Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 71. Papa sudah berada di ruang tengah


__ADS_3

Papa sudah berada di ruang tengah menunggu tamu yang akan datang. Ia mengawasi ketiga anak laki-laki nya yang tengah bermain dengan asiknya.


Papa meminta ketiga anak laki-lakinya untuk segera mandi. Mama sudah menyiapkan pakaian untuk mereka juga.


"Emangnya siaps yang mau dateng sih Pa?" Tanya Garda sangat antusias.


"Ada deh." Jawab Papa sambil tersenyum


Alfian dan keluarganya sudah bersiap untuk berangkat malam ini. Mereka berangkat tengah malam dengan sopir pribadi mereka. Mereka berharap bisa sampai pada pagi hari ini.


Alfian duduk disamping sopir kemudi sedangkan kedua orang tuanya di belakang sopir. Alfian menatap keluar kaca mobil dengan perasaan yang amboradul (berantakan). Kedua orang tuanya terlihat sangat bahagia.


Ziko menyusul bersama dengan Monic beberapa saat sesudah keberangkatan Alfian. Ia juga diantar oleh sopir pribadi Ziko.


Perjalanan panjang itu akhirnya berakhir juga. Keluarga Alfian dan kedua temannya sampai di Villa sekitar pukul 10.00.


Suara mobil terdengar sudah terparkir di halaman depan villa. Alfian merasakan semakin sesak dadanya, begitu pula dengan Mentari. Mereka belum tahu akan bertunangan dengan siapa.


"Assalamualaikum." kata Alfian dan rombongannya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Adrean.


 


**Deg**


 


Alfian mendengar suara itu. Seperti tidak asing baginya. Ia pun segera keluar dari mobil ingin mengetahui suara siapa.


"Om." Teriaknya Alfian


"Hai Boy apa kabar?" Tanya Alfian.


Fix jelas sekarang ia akan bertemu dan bertunangan dengan siapa. Hatinya sekarang sudah lega.


"Tuan rumah belum mempersilahkan kita masuk. Kenapa kau nyelonong duluan." Cerocos Deddy Alfian.


"Kemarin aja wajah gak ada manis-manisnya." Lanjutnya.


Begitulah Sang Deddy bisa humoris dengan keluarganya. Alfian tahu ini kejutan yang dibuat sang Deddy yang selalu mengerjainya sejak kecil.


"Maaf ya Tuan tolong suara spikernya dikecilin sedikit, nanti bisa membangunkan Tuan Putri." Kata Adrean.


"Salah Tuan Adrean yang membangunkan Tuan Putri bukan suara spiker yang keras ini, tapi ciumannya." Kata Deddy.


Mommy yang mendengar candaan suaminya itu mencubit perut suaminya. Sebab suaminya itu selalu berpikiran mesum padanya dari awal menikah sampai sekarang.


Axel, Garda, dan Daffa pun yang biasanya berteriak saat Kak Alfian datang kali ini pun mereka menyambut dengan mengurangi sedikit suaranya. Ia sudah diberitahu oleh Sang Papa semuanya tadi pagi kalau ini adalah kejutan buat sang kakak.


Mama menggandeng putrinya itu menuju lantai bawah. Semua mata tertuju padanya. Ia terlihat sangat cantik dan anggun dengan gaun yang berwarna abu-abu lengan pendek, sedikit belahan di depan dada dan panjang rok sampai sedikit diatas lutut membalut badannya.


Begitu juga Alfian yang membawa kemeja dengan jas berwarna abu-abu. Sepadan dengan pasangannya. Memang ini sudah direncanakan sebelumnya.


Mentari hanya berjalan menundukkan kepala. Ia tidak berani menatap ke depan. Ia takut menghadapi mereka yang belum dikenalnya.


"Sayang, putri Papa dan Mama maafkan kami ya?" Kata Mama sebelum sampai tangga ke bawah.


Mama menangkap wajah anak gadisnya yang sangat cantik itu.


"Ini demi kebaikanmu, lihatlah kedepan. Jangan menunduk seperti itu." Kata Mama.


"Di bawah gak ada uang jatuh lho." Lanjut canda mama yang berusaha membuat anaknya tersenyum walau sedikit.


Saat turun dari tangga sungguh sangat terkejut mendapati keluarga Alfian di sana. Berbagai pertanyaan sudah mengisi otaknya.


Alfian menatap gadis yang akan turun dari lantai atas itu. Rasa kagum terlintas di kepalanya.


Monik menyenggol lengan Ziko memberikan kode untuk melihat ekspresi Alfian. Kedua teman yang ikut bersamanya sampai menyeletuk.


"Ati-ati itu mata nanti bisa lompat Bro." Peringatan Ziko.


"Emang katak bisa lompat?" Kata Alfian.


"Iya sebentar lagi juga lompat." Balas Ziko.


"Dasar Mesum." Kata Alfian.


"Elu gak salah sepertinya mencintainya." Celetuk Monic yang sangat mengagumi adik kelasnya itu.


"Emang bener-bener cantik luar dalam." Lanjut Monic.


Sampai di bawah ketiga adiknya langsung menghampiri sang Kakak yang hari ini menjadi tokoh utama. Mereka berlarian menghampirinya.


Axel berada tepat di depan kakaknya seolah membimbing sang kakak menuju tempat di samping Alfian. Garda dan Daffa berada di samping agak di depan kakaknya sambil mengucapkan " Silahkan Tuan Putri." Ucap mereka bersama.


Mentari yang diperlakukan seperti itu menjadi sangat malu sampai wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Mentari pun melangkah secara perlahan menuju ruang tengah yang diikuti oleh kedua keluarga yang akan bersatu. Mereka terlihat sangat bahagia.


Di ruang tengah semua makanan seperti kue dan puding sudah disediakan dengan jus jeruk sudah tersedia. Mereka berbincang layaknya keluarga, tidak seperti waktu mereka makan malam untuk membicarakan pertunangan hari ini.


"Enak banget ini kue." Celetuk Ziko.


" Iya itu yang buat anak kami." Jawab Mama.


Mentari hanya tersenyum smirk menanggapi semua kata-kata mereka. Ia sangat senang hingga tidak bisa berkata apa-apa.


Tiba saatnya Daddy mulai bicara serius. Ia menyatakan maksut kedatangannya bersama keluarga.


Papa dan Mama hanya bisa menyerahkan keputusannya pada anak gadisnya itu. Mentari pun menyetujui untuk bertunangan pada hari itu juga.


Acara tukar cincin pun berlangsung. Alfian hanya bersikap dingin seperti biasanya dengan berbagai ledekan Ziko dan Monik.


"Cie-cie yang baru setengah peresmian senyumnya menggoda hati." Kata Monic.


"Iya bener, habis ini jangan main sosor-sosor terus ntar kalau udah bener- bener jadian baru sosor-sosor." Kata Ziko


" Emang bebek curut main sosor." Balas Alfian.


Ziko hanya mengingatkan agar tidak kebablasan, karena Mentari masih harus mengejar sekolahnya 2 tahun lamanya. Mentari yang mendengar itu pun malu dibuatnya.


Kedua keluarga ini ada saja perbincangan sampai mereka lupa waktu. Waktu sudah Dhuhur mereka melaksanakan shalat bersama. Selesai shalat dhuhur keluarga Alfian pun berpamitan pulang.


Adrean menawarkan mereka untuk menginap di villa. Bukannya tidak mau akan tetapi masih banyak pekerjaan yang menunggu untuk pengusaha muda baru seperti Alfian.


Saat pulang Alfian sangat senang. Sangat terlihat dalam wajahnya yang sangat tampan itu. Deddy terus saja meledeknya habis-habisan. Mommy ikut-ikutan mengerjainya.


*** *** ***


Di villa


Papa dan Mama juga sama mereka meledek anak gadisnya sampai ia merasa malu. Ditambah lagi ketiga adiknya yang selalu menanyakan tentang Alfian.


Perasaan bahagia sedang menyelimuti hati Alfian dan Mentari. Tepat pada malam hari mereka sampai di rumah besar Alfian. Walaupun sangat capek tidaklah terasa apapun karena rasa itu.


Mentari saat makan malam sudah terlihat sangat bahagia. Hal itu jelas terpancar di wajahnya.


"Sebenarnya Papa maunya kamu nikah sama om-om." Kata Papa.


"Emangnya Alfian bukan om-om?" Balas Mentari dengan senyum smirknya.


"Sekarang tambah pinter ya jawabnya." Kata Mama.


"Kemarin aja masih bersedih-sedih ria." Lanjut Mama.

__ADS_1


Selisih mereka memang sekitar tiga tahun lebih tua. Pemikiran Alfian pun sudah matang walaupun masih sangat muda.


Waktu semakin larut malam mereka di Villa menghabiskan waktu mereka dengan bersenda gurau. Entah sepertinya mereka tidak ingin kembali ke kota. Tapi tidak dengan Mentari. Justru ia ingin cepat kembali. Sebab sudah ada pangeran yang menunggunya.


Malam terasa singkat. Mereka yang baru liburan di villa harus segera kembali ke kota. Malam ini mereka bersiap pulang ke rumah sang nenek terlebih dahulu, baru mereka ke kota.


Mentari pagi mulai menyengat kulit. Adrean memanggil penjaga Villa. Ia berpesan agar menjaga villa ini dengan baik. Selain itu ia juga berterima kasih padanya telah menjaga villa ini dengan baik. Sebelum pulang ia sempat memberikan uang tips untuk penjaga villa.


Siang ini mereka dalam perjalanan pulang ke rumah nenek. Sampai di sana mereka segera istirahat karena sore hari mereka sudah harus berangkat ke kota.


Walaupun rencananya mereka istirahat tapi kenyataannya beda. Mereka malah bermain dengan nenek mereka. Bahkan ada diantaranya yang mengeluh.


"Kenapa harus cepet-cepet balik ya?" Kata Axel.


"Iya bener, disini enak, gak bising." Kata Daffa.


"Tambah bising kalau di rumah ada yang ngomel." Kata Garda yang protes dengan Mama.


"Tapikan yang bikin bising itu yang ngangenin." Bela Papa.


"Lagian ntar kalau gak segera balik ada yang kangen-kangenan gimana coba?" Sindir Mama pada anak gadisnya.


Bentar lagi kan juga mau masuk sekolah kan? Kata Mama.


Waktu semakin sore. Setelah mandi mereka langsung menyiapkan semua keperluan di perjalanan. Mereka berpamitan pada nenek mereka. Nenek merasa berat untuk melepaskan anak dan cucunya itu kembali ke kota. Rasa kangen hanya dilepaskan dalam waktu dua minggu sungguh lah sangat singkat.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang sebab saat itu masih banyak kendaraan yang lalu lalang. Semakin lama semakin sepi mobil yang dikendarai oleh keluarga Adrean mulai melaju dengan cepat menembus keheningan malam.


"Ini baru pembalap ni?" Kata Garda.


"Diam kamu Ga, awas ya kalau kalian berani kebut-kebutan." Ancam Mama.


Biasa lah ya Emak-emak kalau urusan nyawa selalu rempong. Bukan hanya satu tapi semua Emak-emak.


Akhirnya semua tertidur pulas dalam perjalanan malam ini. Kecuali sopirnya yang selalu tancap gas.


Menjelang dini hari mereka baru sampai di rumah utama yaitu rumah Adrean. Papa menggendong anaknya satu persatu. Kecuali Mentari dan istrinya.


Mentari dan Mama terjaga saat sampai. Mereka langsung menuju kamar mereka masing-masing. Mereka mengistirahatkan badan mereka sebentar.


Tidak menunggu lama azan subuh terdengar. Mereka melaksanakan sholat subuh berjamaah bersama.


Sesudah sholat mereka tidur kembali terkecuali Mentari dan Mamanya. Mereka berdua selalu berkutat di dapur setelah subuh.


Keluarga ini selalu memasak sendiri. Semua wanita dari keluarga ini pintar memasak. Mereka jarang sekali pergi memesan makanan.


Pagi yang cerah secerah hati keluarga Adrean. Selesai memasak Mama dan Mentari pergi menuju kamarnya masing-masing. Mereka mandi dan bersiap untuk melaksanakan aktivitasnya masing-masing.


Sarapan sudah tersedia di meja makan. Mama membangunkan suaminya yang masih tertidur dengan nyenyaknya.


"Pa bangun, udah siang ini." Kata Mama.


"Bentar lagi ah Mam, masih ngantuk ini." Balas Papa.


Mama menyiapkan baju sang suami dan meletakkannya di atas tempat tidur. Ia duduk sebentar di tepi tempat tidur sambil menatap wajah suaminya.


Mama pun berdiri dan hendak beranjak pergi. Sebelum melangkahkan kakinya ia ditahan oleh tangan dengan otot lengan yang begitu kokoh.


"Sayang aku sudah bangun ini. Sekarang ya?" Kata Papa sambil mendekap tubuh ramping istrinya dari belakaang dengan erat.


Mama menyadari ada sesuatu yang sudah sangat mengeras di bawah sana. Ia pun akhirnya membalikkan badannya.


Cuup


Ciuman singkat mendarat di bibir sang suami.


"No-no-no, belum waktunya sayang." Kata Mama sambil menggoyangkan pelan jari telunjuknya.


"Hadeeeeh sabar-sabar, rongokno ijik ono lampu abang (dengarkan, masih ada lampu merah)." Kata Papa pada ular pitonnnya.


**** **** ****


Di kamar lain:


Mentari membangunkan ketiga adiknya untuk sarapan bersama. Berbeda dengan ketiga anak ini. Mereka langsung bangun dan langsung mandi.


Ketiga kurcaci ini sangat antusias sekali. Mereka langsung menempatkan diri di kursi masing-masing.


Mama mengambilkan makanan untuk suami dan keempat anaknya. Hanya suara sendok beradu yang terdengar.


Usai sarapan Papa bersiap pergi ke kantor. Mama udah mulai kuliah lagi. Ia tinggal menyelesaikan tugas akhirnya S2. Jadi ia harus sering-sering ke kampus untuk konsultasi dengan dosen.


Mentari yang masih dalam liburan seminggu ini menemani ketiga adik laki-lakinya bermain di belakang rumah. Waktu sudah beranjak siang. Mereka masih bermain di sana. Aneka permainan mereka lakukan.


Axel, Garda, dan Daffa mereka anak yang sangat unik. Bukan mainan yang mereka sukai tapi permainan yang mereka sukai. (Irit ya makin kaya itu orang tuanya jarang beli mainan).


*** **** ***


Di Kantor Alfian


Pagi hari Si Tampan sudah pergi ngantor. Pulang dari villa acara pertunangannya itu ia merasa senang walaupun badannya terasa sangat capek. Senyum terus saja tampak diwajahnya yang membuatnya terlihat semakin tampan dan mempesona setiap orang.


Alfian bangun lebih pagi lagi dengan semangat 45nya. Selesai mandi ia langsung mengenakan jasnya untuk segera berangkat ke kantor tanpa sarapan terlebih dahulu.


Mommy: "Gak sarapan dulu Al?"


Alfian: "Gak ah Mom, nanti di kantor aja."


Mommy: "Kenapa buru-buru?"


Alfian: "Ada miting dengan klien Mom."


Mommy: "Klien apa Elien." Ledeknya.


Alfian: "Maaf ya Mom. Aku berangkat dulu."


Alfian segera berangkat setelah meminum susunya sampai tandas. Ia tidak begitu memperhatikan candaan Mommynya ini. Tak lupa ia mencium punggung tangan Deddy dan Mammynya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menembus keramaian kota yang masih sangat pagi. Mereka sengaja berangkat lebih awal untuk menghindari kemacetan.


Perusahaan yang ditangani Alfian terlepas dari campur tangan kedua orang tuanya. Ia ingin lebih mandiri, walaupun orang tuanya sudah menawarkan bantuan tapi ditolaknya dengan halus.


Ziko saat ini adalah asisten pribadinya. Sekretaris Alfian adalah Monic. Mereka bekerja secara profesional. Akan tetapi semua karyawan tidak mengetahui hubungan antara ketiganya.


***** Ucapan Salam Kenal *****


Hai kakak-kakak aku harap kalian tetep setia ya di semua Novel ku walau besuk sudah berganti TAHUN


"Selamat Malam Tahun Baru."


Semoga semua akan lebih baik dari sebelumnya & Semoga pandemi juga akan cepat berlalu.


Amin


Alfian sampai di kantor belum banyak karyawan yang datang. Ia berjalan dengan wajah dinginnya. Saat melewati semua karyawan mereka hanya menyapanya sambil menundukkan kepala.


Alfian naik ke lantai paling atas menuju ruangannya menggunakan lift khusus Presdir. Pikirannya pagi ini sangat senang walaupun harus mieting dengan klien yang banyak para pengusaha susah untuk mendapatkan kerjasama dengannya.


Tok-tok -tok


Pintu ruang kantor Alfian diketuk.


"Silahkan masuk." Kata Alfian yang sedang duduk di kursi kebesarannya.

__ADS_1


Alfian sendiri yang mempersilahkan orang itu masuk, sebab sekretaris dan asistennya belum datang. Alfian sengaja datang lebih awal dari mereka untuk menyiapkan sendiri bahan meetingnya.


Alfian ingin membuktikan sendiri sulitnya menjalin hubungan dengan perusahaan A itu. Tidak untuknya, ia malah menjadikan tantangan usaha untuk kedepannya.


Tubuh tinggi, ramping, dan berparas cantik memasuki ruang kerja Alfian. Ia hanya memandang dengan tatapan yang dingin tanpa tergoda sedikitpun.


"Maaf apa anda Tuan Alfian." Tanya Wanita itu.


"Saya tadi melihat Anda sedang memarkirkan mobil di Parkir khusus Presdir." Lanjutnya lagi.


Wanita ini semakin jengkel karena merasa diabaikan oleh Alfian. Setiap laki-laki yang memandang wanita ini pasti akan tergoda dengan penampilannya.


Laki-laki ini bahkan tidak melirik ku sama sekali. Tapi memang tampan apa dia selalu seperti itu dengan semua wanita?


Aku harus bisa mendapatkannya.


Hati wanita itu terus berkata seperti itu.


"Langsung saja katakan mau Anda?" Tanya Alfian sambil menatap layar monitor di mejanya.


"Saya Ratna, Putri dari Tuan Sebastian." Katanya dengan sombongnya.


"Maaf, saya kurang mengetahui tentang anda." Balas Alfian sambil menatap lawan bicaranya sebagai rasa hormatnya.


"Maaf saya rasa anda masih terlalu pagi datang ke sini." Lanjutnya.


"Saya datang kesini lebih awal sebab saya juga belum tahu betul mengenai kantor Anda." Kata Ratna.


"Saya diminta papa untuk mewakilinya." Sambung Ratna lagi.


Ceklek


Pintu ruang kerja Alfian terbuka. Alfian dan Ratna terkejut.


"Maaf Pak, saya kira Tuan belum datang." Kata Monic sambil tertunduk merasa bersalah.


Monic menutup ruangan itu kembali. Hatinya sungguh merasakan perasaan yang tidak enak.


Perasaan yang membuat hatinya tak tenang setelah melihat gadis yang ada di dalam ruang kantor Bosnya itu membuatnya melamun. Ziko yang datang tanpa ia tahu membuat asisten bosnya penasaran.


"Selamat pagi Nona." Sapa Ziko


"Pagi-pagi sudah melamun ada masalah?" Tanyanya lagi.


"Gak ada Tuan." Jawan Monic.


"Ketuk pintu dulu sebelum masuk Tuan." Lanjutnya setelah Ziko melangkahkan kakinya.


Mendengar peringatan dari Monic, Ziko pun membalikkan setengah badan sambil mengacungkan jempol. Ziko jadi penasaran sebenarnya apa yang terjadi di dalam.


Tok-tok -tok.


Ziko mengetuk pintu ruang Alfian. Ia pun dipersilahkan masuk oleh sang empunya.


"Zik, kenalkan ini Nona Ratna Putri dari Tuan Sebastian yang mewakilinya hari ini." Kata Alfian.


" Ziko, Asisten Tuan Alfian." Kata Ziko sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


Alfian, Ziko dan Ratna melangsungkan diskusinya mengenai pembangunan proyek di kota A. Sesekali Ratna mencuri pandang Alfian. Sayang tidak dihiraukannya.


Apa aku kurang menarik dan kurang cantik


batin Ratna.


Benar yang papa bilang kalau Tuan Alfian itu tampan. Untuk mendapatkan hartanya dan keluarganya ia harus mendapatkan Alfian.


Alfian dan Ratna hari ini belum mencapai kesepakatan mereka. Waktu beranjak semakin siang. Ratna pamit kembali perusahaannya. Ia akan menghubungi Alfian perihal pekerjaan ini.


Alfian keluar meninggalkan kantornya menuju rumah makan khas jawa. Letak rumah makan itu tidak jauh dari kantornya.


Ziko masih harus mengurus sesuatu di kantor. Walaupun ia pleboy tapi ia tahu karakter berbagai macam wanita. Ia tidak menyukai Wanita yang barusan ke kantor.


Dreeeeet -dreeeet -dreeeet


Ponsel Ziko bergetar. Ia tidak memperdulikannya. Karena tidak ada jawaban yang mengirim pesan akhirnya masuk keruangan Ziko.


"Gak makan lue? Jam istirahat ini." Kata Monic.


"Iya, gue mau makan, tapi.... makan lue." Kata Ziko.


"Laper ni." Kata Monic.


"Ya dah ayo." Kata Ziko.


Mereka berjalan menuju kantin. Semua mata tertuju pada mereka. Jarang mereka jalan berdua di kantor. Jadi membuat berbagai macam pertanyaan yang ada di kepala karyawan lain. Terutama hubungan mereka berdua.


Ziko dan Monic di kantin itu mereka masih menggunakan bahasa formal. Tujuannya adalah untuk menutupi hubungan mereka. Karyawan mendengar mereka sedang membicarakan masalah perusahaan umumnya.


Waktu istirahat sudah habis. Mereka kembali pada pekerjaannya masing-masing. Alfian menuju kantor menembus keramaian kota yang disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan.


Sampai di kantor Alfian berjalan tanpa memperhatikan karyawannya. Ziko yang sudah berada di dalam ruangan Alfian menyerahkan semua tugas yang telah diberikan padanya.


Mulailah aktivitas kantor seperti biasanya. Tiba-tiba Ziko mengajak Alfian ke kafe malam ini. Ada yang ingin dibicarakan selain pekerjaan.


Di samping itu Ziko mengajak Monic juga untuk ke kafe malam ini. Waktu sudah menunjykkan waktu pulang kerja. Jalanan sungguh sangat macet.


Alfian dan Ziko menuju tempat parkir bersama. Sampai di tempat parkir Ziko mengingatkan janji mereka.


Monik sudah menunggu Ziko sejak tadi. Hari ini Monic memang tidak membawa mobil, sehingga saat pulang ia minta diantar Ziko.


"Lama banget sih." Kata Monik sambil mengerucutkan bibirnya karena marah.


"Maaf-maaf cantik." Puji Ziko agar Monic tidak kesal.


"Gue nunggu elu sampai jamuran tahu!" Kata Monic.


"Coba lihat, sebelah mana?" Tanya Ziko.


"Udah ah yuk cabut." Kata Monic dari pada berkepanjangan.


Ziko dan monik pulang bersama.Ziko mengantarnya sampai rumah.


Alfian juga dalam perjalanan pulang sampai di rumah ia langsung mandi. Usai mandi ia teringat dengan anak singanya.


Gimana kabar ya setelah pertunangan kemarin.


Batin Alfian saat keluar kamar mandi yang masih mengenakan handuknya.


Alfian memakai kaos berwarna gelap dengan celana jiensnya. Ia turun ke ruang makan. Tiba disana sudah ditunggu oleh kedua orang tuanya.


"Cakep amat mau kemana?" Tanya Deddy.


"Ke kafe." Jawab Alfian singkat.


"Oh. Kirain." Tebak Deddy.


"Udah-udah makan dulu." Mommy melerai Deddy dan Alfian.


Deddy dan Alfian kalau gak dilerai bisa-bisa gak ada ujungnya. Ada-ada saja yang dibahas.


Usai makan malam Alfian langsung berpamitan kepada kedua orang tuanya. Ia langsung mengenakan jaket jensnya dan mulai mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.


Waktu masih menunjukkan pukul 20.00 jalanan masih sangat ramai. Sampai lampu merah ada sepasang mata yang tanpa sengaja melihat Alfian.

__ADS_1


Alfian tak sadar ketika ia dibuntuti oleh seseorang sampai cafe. Ia mulai masuk dan mencari-cari keberadaan ke dua temennya.


Alfian menuju ruang vip miliknya. Tidak membutuhkan waktu lama kedua temannya pun datang menghampirinya.


__ADS_2