Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 40. Sebuah Tompel


__ADS_3

Pemuda yang sudah menunggu barang yang diminta pada asistennya itu membukakan pintu ruangannya. Aldo segera menyerahkan koper yang dibawanya itu pada pemiliknya.


"Mengganggu kencan mu?" Tanya Adrean pada asistennya itu berjalan masuk menuju sofa.


"Tidak Bos, kalau nanti aku jawabnya iya pastinya aku nanti bisa langsung jatuh miskin." Jawab asistennya.


"Kamu mana bisa serius." Kata Adrean.


"Bagaimana hubungan mu dengannya?" Tanya Adrean yang ingin mendengar berita bagus.


"Biasa saja." Jawab Aldo sedikit kecewa.


"Selama janur kuning belum melengkung masih ada kesempatan." Kata Adrean menasehati.


Adrean segera memesan beberapa makanan dan juga minuman untuk menemani mereka berbincang-bincang. Mereka membicarakan beberapa hal termasuk proyek yang harus mereka tangani beberapa hari ke depan selama Dia pergi.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Di Ruangan Sebuah Perusahaan


Seorang gadis setelah terbangun dari mimpinya kini merasa bingung tentang hal yang seharusnya dilakukannya sekarang. Briyan yang melihat ekspresi gadis itu sudah tahu kalau dia sekarang tidak dia merasa asing di kamar itu sekarang.


"Sudah merasa lebih baik?" Tanya seorang Pemuda dengan suara baritonnya yang sejak tadi sedang menunggu Sinta terbangun.


"Hem." Jawab gadis itu singkat melihat arah datangnya suara kemudian dia menunduk.


"Bersiaplah aku akan mengantarkan mu ke sebuah tempat." Kata Briyan mendekat.


"Semua barang milik mu sudah di sana." Lanjutnya.

__ADS_1


Gadis itu turun dari tempat tidur perlahan karena efek dari obat tidur yang membuat badannya lemas masih bekerja. Dia menuju kamar mandi sesudah Briyan keluar dari kamar itu.


Sinta membersihkan dirinya secepat mungkin tidak mau orang yang ada di depan kamarnya menunggu lama. Dia merasa sudah sangat merepot semua orang hari ini.


"Kemana ikat rambut ku?" Tanya Gadis itu dalam hati.


"Aku tidak bisa keluar dengan penampilan seperti ini kan?" Lanjutnya dengan mengedarkan pandangannya ke segala tempat mencari benda miliknya itu.


Asisten yang menunggu di luar kamar sambil mengerjakan semua pekerjaannya itu mengetuk pintu kamar yang sejak tadi tertutup setelah dia keluar. Sinta tidak segera menjawab panggilan suara itu hingga Pemuda itu terpaksa masuk tanpa seijin yang ada di dalam.


"Maaf Nona, apa yang sedang anda cari?" Tanya Briyan melihat gadis itu mencari sesuatu.


"Ikat rambut milik ku." Jawab gadis sambil menyibakkan rambut panjangnya yang lurus kebelakang hingga membuat sebuah liontin terjatuh tanpa sepengetahuan pemiliknya.


"Oh." Kata Briyan sempat terpesona melihat betapa cantiknya gadis itu saat ini hingga dia langsung menundukkan kepalanya tidak berani melihat terlalu lama.


"Tidak bisa, dan aku harus memakai penutup kepala jika berada di luar." Jawab Sinta.


"Kenapa?" Tanya Sang Asisten ingin tahu cerita yang sebenarnya dari mulut gadis yang ada bersamanya.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa mu menceritakannya. Itu privasi mu sendiri." Kata Briyan setelah lama tidak mendengar sebuah jawaban dari gadis itu.


Pemuda itu menghubungi sekretaris Adrean meminta semua barang yang diinginkan Sinta. Dia memberikan sebuah ikat rambut dan topi yang baru saja diminta dari sekretaris Adrean baru saja.


Gadis itu segera merapikan dirinya kembali dengan semua benda yang baru saja diberikan padanya setelah Briyan keluar dari kamar itu. Rambut yang dimasukkan ke dalam topinya membuat dirinya terlihat seperti seorang laki-laki.


"Sepertinya masih ada yang kurang." Kata Briyan melihat penampilan seorang gadis yang masih terlihat cantik itu keluar dari kamar bosnya itu.


"Aku memang seperti ini jika keluar rumah." Kata Sinta.

__ADS_1


"Rumah kamu bilang?" Tanya Briyan.


"Tempat tinggal mu sekarang?" Tanyanya Lanjut.


"Rumah yang tidak layak huni." Katanya lagi.


"Dari mana Anda tahu?" Tanya gadis itu.


Briyan tidak menjawab pertanyaan gadis itu. Pemuda itu malah memberikan sebuah tompel palsu untuk dipakai Sinta.


"Tidak buruk tambah tompel ini." Batin seorang gadis sambil memasang tompel yang baru saja diberikan oleh Briyan.


"Apa bos ku akan terkejut dengan penampilan gadis yang aku bawa ini?" Tanya Briyan dalam hati.


"Sayangnya sahabat ku itu tidak mudah dikerjain." Lanjutnya


Pemuda itu berjalan keluar dari ruangan atasannya dengan langkah lebar. Membayangkan penampilan gadis itu yang sekarang ini membuatnya tertawa sendiri dalam hati.


Sinta berjalan mengikuti pemuda itu sedikit berlari. Langkahnya tidak selebar Briyan yang seorang laki-laki.


"Kalau mau menyamar itu yang sempurna Nona." Kata Briyan yang sejak tadi sudah melihat gadis itu tidak bisa mengimbangi langkahnya.


Sinta tidak bisa menjawab apapun juga karena memang benar apa yang dikatakan oleh Pemuda yang baru saja menghentikan langkahnya itu. Dia juga sadar dengan kondisi badannya itu masih sedikit lemah.


Hotel


Adrean lama menunggu gadis itu di hotel miliknya bersama sahabatnya Aldo. Telinganya tiba-tiba berdengung hingga apa saja yang dibicarakan bersama sahabatnya tidak bisa ditanggapinya dengan baik.


Aldo merasa sahabat sekaligus atasannya itu selalu gagal fokus dalam menanggapi setiap perbincangan mereka. Dia akhirnya memutuskan untuk perpamitan pada Adrean.

__ADS_1


__ADS_2