Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 77. Mama sudah menata di atas meja


__ADS_3

87


Mama sudah menata di atas meja makan. Mama pergi menuju kamar untuk memanggil sang suami untuk makan malam bersama.


Makan malam ini mengingatkan kejadian waktu lampu ketika Axel kehilangan bulet-bulet kesukaannya. Semua tersenyum penuh arti.


"Apa senyum-senyum." Kata Axel yang merasa ditertawakan karena kejadian itu.


"Enggak." Kata Daffa.


"Siapin jaring, ntar lompat lho makanannya." Peringkat Garda.


"Kalau ditutupin jaring gak bisa dimakan ntar." Jelas Daffa.


"Kayak ikan aja dijaring." Celoteh Axel.


"Udah-udah gak usah berdebat lagi ntar kayak dulu lho." Peringkat Mama.


"Iya betul." Kata Tari.


"Ilang gak ketahuan, ternyata 😉😉😉" Ledek sang Kakak.


"Kalau kalian terus ngeceh gak jelas gitu, kapan ini mulai makannya?" Tanya Papa sambil menggelengkan kepalanya perlahan karena sejak tadi hanya mendengar semua penghuni rumah hanya menikmati obrolannya saja melupakan hidangan yang ada di depan mereka.


"Ayo kita berdoa dulu sebelum makan yang akan dipimpin oleh Sang Raja kita." Kata Kakak berlagak seperti seorang MC.


"Iya keburu dingin itu makanan ntar gak enak jadinya." Kata Mama.


Mereka di ruang makan itu mulai berdoa seperti biasa yang dipimpin oleh Papa. Selesai berdoa mereka mulai memakan makanan yang ada di meja makan dengan lahapnya.


Masakan rumahan yang dimasak oleh Mama dan Sang Kakak sangatlah enak. Rasanya tidak kalah dengan masakan restoran berbintang.


Makan malam telah selesai, tetapi diantara ketiga jagoan kecil itu masih ingin makan lagi. Ia masih saja terus menatap makanan kesukaannya itu.


"Itu lihat Daffa ilernya netes. (keluar dari mulut)." Ledek sang Kakak.


Tersadar dari perkataan sang Kakaknya Daffa mengelap mulutnya itu. Ternyata ia hanya dikibulin sama sang Kakak. Karena merasa geram Ia mengejar-ngejar sang kakak hendak memukulnya.


"Sudah berhentilah, gak capek apa kejar-kejaran mulu." Tegur Papa.


Kakak pun akhirnya berhenti berlari. Karena Daffa tidak menyadari sang kakak telah berhenti, ia menabrak kaki sang kakak. Sebab tinggi badan sang kakak lebih tinggi dari sang adik.


Kakak pun berjongkok untuk menyetarakan posisi wajah dengan sang adik.


"Adik ku sayang, kamu jangan memakan atau melakukan sesuatu yang berlebihan ya." Nasehat bijak Sang Kakak yang kemudian mencubit pipi gembul sang adik.


Axel dan Garda pun yang mendengarkan mengacungkan kedua jari jempolnya tanda setuju dengan apa yang dikatakan Sang Kakak.


Usai makan malam yang diakhiri dengan doa bersama Papa dan ketiga kurcaci itu menuju ruang keluarga. Seperti biasanya mereka belajar, bercerita, bermain dan banyak hal lain yang dilakukan.


Mama dan Kakak seperti biasa membersihkan meja makan. Tak lupa membawa cemilan dan minuman ke ruang keluarga.


Ketiga jagoan itu menuju ke kamar masing-masing untuk tidur. Saat mendekati tangga terdengar suara yang menghentikan langkah mereka.


"Jangan lupa membersihkan diri dulu sebelum tidur." Pinta Mama.


"Ok." Jawab ketiga jagoan bersamaan sambil mengacungkan jempol mereka.


Sejak dini mereka sudah diajarkan dengan kedisiplinan. Setiap kegiatan sudah di luar kepala saking hapalnya.


Papa, Mama dan Kakak menuju ruang kerja. Ada sesuatu yang akan disampaikan oleh Papa kepada ke dua wanita yang ada di ruang kerja itu.


"Ma, Kak Om Briyan akan menikah dalam waktu dekat ini. Bagaimana kalau kita membebaskannya saja (maaf kayak tahanan ya?)" Kata Papa yang panjang kali lebar."


"Dia sendiri punya perusahaan yang harus dikelola, kalau ikut sebagai aku sebagai asisten terus perusahaan dia juga sulit berkembang walaupun dia juga bersedia mendampingiku sampai kapan pun." Tambahnya lagi.


"Terserah Papa saja. Mungkin itu yang terbaik." Jawab Mama.


"Ya kalau aku sih terserah saja asal demi kebaikan bersama." Tambah Kakak.


"Nanti Papa harap kamu mau bantuin Papa sayang." Pinta Papa pada Kakak sambil berjalan ke arah Sang Kakak dan meyakinkannya dengan menepuk bahu Sang Kakak.


♥️♥️♥️


88


Papa meyakinkan anak gadisnya untuk ikut terjun ke perusahaan. Papa selalu punya cara tersendiri untuk menanamkan rasa percaya diri pada orang-orang disekelilingnya.


Kakak yang masih menunggu ketulusan saat ini hanya berada di rumah sambil mencari informasi mengenai universitas yang akan ia targetkan.


Mentari yang selalu di rumah merasakan bosan. Hal itu membuat ia menyetujui permintaan Sang Papa.


*** Mall ***


Pada hari berikutnya Briyan pergi ke rumah calon istrinya. Ia mengajak Dita nonton di bioskop. Mereka meminta ijin dengan Ibunya Dita.


Perjalanan mereka menuju mall sunyi seperti mereka baru saling kenal. Padahal mereka sudah kenal sangat lama bahkan hampir menikah. Tiada romantis-romantisnya ☺☺☺. Tapi gak tahu juga ya setelah menikah mungkin kisah mereka akan lain lagi.


Parkiran mall begitu ramai dengan mobil begitu juga dengan pengunjungnya. Ya karena ini adalah akhir pekan jadi banyak yang ingin refresing di sini.


Briyan segera memarkirkan mobilnya. Setelah terparkir dengan benar ia segera melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil. Ia mengitari mobil sampai lewat depan mobilnya. Ia pun segera membuka pintu mobil untuk calon istrinya.


Briyan dan Dita berjalan memasuki mall tersebut. Mereka munuju lantai paling atas, karena ruang gedung bioskop terletak di lantai atas.


Hari ini adalah malam Minggu film yang ditampilkan adalah film romantis. Briyan segera membeli tiket di tempat penjualan tiket.


Dita yang menunggu di sebuah ruang tunggu merass bosan. Ia memutuskan untuk membeli beberapa cemilan dan minuman kaleng.


Briyan mencari sosok seorang wanita yang datang bersamanya tadi di tempat tunggu yang ia duduki tapi tidak ditemukan. Sungguh ia merasa sangat khawatir.


Mata tajam itu menangkap sosok wanita yang dicarinya membawa aneka makanan ringan dan minuman kaleng.


"Huuuh." Ia membuang napas lega karena rasa khawatirnya tadi.


Dita berjalan menghampiri calon suaminya itu dengan setengah berlari.


"Maaf membuat mu khawatir." Katanya.


Mereka masuk ke dalam bioskop dan duduk di bagian paling belakang. Pemutaran film pun dimulai. Cemilan yang dibeli hampir habis. Padahal tadi Dita beli lumayan banyak.


Adegan demi adegan mereka lihat dengan begitu fokus. Tanpa sadar cemilan yang dibawanya habis.


Mereka duduk bersebelahan dan ada adegan yang membuat pandangan mereka seketika saling menatap. Tangan mereka saling mencengkeram karena beberapa adegan panas diputar di layar.


Saat sadar mereka berdua sama-sama menahan malu. Wajah yang putih bersih seketika menjadi merah seperti kepiting panggang.


Waktu sudah sangat larut malam. Sadar semua cemilan habis wanita ini pun keluar dari bioskop dengan menahan malu. Bisa-bisanya ia menghabiskan semua makanan tadi.


"Itu perut apa karung." Bisik Briyan tepat di telinga Dita.


Mendengar itu di telinganya merasa sangat geli dan malu. Hingga akhirnya ia mengejar Briyan hendak memukulnya.


Seperti anak muda saja mereka saling berkejar-kejaran. Untung saja Briyan memakai kaos dengan celana jins, tetapi betapa malangnya Dita yang harus melepas high hills nya saat mengejar calan suaminya.


Semua pandangan tertuju pada mereka. Melihat betapa romantisnya mereka berdua.


Penampilan mereka berdua terlihat seperti remaja yang baru jatuh cinta. Setelah merasa lelah dengan tom & jerry. mereka duduk di sebuah kursi yang lumayan panjang dengan napas yang memburu. Mereka segera mengatur nafasnya.


Setelah nafasnya kembali normal tiba-tiba Briyan menarik tangan wanita yang ada disampingnya meninggalkan mall. Mereka berjalan menuju tempat parkir. Setelah membukakan pintu untuk Dita, ia berjalan lewat depan mobil dan masuk ke mobil.


Sabuk pengaman lupa dipasang oleh Dita sebab setelah masuk ia langsung memejamkan matanya. Entah ia sedang berpikir atau membayangkan sesuatu. ☺☺☺ Hanya Dita yang tahu. (Salah Authornya yang tahu: yang membuat jalan ceritanya kan author).


Briyan yang melihat itu langsung ber-inisiatif untuk memasangkan sabuk pengaman wanita yang ada di sampingnya. Ia melihat kalau Dita sedang tertidur.


"Selain doyan makan ternyata kebo juga." Gumam Briyan sambil menggelengkan kepala.


Tanpa sengaja saat memasang sabuk pengaman ia menyenggol benda kenyal yang ada di dada wanita di sampingnya.

__ADS_1


"Ah." Teriak Dita.


"Mau ngambil kesempatan!" Bentuknya lagi.


"Maaf tidak sengaja." Kata Briyan.


"Tapi enak juga." Lanjutnya.


"Dasar mesum, jauhkan itu pikiran kotor elu!" Perintah Dita.


"Kotor mah dicuci kali." Protes Briyan.


Saat tanpa sengaja menyentuh tadi sesuatu sudah menegang didalam sana. Briyan melihat ke arah celananya. Ia juga merasa tersiksa. Ya mungkin karena memang sudah waktunya ia melepas masa lajang. Ia tidak merasakan apapun jika bersama dengan wanita lain. Hanya dengan wanita inilah ia merasakannya.


Dita ingin mengucapkan sesuatu, tetapi sebelum ia berkata-kata sudah dihentikan oleh Briyan.


"Suuut."(☝️) Jari telunjuk Briyan ditempelkan pada bibir mungil dan kenyal milik Dita hingga ia terdiam.


Briyan berfikir kalau tidak dihentikan seorang wanita akan terus saja mengoceh kemana-mana. Walaupun Dita itu tergolong orang yang tidak banyak bicara tapi tetaplah kalau disinggung ia akan marah dengan suara indahnya.


"Sudah lah aku minta maaf. Mungkin kamu mau malah melakukan hal yang lebih." Canda Briyan sambil menaik turunkan alis dan tersenyum smirk.


"Dasar Mesum." Kata Dita dengan nada sedikit marah.


Dita yang diam setelah berkata itu marah sambil mengerucutkan bibirnya. Pria yang ada di sampingnya itu meliriknya dan melihat raut wajah Dita.


"Gak usah dimonyong-monyongin itu bibir. Atau minta aku sun." Kata Briyan sambil menghidupkan mesin mobil.


Hening


Hening


Hening


Saat perjalanan hanya sebuah keheningan. Tiba-tiba mobil itu berhenti di sebuah hotel yang sangat mewah.


"Untuk apa ke sini?" Tanya Dita dengan tatapan tajamnya.


"Mau membuat perut besar." Jelas Briyan.


Dita tidak bergerak dari posisinya. Walaupun ia juga jago bela diri tetaplah ia akan kalah melawan pria yang bersamanya sekarang.


Setelah pintu dibukakan ia pun tidak langsung turun.


"Jangan berpikir macam-macam. Mau turun sendiri atau aku turunkan?" Bisik Briyan tepat ditelinga Dita hingga membuatnya geli.


Dita percaya pada Pria ini yang akan selalu menjaganya. Ia tidak akan berbuat sesuatu yang menjijikkan padanya.


"Silahkan Tuan Putri." Kata Briyan sambil membungkukkan badannya.


Dita merasa malu diperlakukan seperti ini hingga orang-orang yang berlalu lalang melihatnya dengan tatapan yang tak bisa terbaca.


Seketika Briyan melihat ke kaki panjang indah milik Dita juga hampir tertawa lepas. Wanita yang berjalan di depannya dengan melangkah dengan percaya diri sekali.


Mengingat kejadian tadi di mall ternyata masih belum sadar juga ini wanita.


*** *** *** ***


(Mengoceh maaf kayak burung. Disana tadi wanita berarti semua wanita kayak burung. Maaf ya kakak-kakak semua saya juga wanita jadi itu tadi cuma diibaratkan).


Apa sih yang diketawain orang-orang? Ayo kakak semua ditebak ya?


♥️♥️♥️


89


Rasa marah yang ada sejak dalam perjalanan tadi hingga membuatnya lupa segala sesuatunya. Briyan yang mengekor seperti anak ayam di belakangnya tanpa bersuara berusaha mengingatkannya. Ia menyentuh pundak Dita berkali-kali tapi tangannya selalu dikibaskannya.


Tepat di depan restoran seorang petugas memandangnya dengan sebelah mata.


"Penampilan ok, tapi ya orang jaman sekarang bisa saja menipu." Sindir seorang petugas.


"Kemana laki-laki itu?" Lirihnya dengan Geram.


Ia melihat situasi sekitar yang menatap dirinya seperti badut.


Tiba-tiba seseorang menghampirinya. Ia memiliki paras yang cantik dan menawan.


"Silahkan masuk Nona." Pinta wanita itu.


Dita akhirnya mengikuti petugas resepsionis itu sambil melirik nama yang tertera di bajunya.


Ia diantarkan sampai pada tempat yang diminta oleh sang pemilik restoran. Di tempat yang sungguh dalam situasi yang romantis.


I**ni aku diantar di tempat yang salah." Pikir Dita.


Ponsel yang ditaruh disalam tas dicarinya. Sungguh terkejut tas pun tak dibawanya. Seketika itu juga ia melihat ke arah kakinya.


Malu sungguh ia rasakan, ingin rasanya ia menenggelamkan diri di lautan lepas. Ia jadi tahu penyebab orang-orang tadi menertawainya.


Tok Tok Tok


Suara pintu di ketuk perlahan. Dita yang mendengarkan itu hanya diam. Ia masih melamun dan memikirkan kejadian hari ini. Ia masih takut salah tempat.


Ketika suara pintu ketukan itu terdengar lagi Dita pun tersadar.


"Masuk." Pintanya dengan perlahan.


Seseorang membawa sesuatu yang terletak di atas nampan. Terlihat sangat cantik dan mahal.


(Kira-kira apa ya?)


Saat terpesona dengan yang dibawakan oleh pelayan, tak lama seseorang muncul dari balik pintu. Dita menatap dengan tatapan yang sangat tajam. Tatapan itu bisa menembus hingga hatinya.


Pria itu mendekat kemudian berjongkok mengambil dan mengenakannya pada kaki panjang sang Pujaan hati. Dita merasa sungguh sangat malu.


Saat mau dipakaikan Dita malah melangkahkan kaki hingga mundur beberapa langkah. Melihat itu Briyan mendongokkan kepalanya melihat wajah cantik itu.


"Pakailah, itu untuk mu." Perintah Briyan dengan lembut.


Dita melangkah maju menerima dan memakainya dengan senang hati. Itu pun dipakaikan oleh Briyan.


Mereka pun duduk berhadapan dengan canggihnya. Seperti anak muda yang baru kenal.


"Aku kira tadi kamu melarikan diri setelah mengantarku sampai sini." Kata Dita.


Briyan hanya mengangkat bahunya dengan sebuah senyum yang semakin membuatnya semakin tampan.


Melihat Dita yang lupa memakai alas kaki, ia langsung berbalik menghubungi seseorang untuk membelikan sebuah high hills yang sudah lama diinginkannya. Itu adalah untuk calon istrinya. Tentu saja dengan uang Briyan yang cukup banyak.


Cake pun diantar oleh pelayan menuju ruangan tempat sepasang sijoli ini berada. Dua buah cake sebagai hidangan spesial.


Dita memotong cake kecil miliknya. Walaupun kecil tapi penampilannya cukup mewah.


Potongan kue itu belum sampai pada bagian bawah tapi sudah terasa keras.


"Seperti ada logam." Batinnya.


Tidak bisa dipotong sampai bawah akhirnya kue itu dibelah ke samping. Ia pun terkejut ketika melihat sesuatu yang ada di dalam kue itu.


"ini?" Tanya Dita.


Briyan mengambil dan memasangkan cincin itu di jari manis wanita yang saat ini berada di depannya.


"Aku ingin menikah dengan Mu akhir pekan ini." Kata Briyan.


"Tidak kah terlalu cepat?" Katanya Dita.

__ADS_1


"Sudah ada yang ngurus, tenang saja." Jelas Briyan.


Briyan tahu apa yang ada dipikiran wanita ini. Masalah persiapan tidak semudah itu.


"Baiklah." Kata Dita yang akhirnya menyetujui.


Mereka berdua akhirnya menikmati makan malamnya yang romantis. Tengah malam mereka baru pulang.


Briyan mengantarkan Dita sampai di rumahnya. Mobil pun berhenti Dita tidak segera turun. Briyan pun membukakan pintu mobil dan Dita pun turun.


Mereka berdua berjalan beriringan. Sampai di depan pintu Briyan mengecup kening Dita. Entah setan apa yang merasukinya hingga membuat Briyan ingin ******* bibir kecil itu. Dita pun memejamkan matanya mulai bersiap.


Ceklek


Tiba-tiba pintu rumah pun terbuka. Ibu Dita sudah berada di depan pintu. Sang ibu mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah.


Briyan dan Dita yang terkejut mendengar pintu rumah di buka pun keduanya gelagapan dan salah tingkah. Wajah mereka sangat memerah karena malunya.


"Haduh, Ibu kenapa tiba-tiba jadi gagal ini." Keluh Briyan.


"Kenapa tidak segera masuk? Makanya tadi ibu bukakan pintu." Kata Ibu.


Mereka berdua akhirnya ikut masuk ke dalam rumah. Dita membuatkan minuman untuk Briyan yang sedang mengobrol dengan ibunya.


Briyan menyatakan maksutnya untuk menikah dengan Dita di akhir pekan ini. Sang Ibu pun hanya bisa merestui hubungan mereka.


Minuman yang dibuatkan Dita sudah diminum sampai habis. Briyan pun berpamitan untuk pulang.


Lega sudah menyatakan maksut pada calon mertua. Briyan pulang dengan hati yang berbunga-bunga.


**** Hari Minggu ***


Kediaman Adrean selalu menjalani ritual hari minggunya hanya berdiam di rumah. Walaupun begitu tetap saja terasa menyenangkan, sebab rumah ini selalu ramai dengan tingkah anak-anaknya.


Hari ini lain dari biasanya, akan ada tamu yang akan berkunjung. Tanpa memberi tahu terlebih dahulu kepada yang punya rumah.


Penjaga pintu sudah mengenal jadi ia diperbolehkan untuk masuk. Si tamu melarang penjaga untuk memberi tahu empunya rumah.


Suara mobil terdengar semua penghuni rumah. Karena mereka sedang berada di ruang tengah.


"Siapa yang datang pagi-pagi gini sih?" Tanya Papa.


"Tahu ah. Jalangkung kali." Jawab Tari.


"Siapa bilang aku Jalangkung." Suara bariton pun terdengar sangat jelas.


Semua mata tertuju pada arah suara yang menggema jelas. Mentari tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Mentari mengecek matanya berkali-kali. Hingga akhirnya sebuah jari menyentil hidungnya.


"Au, sakit." Pekiknya.


"Ternyata ini nyata ya?" Tanyanya lagi.


"Ia bukan jalangkung." Kilah Alfian.


"Assalamualaikum." Salam Alfian yang baru datang itu.


"Wa'alaikumsalam." Jawab seisi rumah Adrean.


"Tumben Al dateng?" Tanya Papa.


"Iya Om, kangen sama cewek cantik."


Mendengar jawaban Alfian wajah Mentari pun jadi memerah karena malu. Agar tidak ketahuan ia segera beranjak ke dapur membuatkan minuman.


"Duduk sini Al?" Perintah Papa.


Mereka berbincang-bincang di ruang tengah. Alfian sudah merupakan anggota keluarga buat mereka jadi tidak berbincang di ruang tamu.


Waktu semakin sore, tidak terasa mereka sudah berbincang sangat banyak. Tidak lupa juga mengenai kelanjutan hubungan dan masa depan Mentari dan Alfian.


Alfian pamit pulang karena waktu sudah sore. Ia pun berpamitan pada keluarga Adrean.


"Om, Tante saya pulang dulu, soalnya waktu sudah sore." Pamit Alfian dengan sopan.


"Iya Al, sering-sering main ke sini." Pinta Papa.


"Datang gak diundang pergi pun gak usah di antar kali." Sindir Tari.


♥️♥️♥️


90


"Om, Tante saya pulang dulu, soalnya waktu sudah sore." Pamit Alfian dengan sopan.


"Iya Al, sering-sering main ke sini." Pinta Papa.


"Datang gak diundang pergi pun gak usah di antar kali." Sindir Tari.


"Emang jalangkung." Kata Alfian sambil berjalan meninggalkan ruang keluarga.


Saat itu juga Mentari berjalan mengekor di belakangnya. Ia juga masih punya etika untuk mengantarkan tamu ke luar biarpun tadi ia bilang gak diantar.


Byur


Di pintu utama terdengar seperti sebuah air jatuh. Papa dan Mama yang mendengar pun langsung berlari keluar.


"Ha.... ha.... ha..... " Bunyi tawa seisi rumah.


Terlihat badannya jangkung yang tampan itu sudah basah kuyup. Alfian bisa menebak siapa pelakunya.


Pelakunya tidak menampakkan batang hidungnya sejak tadi. Alfian merasa kagum dengan kecerdasan yang mereka miliki.


Untuk anak seusia mereka itu tergolong sangat luar biasa. Apalagi mereka sangatlah mandiri. Mereka tidak pernah dibatasi dalam segala hal selagi tidak merugikan orang lain.


"Kak Al di dalam rumah emang hujan?"Kata Daffa dari dalam rumah.


"Iya hujan lokal." Jawabnya.


Daffa emang tadi masuk terlebih dahulu setelah membuat jebakan di depan pintu. Alfian tetap saja tidak marah pada mereka walaupun berulangkali ia dikerjain.


"Kalian ini selalu saja ngerjain kakak ya!" Seru Alfian.


"Habisnya kakak gak pernah main ke sini sih." Protes Axel.


"Ada yang kangen kayaknya nih." Kata Papa.


"Yang kangen bukannya anak gadis tapi ke tiga kurcaci ku ini." Kata Mama


"Yang ada nanti kalian ini yang jadi pengangguran bukan kakak kalian." Lanjut Mama.


Keduanya jadi malu mendengar ucapan sang Mama. Alfian langsung berpamitan dan masuk ke mobilnya walaupun basah kuyup. Sedangkan Mentari mengantarnya sampai di depan pintu.


Di dalam mobil sebelum mesin itu dinyalakan Alfian sempat berganti baju. Ia menaruh pakaian ganti di dalamnya. Selesai mengganti bajunya ia langsung meninggalkan rumah Adrean.


"Daah." Kata semua orang di rumah Adrean sambil melambaikan tangannya.


*** *** Apartemen Briyan *** ***


Briyan sedang mengurus segala sesuatu untuk acara resepsi pernikahannya dengan Dita. Tidak butuh waktu lama ia meminta semua orang kepercayaanya terlibat sehingga cepat selesai.


Susunan acara sudah ditetapkan. Tidak lupa juga dengan tempat ijab kobul yang akan diadakan serta tempat pesta berlangsung.


Fitting pakaian pengantin baru akan segera mereka laksanakan dalam waktu dekat ini. Besuk ia akan minta ijin dari kantor untuk hal tersebut.


Dreeeet dreeeet dreeeet

__ADS_1


Ponsel Dita bergetar tanda panggilan masuk. Ia melihat siapa yang menghubunginya. Tanpa menunggu lama ia pun segera menhawab panggilan itu.


__ADS_2