Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 97. Mengijinkan Dia


__ADS_3

"Saya sekarang ada di bawah tidak diperkenankan masuk." Kata Ayah Alfian sopan.


"Maaf Pak, sebentar, saya akan memberitahukan kepada petugas rumah sakit yang berjaga malam ini." Balas orang yang ada di sebrang telepon.


"Baiklah akan saya tunggu." Balas Ayah Alfian.


"Assalamualaikum." Lanjutnya.


"Wa'alaikumsalam." Balas orang yang di sebrang telepon.


"Maaf Pak. Silahkan masuk." Kata petugas setelah menerima telepon dari direktur Rumah Sakit itu.


"Terimakasih." Kata Ayah Alfian masih sopan.


Kedua orang tua Alfian langsung menuju ruang rawat VIP khusus keluarga. Mereka berjalan perlahan melewati koridor rumah sakit.


Biasanya Kedua orang ini berjalan cepat secepat kilat ketika mendapati berita yang tidak baik tentang anaknya. Kali ini bedalah mereka berdua berjalan perlahan seperti seorang pengantin yang menuju tempat pelaminan.


Ibu hamil memang sangat istimewa selalu diperhatikan oleh suaminya. Mendapat perhatian yang lebih pastinya. Begitu juga sang bunda saat ini.


Berjalan perlahan takut terjadi sesuatu dengan kandungan istrinya itu jika ia berjalan cepat. Tidak sabar sang Ayah sebenarnya.


Thing


Pintu lift terbuka tapi sangat sepi, tidak ada yang memakai alat ini karena bukan waktu berkunjung pasien. Mereka berdua memasuki lift ini hingga lantai atas tanpa ada orang luar. Kalau ini memang serasa dunia milik berdua.


Thing


Pintu lift pun terbuka dengan sendirinya. Sepasang suami istri ini keluar dari dalam sarana itu sebentar lagi mereka akan dalam memasuki kamar yang sangat ramai.


Jadi katakanlah "Bay-bay dunia milik berdua." Sebentar lagi "Selamat datang dunia milik bersama."


"Parah ya?" Tanya seseorang yang baru saja masuk kamar rawat seorang Pemuda tanpa membunyikan Bel, mengetuk pintu ataupun salam karena sudah merasa sangat khawatir pada anak laki-lakinya itu.


Tanpa ada yang menjawab seisi penghuni ruangan itu padahal ada lebih dari satu penghuni disana. Mereka langsung menoleh pada asal suara yang datang.


Menunggu lama baru ada suara setelah kedua orang tua Alfian berada dekat pada tempat tidur Sang Anak. Mereka menanyakan berbagai macam hal.


"Kenapa bisa sampai terjadi seperti ini sih sayang?" Tanya Bunda sesaat setelah duduk di sisi tempat tidur Sang Anak.


"Aku kurang hati-hati tadi saat menyebrang Bun." Jawab Alfian.


"Mau dirawat berapa lama?" Tanya Sang Ayah yang sebenarnya tahu muslihat Sang Anak.


"Seumur hidup pun mau." Jawab Pemuda yang baru memperbaiki posisi duduknya bersandar di kepala tempat tidur itu. Sedangkan yang mendengar jawaban Alfian baru saja sampai membulatkan mata sempurna.


"Ok-ok, kalau begitu menikah juga di sini saja biar sangat mengesankan." Kata Ayah Alfian ingin memojokkan atas jawaban Pemuda itu.


"Hah." Keluh Pemuda itu menatap Sang Ayah tak percaya dengan ucapannya baru saja.


"Iya-iya. Pasti aku akan berusaha cepat pulih." Kata Alfian mengaku kalah.


"Aku kan anak Ayah dan Bunda yang paling hebat dan kuat." Lanjutnya memuji diri sendiri.


"Nah begitu dong." Kata Bunda baru membuka suara.


Pemuda ini memang akan menikah dalam beberapa hari ini. Kejadian hari ini memang menjadi salah satu kendalanya.


Saat berkunjung ke makam ia memang sudah diingatkan oleh penjaga makam itu. Banyak hal yang tak kasat mata bisa terjadi.


Seorang gadis yang tadinya sedang bermanja-manja dengan Papanya, sekarang ia harus menahan itu semua setelah kedatangan kedua orang tua Alfian. Ia tahu tempat ketika ada orang lain biarpun itu adalah kedua orang tua Alfian.


Gadis ini tidak mau memperlihatkan kelemahannya pada orang lain. Ruang rawat yang sangat luas ini bisa menampung banyak orang.


Malam ini kedua keluarga memutuskan untuk menemani pasien yang sangat tampan ini. Para pria berbincang dengan sesama sedangkan kedua wanita itu juga sama.


Papa dan Ayah Alfian sejak tadi hanya berbicara tidak lepas dari perusahaan sedangkan para wanita ini membicarakan juga tidak lepas dari dunia mereka.


Ketiga anak kecil itu sudah mencapai dunia mimpi sejak tadi. Hanya saja sepasang remaja ini tidak berani berkutik sama sekali.


Sepasang muda mudi lain halnya bahkan hampir tidak pernah berbincang walaupun mereka sangat dekat. Bisa dibilang hanya satu jengkal saja mereka lebih banyak diam seribu bahasa.


Waktu sudah hampir pagi karena asiknya mereka sampai lupa waktu. Dilihat jam yang tergantung pada dinding sudah hampir subuh mereka masih saja asik dengan obrolan masing-masing.


Hari ini ibu hamil ini juga sama ia sangat suka dengan obrolannya hingga dini hari matanya tidak merasa kantuk sama sekali. Pada hal ibu hamil harus banyak-banyak istirahat apalagi dalam usia kandungan yang masih sangat muda seperti itu.


Sang Mama selalu mengingatkan pada ibu hamil tersebut untuk istirahat tapi selalu saja ada alasan untuknya untuk menghindari tidur yang harus dilakukannya. Ia tidak mau kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada kandungan calon besannya itu.


Pagi hari ini mereka semua masih berada di rumah sakit. Para pemilik perusahaan hari ini dengan sesuka hati mereka meliburkan diri.


Mata mereka merah karena kurang istirahat. Bukan hanya kurang tidurpun tidak.


Pakaian ganti jangan tanya lagi, pastinya mereka tidak membawanya. Ada saja pasti pihak yang direpotkan.


Asisten mereka walaupun mereka banyak pekerjaan tetapi mereka pasti sudah siap untuk direpotkan dari pada potong gaji dan tidak dapat bonus bulanan.


Thiiiing


Bunyi pesan masuk pada Hp milik Ziko yang saat ini sedang memiliki pekerjaan ganda. Pesan dari Sang Bos Besar segera tahulah Ia karena nada sambungnya dibedakan.


Sebuah alasan sendiri Asistennya itu melakukannya. Ia tidak mau mengecewakan orang yang telah memberikannya sebuah pekerjaan. Hal itu menjadi alasan utama baginya.


Terlambat sedikit saja pastinya Atasannya itu memiliki tameng untuk menahan gaji dan bonusnya. Jika sudah seperti itu bisa mati kelaparan dianya.


Isi Pesan:


"Bawakan Aku baju ganti! ~ Alfian.


"Baik Bos." ~ Ziko.


"Ada yang lain?" ~ Ziko.


"Tidak untuk saat ini." ~ Alfian.


Ziko keluar dari perusahaan dengan tergesa-gesa. Sekretaris Alfian melihatnya dengan heran melihat Sang Asisten.


Sekretaris itu menghadangnya di depan pintu lift khusus direktur. Apalah daya kekuatan seorang wanita tidak lah seberapa hingga yang semula ia hanya ingin menghadangnya malah ikut terdorong masuk ke dalam lift itu.


Pengguna lift itu hanyalah orang-orang tertentu jadi tidak seramai lift untuk para karyawan. Untuk selanjutnya jangan ditanya apa yang terjadi di dalam sana yang hanya ada seorang pria dan seorang wanita.


Thing


Suara pintu lift tertutup hanya mereka berdua di dalamnya. Keadaan yang sungguh tak disangka.


Monic terdorong ke dalam lift karena kehilangan keseimbangan akibat sepatu yang terlalu tinggi dan kini berhadapan dengan seorang pemuda. Tanpa sadar Pemuda itu menatap bibir merah ranum hingga menimbulkan suatu keinginan.


Pemuda itu kini mendekat dan semakin mendekat menekan tubuh gadis yang cantik yang berawakan putih itu. Ingin sekali Ziko memakan bibir yang seperti buah cerry itu.


Pemuda itu menekan keinginan itu dan kembali berdiri menghadap pintu lift dengan tatapan nanar. Ia sadar sedang berada di perusahaan dan juga harus segera pergi ke rumah Alfian untuk membawakan semua pesanannya.


"Maaf." Pinta Pemuda tampan yang sekarang berada dalam lift.

__ADS_1


"Hem." Jawab Monic dengan menundukkan kepala.


"Mau kemana tergesa-gesa?" Tanya gadis itu.


"Ke rumah Tuan Alfian." Jawab Ziko.


"Bukankah dia di rumah sakit?" Tanya gadis itu kembali.


"Aku diminta membawakan baju gantinya." Jawab Ziko.


"Oh....." Kata Monic terjeda.


"Gimana keadaannya?" Lanjut gadis itu.


"Aku juga tidak tahu." Jawab Ziko.


"Aku belum sempat menjenguknya." Lanjutnya.


Pemuda itu dari samping terus memperhatikan wajah cantik gadis yang ada di dekatnya. Tanpa sadar pandangannya pun semakin turun hingga pada leher putihnya dan ingin menggigitnya seperti drakula atau Vampir.


Thing


Pintu lift pun terbuka hingga menyadarkan pemuda yang mendapatkan pemandangan gratis saat itu. Gadis itu pun menoleh sadar dari tadi dilihat oleh pemuda yang disampingnya itu.


Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari lift dengan sedikit rasa canggung. Ziko yang ketahuan sedang memperhatikan gadis yang dilihatnya itu bersikap cuek seperti tidak terjadi sesuatu.


Di persimpangan lobi perusahaan mereka berpisah. Pemuda itu berjalan menuju tempat parkir sedangkan gadis itu menghilang entah kemana sejak keluar dari lobi.


Pemuda itu berjalan dengan tergesa-gesa dengan memasukkan tangan pada celana panjang yang ia kenakan. Ia mencari kunci mobil yang diingatnya tadi sudah dimasukkan dalam kantong celananya.


Kunci mobil di dapatkan di kantung celananya tapi setelah mengambilnya sungguh Na'as. Kunci itu terjatuh dan didapatkan bahwa ternyata ban mobilnya bocor.


"Sial." Rutuknya sambil menendang ban mobil itu.


Pemuda itu mengambil benda pipih yang ada di saku celananya. Ia menghubungi montir meminta bantuan untuk menggantikan ban mobilnya.


Montir langganannya memang selalu bisa diandalkan. Saat ini jika bukan sedang berada di kantor ia pasti sudah menggantinya sendiri.


Pemuda itu melihat benda yang melingkar di pergelangan tangannya. Perasaan jadi tidak enak karena sesuatu yang baru terjadi.


"*Celaka pasti ini kena poin dikira aku gak pecus kerja." Batin Seorang Pemuda yang baru saja mendapati ban mobilnya bocor.


"Potong gaji pastinya bikin semakin lama aja gue bujangnya." Lanjutnya*.


Setelah menutup panggilan ia melihat seorang gadis yang hendak menuju kantin. Gadis itu yang bersamanya saat di lift.


Gadis itu melihat Ziko yang baru saja mematikan ponselnya. Ia penasaran seketika tidak biasanya asisten bosnya itu membuang waktu yang sangat berharga.


Gadis itu tidak jadi pergi ke kantin. Ia menghampiri Ziko yang sepertinya sedang membutuhkan bantuan.


Berjalan sedikit cepat gadis itu menghampirinya. Ia menahan rasa sakit pada kakinya itu.


150


Berjalan sedikit cepat gadis itu menghampirinya. Ia menahan rasa sakit pada kakinya itu.


"Belum pergi juga?" Tanya gadis itu.


"Hem." Jawabnya singkat santai tapi sebenarnya hatinya ketar ketir.


"Ada masalah?" Tanya Monic.


"Mau ku antar." Tanya gadis itu dengan menunjuk mobil merah yang ada di belakangnya dengan menggunakan jari jempolnya.


"Aku rasa tidak perlu." Jawab Ziko.


"Benarkah?" Tanya Monic terjeda.


"Mau potong gaji dan bonus bulan ini silahkan." Kata Monik melanjutkan tidak lama ia pun memutar badan arah menuju kantin.


Pemuda itu akhirnya mengejar Monic yang akan menuju kantin. Ia menghadangnya tepat di depan gadis itu.


Bugh


Sadar gadis itu menabrak seorang pemuda yang tadinya tidak mau ditawari dengan bantuannya kini ia pun berjalan tanpa rem alias los dol gas walaupun sedikit sakit di kakinya. Ia tahu kalau pemuda tadi berubah pikiran karena ucapannya yang terakhir.


Gadis itu menyerahkan kunci pada Ziko Sang Asisten dengan melemparkan kunci itu. Dengan gesit Pemuda itu menangkapnya.


Monic sebagai pemilik mobil tidak keberatan meminjamkan untuk dikendarai orang lain sendiri. Lagi pula ia sudah sangat lama mengenalnya.


Pemuda itu pun berpikir bagaimana baiknya agar tidak mendapat prasangka maka gadis pemilik mobil itu pun harus ikut dengannya. Monik pun menyetujui hal itu tetapi tidak maulah ia menyetir mobil dengan kondisi sakit pada pergelangan kaki.


Sang Asisten itu sendiri tidak mau mengendarai mobil yang bukan miliknya tanpa pemiliknya. Ia pun membukakan pintu mobil samping kemudi ia tidak mau dianggap sopir jika gadis itu duduk di belakang alias kursi penumpang.


"Terimakasih." Kata Sang Gadis dengan berusaha memakai sabuk pengamannya itu tapi sayang tersangkut pintu saat sudah ditutup.


"Ada masalah?" Tanya Ziko dari luar saat melihat gadis itu membuka pintu kaca samping mobil tempat yang ia duduki.


"Sabuknya tersangkut." Kata Monik singkat.


"Apa hatimu tidak tersangkut juga?" Tanya Ziko sangat lirih tapi masih bisa di dengar oleh sang gadis.


"Apa?" Tanya Monik.


"Tidak ada apa-apa." Jawab Ziko membuka pintu dan membantu gadis itu memakaikan sabuk pengaman tanpa dimintanya.


"Besar sekali." Kata Ziko lirih ketika melihat dua gundukan besar pada dada gadis itu yang seputih salju.


"Apa?" Tanya Monik.


"Oh tidak. Maaf." Kata Ziko lagi yang tidak sengaja menyenggolnya.


"Empuk dan kenyal." Batin Ziko.


Pemuda itu hanya bisa berkata dalam hatinya. Jika terdengar lagi oleh gadis itu ia sudah tidak memiliki alasan lagi untuk menjawab.


Pemuda itu pun berputar lewat depan mobil dan membuka pintu mobil duduk di bagian kemudi. Selesai memakai sabuk pengamannya dengan benar ia segera menghidupkan mobil itu.


Mobil pun melaju perlahan pada area parkir. Pada pintu masuk parkir karyawan mereka berdua berpapasan dengan para montir langganannya.


"Lambat." Keluhnya dengan suara sedikit kasar.


"Apa kamu bilang?" Tanya gadis yang saat ini sedang duduk di samping Ziko.


"Ini area parkir jadi memang harus lambat kan? Kenapa harus mengeluh? Lanjut gadis itu.


"Bukan." Jawab pemuda itu yang terpotong karena sudah disela oleh gadis itu.


"Jadi karena mobil ku yang lajunya lama?" Tanya Monik.


"Bukan itu." Jawab Ziko.

__ADS_1


"Lalu?" Tanya gadis yang punya mobil meminta penjelasan.


Pemuda itu menggaruk belakang rambut kepala menunggu gadis itu tenang dengan berbagai pertanyaannya. Kondisi rambut yang dari pagi sudah sangat rapi kini sangat berantakan karena pertanyaan yang bertubi-tubi tapi dengan inti yang sama.


"Maksud ku montir yang aku minta tolong untuk mengganti ban mobil ku kenapa tumben datangnya telat." Jawab Pemuda yang kini sudah dikatakan berantakan dengan tatanan rambutnya sekarang.


"Ohhhh." Jawab gadis itu singkat.


"Maaf." Lanjutnya.


"Gak masalah." Kata Ziko.


Keluar dari Bascam parkir mobil karyawan mobil yang dikendarai oleh sepasang muda mudi yang baru saja berburuk sangka melaju dengan cepat menuju kediaman utama keluarga Alfian. Mobil itu menembus keramaian kepadatan jalan ibu kata tanpa ada rasa takut sedikitpun dari pengemudinya.


Hening


Hening


Hening


Suasana dalam mobil itu sunyi senyap tanpa ada suara sedikit pun. Gadis itu hanya diam pasrah dengan nasibnya saat itu.


Pemuda yang mahir dalam mengemudi itu melihat reaksi gadis yang ada disampingnya itu. Gadis itu terlihat sangat tegang.


Dinyalakan spiker yang ada didepannya. Dilihat ada beberapa kaset yang ada dipikirannya itu adalah kaset kesukaan gadis yang ada disampingnya itu.


"Lebih santai kan?" Tanya Ziko melihat ke arah samping kemudi.


"What?" Gadis itu membulatkan mata tak percaya dengan kecepatan yang baru saja ia rasakan.


"Aku tak mau mati konyol seperti ini." Lanjut Monik.


"Sama aku juga tidak mau mati konyol karena aku belum pernah merasakan surga dunia." Kata Ziko dengan santainya.


Gadis yang ada disampingnya percaya walaupun Pemuda di sampingnya itu adalah seorang cassanova tapi ia tetap bisa menjaga kelelakiannya. Ia hanya sebatas memuji sebuah kecantikan seorang wanita tapi untuk mencicipi pemuda itu masih takut dampak kedepannya.


Chiiiiiit


Perdebatan yang mereka lakukan sudah mereda ketika terdengar bunyi gesekan ban dengan aspal tepat di depan rumah utama milik keluarga Alfian. Gadis itu menundukkan kepalanya dari tadi merapalkan doa.


Mulutnya komat-kamit agar mereka diberikan keselamatan sampai ditempat yang akan mereka tuju sekarang. Mendengar gesekan ban mobil gadis itu yang tadinya memejamkan mata kini mulai mambuka matanya lebar-lebar ingin memastikan keadaanya yang sekarang.


"Apa aku sudah sampai di surga?" Tanya Monik refleksi memegang lengan pemuda yang ada disampingnya saat ini.


"Ya benar." Jawab Pemuda itu.


"Sudah aku bilang pelan-pelan nyerinya." Kata Monik dengan diliputi rasa amarah hingga air matanya itu pecah.


Cup


Sebuah kecupan ringan mendarat tepat di pipi kanan seorang gadis yang kini menangis. Ziko mendekatkan tubuhnya itu menggunakan kesempatan dalam kelonggaran untuk dipeluk juga oleh gadis itu.


"Apa ini mimpi?" Bisik Sang Pemuda tepat ditelinga Monik yang sedang menangis.


"Dasar Krocodile!" Teriak Monik sanbil meninju dada bidang yang memeluknya baru saja hingga ia tersadar dengan imajinasinya akibat ketakutan ulah dari pemuda mengerjainya.


Tok tok tok


Pintu kaca mobil diketuk oleh salah satu orang yang bekerja di rumah utama milik Alfian. Pintu kaca yang gelap itu dibuka oleh Ziko sedangkan gadis yang ada di sampingnya itu hanya menatap lurus kedepan dengan kedua tangannya menyilang di depan dada.


Gadis itu masih dalam posisi yang sama tidak berubah tempat ataupun berubah posisi karena masih marah. Sesekali ia melirik Ziko yang telah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan itu.


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


151


Gadis itu masih dalam posisi yang sama tidak berubah tempat ataupun berubah posisi karena masih marah. Sesekali ia melirik Ziko yang telah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan itu.


Seperti tidak terjadi apa-apa antara mereka berdua. Ziko terbiasa sesantai mungkin menghadapi berbagai situasi.


"Aden sudah ditunggu sama Bibi?" Kata salah satu penjaga rumah itu setelah Ziko keluar dari sarangnya. (Authornya biar mengacaukan pikiran kalian sedikit).


"Oh. Baiklah Pak saya akan segera mengambil barangnya." Kata Pemuda itu sopan biarpun dia hanya seorang pembantu.


"Silahkan Aden." Kata penjaga rumah itu sedikit mencuri pandang pada gadis yang ada di dalam sarang warna merah cerah itu.


"Sombong sekali gadis yang bersama tuan Ziko." Batin Sang Penjaga Rumah.


Penjaga rumah berpikir kalau gadis yang ada dalam mobil itu mungkin terlihat sombong dengan gayanya yang seperti itu. Pada kenyataannya ia marah karena ada yang mencuri peluk dan ciumnya.


Keduanya memang bukan yang pertama kali melakukan hal itu. Kejadian seperti itu terjadi pada orang yang sama dan yang pertama tidaklah disengaja.


"Gak mau turun dulu?" Tanya seorang pemuda dari luar mobil dengan membungkukkan badannya agar kepalanya bisa terlihat oleh gadis yang ada di dalam.


"Gak." Jawab gadis itu singkat masih dengan nada amarah yang membuncah.


Pemuda itu tidak segera masuk ke dalam rumah utama milik Alfian. Ia hanya menyandarkan tubuhnya tepat pada sisi luar pintu mobil terlihat begitu santai.


Niatan menunggu gadis yang ada di dalam mobil ikut keluar dari dalam malah ia terkena sengatan matahari yang cukup panas. Keringat pun mengalir seperti layaknya air sungai.


Dreeeeet


Dreeeeet


Dreeeeet


Ponsel yang ada di saku celananya bergetar. Hal itu bersamaan dengan suara seorang gadis yang ada di dalam mobil.


"Gak segera bergerak mengambil barang." Kata Sang Gadis itu dengan nada yang sedikit sadis.


"Mau kamu gak dapat gaji sama bonus bulan ini." Lanjutnya dengan ketus.


Pemuda itu hanya mendengarkan gadis yang ada di dalam mobil. Ia hanya menganggap peringatan gadis itu sebagai suara merdu walaupun sadis di dengar.


Pemuda yang masih menyandarkan badannya itu dengan tangan bersilang di depan dada kini mengambil ponsel yang baru saja bergetar di saku celananya. Ia membelalakkan mata saat melihat Id yang tertera di layar ponsel.


Isi pesan tidak lah berbeda dari biasanya berupa ancaman. Alfian hanya mengancam pada Asistennya itu saja tidak berlaku untuk karyawan lain.


Berupa sebuah ucapan tidak lebih. Ancaman hanya sebuah kata-kata tapi tidak pernah ia lakukan.


Pemuda itu pun mulai melangkahkan kaki menuju ke dalam rumah besar itu. Ia mengambil koper yang berisi beberapa pakaian pemilik rumah.


"Ini Den semua pesan yang harus dibawa ke rumah sakit." Kata seorang wanita paruh baya yang sudah menjadi ART di tempat ini puluhan tahun lamanya.


"Tadi pagi Tuan sudah menghubungi saya untuk membawakan semua pakaian ini." Lanjutnya lagi.


Tanpa berpikir panjang Asisten Ziko membawa koper itu tanpa mengecek ulang apa saja yang harus dibawanya. Ia tidak ingin mengobrak-abrik lagi isi koper yang sudah ditata oleh asisten rumah tangga itu karena waktu memang sudah sangat mengejarnya.


Waktu memang tidak mengejarnya tapi pemilik koper itu lah yang selalu menyuruhnya untuk segera mengantarkan barang tersebut. Ia berjalan dengan langkah yang lebar dan sedikit berlari sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di mobil merah itu merona itu.


Braaaaak

__ADS_1


__ADS_2