
Gerobak diparkirkan ditepi jalan raya yang cukup ramai. Ia tidak pernah khawatir jika terjadi sesuatu dengan gerobaknya itu.
Alfian sadar itu hanya sebuah titipan jadi Ia tidak pernah mengagungkan setiap barang miliknya. Alfian mengenakan kembali kaca mata hitamnya lagi sebelum keluar dari gerobak itu.
"Parkir di sini?" Tanya seorang gadis mencekal lengan seorang pemuda yang baru saja selesai mengenakan kaca mata hitamnya.
"Hem." Jawab Pemuda itu sangat singkat. Mungkin baru saja berencana puasa ngomong.
"Aman?" Tanya gadis itu.
"Lihat saja nanti." Jawab Alfian dengan perlahan melepaskan tangan yang mencelanya.
Mereka berdua turun dari gerobak yang mereka tumpangi berjalan menyebrang jalan raya yang cukup padat dengan kendaraan yang berlalu lalang. Panas matahari yang menyengat kulit mereka tak mereka rasakan.
Mungkin ada rencana terselubung Alfian hingga senyum terukir jelas saat ini. Rencana untuk mengerjain calon istrinya.
Mall terbesar di kota itu sudah terlihat sangat ramai. Pertama kali mereka datang ke tempat itu sangat membuat mereka penasaran tentang pelayanannya.
"Selamat datang Tuan, dan Nona." Kata petugas yang berada di depan pintu masuk.
"Terimakasih." Jawab keduanya kompak.
Alfian dan gadis yang saat ini bersamanya mulai masuk. Belum juga berjalan jauh sudah ada suara yang tidak enak di dengar.
"Aku belum pernah melihat mereka, apa mereka orang kaya baru?" Kata salah satu penjaga yang berada di pintu masuk.
"Benar lihat pakaian mereka, bahkan mereka tadi tidak naik mobil." Celetuk teman kerjanya.
"Pastikan semua CCTV terpasang dengan baik dan tidak bermasalah." Kata petugas keamanan yang mendengar keluhan petugas tadi.
Plaak
Sebuah tepukan pada salah satu petugas keamanan yang merupakan teman ngedem Alfian terdengar cukup nyaring. Tepukan itu cukup membuat petugas keamanan lain semakin yakin kalau pemuda yang baru saja masuk mall tersebut memang dari kelas menengah ke bawah.
Mendengar ocehan bagaikan burung yang tiada henti itu membuat telinga Pemuda yang memiliki Mall tersebut semakin panas. Bukan karena ia direndahkan tapi jika ini terjadi pada pengunjung lain bisa mencoreng nama baik Mall yang terkenal ramah terhadap semua pengunjung dari semua kelas masyarakat.
"Antar aku berkeliling melihat-lihat semua barang yang dijual di sini." Titah Alfian sambil menurunkan sedikit kaca matanya.
"Baiklah sobat." Kata petugas itu.
"Tapi ini bukan tugas ku teman." Lanjutnya menolak ajakan Alfian mengingat tugas utamanya bekerja di mall itu.
"Takut dipecat?" Tanya Alfian singkat.
"Tak akan." Lanjutnya.
Kruuuuk
__ADS_1
Kruuuuk
Kruuuuk
Bunyi perut teman Alfian mulai keroncongan pun sudah terdengar.
Mereka mengelilingi Mall itu hingga tak terasa melupakan waktu makan hingga itu terjadi pada sahabatnya itu. Kelaparan istilah yang digunakan bahasa perut.
Gadis yang bersama Alfian hingga memutuskan untuk mengajak mereka makan di salah satu stant yang ada di dalam Mall itu. Gadis ini pun menjadi pendengar setia sejak tadi.
"Bapak sudah lapar?" Tanya Sang Gadis.
"Ia Non." Jawab teman Alfian dengan menggaruk rambut kepalanya yang tidak gatal.
"Non jangan panggil saya Bapak dong." Pinta petugas keamanan yang merupakan teman Alfian tersebut.
"Saya kan masih muda, seumuran dengan cowok yang bersama Nona." Protesnya.
"Ya sudah kalau begitu saya panggilnya Mas saja ya?" Tanya Mentari.
"Baik Non, saya setuju." Balas petugas keamanan itu.
"Makan di sana dulu yuk." Ajak Mentari sambil menunjuk stan yang dimaksut.
"Baiklah." Kata Alfian.
Gadis ini memilih stand ini karena pengunjungya pun tidak begitu banyak. Melihat hal itu ia memiliki pertimbangan sendiri.
Gadis ini juga sudah lapar dari tadi, tapi karena dicueki oleh orang yang mengajaknya tadi yang keasikan berbincang dengan sahabatnya ia jadi terlupakan. Memaklumi mereka sahabat dekat Gadis ini hanya menahannya saja.
Mereka menuju stand yang ditunjukkan oleh Tari. Dengan langkah yang cukup lebar dan kaki panjang mereka pun cepat sampai.
Mereka bertiga memilih tempat duduk yang strategis. Ingin melihat kegiatan dari para pekerjanya.
Pelayan pun datang membawakan buku menu makan yang bisa di sajikan di stand tersebut. Benar dugaan Tari, makan di tempat ini memiliki pelayanan yang cukup baik.
"Benar kan mereka memilih stand yang paling murah." Kata salah satu pegawainya mencibir setelah Alfian dan temannya duduk.
Telinga Sang Pemilik Mall semakin panas mendengar semua ocehan mereka. Ia hanya tersenyum miring dengan merencanakan bencana untuk mereka semua hingga kalang tak berkabut.
Tap
Tap
Tap
Terdengar derap langkah menejer yang bertugas mengurus Mall itu. Langkah yang semakin dekat hingga petugas keamanan yang menemani Alfian saat ini tidak melihatnya datang karena posisi yang membelakangi pintu masuk dan sedang berbincang asik dengan pengunjung satu itu.
__ADS_1
Menejer itu menghampiri mereka bertiga setelah mendengar dari semua staf yang bekerja di Mall itu. Alfian hanya diam melihat kedatangan sang menejer. Ia ingin mendengar apa saja yang akan di katakan menejer itu selalu pengurus Mall.
"Siang Tuan." Sapa Sang Menejer.
"Hem." Jawab Alfian agak angkuh seperti biasanya pada orang lain layaknya pemimpin.
"Penampilan seperti ini apa punya modal untuk belanja di sini? Batin Menejer itu.
"Benar apa yang aku dengar dari semua staf hari ini." Lanjutnya.
Deg
"Maaf Tuan saya ingin berbicara dengan pegawai saya." Pinta Sang Menejer.
"Silahkan menikmati makan siang Anda." Lanjutnya.
"Tapi saya ingin dia tetap disini untuk melanjutkan kerjanya." Titah Alfian tegas.
"Pembeli Adalah Raja apa yang mau kamu lakukan?" Tanya Alfian pada Sang Menejer.
"Baik lah tuan itu jika anda memang mau membeli. Saya yakin anda tidak dapat membeli barang-barang di sini." Ledek Sang menejer dengan rasa percaya dirinya.
"Untuk membayar makanan yang paling murah di sini saja anda pasti menghabiskan uang di dompet Anda." Lanjutnya.
"Yap. Anda betul." Balas Gadis yang ada di samping Alfian.
Perang mulut pun akhirnya terjadi antara Gadis yang bersama Alfian dengan menejer mall itu. Alfian yakin gadisnya itu pasti akan menang jika beradu mulut.
"Baik saya akan ikut Bapak." Kata petugas keamanan yang bersama Alfian.
"Aku tidak mau di pecat, aku masih butuh pekerjaan ini." Lanjutnya yang ditujukan pada Alfian.
"Santai Bro kamu tidak akan dipecat." Kata Alfian tersenyum miring dibalik kaca mata hitamnya.
Alfian mengambil benda pipih yang ada di celana sportnya. Ia menghubungi asistennya untuk menyelesaikan masalah baru saja.
Ia minta kunci ruang kantor pribadinya dan meminta semua staf untuk berkumpul di ruang meeting. Semua staf pun merasa aneh dan tidak seperti biasanya.
Sudah lama semua staf tidak di kumpulkan secara bersamaan seperti itu. Harus senang atau khawatir untuk meraka hari ini. Kejadian seperti ini dilakukan jika dalam keadaan darurat.
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
Ayo dukung terus Authornya ya
Jangan lupa beri vote & like.
Kalang tak berkabut apa sih maksutnya?
__ADS_1