
Pemuda itu memang pandai dalam segala hal. Apa pun yang dia kerjakan selalu penuh dengan pertimbangan yang matang.
Jika saja tadi laki-laki paruh baya itu tidak mematikan teleponnya secara dipihak lawan bicaranya adalah Alfian yang akan selalu membalas setiap kalimat bahkan setiap kata darinya. Soal adu mulut pemuda itu tak mau kalah dengan Deddy.
Alfian berusaha semaksimal mungkin menyelesaikan pekerjaannya dengan dibayangi wajah cantik calon pengantinnya itu. Seluruh badan terasa sangat lelah hingga saat dia menyandarkan tubuhnya tak terasa dia pun tertidur.
Deddy yang masih berada di kantor kini bersiap akan pulang biarpun masih ada pekerjaan setumpuk di meja kantor. Dengan tergesa-gesa laki-laki paruh baya itu meninggalkan perusahaan karena waktu memang hampir tengah malam.
Jam yang tergantung di dinding ruang itu terus berputar tanpa henti. Tatapan mata Papa tertuju pada jam dinding itu.
"*Sudah selarut ini kah?" Batin Papa yang dari tadi sibuk dengan pekerjaan yang ada dimejanya hingga melupakan segalanya.
"Benar, sudah hampir tengah malam. Mama pasti menunggu kelamaan dan yang jelas akan marah-marah." Lanjutnya dengan menyahut benda pipih yang tergeletak di depannya sejak tadi.
Beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa pesan masuk dari tadi tidak dipedulikannya sejak masuk ruang kantor miliknya. Pekerjaannya hari ini sungguh membuatnya tak bisa berbuat banyak.
Semua panggilan dan pesan sekarang baru sempat dilihat ketika akan pulang. Papa saat ini takut kalau sang istri yang menghubunginya.
"Alhamdulillah." Kata Papa saat membaca isi pesan sang istri. Lega rasanya sang istri tidak marah.
Sama halnya dengan sang suami yang sangat sibuk untuk beberapa hari ini. Panggilan telepon yang tidak kunjung diangkat hingga akhirnya Mama mengirimkan sebuah pesan yang beritahukan bahwa dia akan pulang malam.
Membaca pesan sang istri, dia menjadi sedikit marah. Mama yang seharusnya marah kini malah terbalik setelah membaca jawaban dari suaminya terlihat laki-laki paruh baya itu sedang dalam kondisi yang tidak stabil.
"Sudahlah mungkin Papa baru capek jadi emosinya mudah sekali goyah." Kata Mama lirih dengan menyambar tas yang ada di atas meja.
Wanita paruh baya yang sempat mendapat omelan berupa tulisan itu sudah bersiap pulang sejak satu jam yang lalu. Dia akhirnya memutuskan untuk menunggu jawaban dari Sang Suami yang tak kunjung berbalas.
Papa marah kerana sang istri juga harus ikut lembur. Sejak awal dia tidak suka kalau istrinya itu bekerja keras.
Mama menggunakan alasan keterlambatan membalas telepon ataupun pesan agar sang suami tidak marah. Wanita paruh baya itu memang sangat cerdas dalam menyelesaikan segala sesuatunya.
Dreeeet
Dreeeet
Dreeeet
Ponsel Mama yang berada di genggaman tangannya terasa bergetar. Wanita itu pun segera mengangkatnya walaupun sedang berjalan menuju lobi perusahaan.
Percakapan di telepon:
"Mama sampai di mana?" ~ Papa.
"Masih di lobi kantor." ~ Mama singkat.
"Aku jemput sekarang, tunggu di sana dan jangan kemana-mana." Perintah Papa.
Laki-laki paruh baya itu memutuskan sambungan telepon secara sepihak karena waktu sudah sangat malam dan merasa sangat khawatir.
Papa segera pergi meninggalkan perusahaannya menuju perusahasn Sang Istri. Kondisi lingkungan kantor memang sudah sangat sepi karena semua karyawan sudah meninggalkan kantor sejak sore.
Beberapa karyawan kantor yang masih tinggal di perusahaan mereka memang sedang bertugas atau sedang shiff malam. Beberapa direktur juga sedang menyelesaikan pekerjaannya.
Beberapa karyawan menyapa Adrean dengan ramah, tapi tidak dipedulikannya. Seperti biasa Adrean selalu terlihat seperti es yang ada di antartika.
Sudah terbiasa dengan sikap Bos yang satu ini jadi mereka tidak heran dengan sikapnya yang dingin. Dia terus melangkah menuju tempat parkir tanpa menghiraukan orang-orang disekelilingnya.
Adrean langsung saja menuju mobil miliknya kemudian segera menyalakan mesin dan menginjak pedal gasnya. Mobil itu melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi oada hal kondisi jalanan ibu kota sangat ramai.
Banyak dari pengguna jalan yang tercengang dengan kecepat yang digunakan Adrean. Rambu-rambu lalu lintas bahkan tidak dipedulikannya.
"Memangnya ini jalan milik moyangnya kali ya?"
"Bener ini jalan milik moyangnya."
"Dia anggap arena balap kali."
"Gak takut mati atau memang mau bunuh diri."
Banyak sekali kata-kata yang terucap pengguna jalan lain karena mereka merasa terganggu dengan kecepatan yang seperti itu. Mereka harus menepikan motor dan mobil mereka di tepi jalan agar nyawa mereka tidak menjadi taruhannya.
Jika semua pertanyaan dari pengguna jalan itu dibalas tidak akan ada habisnya. Masalah hati memang segalanya bisa dipertaruhkan.
Chiiiiiit
Gesekan mobil baru saja masuk terdengar dengan sangat nyaring hingga ke lobi perusahaan seorang wanita paruh baya yang berparas cantik dan elegan.
__ADS_1
Seorang wanita yang sedang menunggu di lobi perusahaan itu segera berdiri dan melangkahkan kaki ke luar melihat siapa orang yang melakukan perbuatan yang bisa mengancam nyawanya sendiri dan nyawa orang lain.
Saat di rem secara mendadak seperti itu tadi mobil itu hingga berbalik arah. Sang Istri yang melihat itu dalam sekejap wajahnya menjadi merah karena marah.
Papa langsung keluar dari dalam mobil langsung berlari menghampiri sang istri. Melihat istrinya sudah memasang genderang perang dapat dilihat dari raut wajahnya.
"Memangnya kamu masih sangat muda?" Tanya Sang Istri melangkahkan kaki lebar dan cepat menuju mobil suaminya.
"Punya berapa nyawa kamu?" Tanya-nya lagi sebelum mendapat jawaban sang suami.
"Memangnya kamu tega membuat ku jadi janda muda untuk sekarang ini?" Tanya lagi.
Papa belum sempat menghampiri istrinya itu langsung balik menuju mobil dengan mendengar ocehan sang istri. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak satupun dijawab kalaupun dijawab dengan sebuah balasan maka tak akan ada habisnya semua pertanyaan itu.
Laki-laki itu tahu kalau semua perkataan yang keluar dari mulut sang istri menunjukkan rasa khawatirnya. Jika dijawab hanya akan ada balasan balik hingga tak berujung.
Semua wanita memang banyak atau pintar berkata-kata. Itu semua karena mereka memiliki sebuah tanggung jawab yang sangat besar terhadap keluarga terutama pendidikan pada anak-anaknya.
Keduanya sudah ada dalam mobil. Papa berada di kursi sopir sedang kan sang istri duduk di kursi penumpang.
"Ma, Mama marah ya?" Tanya Papa sesat setelah duduk di kursi sopir.
"Dah tahu nanya." Jawab Mama.
"Duduk di depan dong mah." Pinta Papa merajuk.
"Ogah." Jawab Mama singkat.
"Aku bukan sopir mu ma, aku suami mu." Jelas Papa.
"Aku gak mau mati konyol dengan duduk di depan." Kata Mama.
"Mama!!!" Bentak Papa.
Deg
Jantungnya seakan berhenti mendapat bentakan dengan suara yang sangat keras dari sang suami. Wanita ini memiliki rasa khawatir yang berlebihan pada keluarganya.
"Memangnya Papa punya berapa nyawa hingga harus kebut-kebutan seperti itu." Apa kamu gak pernah mikirin kalau punya anak dan istri." Jelas Mama.
Hening
Hening
Hening
Mesin mobil itu akhirnya dinyalakan dan pedal gas diinjak perlahan. Keduanya hanya diam seribu bahasa.
Sesekali Papa melihat sang istri melalui kaca yang terletak di atasnya, terlihat rasa amarah yang teringat sangat.
Mama yang saat itu sangat khawatir dengan sang suaminya hanya melihat keluar mobil melalui kaca jendela. Rasa takut kehilangan orang sangat dicintainya, apalagi dalam beberapa hari kedepan adalah hari yang paling membahagiakan buat mereka.
Pintu gerbang di kediaman utama memang selalu tertutup dengan pagar yang cukup tinggi. Saat sebuah mobil yang tidak asing itu sampai penjaga gerbang segera membukakan pintunya.
"Tidak biasanya Tuan dan Nyonya duduk terpisah seperti itu." Batin penjaga gerbang malam ini yang sedang bertugas saat melihat kedua majikannya seperti seorang yang berjarak dengan ruang.
"Sepertinya akan terjadi perang dunia mungkin sampai kiamat." Lanjutnya.
Penjaga gerbang itu segera menghubungi Tuan mudanya yang sselalu usil dengan menggunakan talky walky. Salah satu Tuan Muda di kediaman Adrean segera menjawabnya, kebetulan tuan muda itu baru merilekskan semua anggota tubuh setelah seharian beraktifitas.
Hanya satu orang Tuan Muda di Kediaman Utama milik Adrean yang sengaja memiliki benda tersebut. Daffa adalah orang yang selalu banyak tingkah hingga dia pun tak pernah menganggur.
"Sepertinya ada masalah besar Tuan." Kata Penjaga gerbang yang sedang bertugas.
"Ada apa?" Balas Daffa yang saat ini sedang berada di kamar merebahkan tubuhnya di sofa.
"Sebentar lagi akan terjadi bencana alam." Kata Penjaga gerbang.
"Gempa bumi?" Tanya Daffa.
"Segera perintahkan semua orang untuk keluar dari dalam rumah dan cari tempat mengungsi." Lanjutnya sebelum ada jawaban dari Penjaga gerbang.
"Apa separah itu?" Tanya penjaga gerbang tak percaya dengan tindakan yang diperintahkan baru saja.
"Lha kok kamu malah tanya saya. Saya kan tahunya laporan dari kamu." Kata Daffa.
"Apa Tuan Besar dan Nyonya belum masuk rumah." Tanya Penjaga gerbang.
__ADS_1
"Apa hubungannya dengan Papa & Mama Pak?" Tanya Daffa heran.
"Belum ada piring terbang ya Tuan?" Tanya penjaga gerbang.
"Kamu kalau ngomong yang jelas piring terbang apaan?" Tanya Daffa.
"Piring kalau gak dilempar ke atas ya gak akan terbang." Lanjutnya.
"Iya maksut saya itu." Kata Penjaga gerbang berusaha menjelaskan pada Tuannya yang satu itu.
"Kalau dalam senetron TV itu yang suka melempar-lempar siapa Tuan? Tanya penjaga gerbang.
"Seorang perempuan melempar piring saat marah maksud mu, Papa sama Mama sedang berantem." Kata Daffa memastikan.
"Sepertinya seperti itu." Kata Penjaga gerbang.
"Ok ok terima kasih Pak informasinya." Kata Daffa.
Daffa tidak sedingin kedua kakaknya yang seperti salju di antartika. Dia lebih memiliki sifat yang santai terhadap segala macam hal tetapi semua hal yang ada dipikiran pemuda itu lebih sulit ditebak dari pada kedua kakak laki-lakinya.
Setiap melihat pertikaian mulai dari yang sepele hingga kelas kakap Daffa lah yang akan berjuang menjadi tombak paling depan untuk mendamaikan mereka. Gaya yang dimilikinya itu tidak mustahil dengan mudah bisa mencairkan suasana.
Kedua orang yang baru tiba di rumah utama Adrean tidak menarik perhatian banyak orang. Semua orang bahkan sudah terlelap dalam mimpi mereka masing-masing.
Kedua orang itu keluar dari mobil secara bersamaan tanpa ada sebuah kata yang terucap. Tidak seperti biasanya Papa yang selalu berjalan beriringan dengan sang istri bahkan saling bergandengan tangan tidak terlihat hari ini.
Kejadian ini terlihat jelas di mata Daffa yang sejak tadi menatap keduanya dari lantai atas. Talky Walky yang masih berada ditangannya sekarang disembunyikan di dalam sebuah laci.
"Berguna juga ini benda." Batin Daffa.
Daffa dengan mata kepalanya sendiri melihat kedua orang tuanya saling terdiam tanpa ada sebuah percakapan. Papa langsung pergi ke ruang kerja sedangkan Mama menuju kamar.
Biasanya setiap kali Mama marah, suaminya itu akan merayunya begitu juga sebaliknya tapi tidak untuk kali ini. Daffa hanya menggelengkan kepala perlahan tak percaya dengan apa yang baru saja dilihat.
Cleek
Sebuah pintu kamar terbuka hingga kedua orang terlonjak kaget. Mereka seperti melihat sama-sama melihat sebuah penampakan.
"Kenapa kamu berdiri di sini?" Tanya pemilik kamar.
"Emang urusan mu?" Tanya Daffa.
"Ya urusan ku lah ini kan depan kamar ku." Jawab pemilik kamar.
"Jangan-jangan kamu mau ngintip?" Tebak pemilik kamar.
"Gila apa gue masak ujung tombak bertemu ujung tombak." Kata Daffa.
"Mana tahu kamu begitu." Kata Pemilik kamar ketus.
"Gak tertarik lah gue kalau sama." Kata Daffa.
"Biarpun dunia terbalik pun aku akan tetap menjaga harga diri ku terhadap sejenis." Lanjut Daffa.
Daffa berjalan mendekat pada orang yang berada di depannya. Dia mendorongnya hingga masuk ke kamar kemudian menutup pintu kamar itu.
Pemilik kamar itu terdorong hingga dia jatuh di atas tempat tidur. Dia berusaha memberontak tapi percuma saja kakaknya itu tak akan menang dari Daffa yang pandai dalam hal mengunci tubuh sebagai pertahanan diri.
"Insting ku cuma mengatakan kalau aku malam ini akan sangat panas biarpun ada AC di sebuah kamar." Kata Daffa di telinga Axel hingga membuat semua bulu kuduknya berdiri.
"Lepas, ini tidak benar. Kalau mau melakukan praktikum dengan orang lain jangan dengan ku. Aku masih normal." Cerocos Axel.
"Apa yang ada di otak mu saat ini? Aku berbuat yang tidak seharusnya kan? Tanya Daffa.
"Baiklah. Aku justru akan melakukannya dengan mu." Sambung Daffa dengan matanya yang sayu membuat saudaranya itu yakin dengan apa yang ada dipikirannya.
"Aku tidak segila itu tahu. Kak kamu pasti berpikir kalau aku akan menerkam mu kan? Jangan berpikir aku ini seorang gay karena hal yang baru aku lakukan baru saja." Kata Daffa mulai bangkit dari badan kekar Sang Kakak.
Daffa si jail dan suka membuat semua saudaranya itu selalu membuat penasaran. Akhirnya semua kejadian yang dilihatnya itu diceritakan pada kakaknya.
Cerita yang sangat runtut membuat semua yang mendengarkannya pasti langsung percaya. Pantang baginya juga untuk berbohong, Daffa akan mengatakan yang sebenarnya walaupun dia harus menanggung hukuman.
Talky walky diminta Daffa pada penjaga tadi siang saat pergi mengambil pesanan untuk surprase sang kakak. Tujuan awal sebenarnya hanyalah untuk mainan tapi malam ini ternyata malah berguna untuk mengetahui kondisi orang tuanya yang tidak bagus.
Axel jadi tertarik dengan Talky walky yang diceritakan oleh Daffa. Dia ingin meminjam benda tersebut tetapi tidak diijinkan oleh sang adik.
Axel jadi melupakan tujuannya semula setelah kejadian baru saja akibat ulah Adiknya Daffa. Mereka tidak menyangka akan mendapati kedua orang tuanya yang sedang bertengkar melalui sebuah mainan.
__ADS_1