
Sudah lama semua staf tidak di kumpulkan secara bersamaan seperti itu. Harus senang atau khawatir untuk meraka hari ini. Kejadian seperti ini dilakukan jika dalam keadaan darurat.
Makan siang hari ini cukup dengan lauk drama yang seharusnya tidak terjadi. Melihat kondisi tempat perbelanjaan miliknya membuatnya sangat prihatin.
Makan siang telah selesai, kini pahlawan bertopeng akan menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi baru saja. Bukan pahlawan bertopeng tapi pahlawan berkaca mata hitam.
Alfian menuju kasir untuk membayar semua tagihan makan yang baru saja mereka bertiga santap dengan tidak lahapnya. Tapi habis karena kejadian itu terjadi setelah mereka habis melahap hidangan yang mereka pesan.
Dompet pemuda itu dikeluarkan perlahan dari sakunya. Ternyata benar uangnya habis hanya untuk makan.
Kasir di tempatnya makan itu juga sempat melihat dompet milik Alfian. Tapi tetap saja ia masih ramah walaupun ia belum sempat melihat semua kartu milik pemuda itu.
Alfian sempat melihat raut wajah kasir di stand tempat ia makan barisan. Ia masih menghormati pengunjung di sana walaupun mereka dari kalangan menengah ke bawah.
"Menarik." Ucap Alfian dingin. Ucapan itu adalah pujian untuk stand tersebut.
Usai membayar Alfian kembali duduk pada mejanya menghampiri gadis yang bersamanya. Ia meminta sang gadis menunggu sebentar di sana.
Asisten Alfian segera menuju Mall dengan tergesa-gesa tak ingin masalah menjadi besar. Ia langsung menghampiri Bosnya itu di stand yang dimaksud.
Semua karyawan sudah mengenal Ziko sebagai asisten pemilik Mall itu. Mereka sangat menghormati asisten itu karena sikapnya yang tegas seperti Bosnya.
"Ada apa, apa ada yang penting?" Tanya Asisten tampan sang Bos.
"Hem." Jawab Alfian.
"Kalau tidak penting ngapain aku minta kamu datang ke sini." Jelas Alfian.
"Mau jadi obat nyamuk buat kalian yang sedang makan siang berdua." Ledek Ziko.
Melihat di meja ada tiga porsi makanan dalam otaknya bukan lagi berdua tapi bertiga. Ia menatap Sang Bos dengan tatapan mencari tahu orang ketiganya.
"Kamu tunggu di sini dulu. Aku ada sedikit urusan yang harus diselesaikan." Titah Alfian pada gadis yang bersamanya sambil berdiri.
"Hem." Jawab Mentari singkat.
Gadis ini memang tidak mau mencampuri urusan orang lain. Ia tidak bertanya banyak saat ini. Ia percaya sepenuhnya pada Alfian.
__ADS_1
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki begitu cepat menuju sebuah ruang kantor yang sangat sederhana tapi cukup elegan. Kantor yang sangat jarang sekali dijamah oleh pemiliknya.
Banyak pasang mata yang menyaksikan pemuda yang mereka perbincangkan tadi berjalan diikuti oleh Asisten Pemilik Mall tersebut. Mereka mengira terjadi sebuah kasus pada diri Pemuda itu, tapi siapa sangka hal yang terjadi malah sebaliknya.
Ceklek
Pintu ruangan lama tak berpenghuni terbuka sangat lebar hanya dengan sensor sebuah kartu. Ia berjalan menuju ruang pribadinya untuk mengganti kostum yang ia kenakan saat ini dengan jas yang tersedia di lemari bajunya.
Di dalam kantor itu tersedia berbagai macam kebutuhan yang setiap saat dibutuhkan oleh pemiliknya. Tidak seorang pun diijinkan masuk ke ruangan itu kecuali atas amanat Sang Pemilik.
"Ambil rekaman CCTV hari ini di setiap sudut ruangan." Titah Alfian dengan nada dingin berjalan menuju ruangan VIP dalam kantor miliknya.
"Baik." Balas Ziko yang tidak banyak bertanya pada atasannya.
Tirai yang menutupi ruang kerja itu di disibakkan sehingga sinar matahari leluasa menembus ruangan itu. Ruangan itu kini terlihat sangat terang tanpa adanya sinar lampu untuk menerangi ruangan tersebut.
Seorang pemuda yang gagah dengan setelan jasnya kini keluar dari dalam ruang kantor. Tidak lupa ia membawa kaca mata hitam yang ia kenakan tadi.
Kaca mata yang tadinya bertengger dihidungnya yang cukup panjang alias mancung kini sudah bertengger di saku jas yang ia kenakan saat ini.
Ia segera menuju ruang rapat tapi sebelum menuju ke ruang tersebut ia menemui Bos-nya itu. Berjalan mengekor dibelakang Alfian membuat semua staf membelalakkan mata tak percaya.
Banyak karyawan yang tak percaya kalau Sang Atasan tertinggi mereka sudah ada di sana. Akan tetapi sejak kapan mereka tidak mengetahuinya.
💗💗💗💗💗💗💗
**Tap
Tap
Tap**
__ADS_1
Suara derap langkah yang begitu cepat menuju sebuah ruang sidang. Berjalan dengan begitu angkuhnya kedua orang laki-laki ini.
Gaya yang seperti itu sering kali membuat orang-orang yang ada di sekitar mereka mati kutu. Sikap kepemimpinan yang begitu tegas membuat mereka menjadi sangat disegani.
Ceklek
Pintu ruang sidang pun terbuka sangat lebar. Banyak staf yang memiliki jabatan kepala bagian semua harus harus hadir tepat waktu.
Tidak ada kata terlambat jika pemilik tertinggi hadir untuk mengadakan rapat. Kini mereka sudah duduk pada kursi masing-masing.
Tatapan yang sungguh membuat jantung mereka bocor setelah melihat penampilan Pemilik mall tersebut. Apalagi dengan Manajer yang tadi sempat beradu mulut dengannya.
Bencana akan segera dimulai dengan kemarahan atasan mereka karena sebuah kesalahan yang bisa dibilang fatal. Merendahkan orang lain bukan lah sifat dari calan pemimpin yang baik jika tidak mau ditikung oleh saingan bisnisnya.
Bahasa isyarat kepada asistennya sebagai sebuah pertanda bahwa ia harus melakukan sesuai perintah atasannya itu. Hafal dengan bahasa itu isyarat itu Ziko segera memperlihatkan semua rekaman CCTV mulai dari awal atasannya itu memarkirkan gerobaknya.
Sebelumnya Sang Asisten tidak tahu tujuan dari atasannya itu memintanya mengambil rekaman CCTV hari ini. Akan tetapi setelah Ziko mengamati dengan seksama ia pun paham atas kesalahan yang akan menjadi bencana.
Memang kedua pemuda sukses ini memiliki pemahaman yang sama. Bilang saja lah ya satu hati sampai mati.
Ziko yang menyadari kesalahan staf mereka, hingga akhirnya dijelaskan hingga pada akar-akarnya pada semua staf. Hari ini memang sungguh peringatan untuk mereka semua.
Saat Alfian masuk dengan menenggerkan kacamata pada saku jasnya semua staf sudah menyadari akan ada bencana peringatan kalau mereka sudah diminta untuk datang pada ruang rapat tak terkecuali. Apalagi menejer yang sempat beradu mulut dengan Alfian sudah hafal betul dengan kacamata yang ia bawa.
Pemilik mall hanya diam menyaksikan asistennya mengoceh seperti biasa mewakili dirinya berbicara. Sudah sangat kompeten seperti kesehariannya tidak perlu diajari lagi.
Semua staf hanya menundukkan wajah mereka karena malu dan tahu akan kesalahan yang mereka lakukan. Untuk kali ini mereka hanya diberikan peringatan tapi tidak untuk lain kali.
Sang Pemilik langsung berdiri dari kursi kebesarannya, dengan gagahnya ia melangkahkan kaki keluar dari ruang sidang itu. Asisten yang selalu siap mengikutinya kini sudah berjalan mengekor dibelakang Alfian dengan tak kalah gagahnya.
Sepasang pemuda sukses ini kembali berjalan menuju ruang kantornya untuk membahas perkembangan Mall milik Alfian. Mereka duduk di kursi yang biasa untuk menyambut tamu.
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
Jangan lupa dukung terus karya ini
"Ketulusan Cinta Mentari."
__ADS_1
Jangan lupa berikan Vote & like nya.