Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 107. Berlebihan: 83


__ADS_3

Mereka pun selesai makan langsung menuju rumah. Papa menyiapkan segala sesuatunya. Mama pun segera diberitahu suaminya.


Mama yang saat itu sedang sangat sibuk di kantor baru dua hari ini pun segera menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda beberapa tahun. Ia tidak ingin mengecewakan anak gadisnya itu walaupun ia bukan anak kandungnya.


Pukul 14.00 Mama segera beranjak dari kursi kebesarannya. Ia bersiap untuk pulang.


Keluar dari ruang kerja Sinta berpapasan dengan sahabatnya yang sekaligus asistennya. Sahabatnya itu penasaran karena Sinta keluar dengan tergesa-gesa.


"Ada apa tergesa-gesa? Tanya Reno.


"Aku harus segera menjemput anak ku?" Jawab Sinta.


"Kan elu punya sopir." Kata Reno.


"Dia anak ku bukan anak sopir ku." Jelas Sinta.


"Iya-iya Mama muda." Ledek Reno.


"Trus papa tuanya gak njemput elu lagi hari ini?" Tanya Reno.


"Gue kan bawa mobil sendiri." Kata Sinta.


"Jadi aku nyetir sendiri." Jelas Sinta.


"Iya sampai semua orang disetirin aja sama kamu yang punya SIM." Ledek Reno.


Mereka berdua berbincang dengan candaan sambil berjalan menuju lobi. Di lobi mereka berpisah karena tujuan mereka berbeda.


"Udah dulu Ren. Bicara sama kamu terus gak ada habisnya." Pamit Sinta.


Sinta menuju berjalan menuju tempat parkir. Ia masuk mobil dan menjalankannya pelan saat melewati Reno.


"Bye-bye. Kata Sinta dengan melambaikan tangannya.


"Bye-bye." Balas Reno.


Keluar dari perusahaan ia segera melajukan mobilnya dengan cepat menuju sekolah ketiga anaknya. Di depan sekolah Mama pun turun berjalan menuju halaman. Ketiga anaknya sudah menunggu di taman sekolah.


"Sudah lama nunggunya sayang?" Tanya Mama pada ketiga anaknya.


"Belum Ma." Jawab ketiganya kompak.


Mama berjongkok dan memeluk ketiga anaknya itu dengan penuh kasih sayang.


"Udah Ma lepas, Kami udah besar malu dilihat teman-teman." Kata Axel sambil berusaha melepaskan pelukan Mamanya.


"Kalian udah besar ternyata. Berarti udah bisa jagain Kakak dong." Kata Mama.


"Ya iyalah. Mau adu apa pun kita udah siap mental." Jawab Garda.


Papa dan Mama mereka memang selalu mengingatkan ketiganya untuk menjaga kakak perempuan mereka. Sekuat apapun seorang perempuan pasti akan tumbang juga jika sudah merasa lelah.

__ADS_1


Mama pun berdiri dan mereka berempat berjalan bergandengan hingga memenuhi jalan. Hal ini dirasakan oleh Axel Daffa yang berjalan sama-sama di ujung.


"Emang ini jalan milik moyang kita ya?" Tanya Axel.


"Lho kenapa memangnya?" Tanya Mama.


Mama akhirnya melihat dari ujung ke ujung. Baru sadar kalau jalan hanya dipenuhi mereka.


"Udah ayo kita jalannya agak cepet ya." Perintah Mama.


"Kenapa memangnya Ma?" Tanya Daffa.


"Mama laper." Kata Mama berbohong.


"Lha itu di dalam tadi ada kantin, itu di luar juga banyak warung." Jelas Axel sambil menunjuk tempatnya.


"Gak mau ah jajan. Kakak aja dulu di sekolah jarang banget jajan. Kan malu Mama kalau ketahuan jajan sama anak kecil." Jelas Mama.


"Jangan-jangan Mama uang jajannya dikurangi sama Papa nih." Ledek Axel.


"Udah ah makan di rumah aja lebih higienis dan bergizi." Kata Mama.


Mereka masuk mobil dan pulang. Mobil dikendarai dengan kecepatan sedang dan sangat hati-hati.


Mobil tiba-tiba berhenti. Mama ingin membeli sesuatu. Anak-anak pun terkejut karena direk mendadak.


"Katanya sudah sangat dan sangat lapar kenapa berhenti di tengah jalan sih. Mendadak lagi berhentinya." Kata Garda sambil gedumel mulutnya.


"Salah tahu." Tolak Daffa.


"Huuuu sok tahu." Sorak Axel dan Garda bersamaan.


"Enggak aku gak salah." Sanggah Daffa.


"Coba pikir kalau berhenti di tengah jalan kita pasti di bisa ditabrak orang lain kan?" Kata Daffa membela dirinya sendiri.


"Huuuua ha ha ha." Gelak tawa ketiga anak itu bersamaan.


"Makin pinter aja kamu coe." Puji Axel.


"Ya iya lah belajar serius ya makin tambah pinter." Kata Daffa yang menyombongkan dirinya.


"Udah kalian ini ribut apa'an sih?" Tanya Mama sambil berusaha menepikan mobilnya.


"Kalian tinggal di sini aja ya? ia Mama gak lama kok." Perintah Mama.


Mama langsung beranjak keluar mobil sebelum mendapat jawaban dari ketiga anaknya. Ia tahu watak mereka. Kalau dijawab nanti akan tambah panjang dan gak jadi turun. Mereka cerewet sekali kalau ketiganya sudah berbincang dan bercanda. Melebihi seorang wanita.


Mama berjalan menuju salah satu warung buah. Ia terlihat memilih banyak buah dengan aneka macamnya jenis buah.


"Tumben Mama membeli buah banyak banget." Gerutu Garda.

__ADS_1


"Iya juga gak biasanya. Ini tak normal jumlahnya." Kata Axel.


"Apa jangan-jangan???" Tanya Garda menggantung.


"Udah kita lihat dulu aja kisah selanjutnya." Kata Axel.


"Kisah selanjutnya kepala lo peyang." Protes Daffa.


"Betul betul betul ini bukan sinetron masak pakai kisah selanjutnya." Kata Garda.


"Kebanyakan nonton sinetron sih lue sama Mama." Kata Daffa.


"Ini Novel Bung." Kata Garda.


"Kalau novel apa'an dong?" Tanya Axel.


"Kalau novel mah Bab gaes." Jelas Garda.


"Udah diem Mama udah selesai berbelanja jangan ada yang protes masalah belanjaan. Nanti kita bisa dihisap darah kita." Kata Axel yang panjang kali lebar.


"Emang Mama vampir apa pakai acara hisab darah?" Tanya Daffa si kembar yang paling kecil dengan rasa takutnya.


Belum sempat dijawab oleh kedua saudara kembarnya Mama sudah masuk dalam mobil. Mereka terdiam tak ada yang berani bersuara.


Hening


Hening


Hening


Suasana dalam mobil yang dikendarai pun karena hening tak ada suara jadi terlihat mencekam. Pikiran Mama dan anak-anaknya sudah travelling kemana-mana.


"Apa mereka kecapean dan gak enak badan, hingga mereka harus diam seribu bahasa." Batin Mama.


Mobil kembali melaju ditengah kemacetan kota. Untung saja jalanan tidak begitu padat sehingga tidak begitu memakan waktu lama untuk sampai rumah.


Toko kue terlihat sangat sederhana. Mama menghentikan mobilnya tepat di depan toko tersebut sama seperti menghentikan mobil saat akan membeli buah-buahan.


"Ini Mama kita kenapa sih?" Katanya tadi laper pengen segera sampai rumah. Sekarang malah berhenti-berhenti terus." Gerutu Axel.


"Gue jadi merinding. Bulu kuduk gue berdiri semua jadinya." Kata Daffa.


"Ih serem." Sambung Garda.


"Nah itu juga beli kue banyak banget." Kata Daffa.


"Hari ini memang bener-bener berlebihan beli buah dan kuenya." Kata Garda.


"Udah ah aku gak mau ikut-ikutan uji nyali." Celetuk Daffa.


Mama segera masuk ke mobil. Karena anak-anaknya tidak ada yang bicara sama sekali. Mama langsung pulang tidak mampir-mampir lagi. Mama merasa takut kalau mereka tidak enak badan.

__ADS_1


Di rumah Mama dan ketiga anak kembarnya sudah ditunggu oleh Papa dan Kakak. Ketiga anak laki-laki itu langsung keluar dari mobil.


__ADS_2