Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 81. Alfian menerima suapan


__ADS_3

Alfian menerima suapan itu dengan senang hati. Setelah menerima suapan itu Alfian mengeluarkan sebuah kado yang telah disiapkan kemarin.


"Ini hadiah mu." Kata Alfian.


"Terimakasih Kak." Balasnya.


Alfian memberikan sekuntum bunga mawar merah yang sangat indah. Mentari menerimanya dengan tersenyum bahagia.


Senyum yang terlukis diwajah cantiknya itu membuatnya semakin menawan. Alfian bahkan tak bisa menggambarkan betapa cantiknya gadis yang saat ini sekarang bersamanya.


Alfian mengambil sesuatu dari dalam laci meja. Ia memberikan hadiah satu set perhiasan yang sangat mahal itu kepada Mentari.


"Kak ini terlalu mahal." Tolak Mentari dengan sopan.


"Pakailah atau aku pakaikan." Ancam Alfian.


Alfian segera memakaikan satu set perhiasan itu. Ia menyibakkan rambut Mentari dan memakaikan kalung liontin dengan cepat tanpa seijin empunya leher.


Mendapat perlakuan seperti itu ia terkejut. Setelah mengenakan kalung Alfian juga mengenakan aksesoris yang lainnya juga.


Mereka berdua akhirnya makan malam di sana juga. Tanpa sadar waktu sudah cukup larut. Mentari ingin diantar pulang ke rumah.


"Aku mau pulang." Katanya.


"Tidurlah saja dulu di sini." Pinta Alfian.


"Papa nanti mencari ku." Jelas Tari.


"Tidak, tadi aku sudah bilang sama Om." Kata Alfian.


"Masak kamu mau pulang dengan pakaian seperti itu." Jelasnya lagi.


Mentari terdiam seribu bahasa. Ia berpikir apa yang dikatakan Alfian baru saja.


"Baiklah tapi kita tidur terpisah Ok." Syarat Tari.


"Emang kenapa kalau kita tidur bersama?" Goda Alfian.


"Bukan muhrim." Kata Tari sambil membulatkan matanya.


Alfian memang suka menggoda calon istrinya itu. Akan tetapi dengan orang lain ia selalu bersikap dingin.


Tidak ada beda dengan Mentari, gadis ini selalu bersikap keras kepala kepada siapa saja. Ketus kepada siapapun. Akan tetapi hatinya sungguh sangat baik.


Perdebatan itu membuat waktu tak terasa semakin larut saja. Alfian melihat jam yang ada di tangannya. Ia kemudian pamit pulang untuk menjaga agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Hal itu bisa saja terjadi karena mereka dua orang yang berbeda jenis kelamin. Apalagi mereka punya rasa satu sama lainnya.


"Aku pulang dulu." Pamit Alfian sambil mengacak rambut gadis itu.


"Kenapa kamu yang pergi?" Tanya Tari.


"Antar aku pulang saja." Pintanya lagi.


"Sudah tengah malam kamu tidur di sini saja. Jangan lupa pintu dikunci besuk kalau aku mau menjemputmu aku akan menghubungi mu dulu." Jelas Alfian yang sangat panjang.


"Jangan lupa itu Handphon dicas." Lanjut Alfian dengan nada meledek.


"Dari nama kamu tahu Hp ku kehabisan baterai?" Tanya Tari.


"Dasar gadis ceroboh." Ledek Alfian sambil mengacak rambut Tari sambil berdiri dan kemudian melangkahkan kaki keluar.


"Hentikan kebiasaan mengacak rambut ku kakak, aku jadi jelek nanti." Protesnya.


Alfian hanya mendengarkan protes gadis itu sambil berlalu. Ia segera keluar dan menutup pintu apartemennya.


*** *** *** *** *** ***


Setelah kepergian Alfian, Mentari mengambil ponselnya kemudian mengisi baterainya. Baterai ponsel sudah terisi tetapi belum bener-bener penuh sudah dilepas dari pengisiannya.


Dilihat jam yang tertera di ponsel. Ingin rasanya ia menghubungi rumah, tapi diurungkan niatnya itu.


Pasti mereka sudah terlelap, kangen rasanya dengan ketiga saudara ku.


Pikiran Mentari terus pada keluarganya yang di rumah.


Tidak berapa lama ada pesan masuk di ponselnya itu. Dilihat nama pengirimnya "Mama."


Isi Chat


"Udah selesai acaranya?" ~ Tanya Mama


"Ponsel dimatiin, takut diganggu apa?" Tanya Mama lagi.


"Kenapa tadi ninggalin aku sih Ma?" Tanya Kakak.


"Gak sopan sekarang ya? Mama tanya belum dijawab malah ganti nanya. Biar Mama doa'in dapat jodoh yang tajir melintir, tampan, dan menyayangimu setulus jiwa raganya." Kata Mama yang panjang kali lebar.


"Iya-iya. Aku aminin dulu aja deh ya biar kelakon (keturutan). Balas Kakak.


"Ponsel aku tadi lowbet alias kehabisan baterai." Jelas Kakak lagi.


"Udah malem segera tidur." Perintah Mama.


Mentari segera menaruh ponsel di atas nakas. Ia pun segera berbaring dan memejamkan matanya. Perasaannya sangat senang hingga Tidurpun sangat nyenyak.


Pagi pun tiba, sinar matahari masuk menyusup tirai jendela kamar apartemen itu. Perut sudah keroncongan.


*Kusimpan rindu dihati


gelisah ku tak mengerti


berawal dari kita berjumpa


tak pernah ku duga*


Anggaplah itu nada dering ponsel Mentari


"Assalamualaikum." Sapa Tari


"Wa'alaikumsalam." Balas orang yang di sebrang telepon.


"Aku mau pulang sekarang." Pinta Tari.


"Baiklah bersiaplah, aku akan segera menjemput mu." Perintah orang yang di sebrang telepon.


Mentari segera mengemasi barang-barangnya. Ia tidak punya baju ganti setelah mandi.


Apa aku harus pakai pakaian kemarin. Pikir Tari.


Ting tong Ting tong Ting tong


Bel pintu apartemen pun berbunyi. Mentari membuka pintu itu perlahan. Dilihat seorang pangeran sudah berdiri di depan pintu itu.


Alfian menutup hidungnya yang mancung itu. Ia ingin menggoda gadis yang ada di depannya itu.


"Belum mandi ya?" Tanya Alfian dengan menutup hidungnya.


"Enak aja." Sanggah Tari.


"Kenapa bauk trus itu baju kenapa baju kemarin dipakai lagi?" Ledeknya lagi.


"Aku kan gak bawa baju ganti Kupret (kutu Kampret)." Balas Tari dengan nada ditekan.


"Di dalam almari ada banyak baju." Jelas Alfian sambil menutup pintu apartemennya dan berjalan menuju ruang tamu.


Mentari berjalan menuju almari pakaian melihat semua pakaian yang ada di dalamnya. Ia tidak percaya semua pakaian di dalamnya masih ada pakaian wanita lagi.


Pikirannya mulai menebak kemana-mana. Apartemen laki-laki di dalam lemarinya ada pakaian wanita.


Ting tong Ting tong Ting tong


Suara bel pintu apartemen berbunyi. Alfian berdiri kemudian berjalan membukakan pintu tersebut.


Mentari juga mendengar bunyi bel pintu tetapi ia lebih ingin melihat pakaian-pakaian wanita di dalam lemari. Dalam otaknya kini sudah berpikir macam-macam.


Alfian membukakan pintu ternyata pengantar makanan. Ia tadi sudah memesan berbagai macam makanan sebelum pergi ke apartemen.


Mentari mengambil baju sembarang yang tersimpan di almari pakaian itu. Ia berjalan menuju meja makan untuk sarapan.


"Senyum yang menggoda." Batin Alfian sambil tersenyum.


"Ngapain senyum-senyum? Tanya Tari dengan galaknya.


"Kayak orgil aja." Lanjutnya.


"Mau dapat suami orgil?" Tanya Alfian.


"Gak banget gitu!" Tolak Tari.


"Jadi elu suka ngajak para perempuan ke apartemen?" Tanya Tari sinis.


"Gue kira elu beda ternyata sama aja." Lanjutnya dengan nada tinggi.


"Jadi kamu cemburu?" Tanya Alfian.

__ADS_1


"Anterin aku pulang sekarang! Atau aku akan pulang sendiri naik taksi?" Ancam Tari.


"Tunggu aku gak akan ngijinin kamu pergi dari sini sebelum aku tahu masalah mu kamu marah-marah." Ancam Alfian.


"Toh Om dan Tante sudah tahu kamu sana aku." Jelas Alfian.


"Kamu!!!" Teriak tari hendak memukul Alfian.


Alfian pun dengan sigap menangkap Pergelangan tangan itu kemudian memutar hingga Tari terbalik seperti seorang polisi yang memborgol penjahat. Perlahan Alfian mendekatkan tubuhnya. Ia membisikkan sesuatu hingga membuat bulu kuduk Mentari merinding.


"Masalah mu apa hingga kamu marah-marah?" Tanya Alfian saat itu sambil melepas pergelangan tangan Tari perlahan.


Mentari menjelaskan semuanya. Ia mengira semua pakaian wanita dalam lemari itu adalah punya wanita lain yang sering kali diajak kencan.


"Jadi kamu kira aku laki-laki yang mudah tergoda dengan wanita lain?" Tanya Alfian dengan senyum smirknya.


Dia tersenyum karena calon istrinya marah karena cemburu. Berarti ia sangat mencintainya.


"Baiklah akan aku beri tahu. Kamu salah paham sayang. Aku membeli pakaian itu baru kemarin. Aku sengaja membeli sebanyak itu karena aku tidak tahu kamu suka pakaian yang seperti apa." Jelas Alfian.


Mentari menatap dalam ke mata Alfian ingin mencari kebohongan yang telah ia ciptakan. Hasilnya justru terbalik, yang ia lihat justru sebuah ketulusan dan kejujuran yang ia dapat kan.


"Maaf aku salah paham pada mu. Seharusnya aku bertanya pada mu dulu." Sesal Tari.


"Sudahlah kamu harus tahu aku akan berusaha menjaga sekuat tenaga ku anak singaku. Seperti janjiku dulu pada mu." Jelas Alfian dengan mantapnya.


Alfian kini memeluk gadis yang saat ini bersamanya dengan penuh kasih sayang. Tak berapa lama ia kembali mengacak rambut gadis itu hingga membuatnya kesal.


"Ayo makan dulu." Ajak Alfian sambil menarik tangan Mentari sebelum marah lagi karena rambutnya sudah berantakan.


Alfian menggeser mundur kursi yang akan mereka berdua duduki. Setelah duduk mereka makan dengan lahapnya. Tiba-tiba Alfian menghentikan makannya melihat gadis yang sekarang ada didekatnya itu.


"Kenapa lihat-lihat sampai segitunya?" Tanya Tari.


"Gak akan kenyang lihatin aku terus, malah ntar kamu bisa mimpiin aku tiap malem." Lanjutnya.


"Habisin tu makanan nanti biar badan mu kuat bisa melawan aku kalau lagi marah kayak tadi." Perintah Alfian.


"Bukannya tambah kuat tapi tambah gembrot." Balas Mentari.


"Lha itu tahu." Kata Alfian.


"Kalau gak tahu mah cari aja mbah gogle." Perintah Tari.


"Udah jangan banyak omong, cepet makanannya dihabisin biar kuat, ada tenaga." Perintah Alfian.


"Kok buru-buru amat, emang mau ke mana?" Tanya Tari.


"Sebelum ngantar kamu pulang aku mau ngajak kamu jalan. Ok." Ajak Alfian.


"Ok." Jawab Tari dengan senangnya.


Usai sarapan Mentari langsung memberaskan makanannya. Ia berjalan menuju kamar lagi untuk mengganti bajunya.


Berhubung tadi sempat berdebat dengan Alfian membuatnya berkeringat lagi. Ia memutuskan untuk mandi lagi baru mengganti bajunya.


Alfian yang merasa bosan menunggu memutuskan untuk mendengarkan rekaman duet kemarin bersama calon istrinya. Mentari yang mendengar rekaman itu pun bergegas keluar untuk mendengarkan juga.


♥️♥️♥️


101


"Suara ku bagus kan?" Tanya Tari.


"Hingga didengarkan terus tanpa henti." Lanjutnya.


"Pede amat bilangnya." Sanggah Alfian.


"Dari siapa sih kamu belajar bernyanyi seperti itu? Tanya Alfian.


Mentari hanya tersenyum-senyum penuh arti tanpa menjawab. Ia banyak menyimpan semua kemampuannya.


Waktu semakin siang mereka berdua pergi meninggalkan apartemen. Mereka hendak jalan-jalan biarpun mereka belum tahu tujuannya.


Saat di dalam mobil sebenarnya banyak pertanyaan yang ada di dalam kepala gadis ini. Mau bertanya dikira kepo. Akhirnya ia pun memberanikan dirinya untuk bertanya.


"Kenapa kamu bisa di sekolah kemarin?" Tanyanya Tari.


Alfian tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya tersenyum nyengir kuda.


Karena tidak mendapat jawaban hanya melihat senyumnya yang mempesona itu akhirnya ia pun mengganti pertanyaannya. Eh..... Bukan mengganti pertanyaan tapi menuduh. 😁😁😁


"Berarti kemarin itu kamu kan sengaja meminta ditaruh piano di atas panggung." Tebak Tari.


"Nah itu tahu." Kata Alfian.


"Tapi berjalan dengan lancarkan." Puji Alfian.


"Nyogok panitia pakai apa sih kalian?" Tanya Tari.


"Nyogok pakai apa ya?" Tanya Alfian balik.


"Kamu mau disogok?" Tanya Alfian.


"Gak mau kan itu termasuk korupsi. Kalau hal sepele saja korupsi lama-lama akan kebiasaan dan menjadi lebih besar." Jelas Tari yang panjang kali lebar sekali.


"Pertama mungkin sakit tapi lama-lama juga tidak." Jelas Alfian.


"Biar gak begitu sakit dihalalin dulu ya sayang." Kata Alfian.


Ini laki-laki ngomongin apa sih, kok jadi gak nyambung. Batin Tari.


"Hai, kenapa bengong?" Tanya Alfian yang membuyarkan lamunan gadis yang ada disampingnya.


"Gak." Elak gadis itu.


"Aku mau segera halalin kamu sayang, kamu maukan segera jadi istri aku?" Tanya Alfian.


"Terserah nanti gimana enaknya aja. Aku tanya Keluarga ku dulu aja." Balas Tari.


"Niat baik itu kata orang harus disertakan lho." Jelas Alfian.


Hening


Hening


Hening


Perjalanan tanpa tujuan ini pun semua akhirnya hanya terdiam. Alfian menepikan mobilnya di suatu tempat dengan sebuah pemandangan yang sangat indah.


"OMG." Teriak Tari dengan penuh kekaguman.


"Tahu dari mana tempat ini?" Tanyanya lagi.


Alfian sudah berjalan jauh menyusuri jalan setapak. Mentari yang melihat ia ditinggal pun langsung berlari menyusul Alfian.


"Tunggu, bisa jalan pelan gak sih?" Tanya Tari sambil berlari.


Tanpa memperdulikan panggilan gadis itu, Alfian berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Alfian menghentikan langkahnya ketika sudah sampai di sebuah gazebo yang sengaja diletakkan di tengah perkebunan hijau.


Alfian duduk di gasebo itu sambil menikmati kesegaran udara di perkebunan itu. Ia menatap gadis yang baru saja sampai dengan nafas yang ngos-ngosan karena berlari.


Mentari duduk di depan Alfian dan membelakanginya. Ia pun ikut menikmati keindahan alam perkebunan itu dengan udara yang segar.


"Makan lah!" Kata Alfian.


Mentari menoleh ke belakang dilihatnya sekeranjang buah segar yang melambai-lambai. Ia mengambil buah apel itu dan mengunyahnya perlahan.


"Nikmatilah jalan-jalan hari ini selagi masih singgle." Kata Alfian.


"Maksud mu?" Tanya Tari.


"Hari ini aku akan menemui kedua orang tua mu." Jawab Alfian.


"Buat apa?" Tanya Tari


"Menentukan hari pernikahan kita." Jawab Alfian.


"Apa?" Tanya Tari kaget dengan mata membulat sempurna.


"Tidak bisa seperti itu?" Tolak Tari.


"Aku kan masih ingin melanjutkan kuliah ku dan menggapai cita-cita ku." Jelas Tari.


"Kuliah udah nikah gak masalah kan?" Jelas Alfian.


"Aku pingin kuliah bareng kamu." Lanjutnya.


Terasa situasi yang hening tanpa suara. Hembusan angin yang ringan membelai kulit keduanya.


"Aku tak mau kamu menjadi lirikan laki-laki lain." Kata Alfian dengan penuh penekanan.


Alfian merasa wajah gadis yang ada bersamanya sekarang ini mampu menghipnotis siapa saja. Mampu membuat laki-laki lain mudah jatuh cinta padanya.


Mentari berjalan-jalan menyusuri jalan setapak. Alfian yang masih duduk di gazebo pun menyusulnya setelah tertinggal agak jauh.

__ADS_1


Sreeeeet


Anggaplah suara orang terpeleset.


Alfian yang kurang hati-hati saat mengejar gadis yang ada di depannya itu terpeleset. Mentari berbalik menolong Alfian. Mentari mengulurkan tangannya.


Bruuug


Anggap lah suara badan jatuh.


Saat mengulurkan tangannya hendak menolong Alfian. Ia malah ditarik hingga badannya jatuh tepat di atas pangkuan Alfian.


Tatapan mata mereka bertemu. Manik mata yang indah itu dapat membuat siapa saja jatuh hati kepadanya. Alfian yang hendak ditolong agar bisa berdiri kini malah menggendong badan kecil Tari menuju mobilnya.


Tepat di samping pintu mobil Mentari diturunkan. Ia membukakan pintu mobil itu tapi gadis ini masih memandang lekat laki-laki disampingnya.


"Ganteng ya aku?" Tanya Alfian.


"PD amat." Kata Tari.


"Kok ngeliatinnya sampai kayak gitu?" Tanya Alfian.


"Kayak apa?" Tanya Tari.


"Udah masuk." Perintah Alfian dipikirnya berdebat dengan itu cewek pasti gak akan ada habisnya.


Mentari pun masuk dalam mobil dengan sangat terpaksa. Ia masih ingin jalan-jalan di daerah ini.


Alfian yang melihat wajah gadis yang ada di sampingnya ini mengerti perasaannya. Ia ber-inisiatif untuk menghiburnya.


"Jelek amat itu wajah, kayak nenek sihir." Ledek Alfian.


"Nenek sihir?" Tanya Tari.


"Kalau nenek sihir itu kan emang jelek ya? Tapi kok kamunya pingin cepet-cepet nikah dengan itu nenek sihir?" Balas Tari yang panjang kali lebar.


"Karena apa ya? Akunya udah di guna-guna sama Itu nenek sihir." Jelas Alfian.


"Wajah berkerut. 😁😁😁😁." Ledek Alfian.


Ya memang saat ini Mentari sedang memiliki wajah yang tidak cukup baik, karena merasa kecewa karena meninggalkan tempat yang senyaman ini.


"Udahlah kapan-kapan kita ke sini lagi. Ok." Kata Alfian dengan tersenyum smirk.


### ### ###


♥️♥️♥️


102


Alfian melajukan mobil menuju suatu tempat. Waktu berjalan terasa sangat cepat.


Rumah super mewah dengan gerbang tinggi itu dibuka oleh seorang penjaga dengan badan yang cukup besar. Rumah sang Papa yang dulu adalah rumah Ayahnya.


Kebetulan mereka semua sedang berada halaman depan. Seluruh anggota keluarga sedang bercanda dan bersenda gurau di sana.


Mobil diparkirkan di garasi belakang. Alfian dan Mentari keluar dari dalam mobil dan berjalan beriringan menuju halaman.


"Kalian baru pulang?" Tanya Mama yang baru keluar dari dalam dan melihat keduanya berjalan menuju halaman depan.


"Iya Tante." Jawab Alfian.


"Permisi Om." Kata Alfian.


"Duduk sini sama Om, Al." Kata Papa.


Alfian pun duduk di samping Papa. Kakak pergi ke dapur membuatkan minuman dan membawakan cemilan untuk menemani mereka berbincang.


Kakak setelah meletakkan semua bawa'annya dari dapur langsung duduk di samping sang Mama. Gak ketinggalan juga tu ketiga adiknya langsung bergelayut manja pada sang kakak.


"Kalian semalam ke mana?" Tanya Papa menggoda.


"Gak kemana-mana kok Om." Jawab Alfian.


"Masak cuma diem-diem aja?" Ledek Papa.


"Iya kita cuma di Apartemen aja." Jawab Alfian jujur.


"Jangan bilang kalau kalian berdua???" Kata Papa terpotong.


"Iya Pa kita di sana ngapa-ngapain." Kata Alfian.


"Mending pernikahan disertakan saja Om." Lanjut Alfian dengan senyum jahilnya.


Kakak pun membulatkan matanya sempurna mendengar ucapan Alfian. Ia tidak percaya dengan apa yang Alfian katakan baru saja.


"Ya sudah kalian atur bagaimana baiknya, niat baik jangan ditunda terlalu lama." Kata Papa dengan mengedip kan mata kanannya.


"Betul itu Pa." Jelas Mama dengan senyumnya.


"Aku nanti bicarakan dengan Deddy dulu Om, untuk persiapannya." Kata Alfian.


"Kalian berdua bicarakan dulu, Om dan Tante masih ada urusan penting." Kata Papa pada Mama dengan senyum jahilnya.


"Jangan kelamaan ntar diembat orang cowok cakepnya." Bisik Mama tepat di telinga anak gadisnya.


"What Mam! Apa'an sih? Kata Kakak sambil berteriak pada kedua orang tuanya.


Papa dan Mama pun berlalu meninggalkan keduanya untuk berbicara serius. Kakak tahu kalau sang Papa selalu percaya padanya termasuk tadi yang dikatakan Alfian tidak benar adanya. Semua yang dikatakan saat di apartemen telah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan tidaklah benar.


"Jadi gimana?" Tanya Alfian.


Kakak hanya menaikkan bahunya sedikit ke atas sebagai jawaban.


"Ya udah kalau gitu nenek sihir, aku anggap kamu setuju dengan rencanaku." Kata Alfian.


"Benar adanya niatan baik kenapa harus di tunda." Kata Kakak.


"Sekarang atau nanti sama aja." Lanjut Kakak agak ragu.


Mereka berbincang santai hingga waktu tak terasa sudah sore. Alfian pun beranjak pamit ketika Om dan Tante menghampiri mereka.


"Papa percaya pada mu sayang, kalau kemarin malam tidak terjadi apa-apa." Kata Papa sambil mencubit pipi anak gadisnya setelah duduk di sebelahnya.


"Mama juga percaya kalau Alfian akan menjaga mu dengan sangat baik." Kata Mama.


"Kalau kemarin malam emang itu anak macem-macem, biar Papa sendiri yang motong itu ular biar jadi cacing pendek." Canda Papa.


Kakak yang mendengar ucapan Sang Papa tidak tahu maksud ucapannya. Hingga ia pun terlihat sangat santai.


"Gadis ini bener-bener polos. Tidak tahu maksud ucapan Papanya baru saja. Kalau ia tahu pasti ia malu Papanya berkata seperti itu."


Gumam Alfian dalam hati.


"Gimana tadi mau nikah kapan?" Tanya Papa.


"Kalau saya sih, semakin cepat semakin baik." Kata Alfian.


"Sebelum masuk kuliah aja gimana Om? Tanya Alfian.


"Bisa diatur." Jawab Papa.


"Emang harus secepat itu apa?" Tanya Kakak terkejut tak percaya dengan intonasi menegaskan disertai iya amarah.


"Aku belum siap Pa." Kata Kakak


"Siap apa?" Tanya Mama.


"Semuanya." Tegas Kakak.


"Semuanya akan siap seiring berjalannya waktu." Jelas Mama.


"Jangan sampai tu diembat orang baru nyanyi." Kedek Mama.


Andaikan Waktu bisa ku putar kembali


Ku ingin diri mu tetap ada di sini


melewati kisah cinta yang kita jalani


ku tak mampu bila diri mu pergi.


Mama menyanyikan lagu itu dengan sepenuh hati. Alfian mendengarkannya dengan penuh makna.


"Mama." Teriak Kakak sambil menepuk lengan Mamanya berkali-kali.


"Oh...... Jadi bakatnya singa kecil ini dari Mamanya ya?" Kata Alfian penuh dengan kekaguman.


Deg


...Ke dua orang tua Mentari terkejut dengan ucapan Alfian seketika. Bahkan Mentari pun sempat tak percaya....


"Apa dia lupa kalau aku bukan anak Papa sama Mama." Batin Tari.


Melihat ekspresi mereka Alfian merasa bersalah dengan apa yang baru saja diucapkannya. Alfian pun meminta maaf jika kata-katanya menggores kenangan lama.

__ADS_1


Buat mereka sebenarnya tidak begitu masalah. Masalah utamanya jika Axel tahu bukan disaat yang tepat dan marah karena menyembunyikan semuanya.


__ADS_2