Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 134. Tidak Dihuni dan Teriakan Histeris


__ADS_3

Di dalam rumah Adrean sudah sangat sepi sekali. Sesampainya di rumah mereka langsung menuju kamar masing-masing.


Pesan yang dikirim Alfian pun belum sempat dibaca. Ya karena pemilik ponsel yang ada di seberang sudah terlelap dengan memeluk guling bernyawanya.


Ketiga jagoan itu pun sudah memiliki mata yang tinggal 1 watt untuk melihat. Apalagi Si Daffa anak bungsu ini yang tak pernah peduli dengan apapun ketika ia sudah sangat mengantuk di manapun ia berhenti di situlah ia akan merebahkan tubuhnya.


Axel sangatlah berhati-hati dalam segala hal. Ia bagaikan Srigala yang selalu siap dalam setiap kondisi. Sifat dingin yang ada padanya sangatlah susah untuk dirubah.


Garda adalah seorang laki-laki yang sangatlah bijaksana. Ia tidak terlalu kaku juga tidak begitu ceroboh dalam segala tindakannya.


Mereka naik ke lantai atas menuju kamar mereka. Na'as kamar yang paling dekat adalah kamar Axel.


Papa dan Mama sudah masuk ke kamar mereka yang terletak di lantai atas tepat di sebelah kanan tangga yaitu kamar utama. Kamar ke empat anak mereka terletak di sebelah kiri dari tangga.


Urutan kamar dari kakak paling tua yaitu Kak Tari, Axel, Garda, barulah kamar Daffa. Kamar yang selalu terkunci adalah satu kamar milik sang Kakak perempuan mereka. Ia selalu mengunci kamarnya disaat tak ia pergi ke luar rumah.


"Selamat malam Pa, Ma." Kata ketiga anak laki-laki itu sebelum orang tua mereka masuk kamar.


Melihat kedua orang tuanya sudah masuk ke kamar mereka. Ketiganya pun langsung menuju kamar masing-masing.


"Malam semuanya, selamat tidur." Kata ketiga laki-laki itu secara bersamaan.


Ceklek


Dua pintu kamar pun terbuka mereka bertiga mulai masuk ke kamar. Entah kamar siapa ya yang tidak dihuni malam ini? (Ayo tebak berdasarkan karakter mereka, pembaca pasti tahu ada yang selingkuh).


Axel langsung saja merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya yang memang sudah sangat capek. Ia sudah terlelap dalam mimpinya yang sangat indah.


Bluuk


Sebuah badan besar yang mulai berotot alias badan yang suspeck mulai terbentuk jatuh di tempat tidur yang sama dengan Axel. Karena terlalu mengantuk dan susah atau malas untuk membuka matanya Sang pemilik kamar tak peduli dengan gerakan itu baru saja.

__ADS_1


Besarnya tempat tidur tidak menghalangi pergerakan mereka saat tidur. Pemilik kamar dan tamu tak diundang itu pun tanpa sadar membuat gerakan yang tanpa mereka sadari.


Mendekat


Mendekat


Mendekat


Keduanya saling mendekat dan tepat berada di tengah saling berpelukan seperti teletabies. Guling bernyawa mereka tapi jeruk makan jeruk.


"Aaaaah." Teriak Daffa saat mengetahui dirinya memeluk seorang anak laki-laki ketika bangun saat pagi menyambutnya.


"Keluar dari kamar ku!" Teriaknya lagi hingga membuat semua penghuni rumah berlari menuju kamar Axel.


Axel yang merasa terganggu dengan suara teriakan itu pun mulai membuka mata perlahan. Ia melihat sekeliling ruang kamar tak ada satu benda pun yang luput dari pandangan matanya.


"Ini saudara ku, sadarlah ini kamar siapa?" Tanya Axel.


"Kenapa kau mengusir ku dari kamar ku sendiri?" Lanjutnya lagi.


"Aku ini masih normal, aku gak mau ya dikatain jeruk makan jeruk." Lanjutnya.


"What?" Tanya Axel.


"Sadar gak sih, lihat siapa juga yang main peluk?" Kata Axel dengan nada tinggi.


Brak


Suara pintu kamar dibuka paksa oleh Sang Papa. Khawatirlah karena mendengar keributan dengan suara yang ekstra keras.


Bisa dimaklumi semua penghuni di rumah itu hampir semua laki-laki. Suara keras sudah menjadi dominan apalagi untuk basic seorang pemimpin tambahlah tegas.

__ADS_1


"Apa-apa an dengan kalian ini?" Tanya Mama yang sudah sangat khawatir jika terjadi pertengkaran dengan anggota keluarganya.


Semua yang ada di kamar Kak Axel terdiam mendengar Sang Ibu Negara sudah bersuara dengan lantang sambil berkacak pinggang.


"Ayo jawab!" Perintah Sang Ibu Negara.


"Anu Ma ...... Jawab Axel yang terpotong sekilas melirik Adiknya Daffa.


"Apa jelasin?" Tanya Mama yang sudah menunggu jawaban dari kedua anaknya.


" E....... " Sahut Daffa.


"Kalian laki-laki atau perempuan?" Tanya Mama.


"Kami minta maaf pagi-pagi sudah membuat keributan." Kata Axel kemudian merangkul pundak sang adik Daffa.


Mereka memang laki-laki akan tetapi kalau Sang Ibu Negara sudah berkata dan bertindak tidak seorang pun yang akan membantah. Bukan karena takut akan tetapi mereka sangat menghormati semua yang seorang wanita itu lakukan.


Berkat doa Sang Ibu mereka bisa sampai sukses. Karena mereka juga lah sebenarnya yang paling bekerja keras. Bekerja, mengurusi rumah dan ada setiap mereka semua membutuhkan.


"Tolol atau bodoh kalian ini?" Ledek Garda merangkul pundak kakak dan adiknya itu yang memposisikan dirinya di tengah-tengahnya.


"Brengsek lu sebagai kakak bukannya ngebela adiknya malah ngatain." Kata Daffa yang disambung dengan sebuah bogem ringan di perutnya.


"Ni buat loh yang seneng melihat saudaranya menderita." Kata Daffa.


"Aaaah, Sakit kadal." Rintih Garda pelan.


"Kayaknya kurang, ni dari gue." Sambung Axel.


Bugh

__ADS_1


"Dasar kalian kurang di kurung kasarung suka meluapkan kekesalan pada orang lain." Teriak Garda dengan melihat kepergian kedua saudaranya.


Papa sejak tadi juga hanya menyaksikan adegan demi adegan antara istri dan anak-anaknya.


__ADS_2