
Ayah pergi menuju ruang kerjanya sedangkan Sang Istri pergi ke dapur ingin membuatkan secangkir minuman. Suaminya sudah sangat hafal dengan semua yang akan dilakukan Sang Istri.
Pintu ruang kerja Sang Suami tiba-tiba terbuka bersamaan dengan aroma kopi yang semakin menusuk hidung. Ayah yang tatkala sedang fokus dengan leptopnya mengangkat kepala melihat kedatangan seorang wanita cantik yang datang mendekatinya.
Bunda meletakkan gelas berisi kopi yang dibuat dengan tangannya sendiri. Dibuat dengan penuh cinta dan beraroma kasih sayang.
"Ehem-ehem." Bunda berdehem tatkala melihat Sang Suami yang sedang melihatnya tanpa mengedipkan mata.
"Terimakasih, Sayang." Ucap Sang Suami ketika sudah tersadar dari pandangannya itu.
"Bagaimana dengan permintaan putri kita Sayang?" Tanya Bunda tanpa basa basi.
"Uhuuk Uhuuk Uhuuk."
Suara Sang Suami tersedak mendengar perkataan Bunda.
"Bunda sudah siap dengan segala resiko yang harus kita hadapi?" Tanya Sang Suami meyakinkan sang istri.
"Hem." Jawab Sang Istri yakin dengan segala keputusannya.
"Baiklah Sayang kalau begitu bisa kita usahakan. Allah yang menentukan semuanya." Kata Ayah tersenyum senang seakan mendapat lampu hijau untuk melakukan kapanpun yang dia minta.
"Kenapa tersenyum seperti itu?" Tanya Bunda saat melihat senyum jahil Sang Suami.
Bunda tidak ingin mengganggu pekerjaan Sang Suami hingga harus tertunda lagi hingga dia meninggalkan ruang kerja suaminya setelah berpamitan. Keyakinan untuk memiliki seorang anak karena Sang Putri yang merasa dirinya sendirian.
Sang Bunda meninggalkan ruang kerja suaminya menuju kamar utama. Merasa sangat lelah wanita ini membersihkan diri kemudian merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang cukup luas itu.
Ayah yang sejak tadi berada di ruang kerja merasa ada sesuatu yang sangat menjadi pikiran. Sang Istri begitu yakin dengan permintaan putri mereka, tetapi Dia sendiri tidak yakin kalau terjadi sesuatu dengan orang yang paling dicintai dan disayanginya.
Senang juga dengan keinginan Sang Istri yang akan selalu siap melayaninya di atas ranjang mereka. Ayah segera meninggalkan ruang kerjanya menuju kamar utama setelah semua pekerjaan kantor selesai.
Ceklek
__ADS_1
Suara daun pintu dibuka oleh seorang laki-laki yang tampan dengan perawakan badan yang tegap, dan besar. Dia mengedarkan pandangannya di seluruh kamar.
Mata tajam laki-laki itu menangkap sosok seorang wanita keibuan yang sedang menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur setelah merebahkan tubuh sebelum Sang Suami masuk dalam kamar. Kepala wanita itu melihat ke arah datangnya suara pintu kemudian dia tersenyum mendapati Sang Suami yang baru saja masuk.
Ayah mendekati Sang Istri yang sedang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Wajahnya sudah menampakkan senyum jahil.
"Sayang, benar kamu sudah siap?" Tanya Sang Suami setelah ******* bibir merah milik sang istri penuh hasrat.
Sang Istri menunduk malu mendengar pertanyaan Ayah. Keduanya beradu mulut dan pertempuran itu terjadi hingga keduanya merasa lelah.
Hampir setiap malam pertempuran itu terjadi apalagi saat mereka banyak kesibukan di siang hari akan menjadi obat yang menetralisir rasa lelah itu. Begitu pula malam ini hal itu terjadi lebih panas daripada sebelum-sebelumnya.
Keduanya terlelap setelah pertempuran malam ini. Tidur mereka begitu nyenyak hingga pagi pun datang dengan hari yang sangat cerah.
Bunda seperti biasa sebelum membersihkan diri selalu memasak sarapan untuk seluruh anggota keluarga. Pagi ini menu makanan dengan tumis sayuran seperti yang dikatakannya kemarin pada saat membuat menu makan malam pada Bibi.
Hari ini adalah akhir bulan kebetulan juga hari Minggu. Seluruh anggota keluarga berdiam diri di rumah untuk melepaskan kelelahan selama seminggu bekerja ada pula mereka yang berlibur ke sebuah tempat seperti villa dan lainnya yang bisa menyegarkan pikiran.
Keluarga Tuan Richat justru malah hanya berdiam diri di rumah mereka tidak melakukan aktivitas di luar kediaman utama seperti keluarga pada umumnya. Hal ini untuk meminimalisir segala tindak kejahatan terhadap seluruh anggota keluarga.
Kekayaan yang jika dihitung menduduki peringkat pertama di dunia. Kesuksesan dalam bisnis juga belum ada yang menandinginya.
Setiap hari tidak sedikit uang yang disumbangkan pada sebuah yayasan amal. Hartanya tetap saja semakin menumpuk.
Anak laki-laki yang dikenal oleh masyarakat sebagai penerusnya adalah Adrean. Tidak ada yang tahu dia adalah anak dari seorang Asisten Rumah Tangga di rumahnya yang sudah dianggap sebagai anak mereka.
Kebaikan hati Laki-laki paruh baya itu selalu diingat oleh Adrean dan anak laki-lakinya. Mereka sangat berterimakasih pada seluruh anggota keluarga Tuan Richat karena telah dianggap sebagai anggota keluarga dan anak mereka juga mendapatkan bimbingan mereka.
Menu sarapan pagi telah ditata di atas meja. Sang Bunda menuju kamar Sang Putri untuk menyiapkan segala keperluannya pakaian setelah mandi.
"Bunda apa aku sudah terlihat cantik?" Tanya Mentari pada Sang Bunda.
"Cantik, bahkan sangat cantik." Puji Sang Bunda saat melihat putrinya memutar-mutar badannya berulang kali di depan cermin.
__ADS_1
"Ayo Bun kita sarapan." Ajak Mentari dengan menarik tangan Sang Bunda.
"Tari sayang, kamu duluan ke ruang makan." Pinta Sang Bunda sambil berjalan bergandengan tangan dengan Sang Putri meninggalkan kamar.
"Kenapa?" Tanya Tari setelah mendongokkan kepala melihat wajah Sang Bunda.
"Bunda mau siapin baju Ayah dulu, sekalian mandi." Jelas Sang Bunda setelah berjongkok mensejajarkan wajah dengan Sang Putri.
"Nih, badan Bunda masih bau asem." Lanjutnya.
"Siapa bilang?" Tanya Sang Putri.
"Malahan menambah aroma masakan untuk sarapan." Canda Mentari.
"Dasar Anak pintar." Puji Sang Bunda.
"Yah, Katanya perkataan adalah sebagian dari doa." Jelas Sang Bunda saat mendapati Sang Putri melotot mendengar pujian yang baru saja diucapkan olehnya.
"Kamu duluan ya Sayang." Kata Bunda dengan menepuk punggung Sang Putri.
"Baiklah." Jawab Mentari berjalan sendiri dengan senang menuju ruang makan setelah mendapat tepukan di punggungnya oleh Sang Bunda.
Nyonya Devi segera berjalan menuju kamarnya hendak menyiapkan pakaian untuk Sang Suami tercinta dan membersihkan diri. Ini mandi untuk ke dua kalinya setelah pertempuran semalam.
Nyonya Devi segera berjalan menuju kamarnya hendak menyiapkan pakaian untuk Sang Suami tercinta dan membersihkan diri. Ini mandi untuk ke dua kalinya setelah pertempuran semalam.
Sang Suami kini sudah selesai mandi bersamaan dengan selesainya Bunda menyiapkan pakaian gantinya. Giliran Sang Istri mandi rasanya ingin sekali menggoda istri tercintanya itu.
Melihat Sang Istri menuju kamar mandi, Ayah tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia segera mengikutinya dari belakang sampai di depan kamar mandi.
"Mau ngapain sayang?" Tanya Sang Bunda tatkala melihat pintu kamar mandi yang akan ditutup ditahan oleh Sang Suami.
"Itu pakaian mu sudah Bunda siapin di atas tempat tidur." Lanjutnya dengan menunjuk benda yang ada di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Bunda, sudah lama kita tidak ....." Kata Sang Suami terjeda.
"Bunda gak ingin digosokin." Lanjutnya lagi dengan menaik turunkan kedua alisnya bersamaan.