Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 21. Cobaan Mengerjakan PR Dari Gadis Kecil


__ADS_3

Bunda mencoba mengalihkan pembicaraan saat melihat Pemuda itu sudah mulai kesulitan untuk menjawab pertanyaan Sang Putri. Mentari akhirnya melahap makanan segera.


Sang Ayah tumben kali ini berangkat agak siang. Itu pun dia masih sarapan dengan santainya.


Bunda sudah tahu segala alasan ayah melakukan semua itu. Pagi tadi pasutri itu sudah membicarakan segala sesuatunya dengan baik dan berharap akan mendapatkan hasil baik pula.


"Abang kamu baru saja ada PR jadi harus di rumah." Kata Ayah beranjak dari tempat duduknya hendak berangkat ke kantor.


"Cepet kerjakan PR kamu setelah selesai sarapan." Lanjutnya dengan menepuk pundak Adrean sebelum berangkat.


"Cobaan apalagi ini." Batin Adrean menghirup napas panjang.


"Seorang anak kecil selalu saja merepotkan dengan berbagai macam pertanyaan." Lanjutnya lagi.


"Aku yang bodoh atau gadis ini yang terlalu pintar." Batinnya lagi tak percaya hingga menggelengkan kepala.


Bunda yang tadinya masih duduk kini juga mengikuti Sang Suami mengantar sampai pintu dengan membawakan tas kerja suaminya. Mobil yang dikendarai Pak Narendra sudah siap berada di depan menunggu Tuannya.


Bunda mencium punggung tangan Sang Suami sebelum naik pada mobil itu. Laki-laki paruh baya itu mencium kening Sang Istri dengan penuh kasih sayang.


”Jangan lupa acara kita malam ini." Kata Bunda mengingatkan Sang Suami.


"Aku akan berusaha pulang lebih awal." Kata Sang Suami.


"Ayah." Panggil seorang gadis kecil setelah melompat dari kursinya dan berlari menuju laki-laki paruh baya yang akan pergi berangkat ke kantor.


"Ada apa sayang?" Tanya Sang Ayah menyambut putrinya dan menggendong dengan hanya dengan tangan kanannya.


"Ayah tidak mencium juga putri mu yang cantik ini?" Tanya Mentari merasa iri melihat Sang Bunda di beri ciuman pada keningnya.


"Baiklah." Kata Sang Ayah.


Cup


Sebuah kecupan singkat mendarat di kening gadis kecil itu. Dia masih merasa kurang hingga menunjuk kedua pipinya dengan hari telunjuk.

__ADS_1


Gadis itu akhirnya diturunkan dari gendongan Sang Ayah. Bunda yang melihat jas Sang Suami menjadi kusut akibat ulah putrinya tanpa protes hanya tersenyum.


"Ayah berangkat dulu ok." Pamit Sang Ayah.


"Ok." Jawab Mentari dengan menunjukkan jari jempol dengan telunjuk yang ditautkan hingga membentuk huruf O.


"Jaga Bunda di rumah." Pesan Sang Ayah.


"Assalamualaikum." Salam yang diucapkan Sang Ayah sebelum masuk mobil.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Bunda dan Mentari bersamaan.


Tuan Richat masuk ke dalam mobil itu dengan segera setelah sopir-nya Pak Narendra membukakan pintu. Laki-laki itu hari ini walaupun terlihat santai tapi dalam benaknya dikejar jam tayang.


Sang Sopir segera menginjak pedal gas perlahan menuju jalan raya. Dia tahu kalau tuannya sedang tergesa-gesa walau pun tidak dikatakannya.


Hari ini dia berangkat terlalu siang sudah dipastikan akan terjebak dalam kemacetan ibu kota yang cukup panjang. Pulang pun dia harus bisa lebih kembali lebih awal karena memang sudah memiliki rencana untuk keluarga kecilnya.


Chiiiiiit


Suara ban mobil bergesekan dengan aspal berhenti tepat di depan lobi perusahaan. Tuan Richat berjalan menuju ruang kantor dengan badan tegap dan terlihat sangat berkarisma.


Tuan Richat berjalan menuju ruang kantor seperti biasa. Dia segera menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini secara teliti.


Makan siang terlewatkan begitu saja kerena dia ingin segera kembali ke rumah mengingat ada janji dengan Sang Istri. Pekerjaan itu akhirnya selesai sekitar pukul 14.00.


Laki-laki paruh baya itu langsung menyambar jas yang tersampir di kursi kebesarannya dan langsung keluar dari ruangan. Pak Narendra sudah stenby di tempat biasa menunggu Tuan Richat datang dan mengantarnya kembali ke kediaman utama.


Jalanan tidak begitu macet sehingga mereka tidak butuh waktu lama untuk sampai di kediaman utama. Prediksi laki-laki itu selalu tepat hingga waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya itu selesai sebelum jam pulang kantor untuk menghindari kemacetan.


Di kediaman utama seorang wanita paruh baya melakukan aktivitas seperti biasanya. Bedanya dia tidak menyiapkan makanan untuk makan malam yang menjadi tanda tanya untuk Sang Putri.


"Bunda tidak masak?" Tanya seorang gadis kecil menghampiri Sang Bunda saat sedang duduk bersantai di taman belakang sambil memberi makan ikan di kolam.


Chiiiiiit

__ADS_1


Terdengar sebuah ban mobil bergesekan dengan tanah tepat di depan rumah. Suara mobil itu dapat dipastikan milik Sang Ayah.


Kedua orang yang ada di taman menoleh pada sumber suara itu hingga pertanyaan Sang Putri belum sempat dijawab. Mentari pun langsung berlari menghampiri Sang Ayah tanpa menunggu sebuah jawaban atas pertanyaannya tadi.


Ayah disambut mereka dengan hati yg senang. Mentari langsung berlari menghambur dalam pelukan Sang Ayah.


Gadis kecil itu melupakan Sang Bunda yang berjalan dengan perlahan. Bunda yang baru mendekat pun mencium punggung tangan Sang Suami tidak lupa laki-laki itu pun mencium kening Sang Istri.


"Oh tidak kalian ini selalu saja menodai mata ku yang masih suci." Keluh gadis kecil itu yang merasa iri jika Sang Ayah melalu mencium kening istrinya.


"Dimana manusia kutup itu?" Tanya Sang Ayah mengedarkan pandangan di berbagai ruangan.


"Maksut Ayah siapa?" Tanya Mentari.


"Abang mu itu?" Jawab Ayah Singkat.


"Memangnya Abang masih sekolah ya?" Tanya Tari begitu polosnya.


"Seharusnya begitu, sebab tadi belum bisa menjawab pertanyaan mu." Kata Sang Ayah tanpa rasa bersalah telah melemparkan pertanyaan putrinya pada Pemuda itu.


"Kalau perlu harus ada les tambahan." Lanjutnya.


"Abang bersemedi di dalam kamar." Jawab seorang gadis kecil dengan ketus mengingat seharian ini walaupun Sang Abang tidak bekerja tetapi tidak menemaninya bermain.


"Ooohhhhhh. Baguslah jika masih berusaha mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah).” Kata Sang Ayah dengan santainya.


"Kalian berdua bersiaplah." Titah Sang Ayah sambil menurunkan Sang Putri dari gendongannya.


"Tunggu Ayah." Cegah Mentari menarik tangan Sang Ayah saat akan melangkahkan kaki menuju kamar seorang Pemuda.


"Ada apa?” Tanya Ayah.


"Ayah mau kemana, kalau kami harus bersiap? Tanya Mentari yang memang belum tahu acara pada malam ini.


"Ke kamar Abang mu." Jawab Ayah singkat.

__ADS_1


"Ayah juga mau mengajaknya kan?" Tanya Mentari agar manusia kutub itu diajak oleh Sang Ayah.


Sang Ayah hanya tersenyum menatap wajah putrinya tanpa ada sebuah kata yang keluar dari mulutnya. Laki-laki paruh baya itu melangkahkan kaki perlahan menuju sebuah kamar lain yang di dalamnya dihuni oleh manusia kutup seperti Dia saat masih muda.


__ADS_2