu. Dia menaruhnya kembali di meja yang terdapat di depannya.
Di dalam hati gadis ini merasa sedikit kesal karena merasa sekarang tidak ada lagi waktu buat dia. Mentari tetap bisa memakluminya sebab Sang Ayah memiliki profesi yang sama sehingga dia tahu sesibuk apa Sang Abang.
Gadis kecil itu memejamkan mata berdoa dalam hati untuk kebaikan semua orang. Mata Mentari perlahan mengeluarkan butir bening tanpa disadarinya.
Sheet
Mentari mengambil tisu yang ada di meja didekatnya setelah membuka mata perlahan. Bangga sekaligus sedikit kecewa dengan Sang Abang yang sekarang berada jauh di negara sebrang sana.
"Semoga Abang menepati janjinya." Kata Mentari perlahan.
Mentari perlahan berjalan keluar dari kamar menuju kolam ikan yang ada di samping rumah. Dia mencoba melupakan kesedihannya di sana dengan melihat ikan yang berwarna-warni dan memberikannya makan.
Matahari tidak terasa sudah hampir tenggelam. Mentari kembali ke kamar untuk membersihkan dirinya.
__ADS_1
Bunda sejak tadi hanya memperhatikan setiap gerak gerik Sang Putri. Dia pun tidak berdaya untuk menghibur Mentari hingga dia memutuskan untuk memberikannya waktu.
Badan Mentari kini lebih segar setelah mandi. Dia mengambil ponselnya kembali setelah ditinggalkannya setengah hari di kamar.
"Pesan dari Abang Adrean." Kata Mentari setelah melihat layar ponselnya.
Mentari tersenyum setelah membaca pesan itu. Pesan yang begitu singkat tetapi bisa meyakinkan seorang gadis kecil.
Mentari segera turun menuju lantai bawah untuk berkumpul bersama keluarga kecilnya. Sang Ayah memperhatikan putrinya saat menuruni anak tangga.
Wajah kecil itu terlihat sangat polos sedang tersenyum. Sang Ayah melihat wajah polos itu seperti seorang bidadari yang datang untuk mengisi kehidupannya.
"Ayah kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Mentari setelah berada di pangkuan Sang Ayah.
"Apa ada masalah jika ayah melihat putri cantik ayah?" Tanya Sang Ayah tanpa menjawab pertanyaan putrinya.
"Ayah bisa saja." Kata Mentari terputus.
"Tidak salah jika Bunda sampai jatuh hati pada mu, ayah pintar merayu." Lanjutnya.
"Eh anak kecil tidak boleh bicara seperti itu." Kata Bunda menasehati putrinya.
"Bicaralah layaknya anak-anak sayang." Lanjutnya saat berdiri kemudian mengacak pucuk kepala putrinya.
Bunda pergi ke dapur menyiapkan makan malam keluarga untuk keluarga kecilnya itu. Dia hanya menghangatkan sayur sisa makan siang tadi.
Bunda merasa sayang jika makanan itu dibuang begitu saja. Wanita paruh baya itu segera menyajikan semua menu di atas meja dengan sangat rapi dan terampil.
Tap
Tap
Tap
Sebuah langkah perlahan terdengar begitu nyaring. Sang Bunda berjalan menghampiri Ayah dan anak yang sedang saling mengungkapkan kasih sayang mereka.
"Makanan sudah siap, mari kita makan dulu." Kata Sang Bunda mengajak keluarga kecilnya untuk makan malam.
__ADS_1
"Kalau sudah dingin nanti gak enak." Lanjutnya.
Kedua orang itu hanya menganggukkan kepala perlahan. Mereka bertiga berjalan menuju ruang makan dan bersiap untuk makan tanpa lupa berdoa.