
Perusahaan Milik Adrean
Gadis yang sedang beristirahat di sebuah perusahaan besar dan terkenal itu mengerjapkan mata berulang kali untuk memperoleh kesadarannya. Sinta memang tidur sesudah minum vitamin yang diresepkan oleh dokter sahabat pemilik perusahaan itu.
Dokter itu memang memberikan beberapa jenis vitamin tetapi juga obat tidur agar gadis itu bisa segera beristirahat. Sinta menatap langit-langit yang terasa asing hingga dia sadar kalau sekarang ini dia berada di tempat yang berbeda dari biasanya.
Badannya jadi terasa lebih segar setelah beristirahat. Sinta berusaha untuk berdiri walaupun masih terasa lemah.
Praaang
Suara peralatan makan yang terletak di atas nakas terjatuh dari tempatnya. Suara itu terdengar nyaring.
Briyan segera berlari masuk ke dalam kamar itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia takut terjadi sesuatu pada gadis itu karena merasa gadis itu adalah tanggung jawab yang sudah diserahkan padanya dari atasannya.
Seorang pemuda sudah selesai membereskan hampir semua yang perlu dibawanya untuk pindah di hotel untuk sementara waktu. Adrean segera menuju hotel tanpa mampir ke perusahaan terlebih dahulu.
Tuuuut
__ADS_1
Tuuuut
Tuuuut
Adrean menghubungi asistennya yang sedang berada di suatu tempat. Dia ingin meminta tolong untuk segera memindahkan semua barang yang perlu ke ke hotel dengan segera.
Asistennya Aldo tidak segera mengangkat panggilan telepon itu karena saat itu sedang ada seorang gadis yang merupakan sahabatnya juga. Dia tahu kalau Adrean tidak mau identitasnya segera terbuka secara nyata.
Pemuda itu tahu kalau asistennya tidak mengangkat pasti memiliki sebuah alasan. Adrean akhirnya mengetikkan sebuah pesan dan segera mengirimkan pesan itu.
Adrean segera mengambil mobil di garasi dan segera menginjak pedal gasnya. Mobil itu berjalan menyusuri pusat kota yang ramai.
Petugas hotel langsung mempersilahkannya untuk masuk tanpa ada yang menghalanginya. Mereka sudah tahu wajah pemilik tempat mereka bekerja.
Suara langkah kaki itu membuat semua karyawan yang bekerja di hotel berbintang 1 itu menundukkan kepala mereka. Mereka takut terkena imbasnya.
Pemuda itu sebenarnya tidak mengharapkan hal itu. Adrean hanya ingin mereka bisa menghormati orang lain tanpa kecuali.
__ADS_1
Adrean kini sudah berada di kamar miliknya sendiri yang ada di hotel itu. Ruangan itu terdapat beberapa kamar dan beberapa fasilitas lainnya yang sudah lengkap.
Ruang yang sekarang ini ditempati berada di lantai paling atas. Adrean memang mendesainnya seperti sebuah rumah pada umumnya.
"Apa dia sudah meminum vitaminnya?" Tanya Adrean dalam hati yang masih merasa khawatir dengan gadis yang pingsan di perusahaannya.
Seorang pemuda sedang berjalan menuju lobi hotel dengan membawa koper yang berisikan pakaian milik sahabatnya itu. Aldo tidak tahu alasan sahabatnya itu untuk pindah tapi yang jelas dia tidak begitu suka dengan keramaian.
"Apa karena sekarang Erika sering datang ke apartemen hingga membuatnya tidak nyaman." Batin Aldo saat berjalan dengan menyeret koper sahabatnya itu.
"Apalagi datang tanpa ada janji terlebih dulu." Lanjutnya.
Ting
Suara pintu lift terbuka dan pemuda itu segera masuk ke dalam. Ruang lift itu berjalan menuju lantai paling atas tidak butuh waktu lama.
Setiap karyawan dari lobi hingga lantai yang dituju oleh Pemuda itu menyapanya dengan sopan. Mereka sudah mengenal Aldo sebagai asisten Pemilik hotel ini.
__ADS_1
Kedua asisten Adrean memiliki karakter yang sangat berbeda. Salah satu memiliki sikap sangat tegas bahkan sangat dingin kepada karyawan di sana tetapi berbeda dengan asisten yang baru datang ini dia sangat ramah sekali.
Pemuda itu kini baru saja keluar dari lift sekarang berjalan menuju pintu ruangan Adrean yang ekstra luas. Dia menekan bel pintu agar penghuninya segera membukakan dan mempersilahkannya masuk.