Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 79. Di kediaman Adrean setelah mama selesai menghubungi bab 74


__ADS_3

Sinta akan menunjukkan wibawanya dihadapan semua karyawan. Dengan ketegasan ia mulai berbicara.


"Biarkan dia masuk." Suara bariton terdengar menggema di telinga semua karyawan.


"Akhirnya kamu datang juga." Kata Sinta.


Ketakutan diantara semua karyawan terjadi. Pasalnya mereka tidak tahu pemilik perusahaan yang sebenarnya. Sengaja hal ini disembunyikan dari publik.


Pintu ruang kerja wanita satu-satunya yang tegas, berwibawa dan punya karisma tersendiri selama ini kosong. Tidak seorang pun yang berani menginjakkan kakinya masuk keruangan itu tanpa terkecuali. Papan namanya pun masih tertera dengan jelas di depan pintu ruang kerja sang pemilik.


"Tak ada yang berubah. Kerja kamu juga bagus." Puji Sinta.


"Lama sih kamu cutinya." Kata Reno.


"Setahun, dua tahun, tiga tahun. Bikin saya berjuang sendirian." Protes Reno lagi.


"Ya kamu harus sabar nungguin saya sambil nyanyi gitu, biar gak terasa lama." Nasihat Sinta.


Jam satu jam dua jam tiga kau tak datang-datang


Jam empat jam lima jam enam hari mulai petang


Jam tujuh delapan sembilan kok nyamuk yang datang.


Ku banting pintu tarik selimut, tidur nyenyak saja.


Sinta melantunkan nyanyian itu sambil melihat-lihat kondisi ruang kerjanya. Reno hanya duduk di sofa ruang kerja Sinta yang sudah lama tidak berpenghuni dengan mendengarkan nyanyian itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan.


(Hobi Mama nyanyi kali ya. ☺☺☺).


Sinta dan Reno berbincang banyak hal mengenai perkembangan perusahaan. Biarpun Reno seorang laki-laki tapi tidak setegas Sinta.


"Carikan saya sekretaris secepat mungkin." Perintah Sinta dengan tegas.


"Ok." Balas Reno.


Reno yang posisinya Ceo juga kembali keuangannya sendiri. Sinta sendiri diruangannya. Banyak hal yang harus dikerjakannya setelah sekian lama ia kembali.


*** Di Sekolah ***


Hari pertama masuk mereka masih dalam masa penyesuaian dengan lingkungan mereka belajar. Sampai di Sekolah mereka sangat senang. Sangat pagi sekali mereka sudah sampai.


Tanpa rasa takut mereka langsung memasuki kelas. Mereka lebih suka duduk di bangku paling depan.


Banyak mata yang memperhatikan mereka. Mereka adalah siswa yang sangat tampan. Itu yang menyebabkan banyak juga siswa laki-laki yang tidak suka karena merasa mereka adalah saingannya.


"Siswa baru ya?" Tanya salah satu siswa dengan sinisnya.


"Iya." Jawab ketiganya dengan kompak.


Guru telah datang ke kelas mereka yaitu kelas 1. Mereka langsung ke kelas satu karena mereka juga sudah pandai untuk membaca dan berhitung.


Kepandaian membaca dan berhitung dipelajari dari orang tua dan kakak mereka. Mereka bertiga belajar dengan baik, tidak suka bercanda ataupun mengobrol saat pelajaran berlangsung.


Apapun yang guru mereka sampaikan selalu diperhatikan. Mereka juga sering bertanya saat mereka pun tidak tahu.


**** Di sekolah Mentari ****


Mentari setelah mengantar ketiga adiknya langsung menuju sekolah tempatnya menimba ilmu. Terlalu pagi ia tiba di sekolah.


Ia adalah salah satu panitia yang mengusi acara perpisahan. Merasa tanggung jawabnya cukup besar ia pun harus mempersiapkan dengan acara dengan matang.


Saat menunggu teman lainnya Mentari duduk di taman sendirian.


Plaaak (Anggaplah suara tangan menepuk pundak)


"Innalilahi." Ucap Mentari terkejut saat seseorang menepuk bahunya.


"Nglamunin apa elu?" Tanya Andin sang sahabat.


"Ngatmin? Tanya Tari yang pura-pura tidak mendengarkan dengan jelas.


"Iya Ketua Osis." Kata Andin.


Ngatmin adalah julukan dari mantan ketua osis. Ketua osis ini diam-diam juga suka dengan Mentari. Hal ini hanya diketahui oleh Andin.


Andin adalah sahabat Tari sejak ia sekolah dasar. Andin selalu saja dibuat penasaran dengan kehidupan Mentari.


Mentari selalu menyembunyikan identitasnya keluarganya yang sangat kaya itu kepada siapapun. Ia takut Andin akan berkecil hati alias mlinder seandainya tahu yang sebenarnya.


Andin adalah anak dari keluarga yang sederhana yaitu keluarga menengah ke bawah. Untuk itu ia selalu menutupi identitasnya kepada siapa saja. Ia juga ingin tahu siapa saja yang memang tulus bersahabat dengannya.


♥️♥️♥️


94


Semua panitia acara perpisahan sudah hampir datang semua. Waktu sudah semakin siang. Mau tidak mau persiapan untuk perpisahan harus segera dipersiapkan.


Susunan acara untuk besuk hari ini juga harus sudah siap. Banyak acara yang diadakan termasuk pentas seni maupun penggalangan dana bakti sosial.


Hari ini sangat melelahkan kejadian tak terduga sempat ada. Harapan semua siswa semoga kegiatan besuk bisa berjalan dengan lancar.


Semua acara di sekolah kakak sudah selesai tinggal menunggu saat kegiatan besuk. Mentari menuju tempat parkirnya. Ia hendak menjemput ketiga adiknya.


Pulang sekolah terlihat Kakak sudah berada di depan pintu gerbang sekolah. Ketiganya langsung berlari menghambur menuju Kakak mereka.


"Ayo segera naik." Perintah kakak.


Ketiga adiknya segera naik mobil. Kakak melajukan mobilnya menuju rumah. Saat perjalanan kakak terus bertanya tentang hari pertama mereka masuk sekolah. Dengan antusiasnya mereka menjelaskan bahkan mereka saling berebut.


Rumah tampak sepi seperti tak berpenghuni. Ini hari pertama rumah kosong.


Pintu gerbang dibuka saat ke empat bersaudara ini datang.


"Terimakasih Pak." Ucap Kakak pada penjaga gerbang.


"Sama-sama Neng." Balas Pak Penjaga Gerbang.


Mobil sudah terparkir, semuanya langsung keluar dari mobil dan menuju ke kamar untuk membersihkan diri.


Kakak menuju dapur untuk memasak usai membersihkan diri dan berganti pakaian. Ia masak dengan sangat lihainya. Kebiasaan itu membuatnya pintar memasak juga.


Ketiga adiknya bermain di depan rumah bak istana. Tidak capek kah mereka hari pertama masuk sekolah.


Kakak yang sudah selesai memasak segera menata di meja makan. Tertata rapi seperti biasa walaupun tanpa bantuan Mamanya.


Kakak berjalan menuju halaman depan memanggil ketiga adiknya.


"Ayo semua cuci tangan dan cuci kaki, kemudian kita makan. Ok." Ajak sang kakak.


"Ok." Jawab ketiga adiknya kompak.


Mereka melaksanakan perintah sang kakak kemudian berjalan meuju ruang makan. Masakan yang ada di atas meja ini sangat menggugah selera.


"Kak, Kakak masak apa siang ini?" Tanya Axel.


"Tumis kangkung, Ayam goreng, sambal jengkol, dan lihat sendiri aja ya." Pinta Kakak.


"Emang kalau dilihatin aja bisa bikin kenyang ya Kak?" Canda Daffa.


"Dasar kamu itu Daff." Kata Kakak sambil mencubit pipi gembul Daffa.


"Udah ayo berdoa trus makan." Kata Garda dengan nada yang agak tinggi.


"Ada yang udah kelaparan nih." Kata Kakak sambil melirik Garda.


Doa kali ini dipimpin oleh Sang Kakak. Setelah berdoa mereka makan dengan lahapnya.


Sambal jengkol tak kalah enaknya. Mereka semua makan tidak melupakan sambal itu. Sambal itu memang tidak dibuat begitu pedas. Sehingga anak-anak masih bisa makan sambal itu.


Makan malam telah selesai. Kakak langsung membereskan meja makan dan mencuci semua peralatan makan dan peralatan masak yang tadi digunakan.


Kakak ingin merebahkan tubuhnya dikasur milik. Ia memanggil ketiga adiknya yang sedang bermain di halaman.


"Ayo semuanya tidur, ini sudah waktunya istirahat." Pinta Kakak.

__ADS_1


"Baik." Kata ketiganya dengan kompak.


"Nanti kita lanjutkan lagi permainannya ya." Kata Axel.


"Ok." Jawab Garda dan Daffa bersamaan.


Mereka menuju kamar masing-masing untuk tidur. Di kamar masing-masing mereka hanya membersihkan tubuh mereka tetapi mereka tidak menggosok giginya.


Kakak juga langsung pergi ke kamarnya membersihkan diri tak lupa menggosok giginya. Rasanya hari ini tulangnya seperti mau patah semua.


Waktu sudah hampir sore, keempat saudara itu pun terbangun. Seperti janjinya mereka tadi, mereka melanjutkan bermainnya.


Kakak pun juga sudah terbangun. Ia menuju halaman rumah melihat ketiga cowok usil yang sedang bermain.


"Kak ayo ikutan main." Ajak Axel.


Kakak turun juga dalam permainan ketiga adiknya. Permainan petak umpat, tutup mata, dan banyak permainan lagi yang bisa mereka mainkan.


Mereka sangat aktif sehingga mereka lebih memilih permainan yang bersifat out door. Mereka lebih senang bermain permainan yang melibatkan banyak orang dan menguras tenaga dari pada bermain dengan mainan yang kebanyakan di jual di toko-toko.


*** Sin Group ***


Mama baru pertama kali bekerja sejak memutuskan untuk lebih mengurus keluarganya. Jam diruangannya selalu bergerak tapi rasanya sangatlah lambat.


Tidak ada suara anak-anak sepi sekali. Inilah kali pertama ia jauh dari keempat buah hatinya. Ia merasa sangat rindu dengan canda dan tawa mereka.


Pekerjaan hari ini memang sangat melelahkan. Akibat ia lama sekali tidak ke kantor sehingga banyak hal yang harus di celas cek ulang dengan kiriman data lewat e-mail yang selama ini ia terima.


Sudah waktunya karyawan sudah waktunya untuk kembali ke rumah mereka. Kemacetan sering terjadi di jam seperti ini.


Sinta sangat senang waktunya telah tiba. Ia tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya dalam satu waktu itu juga. Ia memutuskan untuk pulang.


Dreeeet dreeeet dreeeet dreeeet


Anggap lah bunyi ponsel yang di letakkan di atas meja kerja Sinta bergetar. Sinta langsung mengangkat telepon itu.


"Aku sudah menunggu di bawah." ~Kata Adrean langsung menutup teleponnya.


"Suami idaman datang." Gumam Sinta pelan.


Sinta langsung membenahi semua pekerjaannya. Ia memutuskan untuk melanjutkannya besuk.


Sinta berjalan menuju lift khusus Presdir. Tanpa disengaja ia menabrak seseorang dari belakang.


"Maaf." Katanya tanpa melihat orang yang ditabrak tadi.


"Tidak apa-apa." Balasnya.


"Maaf aku terburu-buru." Kata Sinta lagi kemudian membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya.


" Tunggu." Kata Pria itu sambil menarik dan memegang tangan Sinta dengan erat hingga posisi Sinta pun berbalik.


"Maaf Tuan, kamu menyakiti tanganku." Kata Sinta.


"Maaf." Kata Pria itu sambil melepaskan genggaman tangannya.


"Maaf saya terburu-buru." Kata Sinta yang sudah melangkah jauh masuk ke dalam lift.


"Menarik." Puji Pria yang ditabrak Sinta.


Sinta sudah sampai di lantai paling bawah. Tempat resepsionis yang menyambutnya tadi.


Resepsionis bahkan tidak berani menatap Sinta. Akhirnya ia memberanikan dirinya untuk menyapa Sinta.


"Nona tunggu." Kata Resepsionis.


"Iya, ada apa?" Tanya Sinta dengan ramah.


"Maafkan kelalaian saya tadi pagi." Kata Resepsionis sambil menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.


"Saya sudah memaafkan mu." Kata Sinta.


"Lain kali hormatilah setiap tamu yang datang entah siapapun dia." Nasehat Sinta yang panjang kali lebar kepada karyawannya itu sambil menepuk pundak petugas resepsionis yang terlihat masih takut.


*** *** *** *** *** *** ***


Pembaca yang selalu saya rindukan pasti banyak juga nih yang bingung kenapa panggilannya berubah-ubah. Betul gak?


Adrean kadang diketiknya Papa.


Sinta diketiknya Mama.


Mentari diketiknya Tari.


Dan masih juga dengan panggilan lainnya.


Coba siapa dari kalian yang tahu?


Author tunggu jawabannya.✌✌


♥️♥️♥️


95


Sinta berjalan menuju sang suami yang sejak tadi menunggunya. Di depan pintu mobil Adrean membukakan pintunya.


"Hati-hati nyonya." Kata Adrean sambil memegang tangan kanan Sinta yang hendak masuk mobil.


"Trimakasih Tuan." Balasnya.


"Langsung pulang sekarang?" Tanya Papa.


"Iya, memang mau kemana lagi?" Tanya Mama.


"Aku udah kangen banget sama anak-anak." Sambungnya lagi.


"Kalau sama aku kangen gak ma?" Tanya Papa.


"Enggak." Jawab Mama singkat.


"Aku juga gak kangen kok sama kamu." Kata Papa.


"Tapi adik kecil ku yang pingin dikangenin." Kata Papa sambil menunjuk bagian bawah sana.


Papa menjalankan mobilnya perlahan. Memang jalanan sangat ramai. Hal ini terjadi karena semua orang pulang ke rumah setelah seharian melakukan aktivitasnya.


Anak-anak menyambut kedua orang tua mereka dengan senyum termanisnya. Mereka langsung berlari menghambur ke pelukan Mama dan Papanya.


Mentari berdiri dengan tangan melipat di depan perutnya sambil tersenyum smirk melihat tingkah adik-adiknya. Ia kemudian menghampiri kedua orang tuanya dan mencium punggung tangan keduanya.


Saat ketiga anaknya saling berebut bicara sang Mama sempat mencium bau yang tidak enak dari mulut ketiganya. Mamanya pun mengerutkan keningnya.


"Bau apa ini ya?" Tanya sang Mama.


"Gak tahu Mah?" Jawab Axel.


Mentari tertawa lepas mendengar pertanyaan Mamanya. Ia ingat mereka makan jengkol yang bisa membuat bau mulut bahkan bau badan dan air seni mereka menjadi sangat sedap.


"Kenapa tertawa Kak?" Tanya Papa berjalan masuk kedalam rumah.


"Mereka gak gosok gigi setelah makan jengkol." Jawab Kakak dengan santainya.


"Wa." Teriak Mama.


"Emang kenapa kalau gak gosok gigi?" Tanya Garda bingung.


"Ya baulah. Kalau habis makan jengkol, dan pete itu harusnya langsung gosok gigi biar gak bauk mulut." Jelas Mama.


Ketiga anak kecil itu memang belum tahu jalanan yang bisa membuat mulut sangat bau. Pantas saja mereka bertanya.


Waktunya mereka untuk mandi. Mereka langsung menuju ke kamar masing-masing untuk mandi. Tidak lupa pula mereka menggosok gigi mereka untuk mengurangi bau mulutnya.


Mama dan Kakak menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Setelah semua siap merekapun makan dengan tenang.


Makan malam telah selesai Papa dan ketiga kurcaci langsung menuju tempat biasa mereka saling bercerita. Mama dan kakak masih sibuk membersihkan meja makan dan dapur.

__ADS_1


Mama dan Kakak telah selesai. Kini mereka menyusul Papa dan Ketiga adiknya.


Kakak duduk di atas karpet sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. Mama duduk di sofa tepat di samping suaminya.


Ketiga anak laki-laki itu merasa cemburu melihat mamanya duduk di samping Papa. Mereka pun akhirnya mendekati kedua orang tuanya bersamaan.


Daffa tiduran di pangkuan mamanya dengan manja. Axel berusaha menggeser tubuh Papanya hingga ia bisa duduk di tengah-tengah. Sedangkan gak kalah heboh Garda duduk di belakang Papanya tepat di sandaran kursi sofa.


"Apa-apaan ini kalian udah besar juga masih main manja-manjaan." Kata Papa dengan wajah ditekuk merasa tidak bisa bermanja-manja an dengan istrinya. Tidak bisa menyenggol ataupun memegang istrinya.


"Idih emang kenapa kalau udah besar? ia Tak boleh bermanja-manja sama orang tua sendiri?" Protes Garda.


"Iya besar. Besar badannya tapi otaknya kan juga masih anak-anak." Sanggah Axel.


"Pa, Ma besuk dateng ya ke acara perpisahan di sekolah ku." Kata Kakak dengan suara penuh harap.


"Idih Kakak jahat amat! Kata Axel.


"Kenapa?" Tanya Kakak.


"Ngundang cuma buat Papa & Mama doang." Jelas Garda.


"Iya deh kalian juga dateng ya?" Pinta Kakak.


"Hore!" Teriak ketiga adiknya bersamaan.


Kedua orang tuanya akan datang. Ia tidak mau sang Kakak merasa kehilangan orang tuanya. Walaupun Papa & Mamanya bukan orang tua kandungnya, tapi ia adalah adik yang paling disayanginya sebelum orang tua Tari meninggal.


"Jadi besuk kalian bolos sekolah nih?" Tanya Kakak.


"Iyalah besukkan hari istimewanya kakak. Kakak ku satu-satunya yang aku sayangngi. Gak ada salahnya dong bolos sehari." Jelas Axel yang sangat panjang kali lebar.( Itukan rumus luas persegi panjang).


Deg


Kakak merasa terkejut dengan apa yang diucapkan oleh adik kandungnya itu. Pasalnya memang saudara kandungnya adalah Axel. Semisal yang mengucapkan hal itu bukan Axel mungkin ia tidak akan sesepuh ini.


"Lho kok jadi sedih gitu mukanya." Tanya Mama.


"Nilainya pasti tidak sesuai dengan harapan ya? Makanya jadi sedih gitu." Ledek Papa.


Kedua orang tuanya yang sekarang tahu alasan anak gadisnya menjadi sedih. Pastinya teringat dengan kedua orang tua kandungnya karena ucapan sang adik kandung.


Puk Puk Puk (anggap lah suara sebuah tepukan)


Papa menepuk pundak sang kakak untuk menguatkan hatinya. Senyum terukir di wajah sang kakak karena tahu maksut Papanya.


Ketiga adiknya senang karena besuk akan pergi pada acara kakaknya. Tahulah pasti banyak makanan enak.


Besuk adalah hari yang spesial untuk keluarga ini. Mereka juga lebih awal untuk menuju ke kamar mereka. Mereka tidak mau bangun terlambat untuk acara besuk.


*** Alfian ***


Alfian seperti biasa memang bekerja setelah selesai kuliah. Hari ini ia perasaannya sangat bahagia. Ia mendengar bahwa besuk akan ada acara di sekolah lamanya. Kesempatan juga buat Alfian yang sangat tampan ini untuk bertemu dengan sang pujaan hati.


Pulang dari kuliahnya ia tidak ingin pergi ke kantor. Ia langsung menghubungi asistennya yang selalu siaga di kantor.


dreeet dreeeet dreeeet


Ponsel sang asisten bergetar di atas meja. Ia melihat siapa yang menghubunginya. Ia segera mengangkat panggilan itu.


"Assalamualaikum." Sapa sang asisten


"WA'alaikumsalam." Jawab Alfian.


"Ada apa bos?" Tanya Asisten.


"Hari ini adalah meeting atau pertemuan dengan klien?" Tanya Alfian.


"Tidak, ada apa?" Tanya Asisten.


"Hari ini saya tidak ke kantor. Tolong handle semuanya pekerjaan saya dulu." Pinta Alfian.


"Baiklah akan saya urus semuanya." Jawab Asisten.


"Aku tutup teleponnya. Assalamualaikum." Kata Alfian.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Asisten.


Panggilan itupun ditutup. Pikiran sang asisten bertanya-tanya. Alasan Bosnya hari ini tidak datang. Padahal ia selalu rajin pergi ke kantor ataupun ijin.


*** *** ***


Alasannya sudah tahu kah? Kenapa panggilan itu dibedakan. Alasannya adalah tempat kalau ada ketiga kurcaci pasti panggilnya kan kakak. Papa & Mama.


Panggilan yang lainnya langlain pasti sudah tau dong.


Maaf Kakak-kakak semua yang telah nunggu Up datenya karya ini yang kelamaan. Authornya baru lola. Bantu-bantu ngerjain UTS. Kesehatan juga sedikit agak terganggu.


Hari ini up date lagi ya semoga udah bisa tiap hari. Bisa temeni Kakak-kakak semua disaat hujan kayak gini.


Jangan lupa jaga kesehatan saat ini dan seterusnya. Kayaknya ini gelombang ke dua ya. Sipenderita COVIT-19 semakin banyak. Ingat protokol kesehatan.


♥️♥️♥️♥️


96


Besuk ada acara di sekolahnya dulu. Banyak acara biasanya yang akan diadakan disana saat perpisahan.


Alfian mendapatkan undangan dari sekolahnya itu. Hal itu karena ia adalah siswa yang sangat berprestasi di sana.


Acara amal biasanya juga dilaksanakan. Tidak kalah menarik dari pentas seni yang ada.


Alfian tidak mendapatkan kabar tentang acara wisuda dan acara perpisahan dari sang tunangan. Ia tahu bahwa besuk adalah hari wisudanya. Hari itu bertepatan dengan hari spesial calon istri.


Alfian pergi ke sebuah mall terbesar di kota itu. Ia ingin mencarikan sebuah kado spesial.


Perjalanan ke mall tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama. Mengingat moment-moment bersamanya walaupun hanya jarang bersama membuatnya tersenyum-senyum sendiri seperti orang kurang waras.


Mobil sudah terparkir pada tempatnya. Alfian keluar dari mobil dengan tampang dingin yang menguasainya lagi.


"Aku beli apa ya buat dia." Pikir Alfian sambil berjalan memasuki mall itu.


Banyak sekali toko yang menawarkan berbagai macam barang dengan harga yang sangat fantastis. Tapi sayang Alfian tidak yakin dengan semua barang-barang itu.


Alfian selesai berkeliling mall itu dan keluar dengan tangan kosong. Capek rasanya berjalan-jalan di mall tersebut.


Dalam ingatan gadis itu selalu muncul di pikirannya. Sifatnya tidak menyukai barang-barang mahal. Itulah yang membuatnya pusing.


Tempat biasa ia bersama dulu adalah di sebuah taman. Alfian menjalankan mobil menuju taman itu. Ia hanya sekedar duduk-duduk melepaskan penatnya.


Matanya menangkap sesuatu yang sederhana tapi menarik. Pastinya juga banyak disukai oleh wanita.


"Bunga segar." Kata Alfian sambil menjentikkan jari tangan kanannya.


Terpikir itu Alfian juga langsung menuju sebuah toko perhiasan yang sangat besar dan terkenal. Ia memilih satu set perhiasan yang boleh dibilang harga sangatlah tinggi.


Sore itu Alfian sangat capek jalan-jalan seharian. Ia pun langsung menuju kamar dan mandi. Ia berendam air hangat di backtub sambil memejamkan mata.


Selesai mandi Alfian merebahkan tubuhnya di ranjang. Sehari tidak ke kantor membuatnya harus bekerja dari rumah. Laptop dibuka dan segera melihat e-mail yang masuk.


Waktu terasa sangat cepat. Pukul 01.00 tenpa terasa jarum jam berputar. Alfian segera tidur agar besuk tidak terlambat bangun.


**** Pagi Hari di Kediaman Adrean ****


Keluarga ini sibuk sekali dengan persiapan acara untuk sang kakak. Kakak memilih beberapa baju dalam lemarinya.


Tok tok tok tok


Bunyi pintu kamar kakak diketuk seseorang.


"Masuk, pintu gak dikunci. " Perintah Kakak.


"Pakaian sebanyak ini mau dibawa kemana?" Tanya Mama.


"Mau pindahan tuh Ma." Sahut Papa yang baru saja masuk ke kamar kakak.

__ADS_1


__ADS_2