Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 124. Menahan Hasrat ~


__ADS_3

Melihat istrinya yang baru selesai mandi dengan rambut yang masih basah dengan jubah mandinya terlihat sangat mempesona. Aroma badan yang sangat khas itu mampu menghipnotis seluruh kesadaran suaminya.


"Haduh kenapa ini Junior harus memberontak disaat seperti ini? Sarangnya aja barusan ngancem. Ntar kalau dipotong beneran gimana nasib mu?" Batin Papa menunduk kan kepalanya.


Sejak kejadian beberapa tahun yang lalu efek dari obat yang tanpa sengaja diminum itu masih sering bereaksi. Sangat sulit mengendalikan hasratnya itu ketika bersama sang istri.


"Udah sana mandi Pah, ntar terlambat lagi ke acara malam ini." Perintah Mama membuat sang suami bergegas menuju kamar mandi.


Papa segera mengguyur badannya dengan air dingin untuk mengurangi gejolak hasrat itu. Ia pun berendam dengan air dingin cukup lama.


Papa tahu posisinya sekarang tidak memungkinkan berbuat seperti itu sekarang. Sebab dalam ruangan itu masih ada ke empat anaknya.


"Bersolo ria lagi ini. Sungguh malang nasib ku kali ini." Batin Papa saat memejamkan matanya di backtub.


Tok tok tok


"Papa lama amat di dalam?" Tanya Mama dengan mendekatkan telinganya di pintu kamar mandi.


"Tak ada suara. Ketiduran apa ya? Masak ketiduran, kan tadi tidurnya lama banget." Kata Mama perlahan.


"Ada apa Ma?" Tanya Papa yang baru keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk yang melilit di pinggangnya.


"Gak kenapa-napa." Jawab Mama singkat.


Mama sangat malu melihat pemandangan gratis yang baru saja ditampilkan oleh sang suami. Postur tubuh yang sangat bagus. Bentuk dada dan perut seperti roti sobek.


Mama pun segera mengalihkan pandangannya pada benda pipih yang sedang dipegangnya. Sang suami yang tahu istrinya masih malu kalau melihat badannya pun menggodanya.


"Mah aku pakai baju ini ya?" Tanya Papa.


"Iya." Jawab Mama singkat.


"Mah kalau diajak ngomong itu tatap mata orang yang ngajak ngomong." Kata Papa dengan menyunggingkan senyum dibibirnya.


"Kalau natap aja gak berani, masak sih berani motong pelihara'an Papa." Ledeknya lagi.


"Ceritanya Papa meragukan ancaman ku?" Tanya Mama.


"Gak, Papa tidak meragukan ancaman Mama." Kata Papa tepat di telinga sang istri yang membuatnya seketika merasa geli.

__ADS_1


Papa segera memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh sang istri tercinta. Mereka segera bersiap untuk acara malam ini.


Kakak dan ketiga kurcacinya juga sedang bersiap-siap. Bukan kurcaci lagi ya karena sekarang mereka sudah cukup tumbuh dewasa bisa lah mereka dipanggil dengan jagoan.


Waktunya sudah tiba dalam acara resepsi pernikahan. Papa dan seluruh anggota keluarga mulai memasuki ruangan pesta tersebut.


"Udah siap kalian?" Tanya Papa pada semua anggota keluarga yang sedang berada di ruang tengah.


"Udah." Jawab mereka bersamaan.


Adrean dan keluarga meninggalkan kamar mereka. Mereka berjalan menuju tempat resepsi.


"Cewek Coe." Celetuk Daffa yang saat akan memasuki ruang resepsi.


"Dasar Casanova kecil." Kata Garda.


"Inget Coe punya kakak cewek." Sambung Garda mengingatkan.


"Yang ada mah sekarang kaum adam yang sering disakiti." Kata Axel mulai bersilat lidah.


Kakak membulatkan mata bulat sempurna memandang ke arah ketiga adiknya.


"Gak deh ya pengecualian buat Tuan Putri kita yang sangat baik, dan cantik rupawan." Kata Papa mencoba menengahi ke empat anaknya.


"Aauuuu, sakit tahu Ma." Pekik Papa saat mendapat cubitan dari istrinya.


"Lha ini baru kaum Adam yang tersakiti." Jelas Mama.


Semua terdiam saat memasuki ruang resepsi yang sudah dipenuhi oleh banyak sekali tamu undangan. Aura yang sangat berwibawa mulai ditampakkan oleh keluarga ini.


Semua tamu undangan mengantri untuk memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai. Kedua mempelai memang sudah berada di atas mimbar.


Flesh Back


Acara resepsi pernikahan Briyan memang sangat mewah. Sebelum acara pesta Briyan dan sang istri sebelum masuk kamar mereka sempat digoda oleh anggota keluarga lainnya.


Kamar sementara tidak ada riasan sama sekali. Di kamar lain sudah disiapkan kamar yang sudah dirias sangat indah.


Briyan dan Dita berjalan bersamaan masuk ke dalam kamar. Melewati pintu kamar pintu pun langsung ditutup.

__ADS_1


"Jangan buang kesempatan." Teriak adik Briyan sebelum pintu kamar benar-benar tertutup.


Briyan pun hanya menjawab dengan mengedipkan salah satu matanya.


Saat berada di dalam ruangan kamar itu Briyan berjalan menuju tempat tidurnya, sedangkan Dita menuju sofa dengan langkah malu-malu.


"Sayang, ngapain di sana heem?" Tanya Briyan dengan lembut.


Tanpa menjawab pertanyaan laki-laki yang baru saja sah menjadi suaminya ia mendaratkan pantatnya di sofa dengan menunduk. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.


"Tidak kah kamu ingin menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri?" Tanya Briyan menggoda istrinya.


Wajah Dita jadi memerah. Melihat itu Briyan semakin ingin mendekati Sang Istri.


"Ayolah sayang." Ajak Briyan.


"A.... Ak....... Aku. Belum siap." Tolak Dita.


"Aku capek sekali. Nanti malam kan masih ada acara resepsi." Jelas Dita ingin menolak halus.


"Memangnya bantuin suami menyiapkan baju ganti butuh energi ekstra?" Tanya Briyan dengan memegang dagu Sang istri yang sedang menunduk.


"Memangnya apa yang ada di pikiranmu itu? Omes ya? Tanya Briyan dengan senyum tipisnya.


Dita merasa malu dengan apa yang dikatakan oleh Sang Suami baru saja. Wajah yang sudah merah kini semakin memerah.


"Apa'an sih... Aku kan memang sangat capek. Mulai dari bangun subuh dirias dan harus bersikap kalem dihadapan semua tamu." Kilah Dita.


**** **** **** **** ****


Author:


Minal Aidzin Wal Faizin mohon maaf lahir dan batin.


Maaf buat pembaca setia Novel ku yang menunggu Up datenya sangat lama. Terimakasih sudah setia menanti Up Date novel ini.


Author akan berusaha bisa Up Date setiap hari.


Mohon Dukungannya.

__ADS_1


dengan: Like, Vote, & komen ya. 🙏


__ADS_2