
Di Kediaman Utama Tuan Richat
Nyonya Devi sedang mempersiapkan diri setelah mendapat telpon dari suaminya. Dia memberitahu pada Sang Putri juga untuk segera bersiap.
"Bunda sebenarnya kita mau kemana?" Tanya Mentari penasaran karena memang kedua orang tuanya belum memberitahukan padanya.
"Ke rumah sakit sayang." Jawab Bunda dengan mempersiapkan pakaian Sang Putri.
"Memangnya siapa yang sakit Bun?" Tanya Sang Putri.
"Tidak ada yang sakit." Jawab Bunda.
"Nanti kalau sudah sampai di sana kamu pasti juga akan tahu." Lanjut Sang Bunda menunjuk hidung Mentari dengan jari telunjuknya.
Mereka sudah selesai tepat saat Pak Narendra sampai di rumah. Bunda langsung menyambar tasnya dan menuruni anak tangga bersama Sang Putri.
Sopir itu segera membuka pintu mobil tanpa sebuah kata yang keluar dari mulutnya. Dia tidak berkata apapun karena memang tidak ada pesan yang harus disampaikan pada Sang Nyonya.
Pak Narendra akan membuka mulut jika ada pesan yang harus disampaikan. Mahal atau memang harus puasa bicara siapa yang tahu.
Di lobi perusahaan Sang Suami sudah menunggunya dengan sabar. Dia menunggu juga tidak lama, karena diwaktu tersebut jarang terjadi kemacetan, sehingga bisa diperkirakan waktu untuk menempuh perjalanan itu.
Pak Narendra langsung membukakan pintu mobil setelah mobil itu berhenti dan dia keluar dari dalamnya. Saat Tuan Richat masuk sopir itu sedikit membungkukkan badannya sebagai rasa hormat.
Pak Narendra segera menginjakkan pedal gas menuju rumah sakit yang sudah diberitahukan oleh Tuannya itu. Mereka tiba tepat pada waktunya.
Dokter sudah menunggu di ruang praktek sejak tadi. Banyak pasien yang sudah menunggu, tetapi seseorang yang baru datang sudah dipersilahkan masuk.
Tok Tok Tok
"Masuk." Kata seorang wanita dari dalam ruangan.
"Silahkan Tuan, Nyonya." Lanjutnya dengan mempersilahkan sepasang suami istri itu untuk duduk.
"Ada yang perlu saya bantu?" Tanya seorang dokter setelah Pasutri itu duduk dan Mentari duduk di pangkuan Sang Ayah karena memang kursi yang ada di depan dokter itu hanya dua tempat.
__ADS_1
Seorang perawat sudah menawarkan sofa untuk duduk untuk gadis kecil itu tetapi ditolaknya dengan sopan. Mentari melihat-lihat kondisi sekitar ruangan itu.
Banyak gambar yang tertempel pada dinding adalah gambar bayi dan seorang ibu. Gadis kecil itu bisa menangkap dari apa yang dilihatnya sebelum mendengar percakapan kedua orang tuanya dengan Sang Dokter.
"Dok, saya dan istri ingin memiliki anak kembali apa dengan usianya sekarang masih memungkinkan?" Tanya Tuan Richat.
"Masih Tuan, berdasarkan kesehatan juga masih memungkinkan." Jawab Sang Dokter.
"Hanya saja, Anda harus menjadi suami yang siaga." Lanjutnya karena dokter itu tahu kalau Laki-laki yang ada di depannya itu super sibuk.
"Akan lebih baik lagi kalau Nyonya mengikuti Program hamil." Saran dokter itu.
"Baiklah kalau seperti itu, dan tidak bermasalah untuk istri saya untuk hamil saya rasa sudah tidak ada lagi yang saya tanyakan." Kata Tuan Richat.
"Jika saya butuh bantuan saya akan menghubungi anda." Lanjutnya.
"Kami pamit dulu." Kata Tuan Richat berdiri dan mengundurkan kursinya hendak berdiri.
Pasutri itu telah menceritakan niatnya pada dokter yang ada di depan mereka tanpa ada yang ditutup-tutupi. Mereka merasa lega dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter itu.
Mentari tidak banyak bicara di depan umum karena dia tahu posisinya saat ini. Salah bicara bisa akan fatal padanya itu yang diberitahukan pasutri itu.
Pemuda yang saat berada jauh darinya saat ini adalah bayangannya. Mentari disembunyikan dibalik pemuda itu.
"Siapa gadis kecil tadi?" Tanya dokter kandungan tadi dalam hati.
"Bukankah anak dari Tuan Richat laki-laki." Lanjutnya.
Dokter yang bekerja di Rumah sakit itu hanya beberapa orang yang menangani Nyonya Devi saat melahirkan. Rahasia itu disimpan dengan rapat oleh mereka.
Berkas dan surat lahirpun diubah sesuai dengan keinginan Tuan Richat. Jenis kelamin anaknya tidak menjadi masalah buat dia tetapi yang bermasalah adalah kehidupan seseorang.
Pak Narendra sudah menunggu mereka tidak lama di depan rumah sakit. Pedal gas diinjak setelah keluarga kecil itu masuk ke dalam mobil.
"Bunda benarkah yang aku dengar tadi?" Tanya seorang gadis kecil yang masih polos itu.
__ADS_1
"Kamu tadi dengar apa?" Tanya Bunda dengan menyentuh telinga Sang Putri.
"Aku dengar kalau aku akan punya adik bayi." Jawab Mentari.
"Haduh, anak Ayah sekarang sudah berani menguping ya?" Tanya Ayah.
"Siapa bilang?" Tanya seorang gadis kecil.
"Kalian ngomongnya di depanku kok, kalau ngupingkan sembunyi-sembunyi." Lanjutnya.
Mereka sudah sampai di kediaman utama tanpa hambatan apapun. Mentari langsung keluar dari mobil sebelum Sang Sopir membukakan pintunya.
Dia langsung berlari menuju kamar mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Pasutri itu hanya menggelengkan kepala perlahan melihat kelakuan Sang Putri.
"Ayo program hamil Bun." Ajak Sang Suami dengan senyum jahilnya saat mereka berjalan menuju kamar utama.
"Program hamil apa-an?" Tanya Sang Istri berpura-pura tidak paham.
"Olah raga di atas tempat tidur.” Jelas Sang Suami.
"Ha... " Teriak Sang Bunda terkejut.
"Ini siang Ayah." Jelas Sang Bunda.
"Malah lebih panas kan Bun, lobangnya bisa terlihat jelas." Kata Sang Suami yang banyak kongslet otaknya.
Sang istri menatap suaminya dengan tajam tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Jarang sekali suaminya berpikir mesum seperti itu disiang hari pula.
"Apa ini akibat dari obsesi punya anak?" Tanya Sang Bunda dalam hati.
"Apalagi tadi kata dokter suami siaga, pasti akan semakin parah ini suami ku." Lanjutnya dalam hati.
Ceklek
Pintu kamar utama dibuka oleh pemiliknya. Pasutri itu langsung membersihkan diri dan mengganti pakaian santainya.
__ADS_1
Keduanya hanya saling tatap setelah berganti pakaian. Suaminya tahu sang istri harus menyiapkan makan siang hingga dia memberikan kesempatan itu padanya.