
Seorang Pemuda sedang menunggu sahabatnya yang sedang mandi. Dia merasa rindu dengannya walaupun hanya seminggu mereka berpisah.
Ceklek
Knop pintu kamar diputar tidak lama pintu pun dibuka oleh seorang pemuda. Adrean telah selesai membersihkan dirinya, kini badannya sudah terasa lebih segar.
"Gimana Bro kabar lo?" Tanya Aldo singkat saat Pemuda dengan rambutnya yang masih basah itu berjalan mendekatinya.
"Fine". Jawab Adrean singkat.
"Tambah ganteng aja." Puji Aldo.
"Sudah lama kalau itu." Jawab Seorang Pemuda sedikit menyombongkan dirinya.
"Iya-iya, kalau gak ganteng mana mungkin banyak cewek lari dari elu." Kata Aldo kemudian.
"Parah kamu tu, harusnya aku mulai sekarang memang harus hati-hati sama ucapan ku." Ucap Adrean menggelengkan kepala perlahan.
"Maksut mu?" Tanya Aldo.
"Ya iya lah, setelah kamu puji aku Trus kamu jatuhin aku sedalam inti bumi." Kata Adrean.
"Iya aku minta maaf." Pinta Aldo.
"Tugas ku sudah selesai, aku pamit dulu saja." Kata Aldo saat akan meninggalkan sahabatnya itu.
"Terimakasih hanya itu yang bisa aku ucapin pada mu." Kata Adrean yang selalu merendahkan diri dihadapan semua orang.
Pemuda itu menuju kamar setelah kepergian sahabatnya.Dia langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang cukup kecil.
Tempat tidur yang tidak seluas tempat tidur yang ada di kediaman utama Tuan Richat bahkan lebih kecil dari tempat tidur yang dipakai oleh Asisten Rumah Tangga disana. Tempat tidur itu hanya muat oleh dirinya seorang tapi buat Pemuda itu sudah cukup nyaman dengan tempat tidur itu.
Pemuda itu sebenarnya tidak lupa untuk memberi kabar pada keluarga yang ada disebrang. Waktu yang tidak memungkinkan untuk Adrean menghubungi mereka karena sudah sangat larut malam dan adanya perbedaan waktu.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Di Kediaman Utama Tuan Richat
Mentari bersama kedua orang tuanya sudah sampai di kediaman utama. Mereka tidak kemana pun setelah mengantarkan seorang Pemuda ke bandara.
"Mentari duluan ke kamar ingin bobok sudah ngantuk." Kata gadis kecil berlari perlahan menggunakan tangga menuju lantai atas menuju kamarnya.
"Hati-hati sayang." Pesan Sang Bunda saat putrinya masih berada di anak tangga.
"Benar gak mau diantar?" Tanya Sang Ayah meyakinkan Sang Putri.
Gadis kecil itu hanya menggelengkan kepala perlahan. Kedua orang tuanya bisa melihat sebuah kesedihan di raut wajah Sang Putri.
Mentari segera masuk ke dalam kamarnya dengan desain anak yang sangat nyaman. Dia segera membersihkan diri dan berganti pakaian tidur.
Mentari sengaja meletakkan ponsel di nakas menanti seorang pemuda memberikan kabar padanya. Lama ditunggu tapi tidak kunjung ponsel itu bersiul hingga dia pun tidur dengan memiringkan tubuhnya.
Butir bening akhirnya luruh juga dari kedua matanya. Gadis itu memang memejamkan matanya saat ini tetapi dia tidak bisa tidur.
Bunda merasa khawatir dengan Sang Putri yang tidak seperti biasanya itu. Dia berjalan menyusul ke kamar Sang Putri.
Tap
Tap
Tap
Ceklek
Suara Knop pintu diputar terdengar kemudian pintu itu terbuka walaupun kecil suaranya tapi masih bisa didengar oleh Mentari. Wanita itu menatap tubuh kecil yang sedang berbaring di tempat tidur membelakangi arah pintu masuk kamar.
Ruangan kamar Sang Putri dengan lampu tidurnya sudah terlihat redup wanita paruh baya itu berjalan mendekat ke tempat tidur Sang Putri. Ditatapnya punggung putrinya yang membelakanginya saat ini.
Sang Bunda tahu kalau Mentari sebenarnya belum tidur. Wanita paruh baya itu duduk di sisi tempat tidur cukup lama.
Gadis itu juga tahu kalau Sang Bunda sedang menunggunya dan merasa khawatir dengan keadaannya saat ini. Ingin rasanya memegang bahu Sang Putri tapi takut mengganggunya.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu berdiri perlahan hendak meninggalkan kamar itu. Dia memberikan kesempatan pada Sang Putri untuk sendiri.
Wanita paruh baya itu menemui suaminya di ruang kerja setelah keluar dari kamar Sang Putri tetapi seperti biasa sebelumnya pergi ke dapur untuk membuatkan secangkir minuman hangat. Dia jadi ikut merasa sedih dengan kondisi Sang Putri.
"Sayang, tidak kah anak itu ingat dengan kita?" Tanya Bunda setelah masuk dan meletakkan minuman di meja kerja suaminya itu.
"Pasti dia tidak akan lupa, tenanglah." Jawab Suaminya dengan santainya.
"Buah jatuh tidak akan akan jauh dari pohonnya." Lanjutnya.
"Lihatlah perbedaan waktu yang terjadi antara negara kita dengan di negara ini tempat anak itu sekarang. Dia takut mengganggu waktu istirahat kita di sini." Jelas Sang Suami dengan menunjukkan sebuah perbedaan yang sangat jelas.
Wanita paruh baya itu sekarang mengerti dengan alasan suaminya. Pilihan yang tepat dan bijak jika mengangkatnya menjadi anak.
Sang Bunda tidak mau menggangu suaminya yang sedang menyelesaikan pekerjaannya hari ini yang tertunda. Dia kembali ke kamarnya sendiri duduk di sofa melihat berita hari ini sambil mengerjakan pekerjaan kantornya.
Mentari sudah terlelap dalam mimpinya karena sudah capek menangis tanpa suara. Kedua pasutri itu juga sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Mereka bukannya tidak mau memperhatikan Sang Putri tetapi memberikan kesempatan untuk putrinya itu sendiri terlebih dahulu. Kondisinya yang tenang akan lebih mudah memahamkan segala sesuatunya pada Mentari.
Matahari pagi belum menampakkan diri, tetapi seorang gadis kecil bernama Mentari sudah tampak menampakkan diri dengan kesibukan kesehariannya. Dia mulai mengambil air wudhu dan melaksanakan Shalat Tahajud dengan mata sedikit bengkak.
Gadis itu membereskan mukenanya kembali setelah selesai melaksanakan kewajibannya itu. Mentari selesai berdoa langsung menyambar benda pipih yang dibiarkannya berada di atas nakas semalaman.
Mentari belum melihat notifikasi pesan apapun di benda pipih itu. Hatinya kecewa dan ditaruh kembali di tempat ponsel itu semula.
Dreeeeet
Dreeeeet
Dreeeeet
Benda pipih yang baru saja diletakkan kembali oleh pemiliknya itu bergetar saat Mentari akan melangkahkan kaki keluar dari kamar. Gadis itu kembali dan melihat notifikasi yang tertera di ponselnya.
Wajahnya terlihat berseri-seri saat ini ketika melihat pengirim pesan adalah seseorang yang ditunggu-tunggunya semalam. Tirai kamar dibuka perlahan sambil membaca isi pesan yang masuk baru saja.
__ADS_1
Mentari sudah terbiasa membersihkan kabarnya sendiri setelah bangun tidur. Hari ini juga begitu dia tidak lupa melakukannya walaupun saat ini hatinya sangat bahagia.
Pesan yang masuk baru dibalas ketika gadis kecil itu sudah selesai dengan pekerjaannya. Mentari mulai duduk di sofa dan melihat acara kartun yang ada di TV setelah mandi.