Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 38. Dewi Penolong


__ADS_3

Gadis itu kembali tidur dengan memiringkan badannya membelakangi Briyan setelah Pemuda itu pergi. Badannya masih terasa sangat lemah.


Sang Asisten kembali dengan membawa beberapa buah segar yang dipesannya. Dia meletakkan buah-buahan itu di atas nakas.


"Terimakasih." Kata gadis itu setelah terbangun saat mendengar langkah kaki seseorang yang mendekatinya.


"Sudah kewajiban ku." Kata Briyan.


"Makanlah agar tenaga mu lekas pulih." Pinta Pemuda itu.


Sinta perlahan-lahan menggeser duduknya mendekati nakas yang diatasnya sudah terdapat berbagai macam buah-buahan. Dia mengambil satu buah pisang untuk meminum vitamin yang diberikan Adrean padanya.


"Kenapa Meraka harus sangat baik pada ku?" Kata Sinta dalam hati.


"Yang dikatakan keluarga saja tidak akan sebaik ini." Lanjutnya.


"Apa aku masih bisa membalas kebaikan mereka?" Lanjutnya lagi seakan menjadi beban untuknya.


Gadis itu hanya menghabiskan setengah buah pisang yang ada di atas nakas. Perutnya sudah tidak mampu lagi untuk diisi.


Perut gadis ini mungkin sudah menyusut karena hampir terlalu lama mengurangi porsi makannya bahkan tidak jarang dia tidak makan. Sinta kini tertidur kembali sesudah menelan beberapa kapsul yang ada di atas nakas dalam keadaan badannya yang setengah bersandar di kepala ranjang.


Seorang pemuda yang kini berada di sebuah apartemen kini membereskan beberapa pakaiannya yang hendak dibawa ke hotel dan beberapa pakaian yang akan dibawanya pulang ke negara tempat kelahirannya. Dia meminta Aldo datang ke apartemen setelah selesai pergi berkencan dengan seorang gadis untuk memindahkan barang yang telah disiapkannya.


Breeem Breeem Breeem

__ADS_1


Sebuah mobil melaju memecah keramaian kota di negara asing. Pemuda itu mengendarai mobilnya menuju sebuah hotel miliknya.


Adrean kembali bekerja seperti biasanya sambil menunggu kedua asistennya menjalankan tugas yang baru saja diberikan kepada mereka. Pemuda itu bekerja dengan cekatan hingga tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan semua pekerjaannya.


Dreeeeet


Dreeeeet


Dreeeeet


Ponsel yang ada di atas meja kerja Adrean bergetar dan pemiliknya tidak segera mengangkat telpon itu setelah melihat Id yang tertera di ponselnya. Pemuda itu belum terpikirkan dengan jawaban yang akan diberikan pada pemanggilnya.


"Kenapa harus sekarang?" Tanya Seorang Pemuda perlahan yang sebenarnya juga sudah merindukan kepolosan setiap rangkaian kata menjadi kalimat dari gadis itu.


"Kenapa tidak ada Dewi penolong buat ku ini, sungguh merana diriku ini." Lanjutnya.


Ponsel itu terus saja bergetar hingga terdapat beberapa panggilan tak terjawab. Merasa kasihan juga Adrean pada adiknya itu jika tidak dijawab.


Pemuda itu tidak ingin membatalkan niatnya untuk memberikan sebuah kejutan pada Mentari. Hatinya hampir saja luluh ketika melihat panggilan tak terjawab darinya beberapa kali dan untuk kesekian kali.


"Maaf kan Abang mu ini." Batinnya.


Di Kediaman Utama Tuan Richat


Seorang gadis kecil merasa hatinya kini sangat sakit. Abang yang dirindukannya tidak mengangkat telpon darinya.

__ADS_1


"Kenapa muka mu masam begitu?" Tanya Bunda yang baru saja datang menghampirinya.


"Aku tidak apa-apa Bunda." Jawab gadis kecil itu.


"Apa kamu sakit sayang?" Tanya Bunda dengan menyentuh kening Sang Putri dengan punggung tangannya.


"Tidak Bun, aku baik-baik saja." Jawab Mentari.


Sang Bunda melihat di tangan putrinya sedang menggenggam benda pipih yang memang sebelumnya sangat jarang dipakai. Dia jadi menebak siapa yang dihubunginya baru saja.


"Sabarlah tidak usah bersedih seperti itu, nanti pasti akan ada waktunya." Kata Sang Bunda memberikan nasehat pada Putrinya itu.


"Mungkin Dia baru sibuk sekali seperti Ayah." Lanjutnya.


"Seperti kemarin Abang juga menelpon mu bukan?" Tanya Bunda yang hanya dibalas dengan sebuah anggukan dari Sang Putri.


Bunda mengajak Mentari untuk memainkan sebuah permainan untuk mengisi waktu mereka. Tujuannya adalah menghilangkan rasa sedih yang dirasakan oleh Sang Putri walaupun hanya sementara.


Selama Adrean berangkat kembali menuju Nagara tempatnya menimba ilmu keluarga ini masih tetap dengan kegiatan yang sama seperti biasanya. Sang Bunda masih tetap melakukan program kehamilan tetapi entah mengapa sampai saat ini belum juga ada tanda-tanda kehamilan.


(Mungkin rahim bunda bermasalah?"


atau


Rahimnya minta ada teman biar tidak kesepian anaknya nanti seperti kakaknya Mentari. 🤭🤭🤭🤭)

__ADS_1


__ADS_2