Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 85. Alfian baru menyadari


__ADS_3

Alfian baru menyadari kalau gadis itu tadi naik sepeda motor. Ia melihat kepergian gadis itu menuju tempat parkir motor.


Alfian yang terus memandangi punggung gadis itu didasarkan oleh suara seseorang. Gilang lah yang membangunkannya dari pandangan tadi.


"Eheem eheem." Suara Gilang berdehem.


"Elu kenal sama itu cewek?" Tanya Gilang setelah Alfian menoleh padanya.


"Kok aku lihat tadi elu berbincang lama banget sama itu cewek." Lanjutnya sebelum Alfian menjawab.


Alfian memang tidak akan menjawab pertanyaan itu tadi. Ia bukan orang yang suka banyak bicara apa lagi pamer tentang seorang wanita.


"Cantik juga itu cewek, aku harus dapatin itu cewek. Kalau elu kan banyak itu cewek yang cinta sama elu mereka kaya-kaya lagi. Cewek-cewek yang maksur elu aja naiknya aja mobil mewah. Sedangkan itu cewek barusan hanya naik motor. Masak elu juga demen gak dong." Jelas Gilang yang sangat panjang sekali.


Alfian hanya mendengarkan ocehan temannya Gilang sambil berjalan menuju tempat parkir. Mereka berpisah di tempat parkir.


Hari ini ia langsung menuju perusahaan karena memang sudah tidak ada jadwal kuliah. Hanya tinggal menghitung minggu mereka akan menikah hingga Alfian harus fokus menyelesaikan tugas kantornya.


Persiapan untuk pernikahan tidak perlu calon mempelai yang harus turun tangan. Kekuatan uang bisa menyelesaikan semuanya dengan mudah dan cepat.


Ziko sudah menunggu di ruangannya (masih ingat kan tentang Ziko teman Alfian pleboy tapi masih dalam batas normal). Ziko selaku asistennya bisa memisahkan antara kepentingan pribadi dan perusahaan.


Monic adalah pacar Ziko yang bekerja sebagai sekretaris sudah pacaran lumayan lama. Mereka belum ada keseriusan untuk menuju kepelaminan. Tapi rasa saling percaya ada pada hati mereka sangatlah dalam.


Alfian telah sampai di perusahaannya tanpa ada yang tahu kapan ia telah sampai. Ia langsung duduk di kursi kebesarannya dengan sangat gagahnya.


Tut Tut Tut


Anggaplah bunyi telp. penghubung antara ruang Bos dengan Asistennya berbunyi.


"Oh May Good." Teriak Ziko.


"Tadi ditungguin lama gak dateng, sekarang ngawetin orang." Umpatnya kemudian.


"Bisa keruangan ku sekarang." Pinta Alfian dari ruangannya.


"Ok Baiklah Bos." Balas Ziko.


Tok tok tok


Suara pintu ruang kerja Alfian diketuk pelan.


"Masuklah." Pinta Alfian.


"Kenapa Bos panggil saya? Ada yang penting kah?" Tanya Ziko berbondong bondong sebelum dijawab.


"Kumpulkan seluruh berkas kerjasama dalam sebulan ini. Saya akan memeriksanya." Perintah Alfian.


"Ok baiklah." Jawab Ziko


Ziko pergi meninggalkan ruang kerja atasannya. Ia menuju ruang kerjanya dan menghubungi beberapa karyawan yang masih memegang file yang belum berada di tangannya untuk segera menyerahkan pada asistennya itu.


"Bos yang bener aja ini kerjaan banyak banget sebulan. Emang apa yang terjadi sih. Kenapa gak cerita. Pusing aku jadinya. Bisa-bisa sebulan ini aku waktu liburpun harus ada bersamanya. Gak jadi pacaran ini." Keluh Ziko dalam hati.


Beberapa Karyawan yang tadi sempat dihubungi Ziko pun segera menyerahkan semua berkas yang perlu mereka serahkan. Ziko memeriksa semua berkas itu terlebih dahulu barulah ia menyerahkannya pada atasannya itu.


Tok tok tok


Pintu ruang kerja Alfian diketuk oleh asistennya.


"Masuk." Perintah Alfian.


Ziko pun membuka pintu ruang kerja atasannya. Ia menyerahkan semua berkas yang diperlukan dalam sebulan ini.


"Duduk aja dulu Zik." Perintah Alfian.


"Bos apa tidak salah berkas sebulan ini?" Tanya Ziko setelah ia duduk di depan Alfian.


"He'em." Jawab Alfian.


"Sejak tadi saya sudah menunggu anda, katanya jadwal kuliah cuma pagi, tapi ini kok siang bolong baru sampai di kantor. Apa ada masalah?" Selidik Ziko.


"Ya masalahnya kamu." Jawab Alfian.


"Kok bisa saya sih bos?" Tanya Ziko tak percaya.


"Apa masalah yang ada di saya? Kalau saya yang bermasalah apa itu masalahnya?" Tanya Ziko beruntun ingin tahu.


Ada ketakutan pada diri Ziko setelah mendengar kata masalah padanya. Ia tidak mau mengecewakan orang yang telah membantunya selama ini.


Alfian melihat sahabat sekaligus asistennya itu sedang berpikir sesuatu tentang masalah pada dirinya. Tidak seperti biasanya ia menghadapi semua masalahnya dengan tenang kali ini terlihat ia sedikit melamun.


"Saya mohon maaf bila saya bermasalah selama bekerja dengan Bos. Tapi saya mohon jangan pecat saya." Pinta Ziko sambil menundukkan kepalanya karena ia pun tak tahu apa kesalahannya.


Hening dalam ruangan kerja Alfian cukup lama. Ziko pun tak berani membuka suaranya. Ia yang biasa banyak bicara kini terdiam sepi.


"Monic hari ini tidak terlihat, kemana Dia?" Tanya Alfian.


"Sakit Bos." Jawab Ziko dengan lesu.


"Bukan sakit hati kan?" Ledek Alfian.


"Rasain gue kerjain, makanya pacaran jangan lama-lama." Kata Alfian dalam hati dengan penuh kemenangan.


"Maksut Bos?" Tanya Ziko.


"Sakit karena kamu dua'in." Jelas Alfian.


"Siapa sih yang gak tahu kamu? Buaya Darat." Lanjut Alfian.


Suasana dalam ruangan pun hening, tidak banyak perbincangan diantara mereka. Alfian berjalan menuju sofa yang ada di ruangannya itu.


"Ziko duduklah di sini." Pinta Alfian.


Ziko berjalan mendekati atasannya itu dengan tubuh yang sudah lemas. Ia duduk agak jauh karena takut melakukan kesalahan lagi.


"Mendekatlah sini." Kata Alfian sambil menepuk sofa agar duduk tidak jauh darinya.


Ziko bergeser tempat duduk untuk duduk di dekat Alfian. Perasaannya sungguh tak karuan amboradul dibuat takut oleh atasannya itu.


"Zik, sudah berapa lama kamu pacaran dengan Monic?" Tanya Alfian dengan menepuk punggung Ziko sekali.


Perasaan Ziko menjadi lebih tenang dengan tepukan dari sahabatnya itu. Perasaan akan merasa bersalah pun berangsur menghilang.


Alfian adalah orang yang penuh dengan kehangatan. Ada berbagai cara yang bisa ia gunakan untuk menenangkan setiap sahabatnya yang sedang dalam kegelisahan ataupun dalam keterpurukan.


Saat marah Alfian pun bisa bertindak diluar batasnya. Dalam kondisi seperti itu tak ada yang bisa menenangkannya, bahkan keluarga terdekatnya sekalipun.


"Sejak masalah yang dulu menimpa adik kelas kita dulu itu." Jawab Ziko.


"Masak mau pacaran terus, gak ada niatankah untuk kejenjang yang lebih serius." Nasehat Alfian.


Kata-kata Alfian kali ini membuat Ziko sadar kalau ia dikerjain oleh sahabatnya sendiri. Ziko pun juga merasa kata-kata sahabatnya itu ada benarnya.


"Aku ......" Kata-kata Ziko terpotong ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya itu.


Lidahnya terasa kelu untuk bercerita apa yang mengganjal dihatinya sampai saat ini. Ia pun menundukkan kepalanya dengan pikirannya sendiri.


Melihat Ziko yang menunduk, Ia pun mengalihkan pembicaraannya. Ia tidak mau melihat sahabatnya itu bersedih hati.


♥️♥️♥️


113


Melihat Ziko yang menunduk, Ia pun mengalihkan pembicaraannya. Ia tidak mau melihat sahabatnya itu bersedih hati.


"Jadi tadi sengaja ngerjain aku Bos besar. Awas saja ya aku akan ngerjain kamu juga kalau sudah saatnya." Batin Ziko.


"Maaf sobat aku tadi ngerjain kamu." Kata Alfian dengan senyumnya.

__ADS_1


"Aku gak mau kamu dan Monic pacaran sangat lama. Kita gak tahu nantinya ada setan yang siaga. Walaupun aku tahu biarpun kamu seorang buaya darat kamu gak mungkin bertindak lebih jauh." Nasehat Alfian yang sangat panjang.


"Ada masalah kah jika kalian segera menikah?" Tanya Alfian kemudian.


Ziko masih tidak bisa berkata. Lidahnya kelu untuk berucap. Ia tahu kalau Alfian akan selalu membantunya. Tapi rasa tidak enak hati semakin hari semakin ada dalam dirinya.


"Sudah siang, waktunya istirahat. Ayo makan siang bersama ku." Ajak Alfian.


"Baiklah." Kata Ziko yang setuju ikut makan bersama atasannya.


Kedua laki-laki ini pergi meninggalkan ruang kerja Alfian menuju kantin perusahaan. Ziko berjalan mengekor dibelakangnya Bosnya itu.


Di kantor ia selalu menghormati Alfian sebagai atasannya sehingga ia berjalan di belakangnya. Sikap Ziko seperti itu membuat Alfian semakin menghormati dan salut padanya.


Keduanya saat berjalan bersama seperti itu selalu mengundang kekaguman bagi kaum hawa. Alfian dan Ziko memang memiliki paras yang sangatlah tampan dan menawan. Mereka mampu menghipnotis semua kalangan.


*** Di Kantin ***


Alfian dan Ziko sampai di kantin. Semua mata tertuju pada mereka. Suasana kantin menjadi hening. Tidak ada suara gaduh seperti biasa para karyawan.


Alfian melihat kondisi di kantin tersebut penuh dengan antrian yang terkadang membuat para karyawan kehabisan waktu untuk istirahat dan makan. Ia mendekati tempat makan tersedia yang diikuti oleh asistennya.


"Tuan mau makan apa?" Tanya sang koki.


"Kamu pesan apa Zik?" Tanya Alfian.


"Aku sama dengan Bos saja." Balas Ziko.


Alfian berjalan menuju salah satu meja. Tak berapa lama seorang pelayan menawarkan mereka untuk duduk di salah satu ruangan VIP yang ada di kantin itu.


"Tuan silahkan di ruangan sebelah sana." Pinta Pelayan.


"Tidak usah kami di sini saja."


Alfian dan Asistennya duduk di dekat taman. Mereka ingin menghirup udara segar di sana.


Tak berapa lama pelayan datang dan mencatat pesanan Alfian. Sambil menunggu pesanan itu datang Alfian memberikan penilaian terhadap kantin perusahaannya.


"Menurut mu apa yang perlu diperbaiki di sini Zik?" Tanya Alfian.


"Kenapa Tuan bertanya seperti itu? Tanya Ziko.


"Sopan aku tanya belum dijawab malah balik tanya." Tegur Alfian sambil tersenyum.


Pelayan pun datang membawa beberapa makanan yang mereka pesan. Mereka pun menghentikan perbincangan tersebut.


"Silahkan dinikmati Tuan." Kata Pelayan.


"Terimakasih Mbak." Kata Ziko ramah.


"Sama-sama Tuan." Balas Pelayan.


Pelayan itu berbalik meninggalkan Alfian dan Ziko. Mereka menikmati makanan yang mereka pesan tanpa bicara.


Makan siang kali ini membuat suasana kantin sunyi. Kariyawan disana tidak berani bertingkah. Biasanya banyak sendau gurau kali ini mereka sangat canggung.


Alfian mengambil tisu di atas meja di depannya. Ia mengusap mulutnya selesai makan dan minum di kantin itu. Ziko berjalan menuju kasir untuk membayar semua pesenannya.


Untuk semua pembayaran Ziko sudah diberi kartu debit dan kartu kredit milik Alfian. Tiap kali Alfian memintanya untuk membelikan sesuatu atau kebutuhannya tidak setiap saat harus memintanya. Ziko pun tidak diijinkan menggunakan kartunya sendiri jika sedang bersama dengan Alfian.


"Sudah Tuan." Kata Ziko menghampiri Bosnya setelah membayar.


Alfian langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju lift. Ia segera menuju lantai paling atas tepatnya ruang kerjanya.


"Langsung keruangan ku sekarang saja." Kata Alfian yang memang masih dalam waktu istirahat.


"Sebenarnya ada apa sih Bos?" Tanya Ziko.


"Udah jangan banyak ngomong!" Tegas Alfian.


Keluar dari lift mereka berdua langsung menuju ruang kerja Alfian. Ruang kerja ini hanya bisa dibuka dengan sebuah kartu dan no PIN.


Ziko langsung duduk di kursi yang terletak di depan kursi kebesaran Alfian.


"Siapa suruh kamu duduk di situ." Tegur Alfian.


"Biasanya juga duduk di sini Bos." Kata Ziko sambil berdiri dan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


"Udah hangan banyak tanya atau mau aku potong gaji!" Perintahnya.


"Hari ini ada apa dengan sahabatku yang satu ini." Setan apa yang memasukinya hingga bertindak tidak seperti biasanya." Kata Ziko dalam hati.


Alfian memang tidak suka dibantah oleh siapapun. Banyak rekan bisnis atau partner kerjanya merasa sungkan karena ketegasnnya dalam bekerja. Ia tidak pernah gagal dalam memenangkan tender.


Setiap kebijaksanaan yang Alfian ambil selalu mementingkan kepentingan orang banyak. Hal itulah yang membuat banyak orang menghormatinya.


"Beberapa hari lagi acara pernikahan Asisten Tuan Briyan, kita dapat undangan. Kita berangkat bersama. Ok." Kata Alfian.


"Jemput aku di rumah." Sambungnya lagi.


Aku ajak kamu karena aku gak mau dijadikan sopir sama bokap gue Zik." Kata Alfian dalam hati.


"Lha Bos, aku kan berangkat sama Monic." Kata Ziko.


"Potong gaji." Peringat Alfian.


"Haduh jadi Bos enak banget tinggal main ancam saja." Kata Ziko dalam hati.


"Tapi Bos masak besuk kita jeruk makan jeruk." Jelas Ziko.


"Gak usah protes, kamu bisa pasangan mu juga kali." Jelas Alfian.


"Bos masak kamu mau jadi obat nyamuk?" Tanya Ziko.


Alfian sudah tidak mau menerima protes asistennya. Ia mengambil beberapa beberapa berkas yang ada di meja dan diserahkan pada asistennya itu.


"Kerjakan itu saja dari pada banyak protes." Perintah Alfian.


Berkas-berkas yang diterima Ziko itu adalah berkas yang sangat penting. Terjadi sedikit kesalahan bisa fatal. Hingga Alfian hanya mempercayakannya pada Ziko.


Sopir sang Deddy baru pulang kampung karena orang tuanya sedang sakit, hingga akhirnya ia harus pulang ke rumah orang tuanya. Sopir kepercayaan keluarga Alfian memang sudah sangat lama bekerja di keluarga mereka. Ia tidak pernah pulang kampung sebelumnya selama bertahun-tahun.


"Bagaimana menurut mu kantin tadi?" Tanya Alfian penuh perhatian.


"Maksut Tuan?" Tanya Ziko.


"Menu, pelayanan kondisi, dan yang lain sebagainya." Jelas Alfian.


"Pelayannya cukup cantik." Puji Ziko.


"Dasar mata jaring." Kata Alfian memotong penjelasan Bosnya.


"Emang benerkan kan Bos? Cantik dan masih muda. Namanya juga wanita." Jelas Ziko.


Alfian hanya menggeleng-gelengkan kan kepala nya perlahan. Ia tahu sifat sahabatnya yang satu ini.


Beberapa kalimat untuk memperbaiki kantin yang ada di kantornya terucap dari mulut Alfian. Ia tidak ingin karyawan mendapatkan pelayanan di kantor itu merasa tidak nyaman hingga mereka lebih memilih jajan di luar.


Berbagai kebijakan yang Alfian inginkan adalah memulainya dari dalam perusahaan. Jika kenyamanan di dalam perusahaan tercipta maka semua kariyawan pastinya akan bekerja dengan sungguh-sungguh.


♥️♥️♥️


114


Berbagai kebijakan yang Alfian inginkan adalah memulainya dari dalam perusahaan. Jika kenyamanan di dalam perusahaan tercipta maka semua kariyawan pastinya akan bekerja dengan sungguh-sungguh.


Berbagai macam kata terucap dari mulut Alfian untuk memperbaiki kinerja di perusahaan. Hari ini asistennya mulai memperbaiki kinerja di kantin perusahaan.


"Bos ku-bos bos ku sampai hal sepele ini harus diperbaiki, bagaimana tidak semua kariyawan jatuh cinta padanya. Maaf ralat bekerja dengannya." Kata Ziko sang asisten.

__ADS_1


"Dalam waktu dekat ini aku akan harus bisa menyelesaikan pekerjaan di kantor. Sebulan lagi aku akan melepas masa lajang ku. Untuk itu aku meminta segala sesuatu berkas rencana sebulan ke depan." Jelas Alfian yang sangat panjang.


"Apa bos?" Kata Ziko sambil menatap atasannya dengan mata membulat sempurna tak percaya.


"Iya, aku akan bekerja dari rumah (gegara COVID -19 ni harus bekerja dari rumah.😁😁😁 ) selama aku di rumah tolong beri tahu aku perkembangan perusahaan ini." Jawab Alfian.


"Secepat itu kah Bos harus melepas masa lajang mu? Kalian gak kecelakaan kan?" Selidik Ziko.


"Kecelakaan Apa'an? Emang naik kendaraan atau mobil? Enak aja." Jelas Alfian.


"Ntar gaji aku tambahan di bulan ini kalau kerja'an kamu bener." Tambah Alfian.


"Gak jadi dipotong ini Bos gaji aku?" Tanya Ziko.


"Mau aku sunat gaji kamu?" Tanya Alfian dengan senyum smirknya.


"Lha kayak burung tak bertulang aja disunat?" Protes Ziko.


"Aku kan udah pernah disunat Bos. Kalau disunat lagi ntar jadinya pendek kayak ulet daun yang pendek. Kalau wanita ku tahu dia nanti gak mau nikah lagi sama Aku." Protes Ziko lagi.


Setelah perbincangan yang menjelaskan alasan Alfian harus bekerja di rumah Ziko pun kembali keruang kerjanya. Senang ia mendengar berita bahagia kalau atasannya akan segera menikah dan gaji bulan ini akan ditambah. Tapi sayangnya ia juga harus bekerja ekstra.


Di dalam ruangan Ziko segera semua pekerjaan dilakukan dengan cekatan. Ia tidak mau menunda-nunda pekerjaan.


Alfian menyukai asistennya itu karena rajin, cekatan, pintar dan memiliki tanggung jawab yang besar terhadapnya. Ia pun sudah lama mengenal karakter dan kepribadiannya sebagai sahabatnya hingga semua ia percayakan pada sahabatnya itu.


*** Kantor Adrean ***


Beberapa hari lagi adalah acara pernikahan Briyan dan Dita. Briyan sangat lebih bersemangat lagi dalam menyelesaikan tugasnya.


Tok tok tok


Pintu ruang kerja Adrean di ketuk oleh asistennya. Tak berapa lama pemilik ruangan mendengar ketukan pintu tersebut.


"Masuk lah." Perintah pemilik ruangan.


Briyan membuka pintu ruangan itu dengan sebuah senyuman kebahagiaan. Adrean sebagai pemilik perusahaan menanyakan kepentingannya, karena ia tidak merasa memanggil asistennya itu.


"Ada apa Bry?" Tanya Adrean.


"Saya mau minta cuti Tuan." Kata Briyan.


"Baiklah, selama ini pekerjaan mu sangat lah bagus. Kamu mau berapa lama cuti aku persilahkan." Kata Adrean.


"Terimakasih Tuan, ini laporan yang anda minta beberapa hari lalu." Kata Briyan.


"Ok. Terimakasih." Kata Adrean.


"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan." Pamit Briyan.


Briyan meninggalkan ruang kerja atasannya itu. Ia segera menyelesaaikan pekerjaannya di ruangannya itu.


Untung saja hari ini Briyan bisa menyelesaikan semua tugas dari Adrean. Besuk ia bisa mulai cuti.


Hari sudah semakin sore. Waktunya semua pekerja pulang ke rumah mereka. Kemacetan biasa terjadi.


Bapak Briyan sudah menunggunya di apartemen anaknya Briyan sejak seminggu yang lalu. Ia juga menantikan hari bahagia anaknya pertamanya itu. Karena usianya ia ingin segera mendapatkan cucu.


Ceklek


Suara pintu apartemen dibuka oleh pemiliknya. Orang yang ada di dalam ruangan itu sudah tahu siapa yang datang.


"Assalamualaikum." Sapa Briyan.


"Wa'alaikumsalam." Jawab orang tua Briyan.


"Baru pulang?" Tanya Bapak Briyan.


"Iya." Jawab Briyan sambil berjalan menuju sofa untuk duduk bersandar melepaskan lelah.


Beberapa saat Briyan bangun dari tempat duduknya menuju kamar untuk mandi. Karena waktu sudah hampir magrib.


Setelah sholat magrib Briyan menggunakan pakaian kaos dengan celana jens. Ia terlihat sangat tampan dan dewasa.


"Mau kemana?" Tanya Bapak.


"Mau ke rumah Dita." Jawab Briyan.


"Jangan pergi kemana-mana tinggal menghitung hari pernikahan mu." Peringatan Bapak.


"Lagian ibunya Dita pasti tidak mengijinkan mu bertemu pastinya." Lanjut Bapak.


"Gak mungkin lah Pak. Sebentar lagi kan acaranya masak dilarang." Kata Briyan gak percaya.


Briyan tanpa memperdulikan kata-kata Bapaknya langsung meninggalkan apartemennya itu. Ia sangat antusias sekali bertemu dengan calon istrinya.


"Aku berangkat dulu Pak." Pamit Briyan.


"Baiklah. Hati-hati." Peringat Bapak.


"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan mereka setelah menikah." Batin Bapak saat anaknya pergi.


Perjalanan ke rumah calon istri membuatnya hatinya sangat senang. Dalam perjalanan itu ia terus bersenandung ria.


Di halaman rumah Dita segera Briyan memarkirkan mobilnya. Ia di sambut oleh calon ibu mertuanya.


Dita yang melihat kedatangan Briyan ingin segera menemuinya. Tapi dicegah oleh ibunya itu.


"Mau kemana Nak?" Tanya Ibu.


"Itu Mas Briyan datang aku akan menemuinya." Jawab Dita.


"Calon pengantin tidak boleh bertemu sayang." Peringat ibu.


"Kenapa Bu beberapa hari lagi kan udah jadi pasangan hidup ku." Protes Dita.


"Ingat adat sayang. Kalian itu masih dalam pingitan. Katanya kalau bertemu bisa ada aja yang terjadi." Jelas Ibu.


"Lha itu Mas Briyan masak gak ditemui." Kata Dita.


"Biar ibu yang menemuinya." Kata Ibu.


"Ibu itu apa-apa'an sih. Ini itu jaman apa masih percaya hal yang seperti itu." Gerutu Dita dalam hati.


(Orang yang sedang dimabuk cinta itu apa saja bisa merubah sifat seseorang. Orang yang memiliki sifat dewasa pun bisa menjadi kekanak-kanakan betul kan? Contohnya aku sendiri).


Ibu keluar dari dalam rumah yang cukup sederhana itu, tetapi cukup nyaman untuk tempat tinggal. Ia tersenyum ramah pada Briyan dan menyapanya.


"Assalamualaikum." Sapa Briyan.


"Wa'alaikumsalam." Balas Ibu.


"Ada apa Nak Briyan?" Tanya Ibu lagi.


"Saya ingin bertemu Dita Bu." Pinta Briyan.


"Maaf Nak Briyan kalian belum boleh bertemu sampai saatnya tiba. Ini kalian masih dalam pingitan." Jelas Ibu.


"Begitu ya Bu." Balas Briyan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Baiklah Bu, saya pamit dulu kalau begitu." Pamit Briyan.


Saat itu Dita pun mengintip dari jendela kaca dengan membuka sedikit gorden itu. Ia pun tersenyum dan menjulurkan lidahnya. Mengejek karena diusir secara halus.


"Assalamualaikum." Pamit Briyan.


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya Nak." Balas Ibu.


Briyan berjalan meninggalkan rumah itu menuju mobilnya. Di dalam mobil yang terlihat samar-samar ia mengambil benda pipih di dalam saku celananya.

__ADS_1


__ADS_2