Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 131. Sama-Sama Mata Duitan


__ADS_3

Malam itu adalah malam yang cerah dengan bintang-bintang yang bertaburan di angkasa terlihat indah. Semua tamu undangan sudah mulai meninggalkan acara resepsi hingga suasana mulai semakin sepi.


"Sudah larut malam, kami pamit pulang dulu." Kata Papa.


"Oh, benar tak terasa waktu berjalan dengan cepatnya." Kata Alfian.


Papa dan keluarganya beranjak dari tempat mereka duduk. Mereka saling mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


"Hati-hati dijalan Tuan?" Pesan Deddy pada keluarga Alfian.


"Baiklah terima kasih." Balas Adrean.


"Mau kemana kamu?" Tanya Alfian pada Mentari.


"Ya pulanglah." Jawab Mentari saat tangannya dicekal dengan erat oleh Alfian.


"No... no... no... " Kata Alfian dengan mengacungkan ibu jari telunjuk dan menggerakkannya.


"Pulang sama aku." Lanjutnya tegas.


"Gak! Lagian ini udah terlalu malam kali." Balas Tari sambil melingkarkan kedua tangannya di atas perut.


"Udah kalau mau dianterin sama Kak Alfian juga gak apa kali." Sahut Axel yang tiba-tiba datang bersama kedua saudara kembarnya.


"Apa?" Balas Kakak Tari


"Dari mana saja kalian?" Tanya Kak Tari.


"Kayak jalangkung tahu gak?" Tanyanya lanjut.


"Udah di ACC tu sama ketiga bodyguart ganteng mu." Kata Papa yang udah nunggu keputusan Tari.


"E..... Gimana Ya?" Balas Kak Tari sambil memutar bola mata.


"Yuk, kita duluan aja. Toh sudah ada yang anterin kok." Kata Axel.


"Yang pastinya selamat sampai tujuan." Sahut Garda.


"Betul." Sahut Daffa kemudian.


"Ya sudah ayo jalan! Ajak Mama dengan senyum jahilnya.


"Yuk .... Yak .... Yuk." Kata Axel, Garda, dan Daffa secara bersamaan.


Semua anggota keluarga Adrean pun pulang ke rumah mereka terkecuali Mentari. Terasa capek seluruh badan mereka, tapi apalah daya pekerjaan besuk pagi sudah menumpuk.


Perjalanan mereka selalu saja terasa menyenangkan. Ya karena ketiga jagoan mereka selalu saja bisa membuat keributan. Biarpun rasa ngantuk menyerang tetapi mata mereka tidak bisa terpejam karena ulah dan canda tawa mereka.


Setelah kepergian keluarganya Mentari merasa sangat canggung harus berhadapan dengan keluarga Alfian. Jika tidak ditanya ia hanya diam.

__ADS_1


Ziko dan Monic tiba-tiba datang ingin meminta pertanggungjawaban atas kata-kata bosnya itu. Ingin rasanya mengajukan berbagai macam pertanyaan tapi apalah daya ia hanyalah pegawai dokantornya.


Alfian bukanlah orang yang tidak bisa membedakan antara urusan pribadi dengan pekerjaan. Akan tetapi selalu saja ia menggunakan nama perusahaan untuk mengancam Ziko agar tidak banyak tingkah. Dilain pihak Ziko merasa banyak berhutang budi pada keluarga Alfian.


"Mau nganter pakai apa kamu Al?" Tanya Ziko saat berjalan mendekati sahabatnya Alfian.


"*Kenapa aku tak pakai mobil sendiri ya tadi?" Tanya Alfian dalam hati.


"Haduh, sungguh sangat bodohnya aku." Lanjutnya lagi dengan tersenyum pada Mentari*.


Senyum yang dilontarkan Alfian terasa hambar dilihat mata. Mentari tahu kalau laki-laki muda yang mengajaknya barusan merasa malu karena terlanjur berjanji akan mengantarnya pulang tapi apalah daya. Lupa kalau ia tidak membawa gerobak.


"Ded, aku ke kamar mandi dulu yah?" Tanya Mammy.


"Iya, jangan lama-lama." Balas Deddy yang melihat muka sang istri sudah sangat pucat.


Mammy menuju kamar mandi terdekat. Ia ingin memuntahkan semua isi perutnya.


Huek huek huek.


Kosong sudah isi perut. Lemas sungguh terasa lemas, hingga Mammy pun tak sanggup untuk berdiri.


Deddy yang berada di ruang tunggu bersama orang-orang terdekatnya tidak sadar kalau sang istri sudah lumayan lama berada di kamar mandi. Ia asyik menyaksikan kebodohan dan perdebatan antara anak simata wayangnya dengan asistennya itu.


"Aku mau kamu ikut sama aku." Pinta Alfian dengan menarik paksa tangan Ziko.


"Mau apa Al, gue masih normal." Kata Ziko yang meronta-ronta menolak permintaan sahabatnya itu.


"Enak aja, trus aku pulang dengan apa?" Tanya Ziko.


"Taxi kan banyak?" Jawab Alfian.


"Enak aja, ini udah pukul berapa mau pakai Taxi?" Tolak Ziko.


"Gak pernah lihat berita apa pembunuhan dan perampokan akhir-akhir ini." Lanjutnya.


"Apalagi pemerkosaan dengan tampang gue yang ganteng ini." Kata Ziko untuk memperjelasnya.


"*Waduh ini laki PD amat bilang ganteng." Batin Tari dan Monic dalam hati.


"Tapi bener juga sih ganteng, tapi sayang agak sedikit narsis." Batin Monik*.


"Berikan kuncinya atau aku potong 60% gaji mu." Ancam Alfian.


Semua orang yang di sana terkikik geli mendengar perdebatan kedua laki-laki ini. Bukan gadis yang diperebutkan tapi malah sebuah mobil. 🙂🙂🙂


Karena terbawa arus, suasana yang sangat jarang ini membuat Deddy ikut terbawa juga. Lupa dengan keberadaan sang istri.


"Mulai jadi bucin ini anak, tak pernah berpikir dulu sebelum bertindak. Gak inget apa gak bawa gerobak?" Celoteh Deddy.

__ADS_1


"Al, Mammy mu tadi pergi ke toilet kok lama banget. Deddy jadi khawatir." Lanjut Sang Deddy.


"Ya udah lah bos bawa aja itu mobil." Kata Ziko.


"Tapi dengan syarat, Bos." Pinta Ziko.


"Apa?" Tanya Alfian.


"Naikkin gaji aku." Jawab Ziko.


"Dasar mata duitan." Kata Alfian.


"Sama kan kayak Bos yang suka potong-potong gaji." Kata Ziko.


Deddy sudah mulai khawatir dengan sang istri mulai mencari sendiri ke kamar mandi. Di panggilnya nama sang istri dalam kamar mandi wanita.


Mammy akhirnya menyahut panggilan itu dengan lirih karena sudah tidak berdaya. Deddy yang merasa panggilannya dijawab segera membuka pintu kamar mandi. Dilihat mammy sudah sangat lemas dengan keringat yang dingin.


"Mam, apa yang terjadi?" Tanya Deddy.


"Gak tahu lah Ded, tiba-tiba saja perut aku terasa mual." Jawab Mammy.


"Ke rumah sakit ya Mam?" Pinta Deddy.


Mammy hanya menggelengkan kepala tidak mau di antar ke rumah sakit. Akhirnya Deddy memapah sang istri menuju tempat yang nyaman.


Alfian mencari Deddy setelah berdebat dengan asistennya itu. Ia ingin meminta ijin untuk mengantarkan sang kekasihnya pulang.


Saat mengedarkan pandangan matanya menangkap sosok sang Deddy yang sedang memapah Mammynya. Teringatlah ia dengan suara Sang Deddy yang khawatir dengan keadaan sang mammy saat pertengkarannya dengan sahabatnya itu.


"Apa yang terjadi dengan Mammy?" Tanya Alfian pada Deddy setelah menghampiri kedua orang tuanya.


"Sebaiknya kita segera ke rumah sakit aja. Kata Tari.


"Wajah tante pucet banget, biar segera mendapat pertolongan." Lanjut Tari.


"Baiklah sayang." Balas Mammy.


"Tadi gak mau diantar ke rumah sakit. Giliran calon mantu yang bilang langsung di setujui aja. Tapi gak apalah yang penting Mammy segera mendapat perawatan yang terbaik." Batin Deddy


"Al cepat ambil mobil di tempat parkir." Kata Sang Deddy pada Alfian.


"He'em... " Kata Alfian yang segera beranjak menuju tempat parkir..


Sesampainya di tempat parkir dan menuju mobil sang Deddy ia mencari-cari kunci mobil tapi tidak ditemukan. Semua saku sudah digerayanginya.


"Kenapa aku jadi bodoh begini, kunci juga Deddy aku langsung pergi aja tanpa meminta kunci." Batin Alfian merutuki kebodohannya sendiri dengan menepuk keningnya sendiri.


Alfian kembali menuju lobi dan bertabrakan dengan Deddy di pintu loby. Alfian pun meminta kunci pada sang Deddy.

__ADS_1


Dilemparkan kunci itu dengan sigap sang anak langsung menangkapnya. Tanpa menunggu lama ia pun bergegas mengambil mobil di tempat parkir.


__ADS_2