
Kata hati Dita yang merasa heran.
Dita tidak mau memperpanjang ceritanya. (Salah ini yang buat cerita autor, maaf ya pembaca yang budiman). Ia kemudian mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya. Ia memainkan ponselnya. Melihat akun sosmet dari postingan-postingan teman-temannya.
Briyan yang duduk di kursi pengemudi tetap saja dingin. Tak ada bahan untuk dia bicarakan ataupun sekedar basa basi.
Perjalanan seperti itu membuat waktu terasa sangat lama. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
*** Di Kediaman Adrean ***
Pulang kantor Adrean di sambut oleh keluarganya. Memang begitu setiap harinya.
Papa langsung naik ke lantai atas menuju ruang kerjanya bersama Mama. Mereka membicarakan masalah yang sangat serius.
Untuk menghadiri sebuah pesta saja membutuhkan perencanaan yang matang untuk mereka. Alasan utama mereka adalah mereka membawa sebuah amanah yang harus selalu dijaga keselamatannya. Bukan hanya satu tapi empat. Mereka adalah pewaris keluarga.
Papa dan Mama akhirnya mengambil keputusan. Mereka akan membawa anak-anak dalam pesta tersebut. Tujuannya adalah agar mereka mengenal dunia luar.
Papa yakin mereka bisa menjaga diri mereka sendiri. Akhirnya Mama menyiapkan segala sesuatunya untuk berangkat ke pesta itu sekeluarga.
Tidak kalah penting pengawal selalu mereka siapkan sebelumnya di berbagai sudut. Pengawal itu bekerja secara sembunyi-sembunyi.
Papa mengenakan pakaian yang disiapkan oleh istrinya. Ia terlihat sangat tampan.
Mama sebelum mempersiapkan dirinya sendiri. Pergi menemui anak gadisnya agar bersiap untuk pergi ke pesta rekan kerja Papanya.
Ketiga bocil yang sedang bermain-main itu juga dihampiri oleh sang mama. Ketiganya dipersiapkan dengan pakaian masing-masing. Pakaian yang terlihat sangat sederhana tapi banyak manfaatnya. Mereka bertiga terlihat sangat tampan seperti Ayah dan Papanya. (Masih ingat kan Ayah dan Papa adalah panggilan untuk orang yang berbeda).
Mentari sudah selesai bersiap dengan penampilan sederhana tapi cukup terlihat sangat elegan. Ia juga memakai aksesoris yang tidak begitu mewah dan mencolok. (Apalagi mencolok mata alias membuat mata silau).
Mentari mengenakan gaun warna merah senada dengan high hillsnya. Begitu juga dengan tas yang senada dengan perhiasannya berwarna silver.
Gaun dengan panjang sedikit menutup lutut dan dengan lengan panjang. Sama seperti apa yang dikenakan oleh sang mama.
Mama dan anak gadisnya ini memakai semuanya serba sama alias coupel. Keduanya terlihat sangat cantik.
Mama yang usianya juga sudah berkepala 4 terlihat sangat muda. Seperti anak gadis lagi.
Mereka berangkat dari kediamannya sekitar pukul 19.00 menuju hotel X. Perjalanan terasa cukup singkat sebab penghuni mobil selalu ada saja tingkah mereka.
"Aku sebenarnya gak ingin ikut sih Pa." Kata Mentari jujur.
"Kenapa sayang?" Tanya Mama.
"Gak kebiasa sama orang-orang kayak gitu."
Papa dan Mama tahu yang dimaksud oleh anak gadisnya. Mereka terbiasa menjilat pada orang yang lebih berkuasa untuk mendapatkan apa yang mereka mau tanpa kerja keras.
"Kak gak pingin ketemu sama pangeran yang tampan ya?" Tanya Axel sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Adik kakak yang sangat ganteng ini udah bisa genit ya? Balas Mentari sambil mencubit hidung mancung milik Axel sampai merah.
"Kakak bukannya dijawab yang bener malah balik tanya." Kata Daffa.
"Aku aja pingin lihat cewek cantik kok." Lanjut Daffa lagi.
Axel yang hidungnya dicubit sangkakak merasakan sakit langsung meminjam kaca Mamanya. Ia melihat dikaca itu kalau hidungnya merah.
"Tuh kan jelek wajahku ini jadinya setelah dicubit." Protes Axel yang memotong pembicaraan.
"Emang dari sananya kali jelek." Ledek Garda.
Kelakuan semua yang ada di dalam mobil itu membuat suasana hangat. Perjalanan terasa sangat cepat.
Siapa yang dimaksud dengan Pangeran Tampan? Batin Mentari.
Memang sudah lama sang tunangan tidak berkunjung ke rumah. Mereka berdua berhubungan hanya lewat ponsel. Keduanya memang bisa saling mengerti.
Mereka sampai juga di hotel X. Hotel yang paling mewah di Ibu Kota dan di negara ini.
Terlihat sudah banyak sekali yang datang. Mobil dengan berbagai merk tertata rapi di tempatnya. Hotel ini adalah hotel Adrean tapi tidak seorang pun yang tahu.
Adrean dan keluarganya menyimpan banyak sekali rahasia. Tak seorangpun yang tahu banyak tentang aset dan kekayaan mereka.
Adrean sudah menyiapkan penjaga di setiap sudut ruangan dan juga CCTV yang akan mengintai setiap gerak-gerik orang yang akan datang. Keselamatan dan kenyamanan setiap pengunjung diutamakannya. Jadi tidak semua orang bisa menginap di hotel itu karena pelayanan yang ekstra.
"Ayo turun." Ajak sang Ayah dengan lembut.
Semua yang ada di mobil itu turun menuju lobi Hotel dan menunjukkan kartu undangan. Adrean diberlakukan sama sebagai tamu agar tidak mencolok orang lain. Hanya satu orang yang tahu mengenai pemilik hotel.
Mereka bertemu dengan Briyan juga Dita di loby hotel yang baru sampai. Adrean dan keluarga tak lupa Briyan dan pasangannya menuju tempat acara.
"Gak di kantor, gak kenal dimanapun tempatnya pasti kalian selalu berdua." Ledek Axel.
"Iya tuh, emang Om Briyan gak mau punya pasangan hidup?" Tanya Daffa.
♥️♥️♥️♥️
Briyan menghentikan langkahnya sejenak. Ia membungkukkan badannya agar posisi wajahnya berhadapan dan tepat di depan wajah Daffa. Briyan menangkap wajah kecil itu.
"Sebentar lagi ya sayang." Kata Briyan sambil mencubit pipi scupinya Daffa.
"Aaau." Teriak Daffa
"Sakit Om." Sambungnya lagi.
"Makanya jadi anak kecil berpikirlah seperti anak kecil." Saran Briyan sambil berdiri dan mulai melangkahkan kakinya lagi.
Daffa masih berdiri mematung sambil menggosok kedua pipinya yang sakit akibat cubitan Om Briyan. Ia pun tertinggal agak jauh dari Papa dan mamanya akhirnya berlari mengejar mereka.
"Kenapa aku ditinggalin sih tadi?" Tanya Daffa
"Habisnya elu kelamaan kayak cewek." Balas Garda.
"Huaha-ha ha ha ha." Tawa Axel menggelegar.
"Apaan sih elu ketawa?" Tanya Daffa.
"Bukannya ditungguin malah ditinggalin." Protes Daffa lagi.
"Ternyata wajah mu lebih jelek dari aku." Jelas Axel.
"Kenapa?" Tanya Daffa.
"Merah di pipi kayak cewek pakai make up." Jelas Axel.
"Berarti ketampanan ku hilang direnggut Om Briyan." Kata Daffa.
"Diantara kita bertiga berarti yang paling tampan ni aku ya." Kata Garda.
"Hueeek." Ledek Axel dan Daffa bersamaan menirukan orang muntah-muntah.
"Muji diri sendiri, ya pastilah paling ganteng." Kata sang Kakak dengan tiba-tiba menyahut pembicaraan ketiga adiknya.
Pada saat memasuki ruangan semua tamu undangan hampir semua sudah hadir. Mereka membawa semua anggota keluarga masing-masing.
Banyak juga laki-laki muda yang belum memiliki pasangan hidup hadir di acara itu. Mentari salah satu yang menjadi pusat perhatian mereka karena paras yang sangar cantik dan berasal dari keluarga yang sangat sukses dalam semua bisnis.
Mentari yang menjadi pusat perhatian pun merasa sangat risih. Ia berusaha menyembunyikan ketidaknyamanannya itu.
Tak lama kemudian ada beberapa orang yang baru datang menjadi pusat perhatian. Apalagi para gadis muda.
Mentari tidak mau tahu dengan apa yang mereka semua perhatikan. Akan tetapi indra penciumannya bekerja.
"Aroma minyak wangi yang tak asing." Gumamnya walaupun lama tak bertemu.
__ADS_1
Ketiga adiknya ikut penasaran. Mereka berdiri berjajar di depan sang kakak. Melihat seorang pria yang baru datang.
"Tak salah kata mu Kak." Celutuk Garda tanpa sengaja sambil melipat tangannya di depan dada.
Ketiganya berlari menghampiri Alfian yang baru datang. Mereka tak ingin ketinggalan ikut menjadi tokoh utama.
Saat Garda berkata Tari pun menangkap sosok pemuda yang sangat tampan. Pemuda yang menjadi tunangannya hampir satu tahun.
Mentari mengagumi ketampanan Alfian malam ini. Begitu juga dengan Alfian yang sangat mengagumi sang pujaan hatinya.
Banyak kerabat dan kolega yang tertarik ingin menjodohkan dengan Mentari. Akan tetapi Papa dan Mama hanya bilang tidak akan memaksakan pilihan anaknya. Ketiga kurcaci kecil itu juga menjadi incaran. Sebab dengan menikahkan dengan keluaga Adrean kedudukan mereka akan cepat meningkat.
Alfian juga sama, sang Deddy dan Mammy juga menjawab terhadap kolega dan rekan kerja mereka kalau tidak akan memaksakan pilihan hidup anaknya. Mereka tidak memberitahukan kalau baik Alfian maupun Mentari sudah bertunangan.
Briyan dan Dita sendiri juga sedang asik menikmati pesta malam ini. Tiba-tiba ada seorang Pria yang menghampiri Dita. Dita merasa tidak nyaman dengan kehadirannya.
"Maaf Nona boleh kenalan." Kata Sandi sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Iya." Kata Dita kaget ketika Sandi yang tiba-tiba berdiri di depannya.
"Sandi." Kata Sandi dengan tatapan yang aneh.
"Dita." Balas Dita yang menerima uluran tangannya.
"Sendirian Nona Dita?" Tanya Sandi sambil menyelidik dan semakin mendekatkan tubuhnya pada Dita.
"Tidak." jawab Dita.
Briyan yang saat itu sedang asyik berbincang dengan Adrean dan rekan kerja lainnya melihat Dita bersama seorang laki-laki. Melihat Dita yang tidak nyaman dengan laki-laki itu ia langsung mendekati Dita.
"Jangan lihat wanita ku seperti itu." Kata Briyan langsung menarik tangan Dita.
"Maaf saya cuma ingin kenalan dan tadi saya lihat dia sendirian." Jelas Sandi.
Briyan dan Dita meninggalkan Sandi sendiri. Mereka menuju tengah ruang pesta.
Dita terkejut mendengar kata-kata Briyan baru saja. Akan tetapi yang lebih terpenting ia merasa nyaman.
Lampu pesta tiba-tiba mati. Alunan musik pun mengalun dengan indah. Semua mencari pasangan dansa masing-masing.
Mentari tidak tahu siapa yang akan menemaninya berdansa. Tiba-tiba sebuah tangan memegang pinggangnya dengan erat dari belakang. Dari aroma minyak wangi yang tercium ia bisa mengenalinya.
Mentari pun membalikkan badannya. Mereka langsung mengikuti alunan musik itu. Tanpa sadar lampupun menyala tapi mereka berdua masih menikmati dansanya.
Tepuk tangan pun menggema di ruangan pesta. Mereka kagum dengan kedua pasangan ini.
Author lupa dengan kondisi ketiga kurcacinya. 🙏🙏🙏🙏
Saat pesta dansa itu ketiga kurcaci itu bermain di taman bersama seseorang. Mereka bosan berada di keramaian di dalam ruang pesta itu.
Papa menyapa Deddy Alfian di taman saat pesta dansa itu berlangsung. Mommy dan Mama bermain dengan ketiga anak kecil. Mommy merasa iri dengan Mama yang memiliki beberapa anak kecil.
Ia merasa dengan adanya anak kecil ia tidak akan kesepian. Selalu ada tawa yang menggelegar saat bermain dengan anak-anak.
Briyan masih bersikap dingin seperti biasa. Saat duduk di taman berdua dan lingkungan yang tidak begitu ramai mereka berbincang cukup serius.
"Aku mau bicara dengan mu Nona Dita." Tanya Briyan.
"Siapa yang melarang anda bicara Tuan Briyan?" Jawab Dita dengan hati yang berdegub semakin kencang.
"Besuk kalau anda punya waktu aku ingin mengajak anda ke pantai." Kata Briyan dengan tegas.
"Tapi aku besuk sudah berencana untuk menjemput Ibu saya Tuan." Kata Dita.
Dita memang berencana akan mengajak sang ibu untuk tinggal bersamanya. Ia tidak ingin ibunya tinggal sendiri. Ibu yang selama ini menyayanginya dengan tulus.
"Baiklah saya besuk akan menjemput anda dan anda juga masih bisa menjemput ibu anda." Kata Briyan.
Pesta pun akhirnya usai. Semua tamu undangan sudah pulang kini tinggal Keluarga besar Adrean dan Keluarga Alfian. Mereka masih asik berbincang-bincang.
Di tempat lain Alfian sedang melepaskan rindunya dengan Mentari. Mereka hampir tidak pernah bertemu.
"Aku tidak tahu kalau kau akan datang." Kata Tari
"Masak." Sanggah Alfian.
"Tadi saat aku tiba kenapa matanya bisa langsung melihat ku?" Lanjut Alfian.
"Bau aroma parfum mu masih sama." Jelas Mentari.
"Berarti aku itu sangat-sangat tampan ya? Sampai-sampai kau selalu mengingatku." Kata Alfian dengan percaya dirinya.
"Percaya diri amat sih." Sanggah Mentari.
"Yaaah, jadi aku bukan yang paling tampan." Kata Alfian kecewa sambil mengerucutkan bibirnya.
Waktu semakin malam. Mereka semua pulang ke rumah masing-masing. Adrean pulang bersama keluarganya begitu juga dengan Alfian. Briyan pulang bersama Dita
♥️♥️♥️
83
Papa mengemudikan mobil dengan sangat hati-hati. Ia tahu keluarganya sangat capek setelah pesta malam ini.
Mentari yang memang sudah sangat mengantuk tidak bisa memejamkan matanya. Ia terus saja dibayangin oleh kejadian tadi bersama sang kekasih.
"Kalau ngantuk tidur saja, nanti Mama bangunun kalau sudah sampai rumah." Kata Mama.
"Iya, Mah." Balas Mentari.
"Bagaimana bisa tidur setelah bertemu sang kekasih setelah sekian abad." Ledek sang Papa.
Ketiga adiknya sudah tidur terlelap. Memang sang pemilik mendisainnya sesuai dengan kebutuhan.
Sampai di rumah masing-masing menggendong satu anak kecil. Mereka tidak mau membangunkan ketiga kurcaci itu. Ketiganya diantar sampai kamar masing-masing.
Papa dan mama juga menuju kamar mereka. Mereka sudah mulai dengan dramanya. Kalau anak-anak mereka belum tidur mana berani Papa mulai dengan dramanya.
Ceklek
Pintu kamar Mentari terbuka. Sang pemilik menyalakan lampu kamarnya. Ia pun mulai berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
Rasa kantuk pun menyerang. Ia mulai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Sempat ia terbayang dengan wajah si tampan. Tak lama pun ia tertidur.
*** Di Kediaman Alfian ***
Alfian dan keluarganya juga merasakan lelah setelah seharian beraktivitas. Ditambah lagi malamnya mereka menghadiri pesta yang diadakan malam ini. Lelah malam ini terobati seketika saat bersama dengan orang yang mereka sayangi datang tak terduga.
Perjalanan pulang dari pesta Alfian lah yang mengendarai mobil itu. Seakan berat hatinya berpisah dengan orang yang dicintainya.
Deddy dan Mommy duduk di kursi belakang kemudi. Mereka juga merasakan hal yang sama lelahnya. Mammy menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
Sampai di kediamannya Alfian berhenti tepat di depan pintu rumahnya. Daddy dan Mommy turun di depan rumah. Alfian langsung memarkirkan mobil di garasi.
Karena sangat lelah Alfian langsung menuju kamarnya. Ia langsung membersihkan dirinya dan mengganti bajunya dengan piyama.
Alfian pun langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sambil melihat langit-langit kamarnya ia terbayang-bayang dengan anak singanya. Tak terasa Ia pun terlelap.
**** Briyan dan Dita ***
Briyan pulang bersama dengan Dita. Briyan sengaja mengurangi kecepatan mobilnya. Ia ingin lebih lama bersama wanita yang ada di sampingnya. Entah perasaan seperti apa yang sekarang ia miliki.
Dita hanya melihat ke luar kaca mobil. Ia pun tak berani melihat laki-laki yang ada disampingnya.
"Tidurlah jika kau mengantuk." Kata Briyan saat melihat Dita sudah menguap untuk ketiga kalinya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mengantuk." Balasnya.
"Benarkah? Tanya Briyan.
"Atau mau aku tidurkan." Sambungnya lagi.
Dita matanya melotot pada laki-laki di sampingnya itu. Ia tak pernah menyangka Briyan akan berkata seperti itu. Tapi Ia pun tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya percaya dengan laki-laki disampingnya.
Hari ini memang hari yang melelahkan buat Dita. Kejadian hari ini memang di luar dugaan. Akhirnya ia pun terlelap dalam mobil yang melaju dengan perlahan.
Saat berhenti di lampu merah sempat pria itu membenarkan anak rambut Dita yang menutupi wajahnya.
"Cantik." Gumam Briyan tanpa sadar.
Hening
Hening
Hening
Perjalanan mengantar Dita terasa sunyi tanpa suara. Setelah sampai di depan rumahnya Ia pun masih terlelap.
Briyan menghentikan mobilnya di depan rumah. Ia menunggu Dita untuk bangun dengan sendirinya.
Briyan tidak tega untuk membangunkan Dita. Hingga akhirnya Ia ikut terlelap di sampingnya.
Menjelang subuh Dita bangun terlebih dahulu. Dilihat jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Hampir subuh rupanya." Gumam Dita sambil melihat laki-laki yang tidur di sampingnya. Ia pun mengagumi ketampanan laki-laki di sampingnya itu.
Dita tak berani bergerak sedikitpun. Ia takut membangunkan orang yang ada di sampingnya.
Azan subuh berkumandang mengajak umat muslim untuk menjalankan kewajibannya. Briyan terbangun mendengar suara itu.
Briyan melihat wanita disampingnya sudah bangun. Ia membukakan pintu mobil untuknya.
Dita segera keluar dari mobil itu. Ia segera masuk rumah.
"Sampai jumpa besuk." Kata Briyan sambil meraih tangan Dita sebelum jauh meninggalkannya.
Ceklek
Suara pintu rumah pun terbuka. Dita segera mengambil air wudhu dan segera memunaikan kewajibannya.
Briyan yang masih berada di lingkungan sekitar tempat tinggal Dita mencari mushola terdekat. Setelah sholat ia segera menghubungi sopir untuk menjemputnya.
Sopir yang menjemput Briyan pun telah sampai. Briyan langsung minta diantar ke apartemen miliknya.
Briyan langsung menuju kamar dan langsung mandi. Badan yang sangat cukup lelah kini sudah merasa sedikit lebih segar. Ia kini membaringkan tubuhnya sebentar di atas tempat tidur.
Matahari sudah mulai naik. Sinarnya menembus kaca jendela dengan gorden putih. Wajah yang terkena panas sinar matahari dalam kamar apartemen itu pun terbangun. Dilihatnya sebuah jam dinding yang tergantung di dalam kamarnya.
"Pukul 06.30." Teriaknya
Ia pun segera bergegas berangkat. Sudah tidak sempat lagi ia sarapan. Dengan kecepatan yang lumayan tinggi mobil itu dikendarai menembus keramaian kota saat liburan.
Iya hari ini adalah hari Minggu ( Tepat sekali ini saya nulisnya ini juga hari Minggu). Jalanan sangat ramai untuk mereka untuk melepaskan lelah setelah seminggu bekerja.
Siiiiiiiit
Sebuah mobil pun di rem mendadak dan berhenti di depan sebuah rumah. Briyan turun dan berjalan menuju rumah itu. Ia menekan bel di dekat pintu depan.
Ting tong Ting tong Ting tong
Suara bel rumah pun berbunyi.
Penghuni rumah berjalan untuk membukakan pintu.
Ceklek
Pintu rumah pun terbuka. Pemilik rumah melihat seorang laki-laki yang tampan berkulit putih, hidung mancung, dengan memakai kaos warna ungu dengan celana panjang warna hitam sedang berdiri di depan rumah.
Saat pintu terbuka sang pemilik rumah melihat tamu yang datang tanpa berkedip untuk sekian menit.
Kliik
Brian memetikkan jari jempol dengan telunjuk pun dibunyikan di depan kedua mata Dita. Hingga akhirnya wanita itu tersadar.
Sungguh sangat malunya dia. Melihat seorang laki-laki sampai seperti itu. Ia memang terlihat lain dari biasanya yang memakai pakaian kerjanya. Hari ini dia memakai kaos dengan celana panjang.
Dita mempersilahkan Briyan masuk dan duduk di ruang tamu untuk menunggunya.
"Sudah sarapan?" Tanya Dita sambil berjalan menuju ruang tamu yang diikuti Briyan.
"Belum." Jawab Briyan singkat sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
**** **** *** ****
Maaf ya Kakak-kakak semua saya minta dukungannya ya dengan like, komen & sedikit votenya. Biar tambah semangat Upnya.
♥️♥️♥️♥️
84
Dita berjalan menuju ruang makan. Ia hendak membuat roti dengan slei coklat dan susu. Makanan itu di antar ke ruang tamu. Tidak lupa juga dengan cemilan lainnya.
"Sarapan lah ini dulu." Katanya sambil meletakkan di meja.
"Tunggu sebentar aku ganti baju dulu." Sambungnya lagi.
"Jangan lama-lama." Teriak Briyan.
Dita menuju kamarnya. Ia mengganti pakaiannya. Tak lama ia pun keluar dengan menggunakan kaos lengan pendek dan celana jensnya.
Ponsel yang berada di atas nakas segera disambar. Tas slempang yang akan ia pakai sudah disiapkan tadi pagi.
Keluar kamar ia mendapat tatapan penuh kekaguman. Sesaat ia tersadar dari rasa kagumnya.
"Sudah selesai?" Tanya Dita.
"Sudah, ayo jalan." Ajak Briyan.
"Iya jalan masak lompat." Canda Dita.
Briyan berjalan keluar rumah, sedang Dita berjalan masuk ke dapur. Ia menaruh bekas makan dan minum Briyan di tempat cuci piring dan mencucinya sebentar.
Semua sudah bersih, kini Dita menyusul Briyan di mobil. Ia pun masuk ke salam mobil dan memakai sabuk pengamannya.
"Mau kemana?" Tanya Dita.
Briyan yang mendengar pertanyaan itu hanya tersentum smirk tanpa menjawab.
Sunyi
Sunyi
Sunyi
"OMG............" Kata Dita.
" Plis deh, elu mau bawa aku kemana?" Tanyanya lagi.
Di suatu tempat Briyan berhenti. Lokasinya dekat dengan sebuah perkampungan.
Mobil berhenti mereka pun keluar menikmati pemandangan yang ada di depan mata.
__ADS_1
Briyan dan Dita berdiri dan menyandarkan tubuh mereka di depan mobil. Briyan yang mengedarkan pandangannya ke depan tiba-tiba melihat samping. Melihat intens wanita yang ada di sampingnya saat ini.