Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 73. kediaman Adrean seusai mandi mentari


__ADS_3

Hal 75


**** Kediaman Adrean ***


Seusai mandi Mentari dihubungi oleh seseorang. Nomor sangat asing baginya. Sesaat ia melihat melihat nomor itu sambil mengerutkan keningnya berpikir.


Lama sekali ia tidak menjawabnya. Akhirnya nomor itu mengirimkan pesan ancaman.


Jangan ganggu cowok ku.


Pesan yang masuk itu pun tidak langsung dibaca. Bukannya ia tidak mau membuka pesan itu tetapi waktu itu menunjukkan saat sholat magrib.


Sinta dan Mentari memang ada acara pengajian di masjid dekat mereka tinggal. Mereka sampai di rumah sekitar pukul 20.00.


Mama dan Mentari menyiapkan makan malam untuk anggota keluarga setelah sampai rumah. Mentari pun belum melihat ponselnya lagi sejak sore tadi.


Makan malam berlangsung dengan tenangnya. Hanya bunyi sendok dan garpu yang beradu di atas piring.


Mama pun membersihkan meja makan seusai mereka makan malam. Seperti biasa mereka berbincang dan bersenda gurau di ruang keluarga.


Waktu semakin malam. Saatnya mereka menuju kamar masing-masing, terutama anak-anak. Mereka membutuhkan waktu istirahat yang lebih banyak.


Mentari menuju ke kamarnya langsung mengambil ke dua ponselnya. Ponsel yang biasa untuk Teman-temannya banyak pesan yang masuk. Termasuk pesan dari nomor yang tidak dikenal tersebut belum sempat dibukanya.


Mentari yang baru membuka ponsel dan membaca pesan peringatan atau ancaman itu tidak mempedulikan isi pesan itu. Ia merasa tidak mengganggu laki-laki manapun.


Pengirim pesan sejak tadi hatinya sudah merasa jengkel, sebab pesan tidak segera dibaca. Apalagi tidak dibalas oleh Mentari.


Mentari yang sedang memainkan ponsel menjawab semua pesan dari teman-temannya tiba-tiba mendengar ponselnya yang lain berbunyi. Dilihatnya nama pengirim Alfian.


"Adik lagi ngapain?"~Alfian.


"Lagi ngetik Kak?" ~ Mentari.


"Gak capek apa ngetik terus?" ~ Alfian.


"Ketik-ketik aku ketik ada yang melarang aku deket kamu tu Kak." ~ Mentari.


"Lho kok ketik-ketik?" ~ Alfian.


"Yaiyalah ketik kan kirim pesan." ~Jelas Mentari.


" Bener juga."😂😂😂~ Alfian.


"Tadi ada yang kirim pesan nomor tak dikenal isinya ancaman."~ Mentari


"Kenapa?" Tanya Alfian.


"Jangan ganggu cowok ku katanya." Mentari.


"Berarti Aku emang cakep dong."~ Alfian memuji dirinya sendiri.


"Iya kalau dilihat dari sedotan es."~ Mentari.


"Kalau cuma itu sih masak mau nyerah cuma pesan doang."~ Alfian.


"Gak lah ya, Maju Terus Pantang Mundur."🙂🙂🙂~ Mentari.


"Udah malem cepet bobok gih."~ Alfian


Pesan terakhir Alfian tidak dibalasnya. Kalau dibalas pesan tersebut tidak akan berhenti sampai disitu.


Mentari yang memang masih terjaga pergi membersihkan diri dan ganti baju. Ia segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Hingga akhirnya Ia terlelap tanpa memikirkan apapun.


Alfian yang mendapat pemberitahuan dari sang tunangan merasa khawatir dengan keselamatannya. Ia menghubungi orang kepercayaannya untuk menjaga tunangannya itu.


Mulai hari itu ia menyuruh bodyguard untuk menjaga Mentari tanpa sepengetahuannya. Kalau ia tahu pasti tidak akan nyaman untuknya.


dreeeet dreeeet


Ponsel Mentari bergetar. Dilihatnya pesan masuk itu.


"Kalau ada apa-apa ceritalah, terbuka sama aku. Aku akan berusaha membantumu." ~ Pesan Alfian.


"Terimakasih Kak." Balasnya.


Pagi ini cuaca memang sangat cerah. Semua orang melakukan aktivitasnya masing-masing.


"Maaf Tuan ada tamu." Kata seorang pembantu.


"Siapa sih Pa pagi-pagi gini?" Tanya Mama.


"Kok bisa masuk sih Pa?" Tanya Mama lagi.


Biasanya di rumah mereka selalu ada penjagaan yang sangat ketat. Tapi kali ini seorang wanita bisa masuk ke dalam rumah dengan mudahnya. Hal itu membuat penasaran penghuni rumah.


Papa, Mama, dan Mentari berjalan kr ruang tengah melihat siapa tamunya. Sedangkan ketiga jagoan kecil sudah bersiap dengan segala kemungkinannya.


"Kakak." Teriak Mama.


Mereka saling berpelukan karena sudah lama sekali tidak bertemu. Kakak yang menempuh studynya di luar negeri kini telah kembali.


"Tante gimana kabar?" Tanya Mentari dengan senangnya.


"Makin cantik aja ni Tante." Puji Mentari.


"Masak sih." Kata Tante.


Mereka berbincang di ruang keluarga. Papa yang waktu sudah menunjukkan semakin siang berpamitan untuk berangkat ke kantor.


"Nitip salam tidak untuk Briyan?" Kata Papa pada Tante.


Deg


Tante kaget setengah mati. Mendengar nama seorang laki-laki yang pernah dekat dengannya selama di sini membuat pikirannya kemana-mana.


"Tidak." Jawabnya


Adrean tahu kalau sahabat sekaligus asistennya itu juga menunggu Sang pujaan hati. Ia bahkan tidak pernah melihat gadis cantik lainnya.


"Kenapa teletabisnya cuma tiga?" Tanya Axel.


"Paling juga yang dua baru kerja." Jawab Daffa.


"STW." Kata Axel.


"Udah biarin aja ketiga teletabisnya berpelukan." Kata Garda.


Ketiga bocil itu akhirnya berlari ke luar rumah menuju taman belakang. Mereka bermain sepak bola di sana.


"Sin, kemana ketiga bocilmu?" Tanya Tante.


"Main di taman belakang." Jawab Sinta.


"Aku panggilkan dulu." Lanjutnya.


Mama berjalan menuju taman belakang. Ia menghampiri ketiga anaknya itu. Mereka diminta untuk menemui teman Mamanya.


Mama tidak pernah memanggil anaknya dengan berteriak. Setiap memanggil anak-anaknya ia pasti menghampiri mereka.


Sedangkan di ruang tengah Mentari dan Tante sedang berbincang. Ia menanyakan tentang status tantenya itu.


"Tan, udah ada kelanjutannya belum? Tanya Mentari.


"Belum, sejak dulu kami hanya sebatas berhubungan lewat ponsel." Jawab Tante yang tahu dengan arah pembicaraan Tari.


Tak lama Sinta membawakan minuman dan cemilan untuk sahabatnya itu. Ketiga bocil sudah berlari menuju ruang tengah terlebih dahulu.


Axel, Daffa dan Garda mengenalkan diri mereka. Mereka terlihat berani, dan tegas termasuk arogan. Ketiganya memang tidak bisa diam. Setelah berbincang sebentar mereka pamit kembali ke taman belakang ingin bermain.


Mama, Mentari dan Tante berbincang-bincang. Sudah sangat lama mereka tidak bertemu ada saja yang menjadi topik perbincangan.


"Tante apa tidak kelamaan tu, mumpung di sini?" Tanya Mentari.


"Apa'an Sih?" Balas Tante dengan malu-malu.


"Apa Om sudah tahu kalau Tante sudah sampai di sini?" Tanya Tari.


"Sudah." Jawabnya santai.


"Masak mau kalah sama anak kecil." Kata Sinta.


"Maksud kamu?" Tanya Tante.


"Anak kecil aja udah tunangan kok." Jelas Sinta.


"Udah lah Tante segera aja nikah sama Om Briyan. Biar cepet ngasih aku keponakan. Maju Terus Pantang Mundur." 😁😁😁." Kata Tari sambil berjalan menuju kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari ruang tengah.

__ADS_1


Waktu sudah semakin siang. Sinta, Tari, dan Tante memasak di dapur. Sambil memasak mereka tidak menghentikan obrolan mereka.


Makanan sudah selesai disiapkan di meja. Meraka makan bersama ketiga bocil itu. Papa makan siang di kantor, sebab ada meeting dengan klien barunya.


***** **** ****


Kira-kira siapa ya yang dipanggil Tante sebagai sahabat Mama Sinta?


Ingat gak kakak?


♥️♥️♥️ 77


*** Kantor Adrean ****


Adrean yang hari ini memiliki jadwal yang sangat sibuk tidak bisa kemanapun. Untuk makan siang ia memesan makanan untuk dibawa ke ruang kerjanya.


Adrean yang saat itu bersama Briyan di suatu ruangan tak banyak yang mereka bicarakan. Mereka sama-sama orang yang dingin jadi buarpun ada teman dalam ruangan itu berasa seperti kuburan.


Malam tak terasa telah tiba. Semua pekerja telah pulang tanpa terkecuali. Tersisa hanya dua makhluk dalam ruangan Adrean.


"Sudah larut malam, ayo pulang besuk kita lanjutkan lagi." Ajak Adrean.


"Ok." Balas Briyan.


Adrean dan Briyan keluar dari dalam ruang kerjanya. Mereka berjalan beriringan menuju lift. Pintu lift pun terbuka. Mereka turun dengan menggunakan lift itu sampai lantai dasar tanpa ada kata.


Tempat perkir khusus untuk Presiden Direktur mereka tuju. Tak butuh waktu lama untuk menemukan mobil itu.


Adrean segera masuk ke dalam mobilnya, begitu pula dengan Briyan. Mereka segera pergi meninggalkan tempat itu.


"Lelah sekali hari ini." Gumam Adrean.


Jalan sudah mulai sepi Adrean melajukan mobil dengan kecepatan lebih dari biasanya. Ia ingin segera sampai di rumah.


Sampai di rumah keempat anaknya sudah tertidur dengan nyenyak. Ia hanya disambut oleh istri tercintanya.


*** Di Kediaman Adrean ***


Melihat sang istri semua rasa penat hilang seketika. Papa dan Mama langsung menuju kamarnya.


Mama sudah menyiapkan air hangat untuk sang suami untuk mandi. Setelah mandi Papa menuju kamar ke empat anaknya yang sudah terlelap. Ia minta maaf karena hari ini tidak dapat menemani mereka walaupun hanya sebentar.


Mama sudah selesai membersihkan diri sambil menungggu sang suami kembali ke kamarnya. Papa sudah merebahkan diri di atas tempat tidur, kemudian disusul oleh istri tercintanya.


Mama sudah menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


 


**Cup**


 


Ciuman singkat mendarat di kening sang istri.


"Gimana Ma tadi siang?" Tanya Papa yang mulai membuka percakapannya.


"Biasa lah Pa anak-anak." Kata Mama.


"Besuk kemungkinan aku masih lembur Ma, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan." Jelas Papa.


"Tapi malam ini Papa mau lembur dulu sama Mama." Lanjut Papa.


"Papa iiih apa gak capek?" Kata Mama sambil mencubit perut suaminya dengan manja.


"Ma, demi kamu yang aku cintai seorang." Gombalan Papa membisikkan sesuatu di telinga istrinya.


Mama yang mendengar gombalan suaminya itu wajahnya menjadi sangat merah. Mendengar semua pujian terhadapnya membuatnya malu.


Ciuman ringan yang diberikan semakin lama semakin dalam membuat keduanya semakin berhasrat. Tangan sang suami sudah mulai bergerilya membuka sumua kain penutup yang menutup tubuh sang istri. perlakuan sang suami selalu membuatnya melayang di atas awan. membuatnya semakin mendesah dengan nyaring di telinga suaminya. Malam terasa panjang buat mereka.


Usai pertempuran mereka tertidur tanpa mengenakan sehelai benang ditubuh mereka. Hanya selimut yang digunakan sebagai penutup.


Ayam jantan terdengar berkokok. Pertanda pagi akan menyambut. Seperti biasa setelah shalat subuh Mama dan Mentari memasak sarapan pagi, sedangkan Papa sudah selesai mandi dan memakai pakaian yang telah disiapkan oleh sang istri.


Ketiga kurcaci itu jangan di tanya mereka sudah bermain. Itung-itung olah raga. Selesai bermain mereka naik menuju kamar mereka masing-masing untuk mandi dan bersiap untuk sarapan.


Mentari sudah selesai menyiapkan sarapan di meja makan, sedangkan Mama memanggil suami dan ketiga kurcaci itu. Sarapan pagi ini juga seperti biasa hanya terdengar suara sendok dan garpunya.


"Maaf ya sayang nanti Papa pulang telat lagi." Kata Papa usai sarapan.


"Gak capek apa pulang malem?" Protes Garda.


"Awas ya kalau minta pijit Mama!" Ancam Axel.


"Iya sayang, paling pijat plus- plus." Kata Papa sambil terkekeh-kekeh.


Mentari hanya tersenyum mendengar percakapan mereka. Walaupun ia sudah bertunangan tapi ia masih sangat polos untuk mengenal itu semua.


Briyan sudah sampai di depan rumah. Ia masuk dan menyapa semua penghuni rumah di kediaman Adrean.


"Sarapan dulu Om." Pinta Mentari.


"Tidak Nona terimakasih." Tolak Briyan halus.


"Berangkat sekarang." Kata Papa.


Tanpa menunggu jawaban Adrean mereka langsung berangkat. Mama mengantarkan Papa sampai depan pintu.


"Jangan sampai kedahuluan orang." Kata Sinta pada Briyan.


"Maksutnya?" Balas Briyan


Briyan tidak tahu maksut dari istri Bosnya. Ia belum tahu kalau Dita sudah kembali ke negara ini. Memang sudah seminggu ini Dita dan Briyan tidak banyak berhubungan melalui ponsel. Karena kesibukan masing-masing.


Briyan langsung memarkirkan mobilnya di tempat biasanya. Adrean dan Briyan langsung berjalan menuju lift khusus mereka. Semua karyawan menunduk hormat pada mereka.


Sekretaris sudah menyiapkan setumpuk berkas yang harus ditandatangani oleh Bosnya. Saat mereka melewati meja sekretaris, sekretaris itu pun berdiri dan memberi salam.


"Pagi Pak." Sapa Sekretaris Yani.


"Pagi." Balas Adrean dan Briyan dengan dingin.


Adrean dan Briyan sudah masuk ke ruang kerja mereka. Tak lama ia memanggil sekretarisnya untuk meminta berkas yang harus ditanda tangani.


Sekretaris Yani segera menuju ruangan Bosnya. Ia melihat kedua laki-laki di ruangan itu sedang sibuk dengan tablet masing-masing.


"Letakkan berkasnya." Pinta Adrean tanpa melihat sekretaris itu.


"Hari ini ada agenda apa?" Tanya Adrean lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari Tablet di depannya.


"Tidak ada Pak." Balas Yani.


"Kamu boleh keluar." Perintah Adrean.


Sekretaris Yani pun keluar dari ruangan itu. Ia kembali duduk di tempatnya.


Kedua bos di dalam ganteng amat. Sayang sulit didekati. Bahkan senyum aja mahal banget. Kayak di kutub utara dinginnya.


Batin Sekretaris Yani.


Mama tahu hari ini suaminya sangat sibuk. Kalau sudah sibuk seperti itu ia sering lupa dengan makan siang.


Dreeeet dreeeet dreeeet dreeeet


Ponsel Adrean pun berbunyi. Dilihatnya sebuah panggilan dari sang istri tercinta.


"Assalamualaikum." Sapa Mama.


"Wa'alaikumsalam." Balas Papa.


"Aku antar makan siang ke kantor ya sayang." Kata Mama.


"Ok. Aku tunggu sayang." Balas Papa.


Usai memasak makan siang Sinta segera menata semua makanan pada kotak makanan yang tersusun itu. Makan siang untuk dua orang Suami dan Asistennya. Tidak mungkin ia hanya membawakan makanan untuk sang suami saja. Selain asistennya itu adalah sahabat serta orang yang paling berjasa dalam kehidupan keluarga mereka.


Sinta mengendarai mobilnya sendiri. Sebelum pergi ia memberi tahu pada ke empat anaknya kalau akan mengantar makan siang ke kantor Papa. Setelah mengantar makan siang ia juga bilang akan langsung kembali.


*** ****


Jangan Lupa kakak like dan sumbangin sedikit votenya ya. Biar tambah semangat up nya.


♥️♥️♥️78


Mama pun sampai di depan perusahaan suaminya itu. Ia lapor pada petugas keamanan yang sedang berjaga.


Mama diperbolehkan untuk masuk. Ketika di resepsionis berbagai pertanyaan pun muncul di sana.

__ADS_1


"Maaf Nona saya ingin bertumu dengan tuan Adrean. Beliau ada?" Tanya Sinta


"Sudah ada janji dengan beliau?" Tanya Petugas Resepsionis.


"Sudah."Jawab Sinta.


"Anda siapa?" Tanya Petugas Resepsionis lagi.


"Saya istrinya." Jawab Sinta.


"Maaf Nona, tunggu sebentar biar saya tanyakan dulu." Kata Petugas Resepsionis.


Petugas itu menghubungi sekretsris Adrean. Ia mengatakan kalau istrinya ingin bertemu.


** Di Meja Resepsionis Perusahaan Adrean **


Terjadi perbincangan antara ketiga karyawan di sana. Mereka membicarakan atasannya.


"Apa Bos kita sudah menikah?" Kata Karyawan A.


"Kayaknya belum deh." Kata Karyawan B.


"Wanita itu kenapa mengaku istrinya? Dilihat dari penampilannya saja tidak meyakinkan." Cerocos karyawan A.


Perbincangan mereka sangatlah terdengar jelas ditelinga Sinta. Ia menanggapinya hanya tersenyum smirk.


Sekretaris menghubungi bagian resepsionis. Ia menjelaskan kalau sepertinya Bosnya baru sibuk sekali. Sebenarnya sekretarisnya itu belum sempat bertanya pada atasannya itu. Ia hanya baru menyimpulkan.


Di loby Sinta masih menunggu. Ia mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya itu. Ia menghubungi suaminya kalau ia menunggu di bawah.


"Sayang aku sudah di loby." Kata Sinta.


"Langsung ke ruang kerjaku saja." Perintah Adrean.


"Gak bisa aku tidak diperbolehkan oleh sekretaris mu, katanya kamu baru sibuk tidak bisa diganggu." Jelasnya.


Adrean akhirnya turun sendiri ke loby menjemput istrinya. Semua pandangan tertuju pada Adrean yang memang tampan dan masih sangat muda.


Sampai di bawah Ia menghampiri istrinya. Langsung mengajaknya ke ruang kerjanya.


"Maaf membuat mu menunggu." Kata Papa


"Gak apa-apa." Jawab Sinta.


Di loby karyawan yang tadinya membicarakan atasannya itu merasa ketakutan. Atasan mereka tidak pernah memberikan kepada siapa saja yang melakukan kesalahan.


Sepasang suami istri itu menuju ruang kerja Adrean dengan menggunakan lift khusus Presdir. Di depan ruang kerja Adrean sang sekretaris tersenyum melihat kedatangan Adrean.


Adrean segera memasuki ruangannya itu. Saat sudah berada di dalam ruangan itu sekretaris yang berada di luar ruang kerja Adrean tersenyum kecut melihat keharmonisan atasannya.


Rasa iri di hati sekretaris Adrean pun mulai muncul. "Gak salah wanita yang seperti itu menjadi istri bos besar." Kata hati Sekertarisnya itu.


Briyan yang berada di dalam segera berdiri menyambut keduanya. Ia berencana akan keluar ruangan agar tidak mengganggu atasannya itu.


 


**Cup


Cup


Cup**


 


Ciuman mendarat di tiga bagian dari Sinta. Ia pun malu dilihat oleh Briyan yang masih "Perjaka". Briyan terkejut dan segera membalikkan badannya. Adrean melihat perilaku Briyan itu.


Briyan tahu atasannya tidak pernah melakukan hal itu di kantor. Tapi hari ini membuatnya sungguh terkejut.


Sinta yang sudah merasa malu seperti kepiting rebus meletakkan bekal makanan untuk suaminya di atas meja. Ia menatanya di atas meja. Ia membawakan bekal itu tidak sedikit.


"Kenapa berbalik." Tanya Alfian pada Briyan.


"Untuk menghindari anggota tubuh ku yang masih suci." Jawab Briyan.


"Maksutnya?" Tanya Adrean lagi sambil berjalan mendekati Sang Istri dan akhirnya memeluk pinggang rampingnya.


"Agar netra ku tidak kau kotori dengan adegan-adegan mu itu." Jawab Briyan dengan suaranya yang semakin kecil.


"Emangnya berapa usia mu Bry?" Tanya Adrean.


"Berapa ya? Lupa." Kata Briyan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Adrean dan Istrinya sudah duduk di sofa. Mereka akan makan siang bersama. Briyan akan keluar dari ruangan itu karena merasa tidak enak hati.


"Pak maaf saya keluar dulu" Kata Briyan.


"Kak makan dulu sama kita!" Perintah Sinta.


Briyan melihat sekilas Adrean yang sudah duduk bersama istrinya. Ia merasa sangat sungkan.


"Iya, Bry makan dulu lah disini sama kita." Bujuk Adrean.


"Saya makan di luar saja Pak." Kata Briyan.


"Ini banyak banget lho Bry. Kalau aku sendiri gak habis ini." Jelas Adrean.


Briyan akhirnya menuruti perkataan Sinta dan Adrean. Mereka makan bersama dengan tenangnya.


Makan siang di ruangan itu telah selesai. Waktu istirahatpun masih tersisa. Adrean mencairkan suasana yang canggung itu.


"Bry emang umur mu berapa?" Tanya Adrean lagi.


"Jangan bilang kalau kamu lupa?" Tanya Adrean sambil senyum terkekeh kecil.


"Kurang dari 21 tahun kali Pa." Kata Mama sambil tersenyum smirk.


"Jangan sampai jadi jomblo abadi lho Bry." Ledek Adrean.


"Udahlah Bry akhiri saja masa jomblo mu, ada yang udah nunggu." Jelas Sinta sambil berlalu menunggalkan ruang suaminya setelah semua makanan di meja dibersihkan.


Sekretaris yang melihat Sinta sudah keluar dari ruangan Adrean itu tersenyum kecut padanya.


Adrean dan Briyan melanjutkan kembali pekerjaannya. Mereka bekerja tanpa henti, hingga waktu tak terasa sudah sore.


Adrean dan Briyan mulai bersiap untuk pulang. Sekretaris Yani sudah bersiap untuk pulang.


Di saat yang bersamaan Adrean tang keluar dari ruangannya itu menatap tajam pada sekretarisnya. Sekretaris Yani merasa takut dengan tatapan dari atasannya yang sungguh sangat mematikan itu. Seakan ia akan diterkam hidup-hidup.


Adrean juga merasa sepenuhnya bukan kesalahannya. Selama ini memang ia berusaha menyembunyikan identitas istri tercintanya. Hal itu untuk menghindari berbagai macam bahaya yang akan timbul.


Adrean dan Briyan pulang bersama. Briyan mengantar Adrean sampai di rumah. Sepanjang jalan mereka hanya diam.


Hening


Hening


Hening


Ponsel Adrean tiba-tiba berbunyi. Dilihat panggilan masuk dari istrinya.


"Assalamualaikum."~Mama.


"Wa'alaikumsalam."~Papa.


"Ada apa Sayang."~Kata Papa yang dibuat semesra mungkin ingin memancing sahabatnya Briyan.


"Pulang nanti berarti Papa bawa ayam jantan dong?"~ Tanya Mama.


"Iya aku bawa, tapi kayaknya ia tidak antusias sama sekali untuk matuk." ~Jelas Papa.


"Ya udah lah Pa, Mama tunggu di rumah aja ya sayang."~Suara sang Mama yang agak dikerasin biar ayam jagonya kedengeran.


"Iya, sayang jangan lupa nanti malam." Balas Papa


"Assalamualaikum." ~ Kata Papa mengakhiri pangghilannya.


" Wa'alaikumsalam." ~ Balas Mama.


Briyan yang mendengar percakapan itu hanya bersikap biasa saja. Sebuah keinginan juga punya istri yang setia. Apalagi pengertian gelem dijak rekoso. (Gak adil juga sih ya cuma mau diajak menderita, senengnya diambil sendiri itulah sifat laki-laki di dunia nyata).


Briyan sebenarnya juga iri pada pasangan Bosnya itu. Mereka bisa saling mengerti, ya masalah yang datang anggaplah sebagai bumbu penyedap. Paling penting adalah rasa percaya pada pasangan kita.


**** **** ****


Hallo Kakak, sehat-sehat selalu ya.


COVIT-19 sampai hari ini penyebarannya semakin banyak. Tetapi sempat turun juga jumlah penderitanya.

__ADS_1


Jangan lupa protokol kesehatan, tapi lebih bijak lagi upaya pencegahan.


Jaga kesehatan dan istirahat cukup. (Maaf telat lagi up-nya. Ada faktor cukup istirahat). 🙏🙏


__ADS_2