
Briyan masih duduk dalam kursi kemudi sambil bersandar. Ia mengirimkan pesan pada seorang wanita yang sangat ia cintai.
Pesan WA
Awas ya!~ ancam Briyan.
Kasian deh ya diusir sama calon mertu~ Dita.
Gak kangen sama calon suami apa? ~ Briyan.
Gak ~ Balas Dita singkat.
Ya udah aku balik aja.ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜. ~ Pamit Briyan.
Jadi Cowok jangan cengeng dong sayang. ~ Cerca Dita.
Nyebelin ~ Kata Briyan.
Gelap malam yang dingin Briyan melajukan mobilnya. Ia sedikit kecewa karena tidak bisa bertemu dengan sang kekasih.
Seorang wanita tua hendak menyebrang jalan. Briyan yang saat itu melihat wanita yang kesulitan untuk menyebrang akhirnya menepikan mobilnya.
Briyan turun dari mobilnya itu hendak membantu wanita tersebut. Wanita itu terkejut dengan kehadiran laki-laki tampan yang sedang menyapanya.
"Ibu mau kemana? Biar saya antar." Kata Briyan.
"Saya mau pulang ke rumah." Kata Wanita itu.
"Rumah Ibu dimana?" Tanya Briyan.
"Di jalan X no. X." Balas Wanita itu.
"Itu alamat rumahnya masih lumayan jauh kata Briyan. Biar saya antar." Kata Briyan.
"Tidak usah, nanti merepotkan anda." Jelas Wanita itu.
"Tidak Bu." Kata Briyan.
"Mari." Ajak Briyan lagi.
Briyan dan Wanita itu berjalan menuju tempat Briyan menaruh mobilnya tadi. Mereka masuk dalam mobil kemudian mengenakan sabuk pengamannya.
Ke duanya duduk dalam diam. Mobil dijalankan dengan perlahan. Sang sopir memiliki tujuan sendiri. Ia ingin menghabiskan waktunya di jalan karena kecewa tidak bertemu dengan calon istrinya.
"Masih ada aja yang berhati baik seperti mu Nak. Mau mengantarkan ku pulang saat aku kesulitan menyebrang jalan." Batin Wanita setengah baya itu.
Wanita itu menunjukkan jalan menuju rumahnya. Tepat di depan rumah mobil itu berhenti.
Rumah yang sederhana terlihat oleh Briyan. Halaman yang cukup luas dengan berbagai macam tanaman hias memperindah lingkungan rumah.
Shiiit
Suara gesekan ban dengan jalan terdengar cukup halus. Ya karena Briyan tadi mengendarainya dengan perlahan.
__ADS_1
Wanita itu mulai membuka sabuk pengamannya. Ia ingin meminta Briyan untuk mampir ke rumah tapi agak sungkan. Setelah keluar baru Wanita itu menawarkannya.
"Terimakasih Nak." Ucap Wanita itu sambil menutup pintu mobil.
"Sama-sama Bu." Balas Briyan.
"Tidak mampir dulu." Tawar Wanita itu.
"Baiklah Bu." Kata Briyan sambil melihat jam tangannya yang memang belum terlalu larut malam.
Briyan keluar dan mengikuti Wanita itu dari belakang. Ia yang berniat hanya mengantarkan wanita itu dan tidak ingin tahu kehidupan wanita itu kini malah sebaliknya.
Ceklek
Suara pintu dibuka oleh seorang laki-laki yang sangat sederhana. Umurnya kira-kira sama dengan Briyan.
"Masuklah Nak." Perintah Wanita itu pada Briyan.
"Duduklah, maaf rumah saya berantakan." Ucapnya lagi.
Briyan akhirnya duduk di ruang keluarga. Ia melihat sekeliling rumah itu banyak mainan anak-anak. Ia pun memakluminya.
Wanita itu pun masuk ke dapur untuk membuatkan minuman dan membawakan makanan ringan ke ruang tamu. Saat itu laki-laki yang membukakan pintu tadi mengikutinya.
"Bu siapa dia?" Tanya laki-laki itu.
"Dia yang menolong ibu tadi saat di jalan." Jawab Wanita itu.
"Jangan bilang tadi ibu hampir kece... " Kata laki-laki itu terpotong karena sudah dihentikan dengan jari telunjuk sang ibu ditempel pada mulut laki-laki itu.
"Temanilah ia Nak, berbincanglah dengannya." Perintah sang Ibu.
Briyan mendengar percakapan sang pemilik rumah. Ia merasa hangat dalam hatinya. Terasa kasih sayang diantara keduanya.
Laki-laki itu pun akhirnya keluar dari dalam sebuah ruangan. Senyum simpul terukir di wajahnya.
"Maaf membuat anda menunggu." Kata laki-laki itu.
"Terimakasih sudah mengantar ibu saya pulang." Sambungnya.
"Sama-sama." Jawab Briyan dengan singkat.
"Saya Diky anak yang tinggal bersama ibu Siti." Kata Diky memperkenalkan dirinya.
"Kalau boleh tahu anda siapa?" Tanya Diky.
"Briyan." Jawabnya singkat.
Kedua laki-laki yang berada di ruang tamu ini menghentikan pembicaraannya ketika Ibu Siti datang dengan membawa minuman dan makanan untuk mereka.
"Silahkan diminum Nak, maaf seadanya." Kata Bu Siti.
"Terimakasih Bu." Kata Briyan.
__ADS_1
"Ibu namanya Bu Siti ya?" Tanya Briyan yang memang tidak memiliki topik pembicaraan.
"Iya maaf tadi belum sempat mengenalkan diri." Kata Bu Siti.
"Kalian hanya tinggal berdua?" Tanya Briyan.
"Huaaaaa huaaaaaaa Huaaaaa." Anggaplah suara tangis anak.
"Maaf sebenar cucu saya menangis." Kata Bu Siti sambil berdiri dan berjalan meninggalkan kedua laki-laki itu menuju kamar cucunya.
Briyan merasa tidak enak. Terlihat dari raut wajahnya itu.
"Minumlah mumpung masih hangat." Kata Diky yang melihat ketidaknyamanan di wajah tamunya.
Briyan menyesap teh hangat itu sedikit demi sedikit. Ia sangat menikmati teh hangat itu.
"Papak." Rengek seorang anak laki-laki dengan suara cedalnya sambil menjulurkan kedua tangannya.
Anak ini ingin bersama Bapaknya. Kedua tangan mungil anak ini mengalung pada leher sang Bapak. Akhirnya ia duduk di pangkuan Bapaknya sambil mengucek kedua matanya.
"Papak capa dia? Apa teman Papak?" Tanya Dito anak laki-laki Diky.
"Ia sayang." Jawab Briyan saat melihat ekspresi seorang ibu dan anak laki-lakinya bingung harus menjawab.
"Oh." Kata Dito sambil bergelayut manja di pangkuan Bapaknya.
"Sepertinya dekat sekali dengan Bapaknya ya Dito?" Tanya Briyan yang mengingat kedekatan dengan Bapaknya dulu.
"Iya, Ibu atu kerja telus gak pelnah pulang." Jawab Dito polos dengan gaya cedalnya.
"Maaf." Kata Briyan lirih merasa bersalah.
"Sayang ikut nenek yuk." Ajak Bu Siti.
"Minum susu dulu. Pasti tadi belum minum susukan? Tanya Nenek.
Dito berpindah ke gendongan Neneknya. Mereka menuju dapur untuk membuat susu untuk Dito.
Bapak Dito akhirnya bercerita mengenai masa lalunya hingga ia tinggal hanya bersama ibu mertua dan anaknya. Ia sengaja bercerita untuk menghilangkan rasa tidak enak di wajah tamunya itu.
Suka rela ia bercerita juga untuk mengurangi rasa yang mengganjal dihatinya semenjak ditinggalkan oleh istrinya. Istri yang meninggalkan keluarganya hanya untuk karier menjadi seorang model terkenal serta karena pria lain.
Mengingat nasib anaknya Diky hampir meneteskan air matanya. Ia menahan agar air itu tidak jatuh lagi dengan menekan sudut matanya.
"Maaf membuat mu mengingat masa lalu mu." Kata Briyan.
"Tidak harusnya aku yang berterimakasih sudah mendengarkan cerita ku." Kata Diky.
Ibu Siti keluar dari dalam dapur dengan menggendong cucunya. Setelah Ibu Siti duduk Briyan berpamitan karena waktu memang sudah larut malam.
**** *** *** *** ***
Maaf - Maaf beribu maaf Authornya baru sempat Updete setelah beberapa hari.
__ADS_1
Buat ibu-ibu rumah tangga pasti paham masalah waktu.