Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 101. Jalan-Jalan : 81


__ADS_3

Mereka berdua menaiki motor itu perlahan memecah jalanan kota. Udara kota yang panas dan penuh dengan debu yang beterbangan itu tidak membuat jera wanita paruh baya yang tengah hamil muda itu.


Wanita itu justru sangat menikmati suasana sekarang ini dengan rasa senang di hatinya. Seseorang dengan status sosial seperti dia mungkin takut hitam dan selalu melakukan perawatan.


"Mammy pegangan dong." Teriak Deddy saat sang istri mulai mengendorkan pegangan tangan yang melingkar di pinggang suaminya.


"Kalau terlalu erat aku gak bisa napas Deddy." Kata Mammy membuat sebuah alasan.


Sepanjang jalan kenangan kau peluk diriku mesra. Itu mungkin lagu tembang kenangan. Hujan yang rintik-rintik diawal bulan ini. Ini memang musim penghujan.


Laki-laki itu sangat khawatir dengan keselamatan istrinya hingga harus mengurangi kecepatan motor yang ditumpangi mereka. Sang istri tahu kalau Deddy belum tahu tempat lapaknya Abang gondrong hingga sepanjang jalan dia memberikan arah petunjuk.


Mereka berdua sudah sampai pada tempat tujuannya walaupun jantung Laki-laki itu seperti ingin melompat dari dalam badannya takut akan terjadi sesuatu pada sang istri. Motor itu diparkirkan di dekat sebuah taman tidak jauh dari tempat mangkal penjual penthol Abang Gondrong.


"Mammy kenapa harus makan ditempat ini?" Batin Deddy yang melihat tempatnya sangat terbuka sudah jelas banyak debu beterbangan hingga mengenai makanan yang ada di sana.


"Gak sehat makan di tempat seperti ini." Lanjutnya.


Banyak pasang mata memperhatikan sepasang suami istri yang sangat asing. Mereka berdua memang belum pernah datang ke tempat ini.


"Bang aku mau pentholnya dong." Pinta Mammy pada Bang Gondrong.


"Berapa porsi Bu?" Tanya Bang Gondrong.


"Seporsi aja deh Bang." Jawab Mammy yang sudah melihat raut wajah suaminya yang tidak berselera makan di sana.


"Bang....." Panggil Mammy.


"Iya Bu." Jawab Bang Gondrong.


"Aku maunya mienya dibanyakin ya?" Pinta Bunda.


"Beres." Jawab Abang Gondrong.


"Ini orang baru dari mana sih? Penampilannya terlihat banget kalau mereka orang kaya, tapi kenapa makan beginian?" Batin Abang Gondrong.


Menunggu pesanan istrinya yang baru dibuat Deddy berkutat dalam pikirannya sendiri. Rasa tidak nyaman makan di tempat terbuka ia sudah terbayang akan muncul berbagai macam penyakit muncul.


"Pantes yang jual penthol aja rambutnya *ikal dan panjang tebel pula gak salah lapaknya dikasih nama Penthol Abang Gondrong." Batin Deddy.


"Tapi sepertinya enak nih." Lanjut Deddy setelah mencium aroma makanan itu*.


Deddy jadi teringat masa kecilnya dulu saat istirahat yang ingin makan jajanan seperti yang dipesan oleh istrinya itu membutuhkan sebuah perjuangan. Setiap anak tidak tidak mudah untuk mendapatkan jajanan seperti itu.


Keadaan ekonomi terutama yang sangat susah. Antrian panjang pun harus karena belum semua orang bisa membuat secara enak.


Deddy yang mencium aroma makanan sang istri menjadi ingin mencicipi tapi apalah daya rasa gengsi sejak dari rumah membuatnya hanya menelan air liur sendiri. Pada akhirnya ia dia hanya memperhatikan sang istri secara makan secara lahap.


Dreeeeet


Dreeeeet


Dreeeeet


Benda pipih yang ada di saku celana itu bergetar beberapa kali tanpa pemiliknya rasakan. Pemiliknya sedang berkonsentrasi pada sang istri takut terjadi sesuatu karena mereka saat ini sedang makan di pinggir jalan. (Kalau di tengah jalan bisa ketabrak angkot).


Thing


Daun telinga Wanita paruh baya itu sedang menangkap suara notifikasi ponsel miliknya. Dilihat Id pengirim pesan yang ingin juga dibawakan untuknya.


Isi pesan:


Mammy aku juga mau dibawakan pentholnya. ~ Alfian.


Ok. ~ Mammy.


"Ini anak Raja bisa nambah selera makan." Kata Mammy.


"Kenapa Mam? Setelah baca pesan kok senyum mu semakin lebar saja." Tanya Deddy yang memiliki perasaan yang tidak enak dengan pesan yang membawa berkah itu.


"Bang Pentholnya masih banyak kah?" Tanya Wanita paruh baya pada Bang Gondrong yang baru sibuk melayani pembelinya.


"Lumayan Bu. Ibu mau nambah?" Tanya Abang Gondrong.


"Boleh, Bang. Semuanya ya?" Kata Mammy yang terputus.


"Laris manis." Teriak Bang Gondrong yang tangannya masih sibuk dengan membuatkan pesanan orang lain.


"*Ini ibu-ibu laper apa kelaparan." Batin Abang Gondrong.


"Penampilan oke seperti itu, masak doyan makanan kayak gini." Lanjutnya*.


"Abang saya ini belum selesai lho yang ngomong masalah nambah pentholnya. Nanti salah lagi pesenannya." Kata Mammy.


Ucapan mammy baru saja semakin membuat suaminya itu semakin kalut dengan apa yang akan diminta sang istri. Khawatirnya juga kalau tidak terwujut anaknya akan ileran.


Suami yang satu ini sudah membayangkan jika hal tersebut sampai terjadi. Jika meminta hal-hal aneh dia pasti dia akan semakin frustasi.


Deddy memasukkan tangan kanannya pada saku celana mengambil benda pipih yang tadi dimasukkannya. Ada sebuah panggilan dari sang anak yang belum sempat tadi dijawab.


"Ini tadi pasti ulah Alfian hingga Mammy-nya minta pesen lagi." Batin Deddy.


Laki-laki ini khawatir dengan apa yang akan diminta oleh istri-nya. Uang bukan masalah tapi tingkat kewajaran atas apa yang diminta.


"Sudah selesai Mam?" Tanya Deddy yang memang sebenarnya sudah tahu sejak tadi sang istri sudah selesai menikmati makanannya.


"Belum." Jawab Mammy singkat yang memang mau nambah makan di tempat.


"Besuk lagi aja Mammy makan disininya." Saran Deddy.


"Gak mau." Tolak Mammy dengan mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang marah.


"Kalau Deddy keburu-buru balik duluan aja." Lanjut Mammy takutnya besuk gak boleh makan disini lagi apalagi nganterin.


"Bang pesenan ku lama amat!" Teriak sang Mammy pada Abang Gondrong.


"Bentar lagi Bu." Balas Abang Gondrong.


"Gak takut gemuk apa Bu makan sebanyak ini?" Tanya Abang Gondrong heran pada wanita yang sedang ada di depannya kini.


"Maaf ya Bu dengan pertanyaan saya. Biasanya mereka pesen satu aja sudah kenyang." Kata Abang Gondrong.


"Gak apa-apa Bang, memang saat ini saya lagi dalam masa pertumbuhan." Jawab Mammy.


"Itu tu biangnya." Lanjut Mammy menunjuk suaminya dengan dagu.


"Oh, begitu ternyata. Selamat ya Bu kalau begitu." Kata Abang Gondrong ikut senang.


"Ternyata ibu-ibu lagi nyidam penthol." Batin Abang Gondrong.

__ADS_1


"Deddy harus makan juga ini." Kata Mammy yang sudah melihat sang suami kasak kusuk.


"Setelah Deddy makan ini satu aja kita pulang deh." Kata Mammy lagi dengan menyuapkan satu biji penthol ke mulut suaminya.


"Nah begitu kan cakep." Kata Mammy lagi.


"Berarti selama ini Deddy gak cakep dimata Mammy." Keluhnya Sang Suami.


"Bukan begitu Deddy." Elak Mammy.


"Cakepan tu Abang Gondrong." Lanjutnya.


"Janjinya tadi apa Mam? Ayo sekarang kita pulang." Ajak Deddy yang tidak tahan kalau istrinya memuji laki-laki lain.


"Bentar, kan belum dibayar." Kata Mammy.


"Bang ini semua total berapa? Sisanya ambil aja." Kata Mammy.


"Terus tadi yang aku pesen antar ke alamat ini ya?" Kata Mammy lagi memberikan sebuah kartu nama.


"Jangan hanya pesenan saya saja, sekalian Segrobak dan penjualnya." Kata Mammy yang sedikit keras hingga diterdengar oleh pengunjung lain.


Deddy menggelengkan kepala perlahan tidak mengerti maksut dan tujuan mammy seperti itu. Dia pun mengajak istrinya pulang dengan penuh tanda tanya di kepalanya atas pesanan istri tercintanya.


161


Kepergian sepasang suami istri membuat membuat suasana semakin ramai dengan tawa renyah para pengunjung di lapaknya Abang Gondrong penjual penthol. Mereka juga berpikir ada-ada saja permintaan wanita hamil yang membuat orang lain bingung.


Mereka sampai di rumah utama waktu hampir sore. Deddy penasaran dengan pesan yang dikirim oleh anak laki-lakinya itu pada Mammynya.


Mobil milik Monik masih terparkir di tempat semula. Mereka masih membuat rencana pesta pernikahan yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi.


Mammy berjalan melewati beberapa orang yang sedang berdiskusi tanpa melirik mereka sama sekali. Secepat kilat wanita itu ingin sampai di kamar lain.


Deddy yang mengikuti istri tercintanya itu selalu mengawasi gerak-gerik wanita itu. Suaminya itu tahu bahwa wanita itu akan pergi.


Serasa mendapat energi lebih wanita paruh baya sudah menghilang dari pandangan semua orang. Disisi lain suaminya terasa lebih tenang tadi mammy sudah mengisi perutnya.


Deddy ikut bergabung dengan ketiga pemuda tersebut. Ingin segera menyelesaikan visi dan misi terhadap anak laki-laki satu-satunya.


"Bagaimana sudah kelar?" Tanya Deddy yang baru saja bergabung dengan menatap tajam anak semata wayangnya itu.


"Belum." Jawab Ziko.


"Oh ya lanjutin aja sampai selesai, nanti bakalan dikasih bonus banyak sama bos kalian." Kata Deddy beranjak pergi menuju kamar utama.


"Kira'in bantuin." Seloroh Alfian.


"Menikah sekali seumur hidup Al, baik-baik susun strategi." Kata Deddy agak keras saat menaiki tangga.


Deddy mencari sang istri di kamar utama tetapi tidak ditemukan. Dia pun keluar menuju kamar Alfian, ternyata benar masih kembali ke kamar Sang Anak.


Sementara Deddy sedang menggiring istrinya untuk menepati janji, Alfian berusaha menyelesaikan pekerjaan mengenai kehidupannya di masa depan.


Penjual penthol Abang gondrong sudah dalam perjalanan menuju rumah utama milik Alfian. Di depan gerbang yang cukup tinggi seorang satpam menghentikannya.


"Bang di sini bukan tempat jualan." Kata satpam yang memandang rendah Abang Gondrong jika dilihat memang tidak rapi dengan penampilannya.


"Maaf Pak, saya cuma ngantar pesanan." Kata Bang Gondrong.


"Mana ada sih Bang yang pesen makanan beginian di rumah ini." Balas Satpam.


Abang Gondrong mengeluarkan sebuah kartu nama kemudian diserahkan pada Satpam. Satpam menghubungi yang punya rumah.


Diskusi ketiga orang yang berada di ruang tengah terhenti tatkala melihat wanita paruh baya yang sedang hamil muda itu berjalan keluar rumah lagi. Mereka pun penasaran dengan sang mammy hingga pandangan mereka pun terus mengikuti kemanapun mammy melangkah.


"Ada-ada saja kelakuan orang hamil itu." Kata Ziko lirih.


"Pasti merepotkan." Lanjutnya.


"Ya memang kenapa? Laki-laki itu memang mau enaknya doang gak mau direpotkan." Kata Monik jengkal.


"Memang kamu nanti gak mau punya anak?" Tanya Alfian.


"Entah.... " Jawab Ziko dengan mengendikkan kedua bahunya.


"Sepi gak ada anak kecil, gak gitu mana mungkin orang tua gue bela-belain bikin anak lagi." Kata Alfian.


"Gimana bikinnya?" Seloroh Ziko memandang gadis yang ada di sampingnya.


"Dasar elu, gitu aja udah mesum." Kata Monik memukul kepala Ziko.


"Praktek aja langsung." Kata Alfian.


"Boleh?" Kata Ziko sambil melirik gadis yang ada di dekatnya.


"Gila." Ketus gadis itu.


"Kalau kita ngobrol terus ni mana selasai-selesai." Kata Monik memperingatkan.


Mereka kembali mendiskusikan rencananya. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan semuanya hanya dengan kekuatan uang.


"Al ini pesenan kamu sudah dateng." Kata Mammy dengan sedikit keras.


"Iya Mam." Jawab Alfian yang sebenarnya tadi sudah mencari-cari barang bawaan Mammynya tetapi ternyata tidak menemukan buah tangan.


"Oh ternyata ini tadi pesanan Alfian sekalian gerobak dan penjualnya." Batin Deddy.


"Memangnya tadi kamu pesen apa Bos?" Tanya Ziko.


"Penthol." Jawab Alfian beranjak keluar.


"Itu kamu habisin, harus habis." Kata Mammy dengan tertawa renyah.


"Hah, sebanyak itu Mam." Kata Alfian terkejut dan membelalakkan mata tak percaya.


"Jangan salah Al, harus habis sama sama yang jualan juga tadi udah dipesan sama Mammy." Kata Deddy.


"Masak jeruk makan jeruk juga." Kata Alfian.


"Mana habis segini banyaknya." Batin Alfian.


"Habisin itu Al, nanti biar cepet jadi bikin dedeknya." Canda Deddy.


"Gimana bikinnya Ded?" Balas Alfian.


"Haduh kalian ini gak Bapak gak anak semua omes." Kata Mammy yang mendengar mereka berdua adu mulut.


"Bukannya begitu Mammy sayang. Tadi juga Ziko tanya bikinnya gimana?" Kata Alfian melindungi dirinya sendiri.

__ADS_1


"Enak aja gue yang disambung hitamkan." Kata Ziko yang tidak mau disalahkan.


Ziko yang mencium aroma makanan dari luar langsung menyusul Alfian. Dia memang tidak pernah ketinggalan kalau soal makanan.


"Seharian sudah bekerja keras nih tante, perut ku rasanya sudah minta di isi." Pinta Ziko yang juga ingin makan penthol Abang Gondrong.


"Itu kan tadi buat anak laki-laki tante, jadi maaf ya." Jelas Mammy.


"Tante katanya aku juga anak laki-laki nya tante. Gimana sih gak dibagi dengan ku gak boleh?" Jelas Ziko yang juga masih ingin makan.


"Beda lah tujuan ku kan besuk biar Alfian kuat bikin dedek-nya." Jelas Mammy.


"Kalau masalah bikin dede tanya Deddy sama Mammy aja yang tokcer." Jelas Alfian yang tidak mampu menghabiskan semua pesanan Mammy.


Adu mulut masalah makan terlalu panjang hingga membuat Abang gondrong geleng-geleng kepala. Akhirnya semua dapat jatah makan karena Deddy juga ikut makan.


Abang Gondrong dengan sabar melayani mereka. Dia cukup bersyukur jualannya hari ini segera habis.


Rencana yang mereka susun dengan rapi telah selesai. Mereka juga sudah makan penthol buatan Abang Gondrong.


Ziko mengantar Monik pulang ke rumahnya, berlanjut Ziko pulang ke apartemen miliknya. Waktu yang terus berjalan dengan cepat tak disia-siakan dengan aktifitas hari ini.


Menunggu datangnya besuk Alfian sudah tidak sabar dengan segala hal yang harus dipersiapkan. Perasaan senang sudah menghiasi hatinya hingga semalaman dia tak bisa tidur.


162


Mentari pagi sudah muncul dari timur hingga membuat semua orang di ibu kota bersiap bahkan mereka sudah mulai melakukan aktivitas seperti biasanya. Sebuah kamar sinar matahari itu masuk menembus gorden melalui jendela.


Seorang gadis yang sudah bangun sejak subuh menyiapkan segala perlengkapan untuk kuliah. Dia memang sangat pintar dan cerdas tetapi dengan itu tidak membuatnya malas untuk menimba ilmu.


Ini baru semster awal buat Mentari berada di kampus itu bersama seorang pemuda. Pemuda yang cukup tampan dan rupawan.


Gadis itu selalu terlihat ceria walau seringkali ada beban pikiran dihadapi. Buat dia semua bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan juga membutuhkan kesabaran yang tinggi.


Semua anggota keluarga sudah menunggu di meja makan untuk melakukan rutinitas mereka. Mengisi perut sebelum aktivitas kecuali bulan ramadhan ya. (Bulan Ramadhan mengisi perutnya hanya pada waktu sahur dan berbuka puasa).


"Mau kemana Kak?" Tanya Papa saat melihat anak gadisnya turun dari lantai dua dengan menentheng tas di punggungnya.


"Berangkat kuliah dong Pa." Jawab Tari setelah cipika-cipiki dengan Sang Papa.


"Aku kan gak seperti mereka itu tu. Anak laki-laki yang tampan sedunia." Lanjutnya.


"Emang kami tampan, emang kita dari bibit unggulan." Kata Axel secara tidak langsung memuji kedua orang tuanya.


"Tampang boleh keren, tapi kelakuan juga jangan kalah keren." Nasehat Mama.


"Mulai hari ini kamu lebih baik cuti aja biar semua lancar." Titah Papa.


"Iya betul kata Papa." Kata penguatan sang Mama untuk menghindari segala hal yang tidak diinginkan.


"Tidak bisa gitu Papa sayang, sebentar lagi aku kan mau ujian semester." Jelas Tari.


"Kamu kan pinter dan cerdas untuk itu pastinya Papa yakin kamu bisa ngikuti." Puji Papa.


"Mendingan apa tidak kita bertiga aja nih yang liburan." Kata Daffa setelah semua diam.


"Nah itu tu Pah yang minta liburan, daripada mereka bolos sekolah.


"Kalau mereka bertiga memang harus ke sekilah. Mereka kan laki-laki harus punya tanggung jawab terhadap keluarga gak boleh dong seenak udel mereka sendiri." Nasehat Papa.


"Pah, emang udel Papa enak?" Canda Daffa.


"Ini anak dibilangan sejak dari jaman kerajaan sampai perusahaan masih ada pengennya mulut itu di banyak bahannya." Kata Papa dengan sedikit jengkel karena anak laki-laki yang satu itu selalu punya bahan untuk adu mulut.


"Udah itu dihabisin kita berangkat." Kata Papa sambil berdiri.


"Kamu sayang calon pengantin baru, untuk hari ini kamu boleh pergi ke kampus dan hati-hati. Ok." Lanjutnya.


"Ok. Pah. Beres." Jawab Mentari.


"Semoga saja kita selalu diberi kesehatan dan keselamatan." Doa Mama.


"Amin." Sahut seluruh orang yang ada di meja makan.


Mereka berangkat bersama dengan orang tuanya, kecuali Axel berangkat bersama dengan sang Kakak. Entah apa yang ada dipikirannya kali ini hingga ingin berangkat bersama Kakak perempuannya itu.


Axel dan kakaknya sampai di sekolah terlebih dahulu dibandingkan dengan Papa yang naik mobil. Memang terasa lebih cepat naik motor bisa lewat gang tikus sekalipun.


Kepadatan kota memang setiap hari menimbulkan kemacetan lalu lintas. Jika bangun terlambat sedikit saja akibatnya bisa terjebak dalam kemacetan tersebut.


Axel tidak menunggu terlalu lama kedua saudara laki-lakinya itu. Setelah mereka tiba gadis itu mulai menaiki motor miliknya lagi menuju kampus.


Gadis itu langsung menempatkan motornya di tempat parkir. Dia pun menuju taman yang tidak begitu jauh dari tempat itu.


"Bosen kalau harus di rumah terus." Gerutunya setelah duduk di kursi itu.


Gadis itu mulai membuka buku yang berisi catatan kuliahnya. Lembar demi lembar dibaca tanpa ada yang terlewat.


Matahari semakin naik lingkungan semakin panas. Mentari melihat jam yang melingkar di tangannya ternyata sudah waktunya kuliah dimulai.


Gadis itu melangkah menuju ruang kuliah yang ternyata sudah banyak mahasiswa yang datang. Banyak mahasiswa yang memandang Tari saat berjalan dengan tatapan yang beraneka ragam.


Cantik natural tanpa polesan sudah merupakan ciri khas yang ada padanya. Penampilan yang sangat sederhana tapi terlihat anggun.


Banyak Mahasiswa yang terpana dengan penampilan seperti itu hingga banyak mahasiswi yang merasa iri dengan gadis itu. Untuk saat ini memang dia belum memiliki seorang sahabat yang benar-benar tulus di kampus ini mulai dari awal hingga menjelang ujian semester pertama.


Gadis ini tidak memiliki waktu untuk nongkrong seperti teman-teman lainnya, mungkin itulah sebabnya sampai sekarang dia belum memiliki seorang sahabat. Dia di kampus ini cuma mengenal Alfian dan teman seorang teman laki-lakinya.


Kuliah pagi ini dia duduk di bagian paling depan yang bangkunya masih kosong semua. Pada hari yang sama meja depan selalu kosong seperti saat ini.


Dosen yang mengajar pagi ini memiliki usia yang sudah lanjut dan selalu memberikan materi yang cukup membosankan buat semua mahasiswa. Alasan itulah kemungkinan pada hari ini banyak mahasiswa yang tidak hadir jika hadir pun mereka pasti memilih kursi yang paling belakang sebagai alternatif.


Tak Tak Tak


Langkah kaki terdengar dengan nyaring. Suara sepatu kulit dengan hentakkan kaki membuat seluruh mahasiswa di kelas itu langsung duduk pada tempatnya.


Seorang dosen muda yang cukup tampan memasuki ruang kuliah itu dengan senyum yang mengembang. Senyuman yang cukup membuat semua mahasiswa luluh lantah.


"Bapak dosen baru ya?" Celetuk seorang mahasiswi yang sejak tadi terpesona dengan dosen itu. Ya sejak dosen itu berada di ambang pintu.


"Benar." Jawab Sang Dosen itu singkat.


Mendapat jawaban dari dosen itu semua mahasiswi berebut untuk menduduki meja paling depan. Mentari yang melihat kelakuan teman-teman mahasiswi itu hanya menggelengkan kepala.


Gadis itu tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Mereka terlihat sangat kekanak-kanakan seperti seseorang yang memperebutkan sebuah permen.


Saat kuliah berlangsung banyak dari mahasiswi yang mencoba menggoda dosennya itu dengan berbagai macam pertanyaan. Perkenalan yang dilakukan dosen dimanfaatkan oleh mereka yang memang wajib karena dia memang seorang dosen baru di kampus itu hingga waktu pembelajaran hanya habis untuk sebuah perkenalan.


Mentari seorang yang tidak terlihat antusias pada dosen itu hanya diam beribu bahasa. Diamnya gadis itu justru malah menarik perhatian sang dosen tampan.

__ADS_1


"Kalau tahu cuma seperti itu tadi kuliahnya ngapain juga tadi aku masuk." Batin gadis itu setelah kuliah dosen tadi selesai.


Dosen itu keluar dari kelas dengan melirik gadis yang sejak tadi cuek dengan kedatangannya. Banyak pujian yang keluar dari mulut mahasiswi yang keluar dari mulut mereka.


__ADS_2