
79
**** Di Kediaman Adrean ****
Setelah Mama selesai menghubungi Papa ketiga kurcaci kecil di rumah itu demo.
"Ma, Mama gak boleh sayang sama orang lain, Mama cuma boleh sayang sama kami." Cerocos Daffa yang emosi sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sayang, mama juga sayang banget sama kalian." Jelas Mama sambil menangkap wajah anaknya Daffa untuk meyakinkan.
"Pokoknya tidak boleh, ya tidak boleh." Kata Axel dengan tegasnya.
Mama akhirnya memeluk ketiga anaknya itu dengan kasih sayang.
Mentari yang saat itu baru keluar dari dapur tertawa renyah mendengar obrolan Mama dan ketiga kurcaci itu. Ia mengambil ponsel yang ada di sakunya.
Nama Tante Dita di carinya. Mentari menekan tombol aikon panggil. Beberapa saat panggilan pun terhubung.
"Assalamualaikum." Salam Mentari.
"Wa'alaikumsalam." Balas Tante Dita.
"Tante malam ini ada acara kah?" Tanya Tari.
"Tidak. Ada apa Tar?" Tanya balik Tante Dita.
" Cuma mau melepaskan kangen." Jawab Tari.
" Ok." Balas Tante Dita.
"Ya udah ya Tante, dandan yang cuantik." Kata Tari.
"Ya." Balas Tante Dita.
"Wassalamualaikum." Salam Tari mengakhiri panggilannya.
"Wa'alaikumsalam. Balas Tante Dita.
Setelah percakapan itu. Mentari menghampiri Mamanya. Mereka pun ke dapur dan masak beberapa jenis makanan.
Adrean dan Briyan dalam perjalanan pulang menuju kediaman Adrean. Briyan yang hendak pergi dicegah oleh Adrean.
Sesampainya di rumah ia di sambut oleh Istri dan anak-anaknya. Briyan diminta menunggunya di ruang tengah. Ia pun menyalakan TV, sedangkan Adrean menuju kamar untuk mandi dan berganti pakaian rumahan yang telah disiapkan sang istri.
Cup
Ciuman mendarat di kening sang istri.
"Jangan lupa ya sayang hadiah untuk ku nanti malam." Kata Papa sambil membisikkan di telinga kanan istrinya.
Kulit Mama seketika meremang geli akibat ulah suaminya.
"Apa'an sih Pa." Balas Mama dengan memalingkan wajahnya karena malu.
Adrean turun dan menemui Briyan, sedangkan Mama menuju ruang makan menyiapkan makan malam. Tidak lama kemudian Tante Dita datang.
"Assalamualaikum." Salam Tante Dita yang baru datang.
"Wa'alaikumsalam." Jawab semua yang ada di dalam kediaman Adrean.
"Masuk Tan." Perintah Mama pada Tante.
Briyan melihat kedatangan Dita baru saja. Dalam hatinya merasa kagum dengan sosok Dita sejak dulu. Cantik, sederhana, dan tidak pernah sombong dengan apa yang dimilikinya.
Briyan berusaha bersikap biasa saja. Adrean merasakan kecanggungan antara Briyan dan Dita. Sehingga ia pamit ke belakang dulu menuju ruang makan.
"Pembalap kita dateng juga." Sindir Adrean.
"Iya, kebetulan ada urusan." Balas Dita.
Dita jadi ingat bagaimana dulu ia kebut-kebutan mengendarai mobil dalam upaya penyelamatan sahabatnya. Ia jadi tersenyum sendiri membayangkan bagaimana seorang cewek menjadi pembalap dimasa lalu.
Senyum yang melintas di wajah Dita tak luput dari pandangan Briyan. Ia terus menatap wajah cantik itu.
"Aku kebelakang dulu. Ok. Kalian ngobrol aja." Kata Papa.
Mendengar kata-kata Adrean, Briyan jadi salah tingkah setelah sadar dengan apa yang dilakukannya.
Papa menuju ruang makan yang begitu luas. Ia berada di sana lumayan lama. Karena tidak terdengar percakapan dari ruang tengah Papa pun mulai dengan aksinya dengan sang istri.
"Ma, kok suara ayam jantannya gak kedengeran ya?" Sindir Papa.
"Ayam jantan? Kayak julukan Pahlawan deh Pa. Balas Mama.
"Iya, kasian tu ayam betinanya masak cuma dianggurin." Kata Papa
Mereka sengaja berbicara dengan keras dari dalam ruang makan. Tetep aja Mereka yang berada di ruang tengah diam seribu bahasa.
Mama dan Mentari sudah selesai menata meja makan. Mama meminta Briyan dan Dita untuk makan sedangkan Mentari memanggil ketiga kurcaci itu.
Mereka bertuju makan dengan tenang. Terdengar hanya sendok dan garpu yang sedang beradu.
Usai makan mereka menuju ruang tengah. Termasuk Mentari dan ketiga kurcaci itu.
Dita banyak sekali bercerita tentang kehidupannya di negeri orang. Akan tetapi ia tidak akan berkata apapun kalau tidak ditanya.
Hanya Sintalah yang sering kali bertanya padanya. Adrean cuma bertanya beberapa hal saja. Jangan ditanya Briyan cukup menjadi pendengar saja.
Mentari dan ketiga kurcaci kecil itu sedang belajar di ruang tengah. Obrolan kecil banyak dimengerti oleh mereka. Akan tetapi mereka lebih fokus pada belajar menggbar mereka.
Ketiga kurcaci itu terlihat mirip akan tetapi mereka mudah dibedakan. Anak Adrean dan Dinta memang kembar tapi mereka kembarnya tidak identik. Hal itu sangat memudahkan untuk menutup identitas Axel.
Malam semakin larut. Makan malam kali ini sebenaarnya bertujuan untuk mendekatkan Briyan dan Dita. Kenyataannya mereka malah sangat canggung. Sifat keduanya sama-sama dingin jika tidak sering bertanya pada dulu.
"Ayam jantan kamu ntar kamu pulang dengan Dita ya?" Kata Adrean dengan Percaya Dirinya.
"What?" Di dapur tadi kamu bicarain aku?" Tanya Briyan dengan pandangan mata melototnya.
Briyan tidak menduga dapat julukan seperti itu dari Sahabatnya.
"Mobil elo kemana?" Tanyanya lagi.
"Gue modif dibengkel temen, belum jadi. Jelas Adrean.
Briyan menatap pada Dita yang tidak memiliki komentar apapun. Mereka berdua memang sama-sama cuek jika bersama lawan jenisnya.
"Okelah. Tapi yang punya mobil boleh gak? Ntar Lakinya marah sama aku." Jelas Briyen.
"Gak papa ntar aku anterin." Kata Dita santai.
Dita pulang bersama Briyan. Ia mengambil mobilnya di garasi. Dita yang beranjak mengambil mobilnya pun sempat terhenti sebab Adrean mengeluarkan sindirannya.
"Wah, sekarang banyak ya sopir cewek, padahal ada laki-lakinya lho." Kata Adrean.
"Iya ya bener, gak punya ati tu cowok." Kata Sinta dengan menekan kata-katanya.
Briyan yang mendengar hal itu melangkah cepat mengambil kunci yang ada di tangan Dita dengan kasar. Ia langsung menuju mobil Dita menuju garasi.
Di depan rumah ia membukakan pintu mobil untuk Dita. Saat pintu mobil itu di tutup Briyan Briyan sempat melemparkan kata-kata pada sepasang suami istri yang baru saja merecokinya.
"Dasar rese semua." Kata Briyan.
Sepasang suami istri itu tertawa renyah mendengar ocehan Briyan.
"Ati-ati bawa anak gadis orang." Peringatan Adrean pada Briyan.
Dita yang sudah ada di dalam mobil tanpa ekspresi sedikit pun. Sinta mendekati Dita yang sudah duduk di samping kemudi.
"Ntar kalau cowok yang ada di samping elu macem-macem jangan tinggal diam. Kamu ganti balas macem-macem." Jelas Sinta yang panjang kali lebar.
♥️♥️♥️♥️ 80
Mobil yang dikendarai oleh Brian dan Dita meninggalkan kediaman Adrean melaju dengan kecepatan sedang. Hanya ada dua insang yang merasa canggung sekian lama tidak bertemu.
Ketika sampai di tanah kelahirannya ini beberapa hari yang lalu Dita tak memberikan kabar apapun. Hanya pesan ponsel seakan yang mengatakan masih di negeri orang secara tidak langsung.
Briyan yang sedang mengemudi sesekali mencuri pandang gadis yang ada di sampingnya. Gadis ini tak mempedulikan sang sopir yang tak kalah dingin.
Taman kota tepatnya mobil dihentikan.
"Kenapa berhenti?" Tanya Dita.
Briyan tak menjawab pertanyaan dari Dita. Ia keluar dari mobil itu dan meminta Dita untuk ikut turun.
Nyaman dan dingin suasana di taman. Briyan mengajak Dita duduk di kursi taman untuk merasakan suasana itu.
__ADS_1
Hening
Hening
Hening
Briyan menyandarkan badannya di kursi taman. Kepalanya mendongok ke atas melihat bintang yang bertaburan.
Dita duduk di samping laki-laki dingin ini tak berani menatapnya. Mereka tak bicara sedikit pun sampai beberapa waktu.
Hembusan angin yang ringan membuat Dita merasa kedinginan. Ia mensedakepkan tangannya di bagian dada.
Briyan menyadari wanita di sampingnya itu sedang kedinginan. Ia pun melepas jasnya dan menutupkan pada punggung Dita.
**Nyeees**
Hatinya seakan merasa sejuk.
Dita yang merasa diperhatikan wajahnya memerah seperti tomat masak. Akan tetapi suasana hening tanpa ada percakapan.
Tidak seperti biasanya, mereka berdua saat berada di negara yang berbeda saling memperhatikan. Mereka saling berbagi kisah dan banyak bercerita. Untuk malam ini keheningan tercipta diantara keduanya. Mereka berkelana dalam pikiran masing-masing.
Hampir dua jam mereka berada di taman. Mungkin mereka sedang belajar untuk saling memahami dalam kebersamaan.
"Pulang" Kata Briyan sambil berdiri dan mengulurkan tangannya pada Dita.
Tanpa menjawabnya Dita meraih uluran tangan Briyan. Keduanya memang orang yang simpel tanpa banyak bicara.
Entahlah dalam perjalanan pulang pun masih dalam kondisi yang sama. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali Briyan melirik orang yang di sampingnya.
Sampai di depan rumah Dita mobil pun berhenti. Briyan membukan pintu itu.
Tangan kekar menjulur memberikan bantuan pegangan untuk Dita. Setelah keluar dari dalam mobil Ia mengembalikan jas itu. Tapi apa yang terjadi. Sang pemilik tidak mau menerimanya.
"Terimakasih." Ucap Dita sambil memberiman jas milik Briyan.
"Simpan lah." Balas Briyan.
"Besuk aku suruh orang untuk mengantar mobil mu." Lanjutnya.
"Sudah malam, aku masuk dulu." Kata Dita.
Dita membalikkan badannya berjalan menuju rumahnya tanpa menoleh kebelakang sedikit pun. Pintu rumah dibukanya perlahan. Rumah yang sederhana yang dulu pernah ditinggalinya sudah lama tak berpenghuni mengandung banyak kenangan.
Briyan masih berada di depan rumah Dita. Lumayan lama ia menatap kepergian wanita itu sampai ia masuk dalam rumahnya.
Dita masih berada di balik pintu ketika mobil itu belum berjalan. Ia mengintip kepergian laki-laki yang mengantarnya sampai ia pergi meninggalkan rumahnya.
Setelah Briyan pergi ia menuju kamar dan membersihkan dirinya. Dita menyandarkan punggungnya di atas tempat tidur. Diraihnya ponsel yang terletak di atas nakas.
Teringat dengan jas Briyan yang diletakkan di sofa yang terletak di dalam kamarnya.
"Maksudnya apa tidak boleh dikembalikan?" Gumam Dita.
"Sudah tidak bersama sekian lama hanya berhubungan lewat ponsel, apa perasaannya masih sama?" Gumamnya lagi.
Rumah Dita yang hanya dihuni olenya sendiri terasa sunyi. Ponselnya yang ada ditangan tiba-tiba berdering. Dilihatnya nomor itu sangat asing. Diangkatnya panggilan itu.
"Hallo, selamat malam." Sapa Dita.
"Masih belum tidur?" Tanyanya langsung tanpa membalas salam wanita itu.
" Besuk ada waktu?" Tanyanya lagi.
"Ada apa?" Balas Dita dingin walaupun itu nomor asing tapi ia bisa mengenali suara itu.
"Kamu itu bukannya jawab malah balik tanya!"
Bentak orang yang disebrang sana.
"OMG, dasar singa. Bisa gak sih gak bentak orang." Kata Dita.
"Oke oke oke, besuk ada jamuan aku ingin mengajak mu. Bisa gak?" Tanya orang itu.
"Besuk aku masih cuti." Jelas Dita.
" Segeralah tidur." Lanjutnya lagi.
Apa-apa an dia mau ngajak orang tapi kasar banget nada bicaranya.
Batin sinta.
Sinta yang sudah berbaring di atas tempat tidurnya segera memejamkan mata. Ia tidur sangat nyenyak.
*** Di Apartemen Briyan ***
Apartemen yang begitu mewah, milik seorang pengusaha ini duduk seorang laki-laki yang memiliki paras wajah sangat tampan. Bentuk tubuh yang sangat kekar.
Ia sekarang sedang membayangkan wajah wanita cantik yang selama ini rindukan. Ia takut mengungkapkan perasaannya itu. Takut cinta bertepuk sebelah tangan.
Di balkon ia masih merenung sambil menikmati dinginnya malam. Tak terasa waktu sudah hampir dini hari.
Pagi hari banyak pekerjaan yang menunggunya. Ia pun harus segera pergi untuk tidur.
Pagi hari ia sudah terbangun melakukan aktivitas seperti biasa. Usai sholat subuh, ia olah berolahraga. Untuk itulah badannya sangat terbentuk. Apartemen miliknya pun ada berbagai macam peralatan olahraga.
*** *** *** ***
Jangan lupa dukung novel ini ya.
Maaf kalau terlalu lama upnya.
Jangan lupa Like & Votenya ya.
Biar tambah semangat upnya.
🙏🙏🙏🙏
Jaga selalu kesehatan, & istirahat cukup.
Buat
Pelajar: Jangan lupa belajar raih prestasimu setinggi mungkin.
Pekerja: Bekerjalah dengan semangat kerja tinggi, raihlah kedudukan yang tinggi dengan jujur.
🙏🙏🙏
Di apartemen ini Ia bingung harus memperlakukan seorang wanita seperti apa. Sungguh membuatnya prustasi.
Usai mandi ia segera menghabiskan sarapannya. Ia segera melajukan mobilnya menuju kantor.
Pikirannya tak bisa fokus mengenai undangan pesta itu. Semua pekerjaannya jadi berantakan.
Adrean pun mendapat undangan yang sama. Bagaimana tidak itu memang acara yang khusus diadakan untuk semua pengusaha dari yang paling amartir sampai pengusaha yang sukses. Baik dari yang muda sampai yang tua.
Banyak dari mereka yang sudah berkeluarga dan memiiliki anak gadis di ajak pada acara tersebut. Tujuan mereka tidak lain adalah agar anak mereka mendapatkan suami seorang pengusaha yang sukses.
Briyan dengan berbagai pikirannya hingga lupa waktu. Kini waktu sudah siang. Waktunya pulang kerja.
*** Di rumah Dita ***
Dita sedang membersihkan rumahnya yang sudah lama tidak ia tinggali. Rencananya ia akan mengajak sang ibu tinggal bersamanya. Ibu yang selama ia pergi tinggal di desa seorang diri.
Setelah membersihkan rumah, ia pergi berbelanja ke pasar untuk persediaan. Ia membeli berbagai macam sayur, dan lauk.
"Orang baru ya Neng?" Tanya satu penjual di pasar.
"Tidak Bang." Jawab Dita.
"Saya kok tidak pernah melihat Eneng." Tanyanya lagi.
"Saya dulu pernah tinggal di sini juga kok Bang. Trus saya merantau." Jawab Dita sambil memilih sayuran.
Dita sudah selesai memilih sayuran. Ia pun membayar semua belanjaannya itu.
Biasa di sekitar pasar ada sekelompok pemuda yang tak tahu sopan santun. Biasa orang mengatakan preman pasar. Kerjaan mereka hanya menghabiskan waktu mereka di sana dengan meminta uang keamanan pada setiap penjual. Mereka meminta dengan sangat kasar.
Dita keluar dari pasar penuh dengan belanjaan. Prenan-preman tersebut malihat dita dengan pikiran mesumnya.
Suit suit
__ADS_1
Suara para preman itu bersiul.
"Cantik, bodi oke." Kata salah satu preman
Dita tidak memperdulikan mereka. Ia berjalan dengan santainya.
"Neng baru ya di sini." Katanya lagi.
Karena tidak diperdulikan salah satu dari mereka menghadang tepat di depan Dita. Dita pun berhenti dan masih bisa berbicara dengan halus dengan mereka.
"Maaf Bang saya mau jalan, kalau abang di depan saya, saya gak bisa jalan." Kata Dita.
"Kalau gak bisa jalan mau abang gendong Neng? Kata Preman itu sambil membelai pipi Dita.
Seketika itu Dita berhenti dan menatap mereka satu persatu dengan tatapan tajam. Tamparan mendarat disalah satu preman itu. Perkelahian tak dapat dihindari.
Dita memang seorang wanita tapi dia juga jago beladiri. Dengan gesitnya ia hanys menghindar.
Semua orang di pasar digemparkan oleh perkelahian itu. Para preman akhirnya kualahan menghadapinya.
Semua pujian terhadap Dita terdengar. Ia tidak mempedulikan semua itu. Peringatan pada para preman itu pun terlontar dari mulutnya.
"Awas kalau kalian masih berani ber ulah di pasar urusan dengan Polisi!" Kata Dita dengan tegas.
Dita pun mulai memasukkan semua belanjaannya ke mobilnya. Ia pulang ke rumah dengan mengemudikan mobilnya dengan perlahan.
Sesampainya di rumah Dita langsung menaruh semua belanjaannya pada tempatnya. Ia langsung pergi ke kamar dan membersihkan dirinya.
"Payah pemuda di sini." Gumamnya.
Ia mulai memejamkan matanya. Tanpa terasa ia pun sudah terlelap dalam mimpinya.
Duar
Dita kaget melihat jam diponselnya. Waktu menunjukkan pukul 15.00. Setelah sholat Asar Ia mulai sibuk mencari gaun yang akan dipakai ke pesta.
"Seadanya sajalah." Pikirnya.
Dita meletakkan semua perlengkapan yang akan dipakainya itu di atas tempat tidur termasuk tasnya. Tidak untuk sepatunya ya.
Dalam pikirannya bukan lah sebuah pesta tapi orang yang mengajaknya. Orang yang mengajaknya itu dingin seperti es gak banyak bicara juga. Senyum juga mahal. (Emang senyum bisa dinilai ya dengan nominal).
*** Di Kantor Adrean ****
Siang ini Adrean dan Briyan sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Biarpun Briyan punya perusahaan sendiri akan tetapi ia tetap menjadi asisten Adrean. Ia tidak lupa dengan segala kebaikan Adrean.
Saat makan siang Adrean dan Briyan makan di luar. Sebuah restoran terkenal milik Briyan. Mereka bercakap-cakap seperti layaknya saudara.
"Tuan akan datang pada acara nanti malam?" Tanya Briyan.
"Bry ini bukan kantor panggil aku dengan nama saja." Balas Adrean.
"Baiklah." Kata Briyan.
"Kalau gak ada halangan aku akan datang." Jelas Adrean.
"Kamu sendiri gimana?" Tanya Adrean
"Datang mungkin." Jawab Briyan.
"Trus pasangan mu siapa?" Tanya Adrean.
"Ada deh." Jelas Briyan.
Selesai makan siang mereka kembali ke kantor. Menyelesaikan semua pekerjaan mereka masing-masing.
Mereka tidak ingin membawa pekerjaan kantor ke rumah. Waktu di rumah buat mereka adalah untuk keluarga.
Waktu kerja sudah berakhir. Adrean segera pulang dan ingin segera bersiap untuk acara nanti malam.
Briyan yang masih dengan berbagai macam pikirannya sendiri. Bahkan saat ia menyetir mobil seakan ia tak bisa fokus. Bukan acaranya pestanya tapi ia harus mengajak seorang pasangan.
"Apakah harus setegang ini." Gumamnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
*** Di Apartemen Briyan ***
Briyan langsung mandi sesampainya di Apartemen. Ia berendam di backtub untuk menenangkan pikirannya yang sedang tak tenang.
"Persiapan untuk berangkat ke pesta aja pakai ribet." Gumamnya.
Akhirnya Briyan cuma bisa membiarkan semua berjalan seperti air mengalir. Ponsel di atas nakas diambilnya setelah keluar dari kamar mandi. Belum sempat ia memakai pakaiannya ia menghubungi seseorang.
Tuuut Tuuuut Tuuuut
Suara ponsel Briyan yang menghubungi seseorang. Setelah tersambung dan diangkat olehnya ia langsung berkata sesuatu sebelum dijawab oleh orang itu langsung dimatikan.
"Aku jemput pukul 19.00." Kata Briyan.
Orang disebrang telepon hanya menggelengkan kepala. Ia tahu kalau laki-laki itu sedang grogi.
*** Di Rumah Dita ****
Sesudah sholat Isa' Dita segera bersiap-siap siap. Sebentar lagi ia akan dijemput oleh seseorang.
Dita menggunakan dress panjang lengan panjang dengan kerah agak terbuka yang memperlihatkan leher putihnya. Make up yang tidak begitu mencolok sehingga terlihat natural. High hills yang cukup tinggi sehingga bisa mengimbangi tinggi badan pasangannya.
Aksesoris yang sangat sederhana tapi terkesan mewah melekat di tubuhnya yang indah. Tidak banyak ia memakainya perhiasannya. Ia hanya memakai yang sesuai dengan pakaiannya.
Waktu sudah hampir pukul 20.00. Briyan segera melajukan mobilnya menuju rumah seorang wanita.
Briyan sampai di depan rumah itu tidak segera turun. Ia masih mengatur semua yang ada dipikirannya.
Dita tahu ada mobil yang berhenti di depan rumahnya. Ia melihat mobilnya sudah terparkir di sana.
Dita tidak segera membuka pintu rumahnya. Ia menunggu Pria itu mengetuk pintu rumahnya.
Seorang pria tampan dengan menggunakan Jas warna hitam keluar dari mobil milik sang penghuni rumah. Ia berjalan menuju rumah seorang wanita.
♥️♥️♥️♥️♥️81
Ting tong Ting tong
Suara bel rumah pun berbunyi dengan nyaring. Pemilik rumah berjalan membukakan pintu. Suara langkah kaki yang sangat nyaring terdengar.
ceklek
Pintu pun terbuka. Seorang wanita cantik membukakan pintu.
Briyan menatap wanita itu tanpa berkedip sedikit pun. Ia terpana dengan kecantikan yang begitu natural dari wanita itu.
"Hati-hati itu mata, bisa lompat nanti." Kata Dita yang membuyarkan tatapan laki-laki yang ada dihadapannya.
"Cantik sekali kamu malam ini." Kata Briyan tanpa sadar mengatakan itu dari mulutnya.
"Ati-ati ntar bisa jatuh hati sama aku." Peringatan Dita.
Mereka berjalan menuju mobil sambil melanjutkan percakapan mereka.
"Sakit kalau hatinya jatuh." Canda Briyan.
"Bisa bercanda juga elu." Ledek Dita.
"Aku kira kamu manusia robot yang gak punya hati gak bisa bercanda cuma bisa kerja doang." Lanjut Dita.
Briyan pun membukakan pintu mobil itu.
"Terimakasih." Ucap Dita.
Setelah Dita masuk ia menutup kembali pintu mobil itu perlahan. Dita mulai memasang sabuk pengamannya.
Briyan juga sudah masuk ke dalam mobil. Ia mengendarai mobil itu secara perlahan menuju hotel X. Tempat diadakan acara pesta itu. Sesekali ia mencuri pandang pada wanita yang duduk di sampingnya.
Hening
Hening
Hening
"Hati-hati tu mata dijaga. Ntar juling lho." Kata Dita tiba-tiba memecahkan kehiningan dalam mobil itu.
"Juling apa suling?" Pilihan Untuk Dita dari Briyan.
Dita yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya perlahan.
"Aku maunya suling aja biar bisa ditiup." Kata Briyan menggoda Dita.
__ADS_1
"Ternyata oh ternyata Pria yang dianggapnya selalu dingin selama ini bisa berpikiran mesum."