Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 164. Surprise


__ADS_3

Ketiga bersaudara kembar itu berharap Kakak perempuannya belum pulang ke rumah. Mereka bertiga tahu jadwal kuliah Kakaknya hari ini sampai sore itu pun kalau tidak mengikuti latihan bela diri.


Ini hari memang tidak memihak pada mereka. Mereka berharap bisa memberikan Surprase yang tidak mengecewakan Sang Kakak.


Mereka di dalam kamar mengobrol hingga terlewat waktu makan siang. Ketiganya melihat setiap sudut tempat di ruangan itu.


Bayangan akan sebuah kejutan yang akan direncanakan mereka sudah ada dalam pikiran mereka bertiga. Hanya dengan melihat sekilas saja mereka bisa berimajinasi hingga beberapa dimensi.


Mereka memang sangat cerdas jika dibandingkan dengan anak lainnya. Tidak seorang pun tahu kelebihan yang mereka miliki sebab mereka tidak pernah menunjukkan kelebihan itu.


Mentari melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya. Ia sudah merasakan kelaparan saat ini.


"Ayo turun." Ajak Kak Tari pada ketiga adiknya.


"Minta Bibi bawa ke kamar aja ya kak. Aku baru malas naik turun anak tangga. Lagian seluruh ruangan baru didekorasi." Jelas Axel.


"Iya benar. Gak enak sama mereka yang sedang bekerja." Jelas Garda.


"Kak ingat itu sebentar lagi mau nikah masak baru ngobrol sedikit saja sudah laper." Kata Axel.


"Ntar kalau banyak makan alias makan berlebihan sebelum menikah tubuh melar gimana coba?" Tanya Daffa yang memang sejak kecil selalu memperhatikan penampilannya.


"Melar kayak apa'an aja?" Tanya Kakak perempuan mereka yang sejak dulu tidak pernah memikirkan penampilannya.


"Kayak...... " Kata Axel terputus.


"Karet." Jawab Ketiga adik lakinya.


"Betul betul betul." Kata Daffa.


"Trus baju pengantinnya gak muat." Lanjut Daffa.


Sang Kakak terlihat tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Dia benar-benar menghabiskan makanan ringan setelah makan siang.


Kelakuannya yang seperti itu mendapat teguran yang manis dari calon suaminya. Dia sendiri tidak begitu memperhatikan masalah body.

__ADS_1


Mereka memutuskan makan di dalam kamar Sang Kakak dengan berbagai macam menu makanan yang dibuat oleh ART mereka. Mereka hari ini tidak turun langsung ke lapangan takutnya untuk menghidupi para pendekorasi rumah mereka yang cukup banyak mereka akan kualahan.


Berbeda jika tenaga mereka hanya untuk seluruh anggota keluarga yang cukup sedikit mereka pasti akan turun langsung. Mungkin ada berbagai pandangan dari orang lain jika mereka mengetahui hal ini.


Biasanya jika orang kelas atas mengerjakan pekerjaannya sendiri banyak yang menganggap mereka pelit. Mereka tidak mau keluar uang untuk orang lain dengan tidak mempekerjakan mereka.


Mereka berempat makan dengan lahap sambil bersenda gurau. Waktu bersama-sama dengan kakak perempuannya itu tinggal menghitung hari sehingga mereka memanfaatkan kesempatan untuk bersama-sama.


Sang Kakak tidak pernah menganggap akan ada perbedaan sebelum dia menikah atau pun sesudah menikah. Kehidupan yang berbeda akan menciptakan hal tersebut karena memang sudah hukum alam.


Lingkungan yang berbeda hari ini menciptakan situasi yang berbeda. Setiap mereka makan di meja makan hanya ada sedikit perbincangan kecil. Makan siang hari ini mereka sungguh bersenda gurau dengan gelak tawa yang menggelegar di setiap sudut kamar itu.


Mereka berani tertawa seperti itu di sebuah kamar karena semua kamar di kediaman utama kedap suara. Kebahagiaan masa depan sang kakak perempuan mereka sudah menanti.


Banyak hal yang tidak bisa diungkapkan masalah kehidupan seseorang. Mereka memang harus bisa mengambil keputusan itu.


"Sudah hentikan Kak!" Kata Axel yang melihat kakaknya itu makan tanpa henti sejak tadi.


"Kenapa Memangnya?" Tanya Mentari dengan mengangkat sedikit dagunya.


"Bukan." Jawab Axel.


"Trus apa dong?" Tanya Tari sambil merebut makanan yang sekarang dibawa oleh Garda.


"Gak sehat kakak ku sayang." Kata Axel dengan mencubit kedua pipi sang kakak karena geram.


Makanan yang dibawakan oleh ART mereka sudah hampir habis. Ketiga saudara laki-laki itu undur diri dari kamar kakak perempuannya.


Rasa kecewa menyelimuti hati ketiganya karena gagal fokus. Mereka membuat rencana lain untuk membuat surprese buat kakak perempuan mereka.


"Sepertinya waktu kurang pas kalau segera dilaksanakan." Kata Garda.


"Kita butuh bantuan sepertinya." Kata Daffa.


"Bukannya kalian semua punya asisten." Lanjutnya.

__ADS_1


"Ini berhubungan dengan privasi kakak kita." Kata Axel.


"Kita harus menjaganya. Kakak selalu tidak suka kalau orang lain masuk ke kamarnya." Lanjutnya.


"Gak baik banyak bicara, apalagi ditempat umum seperti ini."Kata Garda menjelaskan sebuah fakta kehidupan.


"Betul betul betul. Tembok yang gak punya telinga saja bisa mendengar." Kata Axel sambil merangkul kedua adiknya.


Mereka menuju kamar kakak tertua karena mereka memang digiring ke sana oleh yang punya kamar. Masih dengan hal yang sama mereka diskusikan.


Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat surprese pada saat hari Kakak perempuannya itu menikah. Mereka sudah memikirkan caranya walaupun harus seperti jalangkung yang datang dan menghilang tanpa memberitahu.


Kesepakatan ketiga orang laki-laki kecil tapi dengan pemikiran yang cukup dewasa itu telah sampai pada pembagian tugasnya. Untuk hal selanjutnya tinggal mereka melaksanakannya dengan semangat dan hati-hati.


Kedua orang tua mereka masih disibukkan dengan pekerjaan kantor yang sangat banyak. Mereka sangat ingin menyelesaikan pekerjaan mereka sebelum hari pernikahan anak gadisnya berlangsung.


Keduanya tidak ingin membebankan semua pekerjaan pada asisten mereka biarpun mereka sangat handal. Bukan karena tidak percaya tetapi karena tanggung jawab akan pekerjaan yang sudah seharusnya dilakukan.


Papa sudah meminta orang pihak WO kepercayaannya untuk mendekorasi rumah mereka sebagus mungkin. Mengenai rancangan sudah digambarkan oleh yang punya kediaman.


Semua ruangan didekorasi dengan sangat elegan. Beberapa ruang tidak diijinkan orang lain masuk untuk didekorasi yaitu beberapa ruang pribadi dan kamar yang punya rumah.


Menunggu hari pernikahan itu semua orang sangat antusias, terutama seluruh anggota keluarga dari kedua mempelai.


Undangan sudah tercetak dan disebarkan pada hari yang sama pada seluruh anggota keluarga. Selain anggota keluarga juga orang-orang terdekat anggota keluarga.


Mereka tidak mau terjadi masalah pada saat pernikahan itu sehingga harus menekan juga jumlah tamu undangan. Banyak cara yang dilakukan agar pernikahan itu berjalan dengan lancar.


Mentari sekarang sedang terlelap setelah kepergian ketiga adik laki-lakinya itu. Ketiga adiknya itu selalu menjadikan penyemangat hidupnya.


Merasa sebagai seorang yang lebih tua dan memiliki ketiga adik maka dia pun harus memberikan contoh yang sangat baik. Takut jika tidak baik akan menjadi contoh untuk ketiganya.


Masalah terkadang harus disembunyikan dan disimpannya dalam hati dan pikirannya sendiri. Biarpun seperti itu tetapi ketiga adiknya selalu tahu apa yang menjadi beban pikiran yang kakak.


Dikamar sebelah ketiga orang anak laki-laki sedang disibukkan dengan rencana yang akan diluncurkan. Hadiah untuk sang kakak perempuan satu-satunya yang sangat mereka sayangi.

__ADS_1


Gelak tawa dalam ruangan itu tidak terdengar sama sekali dari luar walaupun diselingi oleh candaan yang sangat menghebohkan. Semua keperluan yang dibutuhkan sudah dicatat secara terperinci dan segera dipesan oleh mereka.


__ADS_2